Gili Labak, The Hidden Paradise yang Mulai Ramai tapi Juga Mulai Kotor

Gara-gara melihat bintang laut dan ikan di kawasan pantai di Jayapura, aku jadi impulsif ingin ke pantai dan sekaligus nyebur. Pilihanku jatuh ke Gili Labak Setahun terakhir nama Pulau Gili Labak menjadi trending topic bagi traveler  di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya. Eits, jangan dikira karena namanya Gili, pulau kecil ini juga berada kawasan Lombok bersama Gili Trawangan dan gili-gili yang lain. Gili Labak ini terletak di kawasan Pulau Garam alias Madura.

Secara administratif, Gili Labak terletak di Kabupaten Sumenep, lebih tepatnya masuk dalam wilayah Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango.  Pulau kecil ini terletak di sebelah tenggara Pulau Madura. Dengan luas wilayah sekitar 5 ha, dalam 30 menit kita bisa mengelilingi pulau kecil ini dengan berjalan kaki. Secara koordinat, Gili Labak terletak pada titik 7012’10-3” lintang selatan dan 114002”47-4” bujur timur. Kok tau? Yaps, di salah satu area Pulau Gili Labak, terdapat sebuah penanda koordinat.

DSC_9264

Penanda Koordinat Gili Labak

Untuk menuju Gili Labak, kita harus menyeberang melalui Pelabuhan Kalianget. Saat ini, sudah banyak agen travel yang menawarkan paket wisata PP dari Surabaya ke Gili Labak,termasuk sewa perahu motor. Buat yang mabuk laut tidak disarankan ikut, mengingat waktu perjalanan yang cukup lama dan tentunya tidak bisa menikmati pemandangan jika dalam kondisi mabuk. Mulai sebelum Subuh, Pelabuhan Kalianget sudah cukup ramai calon penumpang, khususnya penumpang yang akan menyeberang ke Pulau Talango yang berada pas di sebelah Pelabuhan Kalianget dan mungkin hanya berjarak 200 m. Penduduk Talango menggunakan kapal penyeberangan ataupun perahu kecil untuk sarana transportasi sehari-hari menuju Pulau Madura lewat Kalianget. Jadi jangan heran banyak motor yang naik ke perahu kecil, dan juga banyak mobil box yang naik kapal penyeberangan.

DSC_0509

Suasana Pagi Pelabuhan Kalianget

Perjalanan dari Pelabuhan Kalianget kurang lebih memakan waktu antara 2-2,5 jam, tergantung dari kondisi cuaca dan gelombang. Kebetulan sewaktu kesana, kondisi cuaca sedang tidak mendukung. Dari Pelabuhan Kalianget sudah mulai mendung. Di perjalanan, pemandu dan Pak Sopir Perahu bahkan sudah memasang terpal karena melihat mendung yang mulai gelap ke arah Gili Labak. Sesampainya ke Gili Labak, ternyata kami pun disambut hujan.

DSC_0514

Mendung Menuju Gili Labak

Ketika sampai di tempat ternyata sudah ramai wisatawan yang datang. Ternyata Gili Labak bukanlah pulau yang benar-benar kosong. Sudah banyak warung, gubuk dan lokasi peristirahatan sementara di bagian pinggir pulau. Meskipun belum ada penginapan, beberapa lokasi peristirahatan sementara beralaskan semen dengan dinding dari bambu bisa digunakan untuk beristirahat sementara menunggu hujan reda. Sambil menunggu hujan reda, kami pun diberi sarapan sederhana oleh agen kami. Cukup untuk energi snorkeling nanti, nasi dengan lauk oseng buncis dan mie, lengkap dengan separuh telur bulat. Kalau yang beruntung, ada yang bisa dapat dadar jagung. Agak di bawah ekspektasi sih, pinginnya ikan laut bakar gitu. Hahahahaha.

DSC_0518

Menu Sarapan Pagi di Gili Labak

Sarapan tersebut dimasak oleh ibu-ibu penduduk Gili Labak. Ternyata Gili Labak ditinggali oleh antara 30-35 KK. Jaringan listrik menggunakan genset yang hanya dinyalakan pada malam hari atau pas hari dalam keadaan gelap. Kita dapat menemukan mushola di kawasan pulau kecil ini, tetapi kita tidak akan menemukan sekolah. Yaps, sebagian besar penduduk Gili Labak ternyata tidak bersekolah, karena letak sekolah yang cukup jauh di Pulau Talango yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan dari Gili Labak. Miris yah dengernya.

DSC_0516

Sumber Listrik Penduduk Gili Labak

Dan, saatnya nyebur. Buat aku yang masih ala-ala dan tidak bisa berenang ini, awalnya takut untuk nyebur. Setelah guide memberikan briefing cara menggunakan peralatan snorkeling yaitu snorkel dan masker dengan benar, aku pun memberanikan diri nyebur. Oiya, peralatan snorkeling ini biasanya sudah termasuk dalam biaya yang kita bayarkan ke agen. Tetapi hanya sebagian kecil agen yang menyertakan kaki katak dalam peralatan snorkelingnya, jadi siap-siap kaki babras (lecet, red) ya. Kalau pakai sandal gunung takutnya merusak karang sih, kalau ga sengaja terinjak.

IMG_20151211_164300

Eciee, Gaya WOW di Bawah Air

Karena ribet pakai pelampung, akhirnya aku melepas pelampung dan memutuskan snorkeling hanya menggunakan masker dan snorkel. Awalnya takut tenggelam dan cuma sesekali menyelam di tempat sebentar. Tapi setelah sedikit latihan, akhirnya mencoba mengapung dan bergerak ke lokasi yang lain. Namun, tidak jarang juga tiba-tiba kemasukan air, tidak seimbang dan tidak sengaja mengenai karang yang tajam. Di dalam air pantai di kawasan Gili Labak, kita dapat melihat berbagai ikan warna-warni, salah satunya ikan warna putih orange yang ada di film Finding Nemo.

DCIM100MEDIA

Ikan Nemo yang Malu-Malu

Puas snorkeling, kamipun naik ke daratan dan membilas badan. Sayang, di Gili Labak fasilitas untuk kamar mandi masih kurang. Kurang lebih ada 4 kamar mandi yang bisa digunakan, yang tentu saja antri. Kondisi air di kamar mandi pun sedikit kotor. Ya sudahlah daripada lengket, bilas seadanya dulu aja.

Tidak hanya snorkeling, kami pun mengelilingi pulau kecil ini. Di salah satu bagian pantai terdapat beberapa pohon kering yang sering jadi tempat untuk berfoto ria. Jika masuk ke dalam kita akan menemukan satu pohon tua yang katanya keramat. Di pohon tua ini terdapat beberapa bendera merah putih yang sudah usang dan beberapa anyaman bambu bekas sesajen.

IMG_20151207_220348

Pohon Tua yang Konon Keramat

Pulau ini indah, namun ternyata masih ada wisatawan yang kurang bertanggung jawab. Yang biasanya kekinian foto selfie dengan kertas bertulisan pesan, ternyata meninggalkan kertasnya sembarangan di pantai. Beberapa sampah botol plastik pun masih bisa ditemukan di kawasan pulau. Be a smart traveler guys. Pulau kecil yang indah ini lama kelamaan akan menjadi kotor seperti pantai-pantai yang lain jika kita tidak menjaganya.

DSC_0530

Ini Nih yang Kurang Smart

Advertisements

3 thoughts on “Gili Labak, The Hidden Paradise yang Mulai Ramai tapi Juga Mulai Kotor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s