Bagaimana Membuat Kegiatan Pemberdayaan sebagai “Langkah Nyata Memberi Dampak”?

Generasi milenial dan generasi Z merupakan generasi yang suka berbagi. Sesuai dengan hasil kajian Alvara Research, mereka memiliki kemurahan hati untuk berbagi untuk aktivitas sosial seperti donasi dan bantuan-bantuan sosial ketika terjadi bencana. Mereka juga sangat aktif berbagi konten baik offline maupun online kepada teman-temannya. Perilaku dan keinginan generasi milenial yang mulia ini tentu harus punya wadah agar bisa memberikan manfaat yang lebih mengena bagi masyarakat.

Melihat antusiasme para anak muda dalam kegiatan sosial ini, JAPFA for Kids menyelenggarakan seminar berjudul “IMPACTalk, Langkah Nyata Memberi Dampak”. Seminar yang diselenggarakan di kawasan Universitas Airlangga ini memang ditujukan kepada mahasiswa. Namun saya rasa, tidak ada salahnya saya mencoba menambah wawasan tentang kegiatan sosial melalui acara ini.

Seminar ini menghadirkan 3 pembicara yang berpengalaman dalam kegiatan sosial pemberdayaan masyarakat. Pembicara pertama adalah Bapak Bambang Budiono, seorang dosen dari FISIP UNAIR. Pembicara selanjutnya adalah Bapak Agus Mulyono, Manager Social Invesment Department JAPFA Comfeed. Pembicara selanjutnya adalah Mbak Putri Lestari, Pengelola Program JAPFA for Kids Anak Indonesia Bersih dan Sehat. Ketiganya menceritakan tentang pengalaman dan tantangan dalam mendampingi kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan Masyarakat, Bukan Hanya Sekadar Memberi Bantuan

Kegiatan berbagi memang sedang menjadi sebuah tren akhir-akhir ini. Peningkatan kesejahteraan yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, turut menjadi penyebab banyaknya orang yang ingin berbagi rezekinya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kegiatan berbagi ini juga menjadi kegiatan yang menarik untuk anak muda. Anak-anak muda berbondong menjadi relawan atau membuat kegiatan sosial dalam rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Apakah dengan memberikan bantuan, kita sudah memberikan dampak yang signifikan bagi penerimanya? Pak Bambang menekankan bahwa kegiatan yang memberi dampak adalah kegiatan pemberdayaan yang tidak hanya datang sekali saja. Kegiatan pemberdayaan harus dilakukan secara kontinu.

Untuk bergabung dalam kegiatan pemberdayaan, seseorang harus tergugah terlebih dahulu. Tidak hanya cukup dengan tergugah, agar kegiatan pemberdayaan memberikan dampak, seseorang yang tergabung di dalamnya harus punya kemampuan atau skill yang mumpuni, bukan hanya sekadar bergabung dan sekadar memberi. Tergugah dan kemampuan saja ternyata tidak cukup, agar berhasil kegiatan pemberdayaan memerlukan bantuan “alat”/tools sebagai panduan dalam kegiatan tersebut.

Senada dengan Pak Bambang, Pak Agus dari Social Investment JAPFA menjelaskan tentang prinsip yang digunakan JAPFA dalam setiap kegiatan pemberdayaan sosial yang dilakukannya. Prinsip itu disingkat dengan nama PASTI, yang terdiri dari Participatory Approach, Assist & Inspire Community to Change, Sustainability, Transparant & Accountable dan Integrate with Business Activities.

Pendampingan yang dilakukan oleh Pak Bambang dan Pak Agus memang bersifat kontinu, tetapi tidak seterusnya. Pendampingan bertujuan untuk membuat masyarakat yang didampingi menjadi mandiri. Setelah dirasa mandiri, pendampingan akan dihentikan. Masa pendampingan ini paling lama 3-4 tahun saja.

Fasilitator sebagai Pendamping, Bukan Pemberi Perintah

Untuk melakukan pendampingan tersebut, tentu saja dibutuhkan tenaga pendamping atau yang sering disebut dengan fasilitator dengan kemampuan yang mumpuni. Menjadi fasilitator bukan hanya sekadar memberikan sosialisasi ataupun perintah kepada masyarakat yang didampingi.

Fasilitator punya tugas antara lain untuk mendampingi diskusi dan mengorganisir pemikiran masyarakat yang beragam. Seorang fasilitator harus punya kemampuan mendengar, tidak hanya sekadar kemampuan public speaking. Menurut Pak Bambang, dalam kegiatan pemberdayaan, hubungan fasilitator dan masyarakat harus bersifat setara sebagai mitra. Konsep ini dikenal dengan konsep “Power With” . Namun di lapangan, berkomunikasi dengan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Dalam kenyataannya, banyak fasilitator yang masih menerapkan konsep “Power Over” dengan merasa harus memberikan perintah kepada masyarakat dan bersikap dominan. Dalam konsep Power Over ini, masyarakat hanya dianggap sebagai obyek dalam kegiatan sosial, dengan fasilitator sebagai subyek utamanya.

Kegiatan pemberdayaan selayaknya bukan hanya sekadar kegiatan sosialisasi yang bersifat kaku, resmi dengan bahasa yang formal. Keberhasilan kegiatan pemberdayaan salah satunya ditentukan oleh kepercayaan (trust) masyarakat kepada fasilitator. Dengan adanya trust, masyarakat dan fasilitator bisa berkolaborasi dalam kegiatan pemberdayaan tersebut. Kepercayaan ini bisa dibangun dengan komunikasi informal seperti nongkrong atau ngopi bareng.

Sebagai tambahan, Mbak Putri yang berpengalaman dalam kegiatan pemberdayaan JAPFA for Kids menekankan pentingnya menyamakan visi antara fasilitator dengan target pemberdayaan. Misalkan, fasilitator dengan kepala sekolah ataupun fasilitator dengan kepala desa dan sejenisnya. Penyamaan visi ini sangat penting di awal kegiatan agar nantinya tidak terjadi komunikasi yang efektif. Tidak jarang di awal, sekolah ataupun desa yang menjadi target pemberdayaan menganggap bahwa kegiatan pemberdayaan hanya bersifat memberikan bantuan fisik. Penyamaan visi ini penting agar target tidak mempunyai ekspektasi yang berlebihan dari sebuah kegiatan pemberdayaan.

Menjadi fasilitator bukan hal yang mudah. Mbak Putri memberikan beberapa tips antara lain : bersabar dengan proses, berusaha fleksibel dalam proses dan memahami karakter target yang didampingi.

Nah, mumpung nih, JAPFA for Kids sedang membuka pendaftaran untuk fasilitator dalam program Anak Indonesia Bersih dan Sehat. Buat teman-teman yang suka dengan kegiatan sosial dan pendampingan, bisa langsung cek pengumuman di poster ini.

Pendaftaran bisa melalui bit.ly/fasilitatorjfk2020.

Esai bisa diundah melalui link bit.ly/esaifasilitatorjfk2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s