Belajar Peduli Sekitar melalui Film Stip dan Pensil

Mungkin sudah agak terlambat nulis review film “Stip dan Pensil” ini, film ini sudah tayang perdana di bioskop hampir sebulan lalu, tepatnya tanggal 19 April 2017. Ketika tulisan ini diketik, film “Stip dan Pensil” ini masih nangkring di beberapa bioskop, dengan jumlah penonton sekitar 540.854 penonton dan masuk di urutan ke-8 film Indonesia terlaris tahun ini. (Sumber : filmindonesia.or.id)

stipdanpensil-poster.jpg

Jadi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali buat me-review film yang cukup inspiring ini. Film ini dibintangi oleh Ernest Prakasa (Toni), Tatjana Saphira (Bubu), Ardit Erwandha (Aghi) dan Indah Permatasari (Saras). Keempat orang ini berperan menjadi siswa di sebuah SMA swasta di Jakarta. Keempat siswa ini membentuk sebuah geng yang menurut teman-teman mereka adalah geng yang sok eksklusif dan membanggakan kekayaan orang tuanya.

Guru baru mereka yang diperankan oleh Pandji Pragiwaksono, meminta mereka untuk membuat esai tentang social awareness yang akan dilombakan di lomba esai tingkat nasional. Tanpa disengaja mereka bertemu dengan anak jalanan yang bernama Ucok. Dari Ucok yang tidak bersekolah ini, mereka pun mendapatkan ide topik esai tentang pentingnya sekolah untuk anak jalanan. Dan esai mereka pun menjadi salah satu dari dua esai yang mewakili sekolah untuk lomba esai tingkat nasional.

Continue reading

Advertisements

Membaca Novel Sambil Menyelami Kehidupan di Pelosok Jawa Sebelum Era 90-an

 Generasi 90-an seperti aku (lebih tepatnya sih 1989 di ¾ akhir. Mepet 1990 kan? #udahiyainaja) termasuk generasi yang lahir dan tumbuh besar dalam kondisi Indonesia yang sudah cukup maju dan teknologinya sudah semakin berkembang. Apalagi buat mereka-mereka yang menghabiskan masa kecil di kota, terutama kota besar.

Dua belas tahun masa kecilku aku habiskan di sebuah desa terpencil di pojok barat daya Kabupaten Magetan, berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Listrik PLN masuk kira-kira di tahun 1995, awal aku masuk SD. Begitu juga pengaspalan jalan. Sebelum listrik PLN masuk, penerangan menggunakan beberapa bantuan diesel yang hanya menyala setelah magrib dan kembali putus setelah terang. Setelah masuk listrik PLN, beberapa orang yang punya kelebihan dalam hal materi, mulai beli televisi sendiri, mulanya hitam, baru kemudian berwarna. Karena belum banyak yang punya televisi, jadi nonton televisi pun bareng-bareng di rumah mereka yang punya televisi. Tahun 1995, ketika Ibuk hamil adek, aku ingat aku pernah terkunci di luar karena nonton televisi di rumah tetangga sebelah sampai malam.

Kalau cerita tentang kehidupan sekitar 1980-an di desaku, mungkin aku bisa simpulkan dari beberapa cerita dari Ibuk. Akhir tahun 1980-an, terutama sewaktu aku lahir, belum ada bidan desa. Jadi aku lahir dengan bantuan dukun beranak, prematur tanpa inkubator. Di awal 1980-an ketika Ibuk SMP, belum ada kendaraan umum. Kalau mau ke kota kecamatan tempat Ibuk sekolah dan kos, jalan kaki berangkat jam 3 pagi dari rumah. Zaman itu, belum banyak yang punya sepeda motor, jadi kalau ada suara sepeda motor milik Pak Lurah atau Pak Carik akan terdengar dari radius lebih dari 3 km. Apalagi ya?

Kira-kira bagaimana kehidupan di daerah lain, terutama di Jawa di kala itu ya? Aku kebetulan membaca beberapa novel yang mengambil cerita tentang kehidupan di beberapa daerah di Jawa, sebelum era milenial seperti sekarang. Buku tersebut antara lain : Ulid (Mahfud Ikhwan), Genduk (Sundari Mardjuki), Di Kaki Bukit Cibalak dan Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari).

Kolase Buku

Yuk coba kita lihat satu persatu bagaimana kehidupan di Jawa di era sebelum tahun 1990-an.

Continue reading

Film Galih dan Ratna : Belajar Filosofi Hidup dari Kaset

 Nama “Galih” dan “Ratna” di telinga orang Indonesia mungkin mirip dengan “Romeo” dan “Juliet”. Secara umum, cerita kedua pasangan ini tidak berbeda, ditentang karena perbedaan tertentu. Pasangan “Galih” dan “Ratna” ini mulai terkenal di akhir dekade 1970-an, lebih tepatnya di tahun 1979, sepuluh tahun sebelum aku lahir. Nama pasangan ini mulai dikenal karena film “Gita Cinta dari SMA”, yang dibintangi Rano Karno (Galih) dan Yessy Gusman (Ratna). Film ini sempat dibuat sekuelnya dengan judul “Puspa Indah di Taman Hati”.

Tahun 2003, dibuah sinetron berjudul sama yang dibintangi oleh Paundrakarna sebagai Galih dan Ratna Galih sebagai Ratna. Iya, Paundra ini adalah cucu Bung Karno dan juga anak dari salah satu raja di Keraton Mangkunegaran, Solo. Sedangkan Ratna Galih di sini berbeda dengan Ratna Galih yang mantan pacarnya Raffi Ahmad. Eh kok aku malah jadi ala lambe turah gini. Wahahaha. Sinetron ini sempat tayang sekitar 13 episode. Sinetreon ini mengambil latar tempat di Yogyakarta. Iya iya, Jogja.

Tahun 2017 ini, film ini kembali di remake dengan judul “Galih dan Ratna”. Sama dengan kedua film sebelumnya, film ini juga mengambil cerita kehidupan Galih dan Ratna sewaktu SMA, dengan mengambil tempat di Kota Hujan, Bogor. Tokoh “Galih” diperankan oleh Refal Hady dan “Ratna” oleh Sheryl Sheinafia. Refal sepertinya pendatang baru di perfilman Indonesia. Kalau Sheryl sendiri pernah main bareng Raditya Dika di film Marmut Merah Jambu dan Koala Kumal. Meskipun pendatang baru, sebenarnya Refal lah salah satu yang membuatku nonton film ini. Karena Refal sendiri juga menjadi pemeran Harris di film Critical Eleven yang akan tayang di Mei nanti.

Galih Ratna.jpg

Continue reading

Review Bukaan 8, Lumayan Lah Buat Bekal

Sebelum lanjut, nih official trailer dan posternya.

bukaan-8

Dari trailer dan poster udah keliatan kan siapa pemainnya. Yaps, film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Di proses penggarapan film ini, Chicco juga jadi produsernya loh.

Di sini, Chicco berperan menjadi Alam, seorang netizen aktif dengan ribuah followers. Saking aktifnya, pas nyetir pun Alam masih sempet twitwar sama politisi. Alam di sini memang kritis dan idealis. Alam punya istri yang bernama Mia (diperankan oleh Lala Karmela). Diceritakan di sini Mia sedang menjelang proses persalinan, sesuai kan dengan judulnya “Bukaan 8”.

Continue reading

“Bajak Laut dan Purnama Terakhir”, Fiksi Gabungan Sejarah dan Komedi yang Bikin Rela Begadang

Buku fiksi ini ditulis oleh Adhitya Mulya, sang penulis yang juga terkenal dengan buku “Jomblo” dan “Sabtu Bersama Bapak” yang sudah berhasil difilmkan. Mas Adhit juga penulis skenario dari beberapa film, salah satunya film “Shy Shy Cat”. Ulasanku tentang “Shy Shy Cat” bisa dilihat di sini : Review Shy Shy Cat. Mas Adhit ini adalah suami dari Ninit Yunita, seorang penulis juga. Setelah follow Instagram dan Twitter mereka kurang lebih 2 tahun terakhir, fix mereka ini termasuk dalam kategori pasangan favorit. Saling mendukung karya satu sama lain. Apalagi pas Mas Adhit sempat bilang “Saya bisa gini karena kamu”. Mereka selalu menyebut perjalanan pernikahan mereka dengan “mengupas bawang”, karena terkadang bikin perih dan nangis, terkadang bikin ketawa. Kalau dibilang relationship goal gitu berlebihan ga sih, secara aku bangun relationship aja masih berantakan. Hahahaha. Kalau mau tahu tentang mereka bisa di akun Twitter dan IG : @adhityamulya dan @ninityunita. Bisa juga di blog pribadi mereka di suamigila.com dan istribawel.com.

Oh oke cukup bahas penulisnya, karena nanti bikin baper kepingin. Balik lagi ke “Bajak Laut dan Purnama Terakhir”. Kalau dilihat dari judulnya, jangan berharap buku ini akan penuh dengan petualangan ala-ala bajak laut di film-film Hollywood. Petualangan, sejarah dan komedi dicampur dengan seimbang di buku ini.

bajak-laut-dan-purnama-terakhir

Sekedar tambahan, buku ini full fiksi ya. Meskipun ada sejarah tentang awal mula kerajaan-kerajaan besar di Indonesia, dengan nama tokoh yang tidak asing juga buat kita, cerita di dalam buku ini hanya sekedar fiksi.

Continue reading

Ekstrakurikuler di Setiap Fase Hidup

 Baiklah, coba di sini kita definisikan  ekstrakurikuler ini sebagai kegiatan sambilan atau kegiatan di luar aktivitas utama kita sebagai pelajar, mahasiswa atau pekerja.

Kegiatan ekstra ini belum banyak aku ikuti sewaktu SD. Maklumlah ya, SD di desa. Kegiatan selain sekolah hanya ngaji dan main. Ketambahan les waktu kelas 6. Eh sempet les Bahasa Inggris juga sih tapi lupa kelas berapa. Tapi bisa dibilang, kegiatan selain sekolah yang paling banyak adalah main. Mainnya sih sekitar rumah aja, tapi sudah terjadwal setiap hari. Pulang sekolah jam 12, makan siang trus tidur siang bentar jam 14.00 udah main. Kebanyakan temennya cowok sih. Main siang selesai sekitar jam 16.00 atau 16.30, Ibuk udah ngomel-ngomel kalau belum pulang. Jam 17.00 atau abis mandi dan sholat Ashar ntar main lagi bentar, sampai maghrib.

Masuk SMP, masuk ke lingkungan yang benar-benar baru, jauh dari orang tua membuatku cupu. Hahahahaha. Sebenarnya kan diwajibkan tuh ikut ekstrakurikuler (ekskul), milih satu dari tiga, Pramuka, PMR dan PKS. Karena weekend lebih milih digunakan untuk pulang ke rumah, akhirnya males ikut ekskul. Bener deh, Neser SMP itu Neser yang masih cupu, yang taunya belajar aja. Etapi pas SMP ini sempet jadi bendahara kalau ga sekretarisnya Rohis. Mungkin karena dulu pas zaman SMP, belum banyak yang pake jilbab ya. Inipun kayaknya kurang berkesan banget ya, soalnya ga terlalu banyak inget. Paling ingetnya cuma pas jadi panitia Pondok Romadhon aja.

Mulai masuk SMA, pas kelas 1 punya tuh geng cewek yang ga suka sama kegiatan dan organisasi yang sok populer, termasuk OSIS. Kita pun sukanya bukan nongkrong di tempat kece, tapi lebih suka makan mie ayam deket sekolah. Masalah kegiatan ekskul pun kita cuma ikut KIR dan YESC (Youth English Study Club), ya cuma sekedar jadi panitia aja. Eh sama di ROHIS juga sih, sama cuma panitia aja, paling di Pondok Romadhon. Neser pas SMA kayaknya masih keliatan alim.

Masuk kuliah, awal-awal masih banyak yang beranggapan cupu. Masih belum banyak ngomongnya, keliatan cenderung pendiam. Maklumlah dulu juga takut sama senior-senior, salah ngomong dikit senior tuh bisa memutarbalikkan omongan. Daripada salah mending diem. Hahahaha.

Continue reading

Dua Kelas Inspirasi sebagai Pembuka dan Penutup di 2017

 

Sebenarnya menjelang akhir tahun 2016 kemarin sempat memutuskan untuk  sejenak berhenti dari dunia per-KI-an pada tahun 2017.  Tapi godaan untuk berkumpul kembali dengan geng Tralala Troops ternyata membuatku tergoda untuk kembali mencoba ikut Kelas Inspirasi Lombok 4 yang diselenggarakan di Sembalun, sebuah daerah di kawasan kaki Gunung Rinjani. Di bulan Februari, aku juga harus menuntaskan tugas sebagai panitia dan fasilitator di Kelas Inspirasi Magetan 4.

Kedua daerah ini mempunyai beberapa persamaan. Magetan itu rumahku, sedangkan Lombok memang bukan rumahku, tetapi rasanya homey banget di sana. Kenapa homey? Beberapa hari tugas di sana, kalau malem bisa ketemu sama temen-temen KI Lombok, disambut hangat dan menyenangkan.

Persamaan kedua, kalau KI Lombok 4 di kaki Gunung Rinjani, KI Magetan ini kebetulan dapat Zona Inspirasi di kaki Gunung Blego. Hahahaha. Padahal Blego kalau dibandingkan Rinjani mungkin ga ada apa-apanya ya. Kalau perbedaanya, di KI Lombok 4 ini sebagai pengajar. Sedangkan di KI Magetan 4 sebagai panitia dan fasilitator.

Cerita lengkapnya ini di bawah ya.

Continue reading