Ucapkan Selamat Tinggal pada Facebook : Neser Ike Cahyaningrum dan Instagram @neserike

Sore itu tidak biasanya kata-kata ketus dan menyakitkan diketik oleh jari saya dan terkirim ke nomor WhatsAppnya. Berawal dari kejengkelannya karena saya terlalu kepo berlebihan, membuatnya menulis kejengkelannya tersebut di WhatsApp Story. Saya marah “Kalau ada masalah sama aku, jangan nyindir bikin status di media sosial, sini diomongin baikbaik“. Saya semakin mengungkit banyak hal yang terjadi di antara kami, saking jengkelnya dengan ketidakdewasaannya pada saat itu, sampai saya bilang “Maaf kamu egois“.

Besok paginya, saya memutuskan deactivated akun Facebook dan Instagram dan uninstall keduanya aplikasi tersebut dari smartphone saya. Setelah dibilang kepo, saya awalnya marah, tetapi saya sadar saya memang terlalu berlebihan.

Itu sekilas drama yang bisa menjawab latar belakang awal dari pertanyaan teman-teman “Instagrammu udah gak aktif, Nes?” .

Continue reading

“99 Nama Cinta”, Gambaran The Santri Versi Saya

Judul dan trailer film ini terkesan seperti film religi cinta-cintaan. Tapi ternyata setelah menonton, film ini tidak hanya berkisar pada dua hal tersebut. Film ini dibuka dengan adegan Talia (Acha Septriasa) membawakan acara gosip berjudul “Bibir Talia”. Mirip dengan beberapa acara televisi sekarang yang mengedepankan sensasi dan kontroversi demi rating dan share, begitu juga acara yang dibawakan oleh Talia tersebut.

Di kantornya tiba-tiba Talia didatangi oleh seseorang yang mengaku ustaz yang dikirim ibu Talia untuk mengajari Talia mengaji. Ternyata setelah dicek ke ibu Talia (Ira Wibowo), laki-laki tersebut adalah Kiblat (Deva Mahendra), teman kecil Talia yang juga merupakan anak dari sahabat orang tua Talia, Kyai Umar (Dony Damara).

Ketika Talia datang ke pesantren tempat Gus Kiblat dan Kyai Umar, Gus Kiblat malah semangat bertemu dengan Ning Husna (Chiki Fawzi), anak kyai teman Kyai Umar yang berprofesi menjadi desainer. Siapa yang lebih dipilih Gus Kiblat? Tonton aja sendiri yaaa

Continue reading

Matinya Kepakaran : Benarkah Karena Internet dan Media Sosial?

Perkembangan internet dan media sosial yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak memberikan efek yang signifikan terhadap berbagai informasi dan data yang kita terima. Ribuan berita hoaks tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari hoaks tentang kesehatan sampai yang paling panas hoaks tentang politik. Kita sampai kadang bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak jarang broadcast di WhatsApp Group keluarga yang diawali dengan “Pesan ini dari ahli bla bla bla….”, tapi isinya kurang masuk akal menurut kita.

Banyak orang tidak percaya kepada omongan para pakar atau para ahli yang punya pendidikan dan sertifikasi sesuai dengan kapasitasnya. Sebagian orang malah percaya dengan informasi yang tersebar di grup WhatsApp atau di media sosial orang-orang terdekatnya. Yaps, word of mouth dari orang/circle terdekat memang menjadi sumber informasi yang paling berpengaruh bagi seseorang untuk percaya pada suatu hal dan mengambil keputusan. Ada apa dengan pendapat para pakar dan ahli? Kemana mereka selama ini?

Melalui bukunya yang berjudul “The Death of Expertise” (Matinya Kepakaran), Tom Nichols menjelaskan berbagai opininya tentang kepakaran dan apa yang membuat kepakaran dirasa tidak berpengaruh signifikan di masa sekarang. Buku ini memang banyak membahas peristiwa di Amerika Serikat, namun banyak hal yang sebenarnya juga terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Kepakaran yang dibahas di sini terutama dalam hubungannya dengan politik dan demokrasi di sebuah negara, terutama untuk penyusunan strategi dan kebijakan sebuah negara. Misalkan, pakar ekonomi untuk membahas utang dan pertumbuhan ekonomi negara atau pakar kesehatan untuk membahas pentingnya pembelian vaksin untuk pencegahan penyakit.

Buku “The Death of Expertise”

Apakah memang matinya kepakaran ini terjadi karena perkembangan internet yang semakin canggih? Pokoknya semua salah internet, gitu? Ternyata, dari ulasan Tom Nichols, matinya kepakaran memang salah satunya disebabkan oleh perkembangan internet. Namun, juga ada beberapa hal lain yang menjadi pemicu kenapa kepakaran bukan jadi sesuatu yang dianggap penting oleh banyak orang saat ini.

Matinya kepakaran dipengaruhi oleh 4 hal : kemudahan akses internet, perkembangan sistem pendidikan, jurnalisme gaya baru dan sistem politik di sebuah negara.

Continue reading

Terima Kasih untuk Love for Sale 2, Mewakili Kami yang Belum Menikah dan Bukan Abdi Negara

Ketika memang harus selesai, itu bukan salahmu, salahku, atau kita yang menjalankannya. Tetapi waktu yang belum mengizinkan kita bersama

Arini, Love for Sale 2

Berbeda dengan kutipan terakhir Love for Sale pertama yang diucapkan Richard, kutipan terakhir film Love for Sale 2 ini diucapkan oleh Arini. Meskipun lebih banyak menceritakan cerita tentang kehidupan “korban” Arini, Love fo Sale 2 ini juga sedikit memperlihatkan sisi perasaan Arini.

Setelah Arini (Della Dartyan) membuat ambyar Richard (Gading Marten) di film Love for Sale yang pertama, kali ini Arini datang di kehidupan Ican (Adipati Dolken). Ican, lelaki ganteng usia 32 tahun, bekerja di agency periklanan, belum menikah, padahal adik dan kakak lelakinya sudah menikah.

Official Poster
Continue reading

“Sekolah Biasa Saja” yang Luar Biasa

Selesai membaca buku “Sekolah Apa Ini” yang juga pernah saya ulas sekilas dalam blog ini, membuat saya semakin penasaran dan tertarik dengan konsep sekolah alternatif yang diusung SALAM. Saya pun tertarik membaca buku yang sebenarnya terbit sebelum buku “Sekolah Apa Ini”, judulnya “Sekolah Biasa Saja”. Jika buku “Sekolah Apa Ini” lebih banyak bercerita tentang detail teknis kegiatan belajar mengajar di SALAM, buku “Sekolah Biasa Saja” lebih banyak membahas tentang kondisi pendidikan di Indonesia dan konsep-konsep pendidikan yang akhirnya diadopsi oleh SALAM.

Buku “Sekolah Biasa Saja”

Baca Juga : Sekolah Apa Ini, Kok Namanya SALAM?

Buku “Sekolah Biasa Saja” ini sungguh membuat saya lebih membuka mata tentang pengertian pendidikan dan sekolah yang fundamental, serta semakin tertarik dengan sekolah alternatif. Yuk mari coba kita lihat sekilas apa sebenarnya isi buku karangan Toto Rahardjo ini.

Sekolah dan Pendidikan di Indonesia

Untuk bagian latar belakang, buku ini banyak memberikan informasi tentang definisi  dan awal mula terbentuknya pendidikan dan sekolah serta perkembangan pendidikan di Indonesia.

Secara etimologi, sekolah berasal dari Bahasa Latin “schola”, yang artinya adalah waktu luang atau waktu senggang. Dalam Bahasa Inggris, kata ini dikembangkan menjadi kata “school”. Pada awalnya, sekolah dikembangkan dengan konsep kepengasuhan sampai usia tertentu, atau dikenal dengan istilah “scola matterna”. Konsep itu kemudian berkembang menjadi “scola in loco parentis”, lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengisi waktu senggang anak selama orang tuanya bekerja.

Sekolah adalah taman bagi anak-anak untuk bermain dan belajar. Konsep tersebut yang diterapkan SALAM dengan berpedoman kepada 3 guru dunia, yaitu Rabindranath Tagore yang mendirikan Ashram Shantineketan, Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa dengan konsep Tut Wuri Handayani yang mengadopsinya dari Maria Montessori yang berasal dari Italia, serta Julius Nyerere dari Tanzania yang berpandangan bahwa kebun garapan rakyat adalah sekolah bagi rakyat.

Continue reading

Film “Bebas”, Hidup Tidak Sebebas Cita-cita Masa SMA

Setelah Ada Apa Dengan Cinta 2, Mira Lesmana dan Riri Reza kembali menelurkan film bertema reuni. Film ini berjudul “Bebas’, sebuah film adaptasi dari film Korea yang berjudul “Sunny”. Sebagai orang yang jarang sekali nonton film Korea, saya tidak berekspektasi apa-apa waktu akan menonton film ini. Ya cuma sekadar hiburan setelah hampir sebulan saya tidak nonton di bioskop.

Film ini menceritakan tentang sekelompok orang yang pernah jadi satu geng di SMA yang reuni setelah 23 tahun lamanya. Pertemuan kembali ini awalnya tidak disengaja, namun akhirnya menjadi sebuah reuni yang berarti dalam hidup masing-masing anggota geng yang bernama Bebas ini.

Geng Bebas terdiri dari 6 orang, yaitu Krisdayanti (Sheryl Sheinafia – Susan Bachtiar), Vina Panduwinata (Maizura – Marsha Timothy), Jessica (Agatha Prescilla – Indy Barens), Gina (Zulfa Maharani – Widi Mulya), Jojo (Baskara Mahendra – Baim Wong), dan Suci (Lutesha dan surpriseeeeee).

Poster film “Bebas”

Membangkitkan kenangan masa lalu memang selalu bahan film yang menarik, apalagi masa-masa SMA dan kuliah. Meskipun latar waktu yang dipakai di film ini terutama pada tahun 1995-an, tapi masih terasa relate dengan saya yang SMA pada tahun 2001-2004. Lagu-lagu lawas yang masih enak didengar dan kumpul geng setelah jam sekolah, dan tanpa media sosial-media sosialan.

Official Trailer “Bebas”

Keenam anggota Geng Bebas sewaktu SMA, punya cita masing-masing. Layaknya anak SMA, mereka punya cita-cita tinggi dan ideal. Dengan privilege yang mereka miliki (secara materi, mereka berkecukupan, bahkan ada yang lebih), mereka sepertinya tidak akan susah mencapai harapan mereka masing-masing.

Continue reading

Siap Nikah Setelah Ikut Seminar “Indonesia Tanpa Nikah Ngasal”

Tulisan ini merupakan rangkuman singkat tentang sebuah seminar yang saya ikuti di Substitute Makerspace. Substitute Makerspace bukanlah sebuah coworking space yang menjadi tren bagi para milenial untuk tempat kerja. Tempat menyediakan ruangan bagi teman-teman di Surabaya yang ingin berbagi ilmu, baik keterampilan teknis (hardskill) maupun keterampilan nonteknis (softskill). Yang mau tahu lengkap tentang Substitute Makerspace bisa langsung ya melipir ke akun Instagram-nya.

Pas sekali, seminar di Substitute Markerspace ini saya ikuti menjelang ulang tahun saya yang ke-30, dalam status yang masih belum menikah. Dan seminar ini banyak memberi saya ilmu baru dalam rangka persiapan pernikahan. Mungkin akan banyak yang komentar nyinyir kepada saya “Walah Nes, umurmu sudah 30, apalagi yang kamu siapkan? Ga usah kebanyakan milih”. Sebagai seorang yang well planned, memilih pasangan untuk seumur hidup bukan hanya sekadar memilih kucing dalam karung, atau semudah mengambil bunga di tepi jalan. Wedding is one day, marriage is a journey. Tsaaahhhhh.

Banyak yang mengira seminar berjudul “Indonesia Tanpa Nikah Ngasal” ini dibuat untuk menjadi lawan sebuah gerakan yang cukup fenomenal di Indonesia yang disingkat dengan nama ITP, atau panjangnya “Indonesia Tanpa Pacaran”. Tetapi seminar ini bukan sebuah gerakan yang serta merta menyarankan kita untuk pacaran. Seminar ini lebih banyak memberikan informasi tentang pentingnya menyiapkan pernikahan dari berbagai aspek, bukan hanya asal karena ingin menikah, tuntutan umur atau pokoknya biar halal dulu deh.

“Indonesia Tanpa Nikah Ngasal” ini membicarakan kesiapan nikah dari 3 aspek yang dibahas oleh pakar masing-masing. Aspek yang pertama adalah aspek psikologi, yang dibahas oleh psikolog bernama Aprilianto (dikenal dengan nama Om Ge), yang bisa diikuti akun Instagrammnya di @latihati. Aspek yang kedua adalah aspek kesehatan reproduksi, yang dibahas oleh Mba Zahra dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur. Aspek yang ketiga, yang banyak saya bahas di blog saya, yaitu aspek perencanaan keuangan. Masalah keuangan ini dibahas oleh ahlinya, yaitu Mba Yasmeen, seorang financial planner ternama di kota Surabaya.

Yuk cuss kita coba bahas satu-satu

Continue reading