Benarkah Bahagia Bisa Diukur dengan Angka?

Bahagia, sebuah kata yang sangat sering kita baca, dengar, tulis dan ucapkan. Tidak jarang pertanyaan diajukan orang kepadaku “Kamu bahagia, Nes?”. Dengan sadar dan lantang aku pun menjawab “Iya, aku bahagia”.

Sering banget ya nemu di caption Instagram “Bahagia itu sederhana bla bla bla bla”. Atau mungkin pas aku ngobrol sama Ibuk tentang jodoh atau karir Ibuk pasti bilang “Bapak Ibuk bahagia kalau kamu bahagia”. Belum lagi kalau pas pamit mau jalan-jalan “Buk, aku mau ke Lombok ya minggu depan”, Ibuk akan menjawab “Sak bahagiamu”. Nah, sebenarnya bahagia itu apa sih. Kalau berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, bahagia berarti keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Masih teringat jelas pas di film Dilan 1990, saat dibonceng oleh Dilan pertama kalinya Milea sempat berkata “Hari itu, jika ada alat ukur yang mengukur kebahagiaan, aku akan jadi orang paling bahagia sedunia”. Nah sebenarnya bahagia itu bisa diukur pakai angka, nggak sih?.

IMG-20170212-WA0067.jpg

Oke, angka di sini bukan berarti harta ya. Bukan dalam artian mengukur kebahagiaan yang berdasarkan harta benda atau materi finansial. Karena jujur saja buatku, mendengar lelaki mamerin nilai tabungannya atau membaca chat yang bertuliskan “ya lumayan lah cuma sepersekian dari gaji gue” itu amat sangat tidak membahagiakan. Mending lah ngeliatin lelaki yang ngomongin tentang kegiatannya yang bermanfaat, pengetahuannya yang didukung pakai data-data akurat, meleleh mah ini aku. Hahahahaha.

Dua puluh tiga tahun setelah Milea dibonceng Dilan, tepatnya di tahun 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengukur kebahagiaan menggunakan angka yang disebut Indeks Kebahagiaan. Sebenarnya Indeks Kebahagiaan sudah cocok ga sih untuk menggambarkan apa itu kebahagiaan? Yuk coba kita preteli bagaimana sebenarnya Indeks Kebahagiaan itu.

Continue reading