Singgah Sebentar Stalking Semarang

Sebenernya tujuan utama perjalanan kali ini bukanlah kota Semarang, tapi Dieng. Tapi setidaknya transit sebentar ke kota ini juga tidak rugi. Sebenarnya ke kota ini sudah berkali-kali, berkeliling juga pernah, tapi rasanya masih excited kalau mau ke kota lumpia ini.

Namanya juga stalking,  isinya bukan cerita traveling mainstream.

  1. Kereta Delay

Perjalanan kali ini, dengan tema backpacker ala-ala dengan adik kesayangan. Teman traveling yang pokoknya mau aja ikut jalan jalan, asalkan dibayarin. Jumat pagi yang kebetulan libur, kami sudah siap jam 5.30 pagi di Stasiun Pasar Turi menunggu kereta ekonomi Maharani yang akan membawa kami menuju Stasiun Poncol. Jadwal seharusnya kereta ini berangkat pukul 6 tepat, dan akan tiba di Semarang Poncol pukuk 10.45. Jam 6 kurang, petugas stasiun pun sudah memberikan pengumuman bagi penumpang kereta Maharani untuk bersiap-siap. Lokomotif sudah mulai masuk ke dalam peron. Tetapi, berapa saat kemudian lokomotif terhenti di tengah-tengah. Beberapa saat kemudian petugas stasiun mengumumkan bahwa ada kerusakan pada kereta penggerak dan harus diperbaiki. Baiklah, keretanya delay. Mencoba untuk tidak mengeluh, akhirnya aku dan adikku pun menuju ruang tunggu eksekutif yang disediakan stasiun sebagai kompensasi bagi penumpang kereta Maharani untuk keterlambatan ini. Kebetulan juga sih, pas jam itu tidak ada jadwal keberangkatan untuk kereta Eksekutif.

  1. Sambutan Sampah Menuju Stasiun Tawang

Mulai masuk ke daerah rawa-rawa, “Ini sepertinya sudah mau masuk Stasiun Tawang” pikirku. Dan benar kereta pun mulai melambat, dan mulai disuguhi pemandangan yang memprihatinkan. Gunungan sampah di pinggir rel, seperti menjadi sambutan Selamat Datang di Stasiun Tawang. Pantas aja sih, kalau misalkan daerah Stasiun Tawang ini sering banjir, selain daerahnya yang rawa-rawa mulai masuk pesisir, sampahnya aja menggunung kaya gini.

Tumpukan Sampah di Dekat Rel Menuju Stasiun Tawang

Tumpukan Sampah di Dekat Rel Menuju Stasiun Tawang

  1. Tumpukan Karbohidrat dalam Mie Kopyok

Pingin makan makanan khas yang belum aku makan sebelumnya. Dari hasil browsing sebelum berangkat Semarang (INI WAJIB HUKUMNYA BUAT AKU, BROWSING KULINER, TUJUAN WISATA DAN TRANSPORTASINYA, SEBELUM BERANGKAT TRAVELING), akhirnya kami memutuskan mencari kuliner khas Semarang terdekat dengan Stasiun Poncol. Alamatnya di Jalan Tanjung, kalo dari Google Maps tidak jauh dari stasiun. Karena kami backpacker ala-ala, akhirnya kami memutuskan jalan kaki kesana. Ya lumayan lah ternyata, karena tempatnya di ujung jalan yang lain.

Namanya, Mie Kopyok, yang kami kunjungi namanya Mie Kopyok Pak Dhuwur. Kami pun pesan yang tanpa lontong. Ya masa makan mie plus lontong juga, karbohidrat double donk. Nah, mie kopyok itu kalo standarnya isinya lontong, mie, tahu,dikasih kuah dan ditaburi seledri, daun bawang, kecap dan krupuk puli yang sudah diremes. Buat penggemar makanan pedas seperti aku, tenang disediakan sambelnya kok. Penasaran? Ini nih penampakannya.

DSC_1163

Mie Kopyok, khas Semarang, Double Karbo

  1. Hostel Backpacker Donk

Namanya juga backpacker ala-ala, kami pun menginap di hostel. Hostel ini sudah terkenal di kalangan backpacker. Yaps, namanya Hostel Imam Bonjol, sesuai dengan namanya alamatnya di Jl. Imam Bonjol, di atasnya Indomaret. Kalo dari arah Stasiun Poncol, di kanan jalan. Nah sepanjang kanan jalan itu ada 2 Indomaret ternyata sekarang, hostelnya ada di Indomaret kedua, bukan Indomaret pertama yang ruko-ruko. Sebelumnya pernah nginep sekali di sini pas traveling tahun 2013, karena puas, makanya ke sini lagi. Seperti layaknya hostel backpacker, kamar mandinya luar, tapi bersih kok. Kamarnya juga berAC. Untuk yang kamar 2 orang tanpa TV sih kalo ga salah kena 165.000. Lumayan lah ya, cuma numpang tidur semalam aja kok.

  1. Tiket Kereta Api Masa Lalu

Setelah istirahat dan sholat sebentar, kami pun memulai petualangan singkat di kota lumpia ini. Tujuan pertama adalah wisata sejarah terkenal icon kota Semarang yang letaknya tidak jauh dari hostel dan bisa dicapai hanya dengan jalan kaki, Lawang Sewu. Cerita tentang pemandangan Lawang Sewu kayaknya cukup mainstream ya. Baiklah, kita cerita tentang museumnya aja yah. Sebagai gedung bekas kantor Kereta Api, Lawang Sewu ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah tentang perkeretaapiian di Indonesia.

Salah satu yang menarik, peninggalan berupa mesin pencetak tiket dan contoh tiket kereta api lawas. Kalau sekarang sudah ada mesin Cetak Tiket Mandiri, yang touchscreen, tinggal pencet langsung keluar tiketnya. Kalau mesin tiket kereta api zaman dulu, masih sederhana dan manual.

Mesin Cetak Tiket Kereta yang Digunakan pada Zaman Dahulu

Mesin Cetak Tiket Kereta yang Digunakan pada Zaman Dahulu

Bentuk tiketnya pun juga beda, kalau sekarang tiket ukurannya agak panjang, isinya detail dengan identitas, tiket zaman dulu simpel, seukuran kartu domino.

Perbandingan Tiket Kereta Dulu dan Sekarang

Perbandingan Tiket Kereta Dulu dan Sekarang

 

 

  1. Masih Kerasa Horornya Lawang Sewu

Perjalanan ke Lawang Sewu kali ini, aku memutuskan untuk tidak iseng masuk ke basement. Horor Cin.. Tapi tetep coba naik ke loteng, mumpung ada rombongan lain yang naik ke sana. Kalo cuma berdua naik loteng sih deg-degan juga. Meskipun siang, tapi kadang suasana mistis di loteng masih kerasa. Karena bangunannya luas, lotengnya pun juga luas. Kayaknya malah sering dipake buat olahraga sama karyawan di Lawang Sewu.

Loteng Lawang Sewu

Loteng Lawang Sewu

  1. Masih Aja Nyampah Sembarangan

Ada yang agak miris nih kalau dilihat, apalagi kalo bukan SAMPAH. Ketika asik berjalan-jalan di Lawang Sewu, di pojokan terlihat sampah nasi kotak, lengkap dengan gelas air mineral dan tisu. Ini yang bikin malu sama wisatawan asing nih. Tempatnya bagus dan bersejarah, tapi sampahnya di mana-mana.

Sampah Di Salah Satu Pojok Lawang Sewu

Sampah Di Salah Satu Pojok Lawang Sewu

  1. Indahnya Senja di Masjid Agung Jawa Tengah

Aku begitu menyukai senja. Sebagai karyawan yang bekerja 8 to 5 (bahkan sering lebih, meskipun dikit) bisa melihat senja itu rasanya seneng banget. Begitu juga kali ini, menikmati senja di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Kompleks masjid ini cukup luas, dengan ornamen payung yang menyerupai Masjid Nabawi dan menara tinggi yang juga dibuka untuk umum. Sayangnya waktu sudah sore, sehingga aku tidak bisa naik ke atas menara.

Senja di Masjid Agung Jawa Tengah

Senja di Masjid Agung Jawa Tengah

 

  1. Keturutan Ngidam Nasi Ayam Semarang

Nasi Ayam, itu salah satu kuliner favorit ketika di Semarang. Beberapa kali ke Semarang, tetapi tidak bisa merasakan kuliner satu ini. Akhirnya kali ini kesampaian. Pertama kali makan Nasi Ayam ini pas jadi LO acara Silatnas Beswan tahun 2009. Kebetulan nginep di Hotel Ciputra, dan malemnya kuliner di Simpang Lima dan menemukan lesehan Nasi Ayam ini.

Kali ini, setelah agak muter-muter di area kaki lima Simpang Lima, akhirnya menemukan satu warung yang menjual Nasi Ayam ini. Penampakan Nasi Ayam ini mirip dengan Nasi Liwet Solo, dengan sayur lodeh dan ayam suwir-suwir, dan ditemani lauk yang tinggal milih aja, mulai dari tempe, sunduk ati dan sunduk usus dan lauk yang lain. Diet hari ini gagal demi Nasi Ayam, mumpung di Semarang

Nasi Ayam Semarang

Nasi Ayam Semarang

 

Singkat cerita, itulah pengalaman singgah sebentar di Semarang. Masih ada yang belum kesampaian sih, Nasi Pecel Bu Sumo dan Es Panekuk di Jalan Tanjung katanya. Lain kali harus diburu nihhhh..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s