Bagaimana Membuat Kegiatan Pemberdayaan sebagai “Langkah Nyata Memberi Dampak”?

Generasi milenial dan generasi Z merupakan generasi yang suka berbagi. Sesuai dengan hasil kajian Alvara Research, mereka memiliki kemurahan hati untuk berbagi untuk aktivitas sosial seperti donasi dan bantuan-bantuan sosial ketika terjadi bencana. Mereka juga sangat aktif berbagi konten baik offline maupun online kepada teman-temannya. Perilaku dan keinginan generasi milenial yang mulia ini tentu harus punya wadah agar bisa memberikan manfaat yang lebih mengena bagi masyarakat.

Melihat antusiasme para anak muda dalam kegiatan sosial ini, JAPFA for Kids menyelenggarakan seminar berjudul “IMPACTalk, Langkah Nyata Memberi Dampak”. Seminar yang diselenggarakan di kawasan Universitas Airlangga ini memang ditujukan kepada mahasiswa. Namun saya rasa, tidak ada salahnya saya mencoba menambah wawasan tentang kegiatan sosial melalui acara ini.

Seminar ini menghadirkan 3 pembicara yang berpengalaman dalam kegiatan sosial pemberdayaan masyarakat. Pembicara pertama adalah Bapak Bambang Budiono, seorang dosen dari FISIP UNAIR. Pembicara selanjutnya adalah Bapak Agus Mulyono, Manager Social Invesment Department JAPFA Comfeed. Pembicara selanjutnya adalah Mbak Putri Lestari, Pengelola Program JAPFA for Kids Anak Indonesia Bersih dan Sehat. Ketiganya menceritakan tentang pengalaman dan tantangan dalam mendampingi kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Continue reading

Film “Semesta”, Bersama-sama Merawat Bumi Indonesia

Aura Nicholas Saputra menjadi daya tarik awal yang membuat saya menonton trailer film yang diproduksinya dengan Mandy Marahimin ini. Topik yang diangkat tentang perubahan iklim di Indonesia membuat saya merasa harus menonton film yang tayang terbatas ini. Setelah menunggu 2 minggu setelah tayang pertama pada tanggal 30 Januari 2020, akhirnya film “Semesta” ini sampai juga di Surabaya pada tanggal 13 Februari 2020.

Film yang disutradarai oleh Chairun Nisa ini menceritakan tentang 7 orang di 7 daerah yang berjuang merawat lingkungannya masing-masing. Ketujuh orang ini beragam dalam hal lokasi, suku maupun agama dan kepercayaan yang mereka miliki. Tapi, mereka semua punya satu tujuan yang sama, menjaga bumi Indonesia menghadapi perubahan iklim yang semakin menggila.

Official Trailer Film Semesta

Perubahan iklim di dunia, termasuk di Indonesia, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat urban dengan suhu yang makin panas. Penduduk yang di pedalaman yang kita anggap dekat dengan alam, juga merasakan akibat dari perubahan iklim. Mulai dari bencana alam sampai berkurangnya bahan pangan yang biasanya mudah diambil dari alam. Perubahan iklim menjadi tanggung jawab kita semua, entah kita tinggal di kota ataupun tinggal di dalam hutan.

Ketujuh sosok inspiratif ini dengan sederhana menggunakan kemampuan dan pengaruhnya memberi manfaat untuk lingkungan sekitar. Tidak harus menjadi orang besar untuk membuat perubahan.

Dua dari tujuh tokoh di dalam film ini adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam merawat lingkungan dan saling memberdayakan sesama perempuan. Apalagi secara naluriah, perempuan lah yang paling dekat dengan alam dan paling peka jika terjadi perubahan terhadap lingkungan.

Continue reading

Setelah UN Dihapus, Apakah Perlu “Sekolah Dibubarkan Saja!”?

Beberapa bulan setelah pelantikannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim membuat gebrakan dengan mengeluarkan kebijakan bernama “Merdeka Belajar”. Kebijakan ini mengandung 4 pokok kebijakan yang berkaitan dengan penggantian Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) menjadi assesmen oleh sekolah, penghapusan Ujian Nasional (UN), penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan perubahan sistem zonasi untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Apakah kebijakan ini saja cukup? Apakah kebijakan ini sudah bisa menjawab semua masalah pendidikan di Indonesia?

Afdillah Chudiel dari Sumatera Barat, yang pernah menjadi relawan di PKBI Sumatera Barat, menceritakan masalah-masalah pendidikan yang ditemuinya di Tanah Minang tersebut. Curhatan Afdillah Chudiel ini disusun dalam sebuah buku berjudul “Sekolah Dibubarkan Saja!”.

Buku “Sekolah Dibubarkan Saja!”

Halaman belakang buku ini menampilkan kutipan yang sungguh menampar tentang sistem pendidikan yang terjadi saat ini di Indonesia. Kutipan ini juga yang membuat saya semakin tertarik membuka dan membaca satu demi satu lembar kertas di buku ini.

Bertanya Tabu

Membangkang Dosa

Kreatif Memalukan

Diam Emas

Penurut Membanggakan

Sekolah Dibubarkan Saja!
Continue reading

Habibie & Ainun 3 : Perempuan, Mimpi dan Pasangan

Saya ingat pertama kali nonton film Habibie dan Ainun tahun 2012 lalu. Saya menempuh waktu 1,5-2 jam naik motor dari tempat saya bekerja di Ngoro, Mojokerto menuju bioskop terdekat waktu itu di City of Tomorrow, Surabaya. Sampai sana saya pun dapat tempat duduk paling depan. Sungguh sebuah perjuangan demi melihat film fenomenal ini.

Official Poster Habibie dan Ainun 3

Habibie dan Ainun 2, saya tonton menjelang libur lebaran. Cukup menguras emosi melihat perjuangan Habibie selama kuliah di Jerman. Nah, melihat trailer Habibie dan Ainun 3 dengan wajah hasil CGI Reza Rahadian menjadi Habibie muda, membuat saya merasa tidak menonton film ini juga tidak apa-apa.

Official Trailer Habibie dan Ainun 3

Sebuah kegabutan hakiki membuat saya bergerak ke bioskop dan akhirnya menonton Habibie dan Ainun 3 ini. Ternyata cukup menarik juga. Kali ini, Habibie masih diperankan oleh Reza Rahadian, sedangkan Ainun muda diperankan oleh Maudy Ayunda. Mari kita bahas nilai-nilai yang kita dapat sebelum lanjut membahas beberapa hal yang sebenarnya aneh di film ini.

Continue reading

Imperfect, Bukan Hanya tentang Bahagia tanpa Harus Menjadi Sempurna

Rara (Jessica Mila), seorang staf bagian riset di sebuah produk kosmetik lokal. Karena penampilannya, Rara pun menjadi korban body shaming di kantornya. Bahkan Mamanya (Karina Suwandi) sempat menyebutnya paus terdampar.

Berbeda dengan Rara, Lulu adik Rara (Yasmin Napper), adalah seorang selebgram yang cantik, putih dan tentu saja langsung. Kedua saudara ini memang berbeda 180 derajat. Rara punya fisik seperti mendiang ayahnya, yang sangat dekat dengan Rara. Semasa hidup, ayah Rara selalu membiarkan Rara makan yang diinginkannya. Sedangkan Lulu, memang mirip dengan mamanya, yang semasa muda pernah menjadi model.

Meskipun sering di-bully, Rara juga punya support system yang selalu membantunya. Yang pertama adalah Fey (Shareefa Daanish), sahabatnya di kantor yang tomboy dan juga bodo amat dengan penampilan. Fey berkeyakinan bahwa otak itu jauh lebih penting dibandingkan penampilan. Support system yang penting lainnya adalah Dika (Reza Rahadian), pacar Rara, fotografer lepas yang terkesan sempurna juga. Dika sayang Rara, perhatian dan menerima Rara apa adanya.

Poster Imperfect

Rara pun awalnya bodo amat dengan penampilannya. Ada sih keinginan untuk kurus dengan diet, tapi kadang nasi goreng atau bubur ayam masih menggoda. Apalagi kalau sudah masuk 30’s gini, keinginan olahraga dikalahkan oleh mager rebahan di kasur. Bukan begitu wahai #sobatrebahan sekaliaaannnnnnnnn.

Namun, Rara dihadapkan pilihan baru dalam karirnya. Rara berkesempatan promosi dari staf riset menjadi marketing manager, yang membutuhkan penampilan yang berbeda karena secara tidak langsung menjadi representasi perusahaan ketika bertemu dengan klien, vendor ataupun media. Bagaimana selanjutnya penampilan Rara? Lanjut tonton sendiri lah, mumpung masih fresh baru tayang pertama 19 Desember kemarin.

By the way, saya cukup senang profesi saya yang saya cintai sebagai researcher ditampilkan di sini. Adegan ketika Rara menceritakan temuan tentang segmen pelanggan kosmetiknya hasil dari FGD, membuat saya kangen menjadi sebenar-benernya researcher. Ah udah baper jadinya.

Continue reading

Pernikahan dan Kolaborasi (Review Film Kim Ji Young dan Marriage Story)

Akhir tahun 2019 ini, saya menonton dua film yang memberi banyak insight tentang kehidupan pernikahan bagi perempuan. Bagi perempuan lajang yang sedang memantapkan diri untuk menikah seperti saya, dua film ini membuat saya membuka mata tentang pernikahan. Lagi-lagi, wedding is one day, marriage is a journey.

Jika di negeri +62 kita selalu melihat pertikaian warganet tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga, dua film yang berasal luar negeri ini menceritakan bahwa hidup perempuan dalam pernikahan bukan hanya tentang memilih dua hal tersebut.

Film yang pertama adalah film dari Korea. Saya sangat jarang menonton film Korea, tapi film berjudul Kim Ji Young ini berhasil membuat saya rela menontonnya di bioskop.

Film kedua, film barat yang tayang di Netflix, judulnya Marriage Story. Jangan membayangkan cerita pernikahan yang happily ever after seperti di dongeng, tapi siapkan hati dan mental gaes.

Continue reading

Ucapkan Selamat Tinggal pada Facebook : Neser Ike Cahyaningrum dan Instagram @neserike

Sore itu tidak biasanya kata-kata ketus dan menyakitkan diketik oleh jari saya dan terkirim ke nomor WhatsAppnya. Berawal dari kejengkelannya karena saya terlalu kepo berlebihan, membuatnya menulis kejengkelannya tersebut di WhatsApp Story. Saya marah “Kalau ada masalah sama aku, jangan nyindir bikin status di media sosial, sini diomongin baikbaik“. Saya semakin mengungkit banyak hal yang terjadi di antara kami, saking jengkelnya dengan ketidakdewasaannya pada saat itu, sampai saya bilang “Maaf kamu egois“.

Besok paginya, saya memutuskan deactivated akun Facebook dan Instagram dan uninstall keduanya aplikasi tersebut dari smartphone saya. Setelah dibilang kepo, saya awalnya marah, tetapi saya sadar saya memang terlalu berlebihan.

Itu sekilas drama yang bisa menjawab latar belakang awal dari pertanyaan teman-teman “Instagrammu udah gak aktif, Nes?” .

Continue reading

“99 Nama Cinta”, Gambaran The Santri Versi Saya

Judul dan trailer film ini terkesan seperti film religi cinta-cintaan. Tapi ternyata setelah menonton, film ini tidak hanya berkisar pada dua hal tersebut. Film ini dibuka dengan adegan Talia (Acha Septriasa) membawakan acara gosip berjudul “Bibir Talia”. Mirip dengan beberapa acara televisi sekarang yang mengedepankan sensasi dan kontroversi demi rating dan share, begitu juga acara yang dibawakan oleh Talia tersebut.

Di kantornya tiba-tiba Talia didatangi oleh seseorang yang mengaku ustaz yang dikirim ibu Talia untuk mengajari Talia mengaji. Ternyata setelah dicek ke ibu Talia (Ira Wibowo), laki-laki tersebut adalah Kiblat (Deva Mahendra), teman kecil Talia yang juga merupakan anak dari sahabat orang tua Talia, Kyai Umar (Dony Damara).

Ketika Talia datang ke pesantren tempat Gus Kiblat dan Kyai Umar, Gus Kiblat malah semangat bertemu dengan Ning Husna (Chiki Fawzi), anak kyai teman Kyai Umar yang berprofesi menjadi desainer. Siapa yang lebih dipilih Gus Kiblat? Tonton aja sendiri yaaa

Continue reading

Matinya Kepakaran : Benarkah Karena Internet dan Media Sosial?

Perkembangan internet dan media sosial yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak memberikan efek yang signifikan terhadap berbagai informasi dan data yang kita terima. Ribuan berita hoaks tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari hoaks tentang kesehatan sampai yang paling panas hoaks tentang politik. Kita sampai kadang bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak jarang broadcast di WhatsApp Group keluarga yang diawali dengan “Pesan ini dari ahli bla bla bla….”, tapi isinya kurang masuk akal menurut kita.

Banyak orang tidak percaya kepada omongan para pakar atau para ahli yang punya pendidikan dan sertifikasi sesuai dengan kapasitasnya. Sebagian orang malah percaya dengan informasi yang tersebar di grup WhatsApp atau di media sosial orang-orang terdekatnya. Yaps, word of mouth dari orang/circle terdekat memang menjadi sumber informasi yang paling berpengaruh bagi seseorang untuk percaya pada suatu hal dan mengambil keputusan. Ada apa dengan pendapat para pakar dan ahli? Kemana mereka selama ini?

Melalui bukunya yang berjudul “The Death of Expertise” (Matinya Kepakaran), Tom Nichols menjelaskan berbagai opininya tentang kepakaran dan apa yang membuat kepakaran dirasa tidak berpengaruh signifikan di masa sekarang. Buku ini memang banyak membahas peristiwa di Amerika Serikat, namun banyak hal yang sebenarnya juga terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Kepakaran yang dibahas di sini terutama dalam hubungannya dengan politik dan demokrasi di sebuah negara, terutama untuk penyusunan strategi dan kebijakan sebuah negara. Misalkan, pakar ekonomi untuk membahas utang dan pertumbuhan ekonomi negara atau pakar kesehatan untuk membahas pentingnya pembelian vaksin untuk pencegahan penyakit.

Buku “The Death of Expertise”

Apakah memang matinya kepakaran ini terjadi karena perkembangan internet yang semakin canggih? Pokoknya semua salah internet, gitu? Ternyata, dari ulasan Tom Nichols, matinya kepakaran memang salah satunya disebabkan oleh perkembangan internet. Namun, juga ada beberapa hal lain yang menjadi pemicu kenapa kepakaran bukan jadi sesuatu yang dianggap penting oleh banyak orang saat ini.

Matinya kepakaran dipengaruhi oleh 4 hal : kemudahan akses internet, perkembangan sistem pendidikan, jurnalisme gaya baru dan sistem politik di sebuah negara.

Continue reading

Terima Kasih untuk Love for Sale 2, Mewakili Kami yang Belum Menikah dan Bukan Abdi Negara

Ketika memang harus selesai, itu bukan salahmu, salahku, atau kita yang menjalankannya. Tetapi waktu yang belum mengizinkan kita bersama

Arini, Love for Sale 2

Berbeda dengan kutipan terakhir Love for Sale pertama yang diucapkan Richard, kutipan terakhir film Love for Sale 2 ini diucapkan oleh Arini. Meskipun lebih banyak menceritakan cerita tentang kehidupan “korban” Arini, Love fo Sale 2 ini juga sedikit memperlihatkan sisi perasaan Arini.

Setelah Arini (Della Dartyan) membuat ambyar Richard (Gading Marten) di film Love for Sale yang pertama, kali ini Arini datang di kehidupan Ican (Adipati Dolken). Ican, lelaki ganteng usia 32 tahun, bekerja di agency periklanan, belum menikah, padahal adik dan kakak lelakinya sudah menikah.

Official Poster
Continue reading