Ucapkan Selamat Tinggal pada Facebook : Neser Ike Cahyaningrum dan Instagram @neserike

Sore itu tidak biasanya kata-kata ketus dan menyakitkan diketik oleh jari saya dan terkirim ke nomor WhatsAppnya. Berawal dari kejengkelannya karena saya terlalu kepo berlebihan, membuatnya menulis kejengkelannya tersebut di WhatsApp Story. Saya marah “Kalau ada masalah sama aku, jangan nyindir bikin status di media sosial, sini diomongin baikbaik“. Saya semakin mengungkit banyak hal yang terjadi di antara kami, saking jengkelnya dengan ketidakdewasaannya pada saat itu, sampai saya bilang “Maaf kamu egois“.

Besok paginya, saya memutuskan deactivated akun Facebook dan Instagram dan uninstall keduanya aplikasi tersebut dari smartphone saya. Setelah dibilang kepo, saya awalnya marah, tetapi saya sadar saya memang terlalu berlebihan.

Itu sekilas drama yang bisa menjawab latar belakang awal dari pertanyaan teman-teman “Instagrammu udah gak aktif, Nes?” .

Continue reading

“Sekolah Biasa Saja” yang Luar Biasa

Selesai membaca buku “Sekolah Apa Ini” yang juga pernah saya ulas sekilas dalam blog ini, membuat saya semakin penasaran dan tertarik dengan konsep sekolah alternatif yang diusung SALAM. Saya pun tertarik membaca buku yang sebenarnya terbit sebelum buku “Sekolah Apa Ini”, judulnya “Sekolah Biasa Saja”. Jika buku “Sekolah Apa Ini” lebih banyak bercerita tentang detail teknis kegiatan belajar mengajar di SALAM, buku “Sekolah Biasa Saja” lebih banyak membahas tentang kondisi pendidikan di Indonesia dan konsep-konsep pendidikan yang akhirnya diadopsi oleh SALAM.

Buku “Sekolah Biasa Saja”

Baca Juga : Sekolah Apa Ini, Kok Namanya SALAM?

Buku “Sekolah Biasa Saja” ini sungguh membuat saya lebih membuka mata tentang pengertian pendidikan dan sekolah yang fundamental, serta semakin tertarik dengan sekolah alternatif. Yuk mari coba kita lihat sekilas apa sebenarnya isi buku karangan Toto Rahardjo ini.

Sekolah dan Pendidikan di Indonesia

Untuk bagian latar belakang, buku ini banyak memberikan informasi tentang definisi  dan awal mula terbentuknya pendidikan dan sekolah serta perkembangan pendidikan di Indonesia.

Secara etimologi, sekolah berasal dari Bahasa Latin “schola”, yang artinya adalah waktu luang atau waktu senggang. Dalam Bahasa Inggris, kata ini dikembangkan menjadi kata “school”. Pada awalnya, sekolah dikembangkan dengan konsep kepengasuhan sampai usia tertentu, atau dikenal dengan istilah “scola matterna”. Konsep itu kemudian berkembang menjadi “scola in loco parentis”, lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua. Sekolah menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengisi waktu senggang anak selama orang tuanya bekerja.

Sekolah adalah taman bagi anak-anak untuk bermain dan belajar. Konsep tersebut yang diterapkan SALAM dengan berpedoman kepada 3 guru dunia, yaitu Rabindranath Tagore yang mendirikan Ashram Shantineketan, Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa dengan konsep Tut Wuri Handayani yang mengadopsinya dari Maria Montessori yang berasal dari Italia, serta Julius Nyerere dari Tanzania yang berpandangan bahwa kebun garapan rakyat adalah sekolah bagi rakyat.

Continue reading

Kelas Inspirasi Magetan 6 di SDN Ngancar 2, Desa Kecil Penunjang Kegiatan Ekonomi di Wisata Sarangan

Setelah cukup lama istirahat, relawan Kelas Inspirasi Magetan dengan formasi yang baru dan fresh menyelenggarakan Kelas Inspirasi Magetan yang ke-6. Kali ini, melanjutkan petualangan di pelosok Magetan, Kelas Inspirasi Magetan memilih Kecamatan Plaosan sebagai area untuk Zona Inspirasi. Sebelumnya, Kelas Inspirasi Magetan pernah juga memilih daerah 3P yang lain, yaitu Poncol, Parang dan Panekan? Selanjutnya? Sebentar, kita ambil nafas dulu.

Baca juga : Cerita Sehari Bersama Para Calon Da’i dari SDN Dadi

Baca juga : Kelas Inspirasi Menyapa dari Ujung Magetan yang Terisolasi

Baca juga : Terbatasnya Jumlah Siswa Tidak Menyurutkan Kami untuk Membuat Heboh SDN Poncol 5

Desa Ngancar, Penunjang Kegiatan Ekonomi di Kawasan Sarangan

Di Kelas Inspirasi Magetan 6, saya kebagian menjadi fasilitator di SDN Ngancar 2, sebuah sekolah di Desa Ngancar. Desa ini berbatasan langsung dengan Kelurahan Sarangan, tempat wisata terkenal di Magetan. Secara administratif, Desa Ngancar ini terdiri dari 3 dusun, yaitu Dusun Ngancar, Dusun Geyong dan Dusun Cemorosewu. Iya, Cemorosewu yang merupakan batas antara Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun, akses ke Cemorosewu harus berputar dulu melewati kawasan wisata Sarangan. Ada sih akses langsung dari Ngancar ke Cemorosewu, tapi medannya yang lumayan ekstrim. Jadi, anak-anak di Cemorosewu pun sekolah di daerah Jawa Tengah.

Siswa dan Guru SDN Ngancar 2 bersama Relawan Kelas Inspirasi

Akses ke Desa Ngancar ini lumayan menanjak dan ada tikungan tajam. Setelah lolos test drive ke Sembalun, saya pun sok congkak dengan menganggap akses seperti ini mah sudah biasa. Meskipun aksesnya tidak mudah bagi sebagian orang, tapi pemandangan kiri kanan sepanjang jalan pun sebanding. Di sepanjang jalan kita bisa melihat kebun sayur, mulai dari kol, sawi, wortel, cabai sampai daun bawang. Bau wortel pun kadang bisa kita cium di perjalanan.

Pemandangan di Desa Ngancar

Sebagian besar penduduk di Desa Ngancar bekerja sebagai petani. Tapi jangan salah, penduduk Ngancar adalah petani sukses, bisa dilihat dari rumah-rumah bagus berlantai dua yang bertebaran. Hasil panen sayuran dari Ngancar selain dijual di kawasan wisata Sarangan, juga disalurkan ke Magetan, Madiun dan sekitarnya. Penduduk Desa Ngancar juga lah yang sebagian besar menjadi pedagang sate kelinci di kawasan Sarangan. Tidak heran, sebelum memasuki gapura Desa Ngancar, kita akan disambut dengan patung kelinci yang lucu.

Continue reading

Berbagi Cerita dengan Siswa Sekolah Bambu di Pinggiran Kuta Mandalika

Setelah terakhir kali dilaksanakan pada awal 2018 lalu, Kelas Inspirasi Lombok kembali dilaksanakan di Juli 2019 ini. Kelas Inspirasi Lombok yang ke-6 ini mengambil tema “Mandalika The Hidden Treasure“. Sesuai dengan temanya, Kelas Inspirasi Lombok kali ini diadakan di daerah sekitar Mandalika, sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dicanangkan sebagai satu dari 10 Bali baru oleh Kementerian Pariwisata. Kawasan Mandalika ini terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Baca juga : Terinspirasi di Balik Ramainya Gili Trawangan

Baca juga : Dua Kelas Inspirasi sebagai Pembuka dan Penutup di 2017

Baca juga : Jangan ke Lombok, Move On-nya Berat, Kamu Gak Akan Kuat

Berbeda dengan biasanya selama saya mengikuti Kelas Inspirasi Lombok 3-5, kali ini saya mencoba hal baru dengan menjadi panitia. Syukurlah, teman-teman Kelas Inspirasi Lombok berkenan menerima saya yang berasal dan tinggal di luar Lombok ini sebagai panitia. Saya “kebagian” tugas di MI Pogem Petiwung. Saya pertama kali tahu sekolah ini dari tulisan teman saya di situs pribadinya di sini. Dari ceritanya, sepertinya sekolah ini menarik. Dan salah satu keberuntungan untuk saya bisa jadi relawan di sana.

MI Pogem Petiwung

Baca juga : Sekolah Petiwung, Potret Miris Sekolah di Kawasan Wisata

Sekolah Bambu

Sekolah ini bernama MI NW Nurul Haq Pogem Petiwung, dikelola bawah yayasan milik Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan terbesar di Pulau Lombok ini. Berstatus swasta, MI Pogem Petiwung ini awalnya dibangun untuk mempermudah akses pendidikan di Desa Sukadana, Kec. Pujut, Lombok Tengah.

Dengan tambahan sedikit bantuan dari yayasan, sekolah ini mulai dibangun 2012. Dengan segala keterbatasan dana, saat ini sekolah sudah berhasil berdiri dengan 5 kelas bertembokkan bambu, 1 perpustakaan dan 1 ruang guru. Dengan kondisi sama semi terbuka ini, sekolah ini sempat dikonsepkan dalam bentuk eco school oleh yayasan yang membantunya tersebut, tapi terdapat kendala dalam penerapan.

MI Pogem Petiwung
Continue reading

“Dua Garis Biru”, Bukan Film Biru

Setelah film “Kucumbu Tubuh Indahku” yang dipetisi, -yhaaa meskipun petisinya malah nyasar ke lembaga negara yang komisionernya berkacamata nan uwuwuwuwuwuwuwuw seperti kamu Mas, bukan ke lembaga seharusnya yaitu LSF- ada lagi satu film Indonesia yang dipetisi sejak sebelum tayang. Ternyata, petisinya dibatalkan dan per tanggal 11 Juli 2019 kemarin sudah beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Film ini judulnya “Dua Garis Biru”.

Film yang posternya menampilkan dua wajah remaja nan imut, di atas tempat tidur di bawah selimut tersebut sontak menimbulkan berbagai pro kontra dan memunculkan banyak boikot. Apalagi setelah melihat trailer-nya, makin banyak orang yang mengganggap film ini sebagai film perusak generasi muda karena menceritakan tentang hamil di luar nikah atau dulu bahasa istilahnya married by accident (MBA).

Poster “Dua Garis Biru”

Wahai para penduduk negeri +62 yang suka sekali menilai sebuah sesuatu dari trailer-nya saja, mending baca ulasan saya dulu atau langsung cuss ke bioskop buat nonton film Dua Garis Biru ini deh. Karena buat saya sendiri yang sudah tidak remaja, belum menikah dan belum punya anak, film ini tuh ngena banget. Fenomena kehamilan di luar nikah pada perempuan remaja itu nyata lho terjadi di sekitar kita bahkan mungkin menimpa teman dekat atau keluarha kita. Film ini bukan menceritakan ena-ena-nya, tapi ga enaknya hamil di luar nikah dan masalah-masalah yang akan dihadapi kedepannya sebagai pasangan yang masih amat muda.

Meskipun sempat diboikot, film ini ternyata malah menarik banyak penonton. Awalnya saya nonton di hari pertama agar tidak ketinggalan jika film ini turun layar dalam waktu cepat. Tapi ternyata antusiasme penonton film ini cukup besar. Sampai di hari ke-5 penayangan, film Dua Garis Biru sudah ditonton hampir oleh sejuta penonton. Keren! Informasi ini akan terus diupdate oleh penulis skenario sekaligus sutradaranya, yaitu Gina S. Noer di akun media sosialnya.

Continue reading

“Rumah Merah Putih”, Cerita Nasionalisme Anak Perbatasan

Kapan terakhir kali kalian menonton film non bucin (budak cinta) sampai mengeluarkan air mata? Saya baru mengalaminya minggu lalu, sewaktu menonton film berjudul “Rumah Merah Putih” ini. Film ini merupakan produksi dari Alenia Pictures, yang digawangi oleh spesialis film dari Indonesia Timur, pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen.

Film ini menceritakan tentang kehidupan dua sahabat kecil, Farel dan Oscar yang tinggal di daerah Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, berbatasan langsung dengan Timor Leste. Selain mereka berdua, ada David, Anton, Fransisca dan satu lagi saya lupa namanya. Peran Farel dan Oscar di sini diperankan oleh dua bocah lelaki asli NTT, yaitu Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao.

Farel Amaral tinggal dengan adiknya, dan kedua orang tuanya (diperankan oleh Yama Carlos dan Shafira Umm). Sedangkan Oscar tinggal bersama Tante Maria yang bekerja sebagai pedagang, diperankan oleh Pevita Pearce.

Sebelum lanjut, kita lihat dulu trailer-nya yang bikin merinding.

Merinding

Film ini dimulai dengan ramainya pembagian cat merah putih untuk digunakan menjelang Agustusan. Keempat bocah lelaki itu saling bercanda setelah mendapatkan 2 kaleng cat. Farel tanpa sengaja meninggalkan kantong plastik berisi cat di bawah pohon. Keempat bocah cilik ini kemudian ke lapangan mengikuti lomba panjat pinang meskipun akhirnya kalah.

Continue reading

Sebuah Refleksi Diri tentang Kelas Inspirasi

Nama “Kelas Inspirasi” mulai dikenal setelah booming-nya Gerakan Indonesia Mengajar. Kelas Inspirasi menjadi alternatif untuk para profesional yang tidak bisa menjadi Pengajar Muda, untuk menyalurkan hasrat mengajar dan hasrat sosialnya hanya dengan mengambil cuti selama 1 hari. Kelas Inspirasi pertama dilaksanakan di tahun 2012 di Jakarta, dan sampai saat ini Kelas Inspirasi sudah menjangkau puluhan bahkan mungkin ratusan kota di penjuru negeri.

Kegiatan Kelas Inspirasi dimulai dengan pelaksanaan briefing kepada relawan pengajar dan dokumentator untuk persiapan pelaksanaan hari-H yang biasa dikenal dengan Hari Inspirasi. Setelah pelaksanaan Hari Inspirasi, biasanya kita akan melaksanakan Refleksi. Bisa dilaksanakan hari itu juga setelah selesai Hari Inspirasi, atau di hari setelahnya. Tidak jarang, acara refleksi ini hanya dihadiri oleh sebagian relawan, karena yang lainnya lanjut pulang ke  daerah masing-masing atau lanjut jalan-jalan. Jujur, saya termasuk relawan yang hanya beberapa kali ikut refleksi dari keseluruhan kegiatan Kelas Inspirasi yang saya ikuti.

Tapi, kali ini bukan refleksi itu yang saya maksud. Refleksi setelah Hari Inspirasi biasanya berisi kesan pesan tentang kegiatan di Hari Inspirasi, pengalaman mengajar bersama siswa sampai inspirasi atau motivasi yang pada akhirnya malah didapatkan oleh para relawan dari teman-teman kecil baru mereka. Saya pernah membuat dan menjalankan konsep refleksi yang sedikit berbeda dalam bentuk diskusi singkat per kelompok sewaktu menjadi panitia di Kelas Inspirasi Magetan 3, dan sebagian besar relawan berkata “Duh Mbak, berat acaranya”.

Saya selalu merasa ada yang kurang dari kegiatan refleksi tersebut. Saya merasa ada yang kurang dengan Kelas Inspirasi. Saya mencoba melakukan refleksi kepada diri saya sendiri, bukan hanya tentang Hari Inspirasi, tapi sebuah refleksi besar tentang Kelas Inspirasi sendiri.

Continue reading