Pemimpin Magetan Zaman Now

Satu tahun sebelum ajang pesta demokrasi nasional yaitu Pilpres 2019, rakyat Indonesia diajak pemanasan terlebih dahulu dengan diadakannya Pilkada Serentak 2018. Tidak main-main, Pilkada Serentak 2018 diikuti oleh 171 daerah. Ke-117 daerah tersebut adalah 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota. detailnya bisa dilihat di sini. Jika dibandingkan dengan total provinsi di Indonesia, provinsi yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 memang hanya separuh. Tapi, jika dilihat berdasarkan proporsi jumlah penduduk, penduduk di ke-17 provinsi tersebut menyumbang sekitar 77.4% penduduk Indonesia. Termasuk di dalamnya 3 provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sudah kebayang ramenya?

Pemimpin Magetan Zaman Now.jpg

Dari 115 kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 ini, salah satunya adalah Kabupaten Magetan. Jangan salah sebut dan salah kira ya, sekali lagi “Magetan” bukan “Magelang”. Kabupaten Magetan sendiri terletak di bagian paling barat Jawa Timur, berbatasan dengan Jawa Tengah. Sekali lagi, Kabupaten Magetan bukan terletak di Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah barat dan selatan, Magetan memang berbatasan dengan Jawa Tengah, lebih tepatnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

Luas Kabupaten Magetan sendiri hanya sekitar 688,85 km2, kabupaten dengan luas terkecil kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sidoarjo. Dengan luas tersebut, Magetan terbagi menjadi 18 kecamatan. Sewaktu tahun 1995, Magetan masih terbagi menjadi 13 kecamatan dan kemudian dilakukan pemekaran, dengan pemekaran terakhir di tahun 2007 yaitu pembentukan Kecamatan Sidorejo. Pada tahun 2016, jumlah penduduk Magetan tercatat sekitar 627.984 jiwa.

Screenshot 2018-05-09 14.34.27.png

Dari total penduduk tersebut, sekitar 27% merupakan penduduk berusia 15-34 tahun. Kelompok penduduk usia muda yang di masa sekarang dikenal dengan generasi milenial. Dibandingkan penduduk usia pemilih (penduduk usia 15 tahun di tahun 2016, diasumsikan akan berusia 17 tahun di 2018 dan memenuhi kriteria usia pemilih dalam Pilkada), 33,45% atau sepertiga penduduk usia pemilih di Magetan adalah generasi milenial. Potensi pemilih yang cukup besar yang untuk digaet para calon bupati dan wakil bupati Magetan.

Screenshot 2018-05-11 12.00.34

Continue reading

Tembok Tinggi yang Dibangun Arini Runtuh karena Optimisme Jiwa Muda Nick (Review Film “ARINI”)

 Bagi beberapa perempuan, luka yang pernah mereka alami di masa lalu akan mendorong mereka untuk membangun tembok yang tinggi dan keras  di hati mereka agar tidak gampang ditembus. Kok saya tahu? Pengalaman woi. Begitu juga dengan Arini (Aura Kasih), janda berusia 38 tahun yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di Jerman. Terkesan angkuh, kukuh, namun di dalamnya rapuh. Oke sebelum lanjut, bagaimana penampakan awal kerasnya Arini, kita lihat official trailer dan official poster-nya dulu.

Arini.jpg

Dalam sebuah perjalanan di dalam kereta, Arini bertemu dengan Nick, seorang mahasiswa yang mengaku berasal dari Filipina, melanjutkan studi di London saat ini sedang liburan keliling Eropa dan kehabisan yang. Dengan gaya slengekan ala anak muda 23 tahun, Nick pun mengajak Arini berkenalan. Masih dengan temboknya yang kukuh, Arini memperkenalkan diri sebagai Ibu Utomo. Dengan optimis juga, Nick terus mengejar Arini sampai ke apartemennya. Pada akhirnya Nick pun mengakui bahwa dia juga berasal dari Indonesia.

Continue reading

Melihat Sisi Lain Perkebunan Sawit Indonesia melalui “Asimetris”

Apa itu “Asimetris”? “Asimetris” ini adalah judul sebuah film dokumenter yang dibuat oleh WatchDoc, sebuah rumah produksi yang didirikan oleh Dandhy Laksono. Watchdoc sudah membuat banyak film dokumenter. Beberapa contohnya adalah “Samin vs Semen” dan “Belakang Hotel”, dua film dokumenter Watchdoc yang pertama kali saya tonton beberapa tahun lalu. Seperti layaknya film dokumenter, film garapan Watchdoc banyak mengambil sisi lain yang tidak kita dapatkan dari media mainstream tentang keberhasilan industri dan pembangunan yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap beberapa kelompok masyarakat kecil. Kalau “Samin vs Semen” tentang cerita kaum Samin di pegunungan Kendeng dan salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia, “Belakang Hotel” bercerita tentang masyarakat Jogja dan pengaruh pembangunan Jogja sebagai kota tujuan pariwisata.

Beberapa waktu yang lalu teman saya mengirimkan gambar promosi acara “Layar Tancap : Asimetris” yang diadakan di C2O Library, kerjasama dengan Asosiasi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya dan Kontras. Saya cek Youtube Watchdoc dan memang yang keluar baru trailer film Asimetris. Sepertinya film ini layak ditonton, selain saya sendiri sudah lama ingin main ke C2O Library yang sebenarnya hanya 5 menit dari kantor saya. Kamis, 15 Maret malam saya pun segera meluncur ke C2O dan ikut nonton bareng film Asimetris tersebut, gratis.

Oh iya ini poster dan trailer-nya.

Dengan masih terbatasnya pengetahuan saya, di sini saya tidak akan banyak berpendapat tentang pro kontra industri ataupun pembangunan. Jadi cerita sekilas tentang filmnya aja ya. Tenang, film dokumenter dari Watchdoc biasanya akan mudah ditonton di Youtube beberapa bulan setelah launching, gratis tanpa bayar.

Continue reading

“Love for Sale”, tentang Merusak Zona Nyaman Kesendirian

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah review kecil tentang film berjudul “Love for Sale”. Meskipun judulnya dalam Bahasa Inggris, tapi ini adalah sebuah film Indonesia yang menarik. Love for Sale mengambil tema kekinian tentang terlalu lama sendiri. Eeeeaaaakkkk.

Ini nih official poster dan sambil dilihat dulu sekilas official trailer-nya ya.

Poster Love for Sale.jpg

Film ini diproduseri oleh Angga Dimas Sasongko dan pengantin baru yang menggemparkan dunia maya karena pernikahannya, Chicco Jericho. Fokus ke pemainnya ya, jangan produsernya, udah ada Putri Marino yang memilikinya. Film ini dibintangi oleh Gading Marten, Bapaknya Gempita yang unyu-unyu lucu itu. Di sini, Gading berperan sebagai Richard, pria berumur 41 tahun yang masih betah sendiri dan mengurusi percetakan warisan dari orang tuanya.

Richard tinggal sendirian di lantai atas ruko percetakannya. Eh ga sendirian juga sih, Richard ditemani oleh Klun, seekor kura-kura yang sudah berumur lebih dari belasan tahun. Rutinitas sehari-hari Richard adalah makan mie instan, turun ke percetakan mengecek anak buahnya, marah-marah kalau ada yang telat masuk dan juga nonton bola di malam harinya. Kalau weekend, Richard akan nonton bareng dengan teman-temannya sambil taruhan kecil-kecilan.

Continue reading

Uangmu, Uangku, Uang Kita : Bagaimana Sebaiknya Mengatur Keuangan bersama Pasangan?  

 

Sebelum mungkin pada banyak yang nyinyir “Ah Nes, kamu nikah aja belum kok sok ngajarin” atau “Halah, masih single aja kok kebanyakan teori. Nikah sana”, aku kasih disclaimer dulu ya. Jadi tulisan ini adalah hasil review-ku dari seminar kecil dalam rangka Savvy Investor Class yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management. Karena kebetulan aku nasabah reksadana dari Panin Asset Management, aku berkesempatan untuk ikut acara ini gratis. Setelah beberapa lama ga bisa ikut acara ini karena jadwal yan ga cocok, akhirnya seneng banget hari ini bisa update knowledge tentang perencanaan keuangan.

Bahasan kali ini kebetulan lumayan cocok sama cerita “Nyah Nyoh” ala Bu Dendy dan Pak Dendy yang sempat viral kemarin. Abaikan soal pelakor, kita coba ambil dari sisi keterbukaan finansial kepada pasangan (dalam hal ini pasangan suami istri ya). Mungkin akan banyak yang coba bilang “Kan rumah tangga ga cuma masalah uang”. Tapi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Puslitbang Kementerian Agama di tahun 2016, persoalan ekonomi menjadi salah satu dari empat alasan utama perceraian di Indonesia. Ketiga alasan lainnya adalah hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab khususnya terhadap anak dan kehadiran ketiga. Tidak tertutup kemungkinan ketiga alasan lain tersebut juga merembet dari kurangnya keterbukaan terhadap masalah keuangan.

Couple n Money.jpg

Gara-gara viralnya Bu Dendy dan Pak Dendy kemarin, beberapa akun financial planner malah bikin Insta Story khusus tentang keterbukaan finansial terhadap pasangan, antara lain di akun Instagramnya @QM_Financial dan @jouska.id. Satu kutipan yang cukup menohok dari @jouska.id di bawah ini.

“Kalian yang memulai pernikahan lho. Kalau berani naked berduaan di kamar. Kenapa ga berani naked soal finansial”

Waawww, ini menohok nih. Nah, berdasarkan hasil belajarnya di seminar Savvy Investor Class tadi, bagaimana sih mengatur keuangan bersama pasangan? Yuk sebelum bahas, mungkin kita coba cek dulu ke Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sesuai dengan UU ini, terdapat 3 jenis harta di dalam perkawinan :

  1. Harta bawaan : harta yang diperoleh oleh suami istri sebelum perkawinan, ini penguasaanya tergantung yang punya siapa. Bisa dikompromikan kan, mau dipakai buat apa yang penting tetap demi tujuan bersama.
  2. Harta perolehan : harta yang diperoleh selama perkawinan tetapi merupakan hasil hadiah atau warisan, ini penguasaannya tergantung yang dapat hadiah/warisan siapa, sekali lagi bisa dikompromikan bareng kan.
  3. Harta bersama : harta yang diperoleh selama perkawinan, nah ini yang penguasaannya bareng-bareng

Ngomongin harta bersama, berlaku juga utang bersama, yaitu utang yang diambil selama perkawinan. Karena gak jarang kan kalau yang ngutang suaminya ga bayar-bayar, istrinya yang ditagih, dan istrinya kaget karena ga pernah diomongin kalau punya hutang. Nah harta gono gini juga yang biasanya dipermasalahkan pas ada perceraian.

Yang penting di sini kan berarti terbuka, ngobrol dan kesepakatan kan. Nah biasanya ngomongin uang ini memang sensitif, meskipun dengan pasangan sendiri. Buat yang sudah nikah, udah pada ngobrol berdua ngomongin keuangan bareng atau belum? Buat yang belum nikah, udah dilamar belum? Eeeeeeaaaakkkk, malah baper. Dari hasil seminar tadi, ada beberapa tips nih buat membicarakan keuangan dengan pasangan. Buat yang sedang mempersiapkan pernikahan, disarankan sih nanti setelah resepsi aja ngobrolinnya, karena biasanya mendekati hari H pasti lagi riewuh-riewuhnya, daripada nanti malah berantem. Nah, biar suasana kondusif dan mood-nya bagus, pastikan ngobrolnya dalam keadaan perut kenyang. Kalau misalkan di rumah/di kamar kurang privasi atau malah takut jadi ga fokus karena main-main yang lain, bisalah sambil dinner. Usahakan berpenampilan menarik, jangan dasteran aja. Hahahaha.

Continue reading

“Yo Wis Ben”, Review Tipis Film dengan Boso Jowo Logat Ngalam

Pada tahu Bayu Skak ga sih, salah satu influencer terkenal dari Malang (bisa disebut juga dengan Ngalam) yang terkenal dengan videonya yang berbahasa Jawa. Nah, Bayu Skak ini akhirnya merambah ke dunia perfilman. Setelah muncul sebagai aktor pendukung di beberapa film seperti Hangout-nya Raditya Dika, akhirnya Youtuber yang bernama asli Bayu Eko Moektito ini mencoba peruntungan sebagai aktor utama, penulis skenario dan juga sutradara.

Sebelum lanjut detail nih official trailer dan posternya.

Film-Yowis-Ben-Bayu-Skak.jpg

Setelah trailer tersebut tayang di Youtube, kenyinyiran netizen di Indonesia pun dimulai, mulai dari tidak nasionalis lah, dan sebagainya. Sebagai bentuk klasifikasi, Bayu Skak pun mengunggah video yang berjudul “Aku Wong Jowo”, yang bercerita tentang motivasinya menulis skenario film yang 90% berbahasa Jawa ini dan perjuangannya ditolak beberapa PH sampai akhirnya film ini bisa diproduksi. Tentu saja video ini juga menggunakan Boso Jowo ala Malangan yang menggebu-gebu.

Continue reading

Bonusannya Masih? Nyoba Sukuk Ritel Yuk!

Masuk bulan Februari, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah aku ingat-ingat ternyata biasanya bulan Februari itu adalah waktu buat mulai pemesanan sukuk ritel. Awal bulan Februari aku pun membuka browser dan mengetikkan, keyword “sukuk ritel 2018”. Belum ada berita yang meyakinkan. Di minggu kedua Februari, waktu aku ngecek tabungan di salah satu bank syariah dengan warna favoritku, aku menemukan iklan tentang pemesanan Sukuk Ritel 2018 mulai tanggal 23 Februari – 15 Maret 2018 di bank syariah tersebut. Ah info bagus nih.

Aku pun refleks ngetweet tentang iklan layanan masyarakat versi Neser ini. Ini nih tweet-nya (sekalian promosi akun Twitter yang penuh opini, kegalauan dan nyinyiran ini.)

Eh ternyata ada adik tingkat di kampus yang nanyain apa itu sukuk. Oke jadi tertarik bahas sukuk pakai bahasa sederhana deh. Ga banyak pakai istilah ekonomi yang rumit, karena hidup dan pikiranku sendiri udah rumit.

Sukuk Ritel adalah…

Logo Sukuk Negara Ritel.png

Berikut pengertian sukuk ritel yang aku ambil dari situs DBS ini

Sukuk Ritel merupakan surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset Surat Berharga Syariah Negara, yang dijual kepada individu (ritel) atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual, dengan volume minimum yang ditentukan. Banyak juga yang menyebutnya sebagai obligasi syariah.

Bingung?

Continue reading