3 The Movie, Indonesia Masa Depan?

Sebelum bercerita banyak tentang film “3” ini, mungkin aku ungkapkan dulu apa sih yang dulu membuat aku tertarik untuk nonton film ini. Ada beberapa alasan :

  1. #AyoNontonFilmIndonesia. Yaps, aku seneng nonton film Indonesia. Film Indonesia yang ga bertema cinta-cintaan remaja, atau yang hantu esek2, biasanya akan masuk ke wishlist nontonku
  2. Bintangnya Abimana Aryasatya, si “Mas Rangga”. Abi ini salah satu aktor favorit aku selain Fedi Nuril, Oka Antara dan Rio Dewanto. Apalagi setelah liat dia adzan di Menara Eifel pas 99 Cahaya di Langit Eropa. Duh, tambah meleleh.
  3. Alif Lam Mim, kalimat ini muncul pas di trailer. Semakin menambah penasaran aja. Trailernya sih kayaknya bukan film religius, tapi kok ada kalimat dalam Bahasa Arab yang sering banget muncul di AlQuran ini.

3 The Movie

Dan akhirnya, pas weekend memutuskan untuk nonton film 3 ini. Sayang sekali, film ini jarang yang nonton. Pas buka web 21.cineplex.com, hanya tinggal satu bioskop yang menayangkan film ini, di 21 Delta. Daripada ga kebagian nonton, langsung cuss dehhh..

Film “3”, film laga futuristik yang mengambil setting Indonesia di tahun 2036. Dalam film ini, diceritakan, Indonesia sudah menjadi negara liberalis. Agama sudah menjadi hal minoritas. Ribuan tempat ibadah sudah dihancurkan, dan mereka yang beragama dianggap sebagai teroris. Meskipun liberal, tetapi penggunaan senjata api dibatasi di Indonesia pada waktu tersebut. Aparat negara bahkan hanya diperbolehkan menggunakan pistol berpeluru karet untuk melumpuhkan lawannya. Tidak heran pada masa itu, kemampuan melakukan beladiri menjadi suatu hal yang amat penting.

Layaknya film futuristik, bentuk gadget dan desain rumah yang digunakan dalam film ini bisa dibilang hi tech. Mulai dari gadget yang modelnya uda bening semua, sampai rumah yang udah serba otomatis.

Tapi agak miris sih, pas ada adegan salah satu tokohnya dimarahi atasannya karena dia punya agama dan masih melakukan ibadahnya. Bahkan dalam salah satu adegan diceritakan bahwa tokoh ini sampai harus sembunyi-sembunyi melakukan ibadahnya di basement. Dalam salah satu adegan pula diceritakan, mereka yang berpakaian muslim diusir dari rumah makan. Sedih liatnya kalau memang Indonesia ke depan akan seperti itu.

Jangan dikira, saking liberalisnya, sampai benar-benar tidak ada tempat ibadah. Dalam film ini diceritakan masih ada satu pondok pesantren yang berada di salah satu distrik di Indonesia (penyebutannya sudah bukan provinsi atau kabupaten). Nah di dalam pesantren inilah, penduduk yang masih beragama berkumpul dan menjalankan ibadahnya, terutama yang beragama Islam. Dalam pesantren ini juga diajarkan pertanian dan pengobatan. Sayang, pesantren ini dituduh sebagai sarang teroris.

Wait, aku belum menceritakan tokohnya ya. Baiklah, ada tiga tokoh penting dalam film “3” ini, sesuai dengan judulnya. Alif, Lam dan Mim. Terjawab sudah pertanyaan apa Alif, Lam dan Mim dalam trailer. Alif, Lam dan Mim ini dulunya adalah santri di pondok pesantren yang juga belajar beladiri. Namun, ketiga tokoh ini mempunyai sifat dan cita-cita yang berbeda setelah mereka lulus dari pesantren.

Alif, seperti namanya, dari huruf pertama dalam huruf hijaiyah, Alif ini lurus dan tegas. Alif ini memilih menjadi aparat negara, dan memerangi apapun yang dianggapnya menganggu keamanan negara.

Lam, panjangnya Herlam. Seorang jurnalis yang idealis. Bekerja di salah satu media terbesar saat itu yang liberalis. Desires Lam hanya ingin menyebarkan berita yang benar dan sesuai dengan hati nuraninya. Dan Lam ini diperankan sama Abiiiiii…

Mim, alias Mimbo. Berbeda dengan kedua temannya. Mim memilih untuk tetap di pesantren, menyebarkan dan menegakkan agamanya. Cita-cita Mim hanya satu, mati dengan khusnul khatimah.

Dalam perjalannya, Alif dan Mim saling bertentangan. Dan Lam, sesuai tempatnya yang berada di tengah, selalu ingin menjaga kedua sahabatnya tersebut. Cerita film ini cukup sulit ditebak, dan sedikit berlapis-lapis ala film Hollywood. Bahkan di akhirnya, terungkap dalang dari berbagai terorisme yang dilakukan. Ada model agen-agen, mirip CIA gitu lah. Jangan dikira hanya masalah terorisme dan agama, cinta-cintaan juga dimunculkan dalam film ini.

Sejauh ini, film “3” ini masuk dalam kategori film Indonesia yang layak untuk ditonton. Memberi warna baru perfilman Indonesia. Jadi, buat yang belum nonton, jangan sampai ketinggalan nonton pas diputar di stasiun televisi, atau pas ada Nobar.

Satu kalimat penutup yang diutarakan oleh Kyai Mukhlis (Kyai di Pesantren), yang diambil dari salah satu hadist riwayat Muslim. Kutipan ini juga sempat diutarakan oleh Lukman Sardi yang berperan sebagai KH. Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah.

Islam muncul dalam keadaan terasing, dan ia akan kembali dalam keadaan terasing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu”

 

#AyoNontonFilmIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s