Review Bukaan 8, Lumayan Lah Buat Bekal

Sebelum lanjut, nih official trailer dan posternya.

bukaan-8

Dari trailer dan poster udah keliatan kan siapa pemainnya. Yaps, film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Di proses penggarapan film ini, Chicco juga jadi produsernya loh.

Di sini, Chicco berperan menjadi Alam, seorang netizen aktif dengan ribuah followers. Saking aktifnya, pas nyetir pun Alam masih sempet twitwar sama politisi. Alam di sini memang kritis dan idealis. Alam punya istri yang bernama Mia (diperankan oleh Lala Karmela). Diceritakan di sini Mia sedang menjelang proses persalinan, sesuai kan dengan judulnya “Bukaan 8”.

Continue reading

Ini Kisah Tiga Dara

Dari judulnya pun sudah tersurat jelas kalau film ini menceritakan tentang kehidupan tiga orang gadis. Film karya Nia Dinata ini, merupakan remake dari film Tiga Dara yang pernah tenar di tahun 1957 lalu.

Tiga dara tersebut bersaudara, yang terdiri dari :

  1. Gendis, si sulung yang berusia 32 tahun. Diperankan oleh Shanty Paredes. Sebagai anak tertua, Gendis ini cenderung keras dan pekerja keras. Di usianya yang sudah cukup matang, Gendis belum juga menikah.
  2. Ella, anak kedua yang eksotis, diperankan oleh Tara Basro. Anak kedua ini cenderung kompetitif dalam masalah lelaki, tapi di sisi lain dia merasa harus selalu mengalah kepada Kakaknya
  3. Bebe, anak ketiga yang masih berusia 19 tahun, diperankan oleh Tatyana Akman. Di balik kenakalannya berpacaran dengan pria bule, Bebe ini ternyata rajin berkegiatan sosial, salah satunya dengan mengajar.

Ini poster dan trailernya ya, sebelum lanjut.

Poster-film-Ini-Kisah-Tiga-Dara-1.jpg

Official Poster “Ini Kisah Tiga Dara”

 


Continue reading

Pantai Tiga Warna Malang, Tambahan Warna Baru bagi Kabupaten Malang

 

Buat yang suka ngepantai cantik, tidak hanya sekedar foto-foto tapi juga menikmati suasana bawah laut, kini Malang Selatan punya pantai yang cukup lumayan untuk melepaskan hasrat nyebur dan ketemu ikan warna-warni. Sebut saja namanya Pantai Tiga Warna. Kebetulan akhir minggu lalu, aku dan teman-teman sempat short trip ke Pantai Tiga Warna. Nah ini sekilas tentang Pantai Tiga Warna.

 

Lokasi dan Medan Perjalanan

Secara geografis Pantai Tiga Warna terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (biasa disingkat Sumawe, serius baru tahu singkatan ini pas lewat sana), Kabupaten Malang. Oh iya, Kabupaten Malang ini beda sama Kota Malang ataupun Kota Batu secara administratif. Ketiga daerah ini memang berada dalam kawasan Malang Raya yang dikenal dengan nama Malang saja. Tapi ketiga daerah ini secara administratif berbeda. Kabupaten Malang sendiri merupakan kawasan paling luas di antara ketiga daerah tersebut, yang sebenarnya memberikan pilihan obyek wisata yang cukup banyak.

Oke kembali ke topik Pantai Tiga Warna. Pantai ini kurang lebih bisa ditempul antara 2-3 jam dari Malang Kota. Kalau dilihat dari Google Maps, kurang lebih berjarak 70 km dari Alun-alun Kota Malang.

Perjalanan menuju Pantai Tiga Warna cukup lumayan menantang dan mengocok perut, karena melewati daerah Malang Selatan yang cukup berbukit dan berkelak-kelok.  Kalau naik sepeda motor, pastikan dalam keadaan baik, kalau naik mobil dan suka mabuk darat, jangan lupa minum obat anti mabuk.

Kawasan ini searah dengan Pantai Sendang Biru, jadi kita akan melewati daerah Turen terlebih dahulu baru kemudian masuk ke wilayah Sumawe. Ketika sampai di pertigaan menuju Sendang Biru, kalau ke Sendang Biru lurus, nah ke Tiga Warna ini belok kanan. Di pertigaan ini juga sudah ada petunjuk yang cukup jelas. Ketika sudah sampai ke pertigaan ini kita bisa melihat perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur yang sudah cukup lebar. JLS ini memang dibangun untuk mempermudah akses wisata ke bagian selatan Jawa Timur yang ternyata punya gugusan pantai yang indah dipandang.

Kawasan Pantai Tiga Warna ini sekompleks dengan area konservasi mangrove yaitu Clungup Mangrove Conservation (CMC). Untuk bisa menuju ke pantai, kita tidak serta merta parkir kemudian langsung bisa melihat pantai. Kita harus berjalan kurang lebih 40 menit dari area parkir motor (kalau dari area parkir mobil lebih jauh). Perjalanan yang cukup membutuhkan perjuangan berat untuk orang yang tidak terbiasa jalan ataupun traveling karena melewati kawasan perkebunan dan perbukitan serta kawasan budidaya mangrove.

DSC_2566.JPG

Kawasan Mangrove

DSC_2559

Harus kuat jalan kaki

Continue reading

Pulau Kecil Penuh Inspirasi itu bernama Nusa Penida

 Petualangan berkedok Kelas Inspirasi kali ini berlabuh di Pulau Nusa Penida, sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Bali. Sekalian berencana reuni dengan teman-teman sewaktu Kelas Inspirasi Lombok, pengalaman baru “mengajar” di Pulau Dewata yang sarat budaya patut dicoba.

 

Transportasi ke dan di Nusa Penida

Untuk sampai ke Nusa Penida, kita harus menyebrang selama kurang lebih 30-60 menit tergantung jenis kapal yang kita gunakan dan di pelabuhan mana kita akan berlabuh. Kebetulan saya dan tim ditempatkan di SDN 3 Batununggul yang tidak berada jauh dari Pelabuhan Sampalan, jadi kami naik kapal bernama Mola Mola Express dan Pelabuhan Sanur (Matahari Terbit) selama kurang lebih 60 menit. Ketika kami menyebrang dari Sanur jam 14.00 WITA, ombaknya cukup lumayan. Jadi kalau sering mabuk laut, mending duduk di belakang, karena kalau di depan, goncangan arusnya cukup lumayan.

Mau berkeliling ke Nusa Penida? Sesampainya di pelabuhan kita bisa menemukan rental sepeda motor dengan tarif kurang lebih Rp 75.000 per harinya. Hampir semua sepeda motor yang disewakan merupakan sepeda motor matic dengan merek Honda Vario (bukan iklan, tapi kebetulan mbak researcher ini jeli banget matanya). Oh iya, ketika meminjam sepeda motor pastikan kondisi rem baik depan ataupun belakang dalam kondisi yang bagus. Karena beberapa lokasi wisata harus ditempuh dengan medan yang super penuh tantangan.

 

Beruntung Dapat Penginapan Murah

Sebulan menjelang Hari Inspirasi, ketika grup rombel sudah mulai terbentuk, kami sudah kepikiran tentang penginapan. Karena belum tahu lokasi detail, dalam benak kami “Ya udah lah ya, di rumah penduduk juga ga pa2”. Setelah dag dig dug karena takut ga dapat penginapan, akhirnya panitia lokal di rombel kami menginformasikan “Kak, ada penginapan Rp 175.000 per malam bisa buat dua orang, kalau 3 orang kena Rp 200.000”. Langsung diambil lah ya.

Dan, inilah penampakan penginapan kami.

DSC_2392.JPG

Hawa-hawa honeymoon ya Sist

DSC_2393.JPG

Namanya Pondok Kana, lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sampalan, strategis juga, karena tidak jauh dari pantai. Bersebelahan dengan penginapan yang bernama “Mae-Mae”. Kebetulan sebagian tim kami juga ada yang menginap di “Mae-Mae”. Pondok Kana ini hanya terdiri dari 2 kamar dengan tipe cottage gitu, di pojokan depan juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan untuk kumpul bareng. Pokoknya honeymoonable deh ya, tinggal dikirim aja fotonya kalau mau kasih kode. #eeeaaakk

Yang pasti harga yang kami dapatkan di atas sudah melalui proses nego yang dilakukan oleh tim panitia lokal KI Bali (Terima kasih banyak). Kamar mandi di dalam, yang cukup panjang, dengan shower da wastafel. Sebenarnya ada AC, tapi dengan harga yang cukup miring tersebut kami hanya diperbolehkan menggunakan kipas angin, dan remote AC-nya disembunyikan entah kemana. Tapi dengan hanya kipas angin, rasanya sudah cukup karena kalau malam udara Nusa Penida tidak terlalu panas. Oh iya, di setiap kamar juga terdapat 2 colokan, jadi lumayan ga akan rebutan sama partner/pasangan. Ada free wifi juga lho, dengan password yang bisa diminta langsung ke pemilik penginapan Pondok Kana ini.
Continue reading

Nuansa Komersil di Wisata Desa Adat Sade

Selain Gili Trawangan, bisamengunjungi Desa Adat Sade juga menjadi salah satu wishlist traveling saya tahun ini. Desa wisata atau desa adat memang biasanya akan memberikan sebuah pengalaman tersendiri ketika dikunjungi, misalkan saja kawasan desa wisata di Dieng. Dengan berkunjung ke sebuah desa wisata ataupun desa adat, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang kehidupan sosial sebuah masyarakat, komunitas ataupun suku.

Desa Adat Sade, sebuah desa adat yang ditinggali oleh Suku Sasak. Sebenarnya Sade ini bukan nama desa, tetapi sebuah dusun, tingkatan wilayah di bawah desa. Dusun Sade ini terletak di Desa Rembitan, Kec. Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan desa adat ini, bisa ditempuh melalui perjalanan kurang lebih 30 menit dari Bandara Lombok (LOP) menuju kawasan wisata Pantai Kuta, Lombok. Kalau sudah menemenukan kawasan yang di pinggir jalan sudah banyak bis pariwisata ataupun kendaraan pribadi parkir, berarti sudah masuk ke kawasan Desa Adat Sade.

DSC_1531.JPG

Desa Wisata Sade Tampak Depan

Untuk masuk desa wisata ini kita biasanya akan dipandu oleh guide penduduk lokal. Tidak ada tiket masuk yang dibebankan, tetapi memang di pintu masuk kita akan disuguhi buku tamu lengkap dengan kotak amal di sebelahnya, intinya seikhlasnya. Jangan lupa juga untuk sekedar memberi tips secukupnya kepada guide yang sudah menemani berkeliling.

Continue reading

Family Trip, Wisata Tipis Kulon Omah ke Karanganyar

 

Kenapa sekarang suka traveling? Kayaknya salah satunya dulu sewaktu kecil keluarga sering ngajak jalan-jalan juga, meskipun ya ga jauh-jauh amat sampai keliling Indonesia. Kalau dulu mungkin lebih dikenal dengan kata “rekreasi”. Sewaktu saya masih SD, sering banget ikut rekreasi sekolahnya Bapak, sekolahnya Pak Puh ataupun rekreasi yang diselenggarakan oleh Kantor Desa (kebetulan Mbah Kung dulu adalah Pak Carik). Paling masih sekitaran Yogyakarta aja sih, Borobudur dan Parangtritis.

Kalau pas lagi ada tambahan rezeki, kadang memang sekeluarga jalan-jalan ke tempat wisata yang dekat rumah. Misal Sarangan, Tawangmangu, Waduk Gajah Mungkur, Pacitan dan beberapa wisata lain. Waktu SD, mungkin anggota keluarga besar kami (yang dari Ibuk) masih sekitar 10an orang, biasanya naik mobil yang isinya agak overload. Yang dewasa dapat tempat duduk, yang kecil-kecil dipangku. Nanti kalau nemu lokasi yang agak lapang, trus bekalnya dari rumah di makan bareng deh sambil gelar tikar. The Real Picnic.

Setelah merantau mulai SMP, udah agak jarang sih sebenarnya  rekreasi bareng-bareng sekeluarga besar. Apalagi akhir-akhir ini karena masing-masing putrinya Mbah Kung sudah bertambah anggota keluarganya, biasanya rekreasinya sendiri-sendiri.

Karena pingin nyenengin Mbah Kung dan Mbok Dok, kami cucu-cucunya berniat mengajak keluarga besar untuk Family Trip. Karena kondisi Mbah Kung dan Mbok Dok yang sudah berumur, wisatanya pun ga jauh-jauh amat, ke daerah kulon omah yaitu Karanganyar, Jawa Tengah. Yaps, karena kebetulan rumah saya memang di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seminggu sebelum family trip, grup Whatsapp keluarga udah rame aja menyusun acara. Bahkan sampai H-1 masih rame.

Dan akhirnya hari itu tiba, lebih tepatnya tanggal 28 Februari lalu. Cucu-cucu Dayat’s Family (Mbah Kung namanya Dayat) yang jumlahnya 9 orang ternyata tidak semuanya bisa ikut, karena salah satunya yaitu Dek Alfan kuliah di Jombang dan ga bisa pulang. Orangtuanya Alfan, pun ga bisa ikut. Ada tambahan juga dibanding trip beberapa tahun sebelumnya, ada cucu menantu dan buyut dari cucu pertama Mbah Kung. (Tinggal nunggu cucu menantu dari cucu kedua nih, eeeaaa, jreng). Tambahan lagi ada sepupuku dari Bapak yang kebetulan juga diajak oleh Ibuk.

3 rombongan mobil pun berangkat menuju Karanganyar. Meeting point kami yang pertama di rumah Buk Indah di daerah Genilangit, Poncol (btw, semua saudara Ibuk kami panggil Buk, bukan Bulik, Bu Dhe, Tante apalagi Aunty). Dari Poncol kamipun berangkat ke Karanganyar melewati Sarangan dan jalan tembus Sarangan – Tawangmangu. Medan jalan tembus ini cukup landai dibandingkan dengan jalan Sarangan – Tawangmangu beberapa tahun sebelumnya yang masih cukup menanjak.

Sampai di Cemoro Kandang, kamipun berhenti sejenak karena rombongan Buk Dati (Kakaknya Ibuk) ketinggalan di belakang. Oh iya kalau yang belum tau, Cemoro Kandang ini merupakan salah satu gerbang masuk pendakian Gunung Lawu, selain Cemoro Sewu. Di sekitar Cemoro Kandang ini juga banyak warung makanan.

DSC_1229.JPG

Wefie di Cemoro Kandang

Setelah rombongan Buk Dati sampai, kamipun meluncur ke Candi Cetho, tujuan pertama kami. Candi Cetho ini terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Untuk menuju Candi Centho kami melewati Perkebunan Teh Kemuning. Medannya pun lumayan naik, apalagi setelah perkebunan teh. Mobil yang digunakan rombongan Buk Dati pun sempat tidak kuat naik. Tapi, pemandangannya amazing, rasanya seperti di atas awan.

Continue reading

Solo Trip, Menikmati Budaya dan Kuliner Sambil Reuni Tipis

 

Solo sebenarnya bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari rumah saya di Magetan. Bisa lewat Sarangan tembus Tawangmangu, atau juga bisa lewat daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Memang kebetulan rumah saya berada dekat dengan perbatasan, dan Solo sebenarnya lebih dekat dibandingkan dengan Surabaya. Sampai lulus kuliah, seingat saya terakhir kali saya ke Solo sewaktu SD ikut Ibuk beli baju dan peralatan rias pengantin di Pasar Klewer. Waktu itu pagi-pagi kami diantar Bapak ke Purwantoro, Wonogiri untuk naik bis menuju Solo. Sorenya kami pun kembali dijemput di Purwantoro oleh Bapak.

Sejak lulus SD sampai akhirnya bekerja di Surabaya, saya memang sudah tidak pernah ke Solo lagi. Faktor anak kosan sejak SMP kayaknya bikin jarang jalan-jalan. Sampai akhirnya setelah bekerja, beberapa kali bisa mampir sebentar di Solo. Kalau dihitung sebelum trip saya ke Solo tanggal 5-8 Februari 2016 kemarin, kurang lebih 3 kali saya berkunjung singkat ke Solo. Pertama, sewaktu tugas kantor dari Salatiga, saya memutuskan kembali ke rumah dengan naik kereta ke Solo. Karena sekedar transit, saya hanya sempat mampir ke toko oleh-oleh di Jalan Kalilarangan. Kedua, sewaktu Pak Puh saya kebetulan habis operasi di salah satu RS di Solo, saya dan adek sempat menjenguk dan mencoba beberapa kuliner seperti Selat Solo Viens dan Serabi Notosuman. Lagi-lagi ini trip singkat, karena kami sampai di Solo Sabtu siang dan kembali ke Surabaya Minggu pagi. Ketiga, karena tuntutan pekerjaan juga saya sempat ada tugas interview ke Solo, lagi-lagi trip singkat, karena berbarengan dengan jadwal menjemput adek saya yang selesai liburan dari Pekanbaru dan pesawatnya turun Solo. Setidaknya di trip ketiga ini saya bisa menikmati Selat Solo Mbak Lies, jalan menuju keraton dan Bis Solo Trans.

Trip terakhir saya ke Solo awal Februari lalu sebenarnya bisa dibilang dadakan. Awalnya saya berencana mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Yogyakarta pada tanggal 6 Februari 2016, tapi ternyata saya tidak lolos. Hiks, sedih sih sebenarnya. Akhirnya bersama sahabat-sahabat kampus yang masuk dalam golongan Geng Tanpa Wacana merencanaka Trip ke Solo-Jogja, sekalian mencari teman kampus kami yang sudah lost contact sejak pindah ikut suaminya ke Solo. Karena beberapa pertimbangan, kami pun akhirnya mengubah trip ini menjadi Trip Solo saja.

Menjelang berangkat ke Solo, saya sempat mengalami drama karena hujan dan macetnya Surabaya di Jumat malam itu. Jumat sore saya pulang sekitar pukul 17.15 dari kantor dalam kondisi hujan deras. Karena tas ransel dan peralatan lainnya masih di kos, jadi mau tak mau saya harus kembali ke kos dulu. Pukul 17.30 saya sampai di kos, berganti baju dan menunggu magrib. Melihat hujan yang masih turun, saya pun memutuskan untuk  naik taksi. Saya coba Uber, tapi hasilnya nihil. Saya coba kontak taksi langganan kantor, dan tidak ada hasil. Untunglah di depan kos ada taksi si biru yang barusan menurunkan penumpang. Pukul 18.00 saya pun berangkat ke Stasiun Gubeng, dengan asumsi masih  banyak waktu untuk bisa naik kereta Mutiara Selatan pukul 19.00 yang sudah saya pesan. Tapi, ternyata pukul 18.25 saya masih stuck di perempatan Diponegoro menuju Jalan Kartini, tidak ada yang mau mengalah. Saya pun meminta sopir taksi menurunkan saya di Alfamart Diponegoro dan memesan Gojek. Pukul 18.30, Abang Gojek sudah mengontak saya dan memastikan lokasi penjemputan. Sekitar 18.35 Abang Gojek belum datang, saya sudah galau, pasrah dan hampir nangis. Bahkan saya sudah sempat kirim pesan ke teman saya yang kebetulan ke Yogya dan satu kereta dengan saya untuk meninggalkan saya, karena masih macet. Syukurlah, setelah itu Abang Gojek datang. Ditemani gerimis, Abang Gojek pun mengantar saya menembus kemacetan. Dan tepat 18.50 saya sampai di depan Stasiun Gubeng, memberi ongkos ke Abang Gojek dan lari menuju kereta. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat ke Solo juga.

Sampai di Solo, saya menginap di Hotel Amarelo di Jalan Gatot Subroto, seberang Matahari Singosaren. Sudah booking beberapa hari sebelumnya, dan dapat harga yang cukup murah pula untuk skala hotel bintang tiga (versi Traveloka masuk bintang tiga sih). Untuk 3 malam menginap, saya dapat harga sekitar Rp 750,000 (sudah termasuk diskon 10% dan tidak termasuk breakfast). Dengan lokasi yang cukup dekat dengan lokasi kuliner dan beberapa pusat perbelanjaan, saya rasa harga tersebut sudah worth it lah.

DSC_1118

Menjelang Senja dari Lantai 4 Hotel Amarelo

Continue reading

Yang Berbeda di Karimun Jawa

Siapa yang tidak kenal dengan Karimun Jawa, sebuah kepulauan di utara Jepara yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Kalau menceritakan tentang itinerary perjalanan kesana dan keindahan alam di sana kayaknya udah terlalu mainstream ya. Pengunjung Karimun Jawa sudah cukup banyak, terbukti dari penuhnya KM Siginjai yang digunakan untuk penyeberangan Jepara – Karimun Jawa. Jadi, saya coba untuk bercerita tentang beberapa insight selama berwisata ke Karimun Jawa sewaktu liburan Natal kemarin

Karimun Jawa itu Ga Ndeso

“Karimun Jawa? Nyebrang 5 jam? Tidur di rumah penduduk? Cuma ada lampu pas malem? Ndeso banget donk”. Jujur, beberapa pertanyaan itu sering bermunculan di kepala saya sebelum akhirnya menjejakkan kaki di pulau ini. Bayangan saya awalnya tidur di rumah penduduk di pulau terpencil itu rumah penduduknya masih berlantaikan tanah, paling bagus semen lah, rumahnya dari kayu atau bambu. Pas googling pun, karena fokusnya ke obyek wisata, ga sempat kepoin informasi tentang penginapan secara detail.

Dan ternyata, semua di luar dugaan. Karimun Jawa sama seperti Jawa pada umumnya. Perkembangan pariwisata di Karimun Jawa ikut membangkitkan perekonomian di kecamatan yang berbentuk kepulauan tersebut. Rumah penduduk sebagian besar sudah berlantai keramik, minimal tegel lah. Sudah bertembok semen, dan tidak jarang pula yang rumah yang berlantai dua.

DSC_0651

Karimun Jawa di Pagi Hari

Karimun Jawa itu tidak sendeso yang kukira. Memang sih belum ada minimarket waralaba yang biasanya jadi parameter ndeso-nya suatu tempat, tapi Karimun Jawa itu sudah rame. Di pagi hari biasanya mobil travel sudah lalu lalang menjemput wisatawan di masing-masing penginapan. Penduduk setempat pun sudah memulai aktivitasnya dengan kendaraan masing-masing. Di malam hari, biasanya wisatawan akan keluar dari penginapan dan jalan-jalan mencari makan atau oleh-oleh. Kalau dibandingkan dengan rumah saya di Magetan, kayaknya lebih rame di Karimun Jawa deh. Rumah saya lebih ndeso.

Continue reading

Gili Labak, The Hidden Paradise yang Mulai Ramai tapi Juga Mulai Kotor

Gara-gara melihat bintang laut dan ikan di kawasan pantai di Jayapura, aku jadi impulsif ingin ke pantai dan sekaligus nyebur. Pilihanku jatuh ke Gili Labak Setahun terakhir nama Pulau Gili Labak menjadi trending topic bagi traveler  di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya. Eits, jangan dikira karena namanya Gili, pulau kecil ini juga berada kawasan Lombok bersama Gili Trawangan dan gili-gili yang lain. Gili Labak ini terletak di kawasan Pulau Garam alias Madura.

Secara administratif, Gili Labak terletak di Kabupaten Sumenep, lebih tepatnya masuk dalam wilayah Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango.  Pulau kecil ini terletak di sebelah tenggara Pulau Madura. Dengan luas wilayah sekitar 5 ha, dalam 30 menit kita bisa mengelilingi pulau kecil ini dengan berjalan kaki. Secara koordinat, Gili Labak terletak pada titik 7012’10-3” lintang selatan dan 114002”47-4” bujur timur. Kok tau? Yaps, di salah satu area Pulau Gili Labak, terdapat sebuah penanda koordinat.

DSC_9264

Penanda Koordinat Gili Labak

Continue reading

Tragedi Amarilis Gunungkidul dan Level Wisatawan Indonesia

 Akhir-akhir ini dunia maya dihebohkan kejadian rusaknya kebun bunga amarilis milik salah satu warga di di daerah Gunungkidul, Yogyakarta. Kebun bunga pribadi seluas 2,3 hektar pun rusak saking penuhnya pengunjung yang sempat mencapai 1.500 pengunjung per hari sewaktu akhir pekan. Pemilik kebun mengaku ikhlas dengan kerusakan kebun bunga yang ditanamnya dari benih yang mencapai 2 ton. Pemilik kebun juga merasa perlu disalahkan dalam hal ini karena beliau belum menyediakan fasilitas jalan setapak yang memadai ataupun fasilitas lain yang membuat pengunjung menumpuk, berdesak-desakan dan sampai menginjak bunga amarilis yang sudah di tanamnya.

Di media sosial mulai bermunculan foto-foto kerusakan yang terjadi di beberapa area kebun. Tidak ketinggalan pula foto pengujung yang dengan santainya duduk dan telentang di atas bunga amarilis, yang tentu saja bisa membuat bunga tersebut rusak. Sampai saat ini pun aku masih tidak habis pikir, darimana mereka punya pikiran untuk duduk santai di atas bunga. Apa mungkin dikira karpet kali ya?

Netizen banyak yang berkomentar dengan kejadian ini. Tidak beberapa lama, meme viral tentang kejadian ini pun bermunculan. Ada meme yang membandingkan kebiasaan selfie pengunjung kebun amarilis di Gunungkidul dengan selfie wisatawan di Kebun Bunga Keukenhof Belanda yang amat berbeda. Ada juga meme yang bertuliskan “Besok lagi jangan cuma bisa bilang KURANG PIKNIK, tapi ajari juga mereka bagaimana CARA PIKNIK”. Satu meme malah menampilkan gambar kaktus dan menyindir bagaimana kalau selfie telentangnya di atas bunga kaktus saja. Continue reading