Ramadan yang Dinantikan, Lebaran yang Ditakutkan

Tulisan singkat ini sebenarnya terinspirasi dari percakapan sekilas bersama PakLik (Bapak Cilik, sebutan untuk adik dari Bapak/Ibuk).

Ramadan, bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriah ini ditunggu oleh banyak orang. Bulan ini ditunggu dengan berbagai alasan.

Dalam Islam, bulan ini adalah bulan diturunkannya kitab suci Al Quran. Di bulan ini, umat Muslim diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh. Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah, di mana semua ibadah yang kita lakukan di bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya oleh Gusti Allah. Ini salah satu alasan bulan Ramadan begitu dirindukan. Waktu di bulan Ramadan buat saya terasa sempit, berbeda dengan waktu sehari-hari di bulan biasa, meskipun sama-sama berdurasi 24 jam. Di yang serasa sempit ini, sebagian orang berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadahnya, meningkatkan doanya agar lebih diijabah oleh Gusti Allah. Mumpung dikasih waktu special, pada satu dari dua belas bulan dalam setahun ini tidak ada salahnya sedikit mengesampingkan dunia. Masjid ataupun mushola yang biasanya sepi, mulai dipenuhi orang untuk sholat berjamaah tepat waktu. Suasana tadarus Al Quran yang jarang kita dengar di bulan biasa, pada bulan Ramadan kita dengarkan terus tiap malam di bulan Ramadan. Di bulan Ramadan, sedekah dan amal yang kita berikan kepada mereka yang berhak juga akan dilipatgandakan pahalanya.

Ramadan dinantikan oleh banyak sekali pedagang, terutama penjual makanan dan minuman. Kondisi haus ketika berpuasa, tidak jarang membuat orang gelap mata dalam membuat atau membeli hidangan untuk berbuka puasa. Penjual takjil bertebaran di pinggir jalan, berkah Ramadan. Sayangnya tidak sedikit yang menyajikan gorengan penuh minyak ataupun es dingin berwarna-warni.

Continue reading

Advertisements

“Kado” Ulang Tahun ke-725 untuk Suroboyo

 “Surabaya itu kota yang kondusif dan aman, orang-orangnya keras dan beragam tapi tetap toleran”, sebuah kesimpulan yang saya dapatkan selesai melakukan serangkaian wawancara terhadap beberapa tokoh masyarakat di Surabaya pada akhir tahun 2017 lalu. Hampir 11 tahun tinggal di Kota Pahlawan, suasana itu pula yang saya rasakan. Orang Surabaya memang terkenal keras tanpa basa basi, itu yang membuat mereka tidak menyimpan banyak grundelan di dalam hati.

Suroboyo Wani.jpeg

Surabaya yang kompak pun kembali terasa ketika masa pendaftaran calon Gubernur Jawa Timur. Ibu Walikota, Tri Rismaharini yang banyak diberitakan akan diusung menjadi calon gubernur/wakil gubernur. Masyarakat Surabaya pun kompak, banyak spanduk/baliho bertebaran yang isinya tidak rela ibu mereka meninggalkan tanggung jawab untuk membangun Surabaya. Bahasa tulisan di spanduk pun beragam, ada yang formal, ada yang sungguh menunjukkan ke-Suroboyo-annya yang keras. Ada yang tersinggung sampai rusuh? Tentu saja tidak.

Belum sampai sebulan lalu, Humas Kota Surabaya dalam akun Twitter @BanggaSurabaya menuliskan jawaban Bu Risma ketika dalam sebuah acara beliau ditanya “Kenapa warga Surabaya lebih adem baik di sosial masyarakat maupun di online?”. Wanita kuat tersebut menjawab “Sekarang masyarakat Surabaya lebih bijaksana, adem dan lebih dewasa, karena pengaruh tidak langsung dari kotanya. Jika kota itu sehat, maka pikiran juga sehat. Kalau panas, orang mudah emosi”.

Namun, selama dua hari kemarin, sepertinya ada yang ingin merusak ademnya tinggal di Surabaya. Minggu pagi, diberitakan terjadi 3 ledakan bom di 3 gereja di kawasan pusat Surabaya. GKI Diponegoro, GPPS Surabaya Jl. Arjuno dan Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel. Meskipun sedang tidak berada di Surabaya, hati ini rasanya sesak dan pedih. Kota yang selama ini aman damai, diguncang peristiwa terorisme begitu dahsyatnya. Entah mulut dan tangan ini sudah mengeluarkan kata keramat khas Surabaya berapa kali mendengar dan membaca berita yang menyedihkan ini. Seharian di kampung rasanya sesak, sedih, dan terus-terusan buka Twitter sambil tetap update informasi di WhatsApp. Pemkot Surabaya memberikan instruksi kepada sekolah-sekolah untuk meliburkan siswanya.

Continue reading

Pemimpin Magetan Zaman Now

Satu tahun sebelum ajang pesta demokrasi nasional yaitu Pilpres 2019, rakyat Indonesia diajak pemanasan terlebih dahulu dengan diadakannya Pilkada Serentak 2018. Tidak main-main, Pilkada Serentak 2018 diikuti oleh 171 daerah. Ke-117 daerah tersebut adalah 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota. detailnya bisa dilihat di sini. Jika dibandingkan dengan total provinsi di Indonesia, provinsi yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 memang hanya separuh. Tapi, jika dilihat berdasarkan proporsi jumlah penduduk, penduduk di ke-17 provinsi tersebut menyumbang sekitar 77.4% penduduk Indonesia. Termasuk di dalamnya 3 provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sudah kebayang ramenya?

Pemimpin Magetan Zaman Now.jpg

Dari 115 kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 ini, salah satunya adalah Kabupaten Magetan. Jangan salah sebut dan salah kira ya, sekali lagi “Magetan” bukan “Magelang”. Kabupaten Magetan sendiri terletak di bagian paling barat Jawa Timur, berbatasan dengan Jawa Tengah. Sekali lagi, Kabupaten Magetan bukan terletak di Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah barat dan selatan, Magetan memang berbatasan dengan Jawa Tengah, lebih tepatnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

Luas Kabupaten Magetan sendiri hanya sekitar 688,85 km2, kabupaten dengan luas terkecil kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sidoarjo. Dengan luas tersebut, Magetan terbagi menjadi 18 kecamatan. Sewaktu tahun 1995, Magetan masih terbagi menjadi 13 kecamatan dan kemudian dilakukan pemekaran, dengan pemekaran terakhir di tahun 2007 yaitu pembentukan Kecamatan Sidorejo. Pada tahun 2016, jumlah penduduk Magetan tercatat sekitar 627.984 jiwa.

Screenshot 2018-05-09 14.34.27.png

Dari total penduduk tersebut, sekitar 27% merupakan penduduk berusia 15-34 tahun. Kelompok penduduk usia muda yang di masa sekarang dikenal dengan generasi milenial. Dibandingkan penduduk usia pemilih (penduduk usia 15 tahun di tahun 2016, diasumsikan akan berusia 17 tahun di 2018 dan memenuhi kriteria usia pemilih dalam Pilkada), 33,45% atau sepertiga penduduk usia pemilih di Magetan adalah generasi milenial. Potensi pemilih yang cukup besar yang untuk digaet para calon bupati dan wakil bupati Magetan.

Screenshot 2018-05-11 12.00.34

Continue reading

Tembok Tinggi yang Dibangun Arini Runtuh karena Optimisme Jiwa Muda Nick (Review Film “ARINI”)

 Bagi beberapa perempuan, luka yang pernah mereka alami di masa lalu akan mendorong mereka untuk membangun tembok yang tinggi dan keras  di hati mereka agar tidak gampang ditembus. Kok saya tahu? Pengalaman woi. Begitu juga dengan Arini (Aura Kasih), janda berusia 38 tahun yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di Jerman. Terkesan angkuh, kukuh, namun di dalamnya rapuh. Oke sebelum lanjut, bagaimana penampakan awal kerasnya Arini, kita lihat official trailer dan official poster-nya dulu.

Arini.jpg

Dalam sebuah perjalanan di dalam kereta, Arini bertemu dengan Nick, seorang mahasiswa yang mengaku berasal dari Filipina, melanjutkan studi di London saat ini sedang liburan keliling Eropa dan kehabisan yang. Dengan gaya slengekan ala anak muda 23 tahun, Nick pun mengajak Arini berkenalan. Masih dengan temboknya yang kukuh, Arini memperkenalkan diri sebagai Ibu Utomo. Dengan optimis juga, Nick terus mengejar Arini sampai ke apartemennya. Pada akhirnya Nick pun mengakui bahwa dia juga berasal dari Indonesia.

Continue reading

Melihat Sisi Lain Perkebunan Sawit Indonesia melalui “Asimetris”

Apa itu “Asimetris”? “Asimetris” ini adalah judul sebuah film dokumenter yang dibuat oleh WatchDoc, sebuah rumah produksi yang didirikan oleh Dandhy Laksono. Watchdoc sudah membuat banyak film dokumenter. Beberapa contohnya adalah “Samin vs Semen” dan “Belakang Hotel”, dua film dokumenter Watchdoc yang pertama kali saya tonton beberapa tahun lalu. Seperti layaknya film dokumenter, film garapan Watchdoc banyak mengambil sisi lain yang tidak kita dapatkan dari media mainstream tentang keberhasilan industri dan pembangunan yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap beberapa kelompok masyarakat kecil. Kalau “Samin vs Semen” tentang cerita kaum Samin di pegunungan Kendeng dan salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia, “Belakang Hotel” bercerita tentang masyarakat Jogja dan pengaruh pembangunan Jogja sebagai kota tujuan pariwisata.

Beberapa waktu yang lalu teman saya mengirimkan gambar promosi acara “Layar Tancap : Asimetris” yang diadakan di C2O Library, kerjasama dengan Asosiasi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya dan Kontras. Saya cek Youtube Watchdoc dan memang yang keluar baru trailer film Asimetris. Sepertinya film ini layak ditonton, selain saya sendiri sudah lama ingin main ke C2O Library yang sebenarnya hanya 5 menit dari kantor saya. Kamis, 15 Maret malam saya pun segera meluncur ke C2O dan ikut nonton bareng film Asimetris tersebut, gratis.

Oh iya ini poster dan trailer-nya.

Dengan masih terbatasnya pengetahuan saya, di sini saya tidak akan banyak berpendapat tentang pro kontra industri ataupun pembangunan. Jadi cerita sekilas tentang filmnya aja ya. Tenang, film dokumenter dari Watchdoc biasanya akan mudah ditonton di Youtube beberapa bulan setelah launching, gratis tanpa bayar.

Continue reading

“Love for Sale”, tentang Merusak Zona Nyaman Kesendirian

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah review kecil tentang film berjudul “Love for Sale”. Meskipun judulnya dalam Bahasa Inggris, tapi ini adalah sebuah film Indonesia yang menarik. Love for Sale mengambil tema kekinian tentang terlalu lama sendiri. Eeeeaaaakkkk.

Ini nih official poster dan sambil dilihat dulu sekilas official trailer-nya ya.

Poster Love for Sale.jpg

Film ini diproduseri oleh Angga Dimas Sasongko dan pengantin baru yang menggemparkan dunia maya karena pernikahannya, Chicco Jericho. Fokus ke pemainnya ya, jangan produsernya, udah ada Putri Marino yang memilikinya. Film ini dibintangi oleh Gading Marten, Bapaknya Gempita yang unyu-unyu lucu itu. Di sini, Gading berperan sebagai Richard, pria berumur 41 tahun yang masih betah sendiri dan mengurusi percetakan warisan dari orang tuanya.

Richard tinggal sendirian di lantai atas ruko percetakannya. Eh ga sendirian juga sih, Richard ditemani oleh Klun, seekor kura-kura yang sudah berumur lebih dari belasan tahun. Rutinitas sehari-hari Richard adalah makan mie instan, turun ke percetakan mengecek anak buahnya, marah-marah kalau ada yang telat masuk dan juga nonton bola di malam harinya. Kalau weekend, Richard akan nonton bareng dengan teman-temannya sambil taruhan kecil-kecilan.

Continue reading

Uangmu, Uangku, Uang Kita : Bagaimana Sebaiknya Mengatur Keuangan bersama Pasangan?  

 

Sebelum mungkin pada banyak yang nyinyir “Ah Nes, kamu nikah aja belum kok sok ngajarin” atau “Halah, masih single aja kok kebanyakan teori. Nikah sana”, aku kasih disclaimer dulu ya. Jadi tulisan ini adalah hasil review-ku dari seminar kecil dalam rangka Savvy Investor Class yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management. Karena kebetulan aku nasabah reksadana dari Panin Asset Management, aku berkesempatan untuk ikut acara ini gratis. Setelah beberapa lama ga bisa ikut acara ini karena jadwal yan ga cocok, akhirnya seneng banget hari ini bisa update knowledge tentang perencanaan keuangan.

Bahasan kali ini kebetulan lumayan cocok sama cerita “Nyah Nyoh” ala Bu Dendy dan Pak Dendy yang sempat viral kemarin. Abaikan soal pelakor, kita coba ambil dari sisi keterbukaan finansial kepada pasangan (dalam hal ini pasangan suami istri ya). Mungkin akan banyak yang coba bilang “Kan rumah tangga ga cuma masalah uang”. Tapi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Puslitbang Kementerian Agama di tahun 2016, persoalan ekonomi menjadi salah satu dari empat alasan utama perceraian di Indonesia. Ketiga alasan lainnya adalah hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab khususnya terhadap anak dan kehadiran ketiga. Tidak tertutup kemungkinan ketiga alasan lain tersebut juga merembet dari kurangnya keterbukaan terhadap masalah keuangan.

Couple n Money.jpg

Gara-gara viralnya Bu Dendy dan Pak Dendy kemarin, beberapa akun financial planner malah bikin Insta Story khusus tentang keterbukaan finansial terhadap pasangan, antara lain di akun Instagramnya @QM_Financial dan @jouska.id. Satu kutipan yang cukup menohok dari @jouska.id di bawah ini.

“Kalian yang memulai pernikahan lho. Kalau berani naked berduaan di kamar. Kenapa ga berani naked soal finansial”

Waawww, ini menohok nih. Nah, berdasarkan hasil belajarnya di seminar Savvy Investor Class tadi, bagaimana sih mengatur keuangan bersama pasangan? Yuk sebelum bahas, mungkin kita coba cek dulu ke Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sesuai dengan UU ini, terdapat 3 jenis harta di dalam perkawinan :

  1. Harta bawaan : harta yang diperoleh oleh suami istri sebelum perkawinan, ini penguasaanya tergantung yang punya siapa. Bisa dikompromikan kan, mau dipakai buat apa yang penting tetap demi tujuan bersama.
  2. Harta perolehan : harta yang diperoleh selama perkawinan tetapi merupakan hasil hadiah atau warisan, ini penguasaannya tergantung yang dapat hadiah/warisan siapa, sekali lagi bisa dikompromikan bareng kan.
  3. Harta bersama : harta yang diperoleh selama perkawinan, nah ini yang penguasaannya bareng-bareng

Ngomongin harta bersama, berlaku juga utang bersama, yaitu utang yang diambil selama perkawinan. Karena gak jarang kan kalau yang ngutang suaminya ga bayar-bayar, istrinya yang ditagih, dan istrinya kaget karena ga pernah diomongin kalau punya hutang. Nah harta gono gini juga yang biasanya dipermasalahkan pas ada perceraian.

Yang penting di sini kan berarti terbuka, ngobrol dan kesepakatan kan. Nah biasanya ngomongin uang ini memang sensitif, meskipun dengan pasangan sendiri. Buat yang sudah nikah, udah pada ngobrol berdua ngomongin keuangan bareng atau belum? Buat yang belum nikah, udah dilamar belum? Eeeeeeaaaakkkk, malah baper. Dari hasil seminar tadi, ada beberapa tips nih buat membicarakan keuangan dengan pasangan. Buat yang sedang mempersiapkan pernikahan, disarankan sih nanti setelah resepsi aja ngobrolinnya, karena biasanya mendekati hari H pasti lagi riewuh-riewuhnya, daripada nanti malah berantem. Nah, biar suasana kondusif dan mood-nya bagus, pastikan ngobrolnya dalam keadaan perut kenyang. Kalau misalkan di rumah/di kamar kurang privasi atau malah takut jadi ga fokus karena main-main yang lain, bisalah sambil dinner. Usahakan berpenampilan menarik, jangan dasteran aja. Hahahaha.

Continue reading