“BERLIAN” DI KAKI GUNUNG BLEGO

“BERLIAN” DI KAKI GUNUNG BLEGO
(Sebuah Surat Terbuka Kepada Bupati Magetan)

Yang Terhormat

Bapak Drs. Sumantri, MM

Terlebih dahulu perkenalkan, saya warga di sebuah desa terpencil di ujung perbatasan Kabupaten Magetan dengan Kabupaten Ponorogo dan Provinsi Jawa Tengah. Mungkin saking terpencilnya,sampai Bapak belum pernah melihat desa saya. Desa saya bernama Sayutan, bagian dari Kecamatan Parang. Berdasarkan data yang pernah saya baca dari Publikasi BPS Magetan, daerah tempat saya tinggal merupakan daerah yang paling tandus di antara daerah lain di Kabupaten Magetan. Untuk mencapai minimarket waralaba pun, kami harus menempuh jarak 7 km ke ibukota kecamatan.

Desa kami Pak, terletak di kaki dan lereng Gunung Blego yang berbatasan dengan Desa Trosono dan Desa Nguneng, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Layaknya hidup di kaki gunung, kami berharap mendapatkan udara yang bersih dan bebas polusi. Tetapi kenyataannya berbeda, dalam perjalanan menuju ibukota kecamatan di Parang yang berjarak kurang lebih 7 km, kami harus menutup hidung karena “polusi udara”. Bukan polusi asap kendaraan, tapi polusi “debu pasir padas”.  Benar sekali Pak, desa kami menjadi salah satu tempat tambang pasir yang cukup besar, seperti berlian di kaki sebuah gunung yang tandus.

Bukan hanya masalah “polusi”, mobilitas kami untuk bersosialisasi dengan dunia luar di ibukota kecamatan serasa sulit, jalan utama kami menuju ke sana sudah rusak karena tekanan kendaraan berat pembawa pasir yang setiap hari lewat. Perjalanan yang biasanya bisa ditempuh dalam 30 menit, akhirnya harus ditempuh dalam waktu 2 kali lipat karena harus memilih bagian jalan yang aman untuk dilewati, padahal kenyataannya semua bagian sudah tidak bisa dilewati.

Eksplorasi hasil bumi memang diperbolehkan oleh negara, tetapi bukan eksplorasi yang merugikan kami seperti ini, Pak. Layaknya berlian, tidak dipungkiri tambang ini memberi pemasukan yang cukup besar bagi beberapa warga di desa kami, terbukti dengan bertambahnya jumlah pemilik kendaraan roda 4 dan kendaraan berat yang ada di desa kami, Tetapi, kami yang tidak punya yang sama sekali tidak terlibat dalam tambang ini, hanya bisa menikmati debu dan “indahnya” jalan yang kami lewati.

Pihak tambang sebenarnya memang cukup “bertanggungjawab” untuk perbaikan jalan, tetapi hanya sebatas memperbaiki jalan dengan semen beton yang kualitasnya biasa-biasa saja dan penyiraman jalan setiap beberapa jam sekali agar tidak terlalu berdebu. Menurut saya langkah itu hanya sekedar pelengkap syarat saja, bukan langkah perbaikan untuk jangka panjang. Bukannya lifetime jalan yang dibuat dari semen beton kualitas biasa hanya akan bertahan dalam beberapa bulan, jika dibandingkan dengan jalan dari aspal? Dan itu terbukti, beberapa bulan setelah diperbaiki, jalan menjadi rusak dan bolong-bolong lagi, kemudian diperbaiki lagi dan kemudian rusak lagi, dan begitu seterusnya. Bukankah ini pemborosan?

Saya iri dengan desa tetangga di Kabupaten Wonogiri, Desa Nguneng. Desa ini dulunya juga merupakan kawasan tambang pasir. Ketika saya berkunjung ke rumah saudara saya di sana, saya takjub. Jalan bekas tambang pasirnya halus, tidak rusak seperti jalan di desa saya. Meskipun hanya dengan menggunakan semen beton, mereka menggunakan semen beton dengan kualitas yang jempolan, kami pun yang melewatinya merasa aman.

Beberapa waktu lalu, tambang pasir ini sudah ditutup, ditunggu oleh Satpol PP.Kami cukup bernafas lega. Akan tetapi penutupan ini hanya berlaku 1-2 hari dan kemudian dibuka lagi. Kami tidak berharap banyak agar tambang ini ditutup, karena sebagian kecil warga desa kami juga bergantung pada tambang tersebut. Tetapi, setidaknya kami hanya meminta  jalan yang layak untuk kami lewati, yang aman dan bebas debu buat kami, seperti jalan desa beberapa tahun lalu sebelum tambang itu dibuka. Sehingga berlian yang sudah dinikmati sebagian kecil warga kami yang bekerja di tambang, tidak merugikan warga yang lain.

Demikian Bapak Sumantri yang saya hormati, sedikit keluhan dari kami warga desa terpencil yang semakin terpencil karena terisolasi dari dunia luar.

Neser Ike Cahyaningrum

Warga Desa Sayutan

Advertisements

One thought on ““BERLIAN” DI KAKI GUNUNG BLEGO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s