Habibie & Ainun 3 : Perempuan, Mimpi dan Pasangan

Saya ingat pertama kali nonton film Habibie dan Ainun tahun 2012 lalu. Saya menempuh waktu 1,5-2 jam naik motor dari tempat saya bekerja di Ngoro, Mojokerto menuju bioskop terdekat waktu itu di City of Tomorrow, Surabaya. Sampai sana saya pun dapat tempat duduk paling depan. Sungguh sebuah perjuangan demi melihat film fenomenal ini.

Official Poster Habibie dan Ainun 3

Habibie dan Ainun 2, saya tonton menjelang libur lebaran. Cukup menguras emosi melihat perjuangan Habibie selama kuliah di Jerman. Nah, melihat trailer Habibie dan Ainun 3 dengan wajah hasil CGI Reza Rahadian menjadi Habibie muda, membuat saya merasa tidak menonton film ini juga tidak apa-apa.

Official Trailer Habibie dan Ainun 3

Sebuah kegabutan hakiki membuat saya bergerak ke bioskop dan akhirnya menonton Habibie dan Ainun 3 ini. Ternyata cukup menarik juga. Kali ini, Habibie masih diperankan oleh Reza Rahadian, sedangkan Ainun muda diperankan oleh Maudy Ayunda. Mari kita bahas nilai-nilai yang kita dapat sebelum lanjut membahas beberapa hal yang sebenarnya aneh di film ini.

Continue reading

Imperfect, Bukan Hanya tentang Bahagia tanpa Harus Menjadi Sempurna

Rara (Jessica Mila), seorang staf bagian riset di sebuah produk kosmetik lokal. Karena penampilannya, Rara pun menjadi korban body shaming di kantornya. Bahkan Mamanya (Karina Suwandi) sempat menyebutnya paus terdampar.

Berbeda dengan Rara, Lulu adik Rara (Yasmin Napper), adalah seorang selebgram yang cantik, putih dan tentu saja langsung. Kedua saudara ini memang berbeda 180 derajat. Rara punya fisik seperti mendiang ayahnya, yang sangat dekat dengan Rara. Semasa hidup, ayah Rara selalu membiarkan Rara makan yang diinginkannya. Sedangkan Lulu, memang mirip dengan mamanya, yang semasa muda pernah menjadi model.

Meskipun sering di-bully, Rara juga punya support system yang selalu membantunya. Yang pertama adalah Fey (Shareefa Daanish), sahabatnya di kantor yang tomboy dan juga bodo amat dengan penampilan. Fey berkeyakinan bahwa otak itu jauh lebih penting dibandingkan penampilan. Support system yang penting lainnya adalah Dika (Reza Rahadian), pacar Rara, fotografer lepas yang terkesan sempurna juga. Dika sayang Rara, perhatian dan menerima Rara apa adanya.

Poster Imperfect

Rara pun awalnya bodo amat dengan penampilannya. Ada sih keinginan untuk kurus dengan diet, tapi kadang nasi goreng atau bubur ayam masih menggoda. Apalagi kalau sudah masuk 30’s gini, keinginan olahraga dikalahkan oleh mager rebahan di kasur. Bukan begitu wahai #sobatrebahan sekaliaaannnnnnnnn.

Namun, Rara dihadapkan pilihan baru dalam karirnya. Rara berkesempatan promosi dari staf riset menjadi marketing manager, yang membutuhkan penampilan yang berbeda karena secara tidak langsung menjadi representasi perusahaan ketika bertemu dengan klien, vendor ataupun media. Bagaimana selanjutnya penampilan Rara? Lanjut tonton sendiri lah, mumpung masih fresh baru tayang pertama 19 Desember kemarin.

By the way, saya cukup senang profesi saya yang saya cintai sebagai researcher ditampilkan di sini. Adegan ketika Rara menceritakan temuan tentang segmen pelanggan kosmetiknya hasil dari FGD, membuat saya kangen menjadi sebenar-benernya researcher. Ah udah baper jadinya.

Continue reading

Pernikahan dan Kolaborasi (Review Film Kim Ji Young dan Marriage Story)

Akhir tahun 2019 ini, saya menonton dua film yang memberi banyak insight tentang kehidupan pernikahan bagi perempuan. Bagi perempuan lajang yang sedang memantapkan diri untuk menikah seperti saya, dua film ini membuat saya membuka mata tentang pernikahan. Lagi-lagi, wedding is one day, marriage is a journey.

Jika di negeri +62 kita selalu melihat pertikaian warganet tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga, dua film yang berasal luar negeri ini menceritakan bahwa hidup perempuan dalam pernikahan bukan hanya tentang memilih dua hal tersebut.

Film yang pertama adalah film dari Korea. Saya sangat jarang menonton film Korea, tapi film berjudul Kim Ji Young ini berhasil membuat saya rela menontonnya di bioskop.

Film kedua, film barat yang tayang di Netflix, judulnya Marriage Story. Jangan membayangkan cerita pernikahan yang happily ever after seperti di dongeng, tapi siapkan hati dan mental gaes.

Kim Ji Young : Born 1982, Ibu Depresi di Keluarga yang Terlihat Sempurna

Ji Young, perempuan menikah dengan seorang anak perempuan yang lucu-lucunya. Rutinitasnya setiap pagi adalah menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, mengantar anaknya ke day care dan beberes rumah. Sesekali Ji Young akan mengajak anaknya ke taman, sambil minum kopi yang dibelinya di sebuah kafe. Hidup Ji Young kurang apalagi?

Suami Ji Young, sudah terlihat sempurna, termasuk mau membantu memandikan anak perempuannya sepulang kerja. Terkesan sudah setara dan saling berbagi tugas dalam keluarga. Lalu, apa yang kurang dari keluarga ini?

Setelah melakukan aktivitasnya seharian, Ji Young merasa ada yang kosong ketika matahari terbenam. Suami Ji Young, pernah beberapa kali melihat Ji Young tiba-tiba berubah menjadi orang lain. Bukan berubah menjadi Power Rangers ataupun Wonder Woman ya, tetapi Ji Young tiba-tiba berbicara menjadi orang lain, terkesan seperti kerasukan.

Di balik semua kesempurnaan yang terlihat, ternyata Ji Young depresi. Sebelum menikah, Ji Young punya karir yang cukup bagus. Meskipun karir itu stagnan karena dia perempuan. Menikah membuatnya punya rutinitas yang itu-itu saja. Jadi, menikah itu salah? Ternyata, depresi Ji Young bukan hanya karena rutinitas saja. Di masa lalu, Ji Young merasa dibanding-bandingkan dengan saudara laki-lakinya. Jadi, depresi Ji Young adalah akumulasi dari masalah-masalah yang dipendamnya sejak kecil.

Bagaimana selanjutnya hidup Kim Ji Young? Tonton sendiri aja ya.

Penyakit kejiwaan seperti depresi, memang kadang tidak disadari oleh penderitanya. Jika merasapun, penderita kadang menyangkalnya “aku tidak gila”. Menyuruh penderita depresi ke psikiater hanya bisa dilakukan jika penderita dengan ikhlas menerima dirinya bahwa sedang mengalami depresi.

Depresi yang dialami Ji Young mungkin juga bisa terjadi pada perempuan lainnya. Dalam kehidupan sosial sekarang ini, kita banyak dituntut oleh lingkungan ataupun kata orang, yang kadang membuat kita sendiri lupa dengan apa yang membuat kita sendiri bahagia. Jadi perempuan harus A, jadi perempuan harus B, dsb dsb.

Beruntung Kim Ji Young memiliki suami yang bisa berkolaborasi bersama dalam pekerjaan rumah tangga dan menjadi orang yang paling pertama menyadari bahwa istrinya mengalami masalah kejiwaan. Bukan malah meninggalkan dan mengabaikan depresi istrinya, suami Ji Young lah yang menyarankan Ji Young untuk ke psikiater bahkan menawarkan untuk cuti di luar tanggungan demi Ji Young.

Satu hal lainnya yang menarik dari film ini, jangan sembarang men-judge orang lain yang baru kita kenal atau bahkan padahal baru kita lihat. Pesan itu yang ingin disampaikan pada adegan marahnya Kim Ji Young ketika ada orang yang tidak dikenalnya menggunjingnya dari belakang waktu dia menumpahkan kopi di kafe. Orang-orang tersebut menyebut Kim Ji Young terlalu enak hidupnya, bisa setiap hari ngopi di kafe dengan jatah dari gaji suaminya, tanpa mereka tahu bagaimana perjuangan Ji Young setiap hari mengurusi anak dan suami serta depresi yang dihadapinya.

Marriage Story, Perempuan juga Butuh Dianggap dan Dihargai

Secara umum, film yang tayang di Netflix ini bercerita tentang Nicole dan Charlie yang memutuskan bercerai dan bagaimana perjalannya selama mengurusi perceraian mereka. Film ini bukan tentang bagaimana pasangan ini bertemu, menikah, punya anak dan hidup bahagia selamanya seperti yang banyak kita bayangkan ketika mendengar kata “pernikahan”.

Saya ingin mencoba membahasnya kenapa pasangan ini akhirnya memutuskan bercerai. Masalah antara keduanya bukanlah tentang orang ketiga atau finansial yang marak terjadi belakangan.

Nicole, sebelumnya adalah aktris di Los Angeles. Setelah menikah dengan Charlie, Nicole ikut ke New York dan membantu Charlie dalam karirnya sebagai sutradara teater di New York. Sepuluh tahun menikah dan punya anak, Nicole merasa ada yang kurang dari hidupnya.

Nicole merasa banyak membantu Charlie dalam memberikan ide-ide baru untuk teaternya. Tetapi semua keberhasilan Charlie di teaternya dianggap sebagai usaha Charlie saja, bukan usaha Charlie dan Nicole. Nicole merasa usahanya kurang dianggap dan dihargai.

Nicole merasa ada yang hilang dari dirinya setelah menikah dengan Charlie. Semuanya tentang Charlie, mulai dari keputusan sampai perabotan rumah tangga. Nicole merasa Charlie tidak ikut mengajaknya dalam mengambil keputusan rumah tangga, bahkan meminta pendapatnya pun tidak.

Sebagai sebuah individu terpisah, Nicole sebagaimana perempuan lainnya juga punya keinginan, harapan ataupun mimpi dalam hidupnya. Seringkali, pasangan masih belum mengerti atau kadang masih egois dengan menganggap bahwa semua keputusan ada di tangan suami tanpa memperhatikan masukan atau keinginan perempuan.

Kedua film ini, membuat saya memandang pernikahan sebagai sebuah usaha kolaboratif, bukan usaha untuk memenangkan ego pribadi masing-masing.

Ucapkan Selamat Tinggal pada Facebook : Neser Ike Cahyaningrum dan Instagram @neserike

Sore itu tidak biasanya kata-kata ketus dan menyakitkan diketik oleh jari saya dan terkirim ke nomor WhatsAppnya. Berawal dari kejengkelannya karena saya terlalu kepo berlebihan, membuatnya menulis kejengkelannya tersebut di WhatsApp Story. Saya marah “Kalau ada masalah sama aku, jangan nyindir bikin status di media sosial, sini diomongin baikbaik“. Saya semakin mengungkit banyak hal yang terjadi di antara kami, saking jengkelnya dengan ketidakdewasaannya pada saat itu, sampai saya bilang “Maaf kamu egois“.

Besok paginya, saya memutuskan deactivated akun Facebook dan Instagram dan uninstall keduanya aplikasi tersebut dari smartphone saya. Setelah dibilang kepo, saya awalnya marah, tetapi saya sadar saya memang terlalu berlebihan.

Itu sekilas drama yang bisa menjawab latar belakang awal dari pertanyaan teman-teman “Instagrammu udah gak aktif, Nes?” .

Continue reading

“99 Nama Cinta”, Gambaran The Santri Versi Saya

Judul dan trailer film ini terkesan seperti film religi cinta-cintaan. Tapi ternyata setelah menonton, film ini tidak hanya berkisar pada dua hal tersebut. Film ini dibuka dengan adegan Talia (Acha Septriasa) membawakan acara gosip berjudul “Bibir Talia”. Mirip dengan beberapa acara televisi sekarang yang mengedepankan sensasi dan kontroversi demi rating dan share, begitu juga acara yang dibawakan oleh Talia tersebut.

Di kantornya tiba-tiba Talia didatangi oleh seseorang yang mengaku ustaz yang dikirim ibu Talia untuk mengajari Talia mengaji. Ternyata setelah dicek ke ibu Talia (Ira Wibowo), laki-laki tersebut adalah Kiblat (Deva Mahendra), teman kecil Talia yang juga merupakan anak dari sahabat orang tua Talia, Kyai Umar (Dony Damara).

Ketika Talia datang ke pesantren tempat Gus Kiblat dan Kyai Umar, Gus Kiblat malah semangat bertemu dengan Ning Husna (Chiki Fawzi), anak kyai teman Kyai Umar yang berprofesi menjadi desainer. Siapa yang lebih dipilih Gus Kiblat? Tonton aja sendiri yaaa

Continue reading

Matinya Kepakaran : Benarkah Karena Internet dan Media Sosial?

Perkembangan internet dan media sosial yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak memberikan efek yang signifikan terhadap berbagai informasi dan data yang kita terima. Ribuan berita hoaks tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari hoaks tentang kesehatan sampai yang paling panas hoaks tentang politik. Kita sampai kadang bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak jarang broadcast di WhatsApp Group keluarga yang diawali dengan “Pesan ini dari ahli bla bla bla….”, tapi isinya kurang masuk akal menurut kita.

Banyak orang tidak percaya kepada omongan para pakar atau para ahli yang punya pendidikan dan sertifikasi sesuai dengan kapasitasnya. Sebagian orang malah percaya dengan informasi yang tersebar di grup WhatsApp atau di media sosial orang-orang terdekatnya. Yaps, word of mouth dari orang/circle terdekat memang menjadi sumber informasi yang paling berpengaruh bagi seseorang untuk percaya pada suatu hal dan mengambil keputusan. Ada apa dengan pendapat para pakar dan ahli? Kemana mereka selama ini?

Melalui bukunya yang berjudul “The Death of Expertise” (Matinya Kepakaran), Tom Nichols menjelaskan berbagai opininya tentang kepakaran dan apa yang membuat kepakaran dirasa tidak berpengaruh signifikan di masa sekarang. Buku ini memang banyak membahas peristiwa di Amerika Serikat, namun banyak hal yang sebenarnya juga terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Kepakaran yang dibahas di sini terutama dalam hubungannya dengan politik dan demokrasi di sebuah negara, terutama untuk penyusunan strategi dan kebijakan sebuah negara. Misalkan, pakar ekonomi untuk membahas utang dan pertumbuhan ekonomi negara atau pakar kesehatan untuk membahas pentingnya pembelian vaksin untuk pencegahan penyakit.

Buku “The Death of Expertise”

Apakah memang matinya kepakaran ini terjadi karena perkembangan internet yang semakin canggih? Pokoknya semua salah internet, gitu? Ternyata, dari ulasan Tom Nichols, matinya kepakaran memang salah satunya disebabkan oleh perkembangan internet. Namun, juga ada beberapa hal lain yang menjadi pemicu kenapa kepakaran bukan jadi sesuatu yang dianggap penting oleh banyak orang saat ini.

Matinya kepakaran dipengaruhi oleh 4 hal : kemudahan akses internet, perkembangan sistem pendidikan, jurnalisme gaya baru dan sistem politik di sebuah negara.

Continue reading

Terima Kasih untuk Love for Sale 2, Mewakili Kami yang Belum Menikah dan Bukan Abdi Negara

Ketika memang harus selesai, itu bukan salahmu, salahku, atau kita yang menjalankannya. Tetapi waktu yang belum mengizinkan kita bersama

Arini, Love for Sale 2

Berbeda dengan kutipan terakhir Love for Sale pertama yang diucapkan Richard, kutipan terakhir film Love for Sale 2 ini diucapkan oleh Arini. Meskipun lebih banyak menceritakan cerita tentang kehidupan “korban” Arini, Love fo Sale 2 ini juga sedikit memperlihatkan sisi perasaan Arini.

Setelah Arini (Della Dartyan) membuat ambyar Richard (Gading Marten) di film Love for Sale yang pertama, kali ini Arini datang di kehidupan Ican (Adipati Dolken). Ican, lelaki ganteng usia 32 tahun, bekerja di agency periklanan, belum menikah, padahal adik dan kakak lelakinya sudah menikah.

Official Poster
Continue reading