Rekomendasi Bakmi Jogja Terenak di Surabaya

Jogja itu memang ngangenin. Mulai dari suasana sampai kuliner-kulinernya. Mulai dari gudeg sampai bakmi Jawa yang rasanya khas banget. Kalau lagi di Surabaya dan lagi kangen-kangennya sama Jogja tapi ga bisa main ke Jogja, datang ke salah satu dari 3 “warung” bakmi Jogja ini bisa jadi salah satu pengobat rindu Jogja.

Tebak Bakmi Jogja
Continue reading
Advertisements

#NeserNgopi Singgah Sebentar di Trenggalek dan Tulungagung

Setelah memutuskan off dari Instagram, daftar kafe atau kedai kopi yang saya kunjungi yang biasanya saya unggah dengan tagar #NeserNgopi, saya pindahkan ke Twitter. Bisa dicek dengan Search #NeserNgopi di Twitter.

Baca Juga : Rekomendasi 5 Es Kopi Susu untuk Moodbooster di Panasnya Surabaya

Tidak hanya tentang kedai kopi di Surabaya, #NeserNgopi kemarin juga sempat singgah di Trenggalek dan Tulungagung. Kalau kebetulan lewat di dua kota kecil di selatan Jawa Timur ini, tidak ada salahnya kalau berhenti 30-60 menit buat sekadar rehat dan menikmati kopi dan suasana kedua kota kecil ini.

Depot Anda, Trenggalek

Depot Anda ini terletak tidak jauh dari Alun-Alun Kabupaten Trenggalek. Kalau teman-teman berkendara naik mobil, mungkin sebaiknya diparkir di area alun-alun dan jalan ke lokasi Depot Anda ini. Karena Depot Anda ini parkirnya memang di pinggir jalan, belum ada tempat khusus.

Sesuai namanya “depot”, kedai kopi ini tergabung dengan depot atau rumah makan yang sederhana. Memang sekilas tidak seperti cafe, tapi ini yang menjadi khasnya, karena serasa ngopi di rumah.

Depot Anda ini menyediakan menu kopi yang beragam, bukan sekadar kopi sachetan. Di meja barista kita bisa menemukan beberapa toples kaca yang berisi biji kopi pilihan. Mulai dari menu single origin sampai espresso based. Kebetulan waktu itu, cuaca Trenggalek sedang panas-panasnya, saya pesan Vietnam Drip dengan es. Dan, dibandingkan dengan kedai kopi di Surabaya, harga kopi di sini tergolong jauh lebih murah.

Vietnam Drip
Continue reading

Rekomendasi 5 Es Kopi Susu untuk Moodbooster di Panasnya Surabaya

Demam es kopi susu bermerek TUKU yang sempat disambangi Pak Jokowi, membuat saya pingin banget nyobain es kopi susu ngehits. Apalagi banyak influencer yang saya ikuti di media sosial pamer posting es kopi susu itu, jadi tambah ngeces kan. Sekalian dalam rangkaian tagar ala-ala #NeserNgopi di Instagram, saya pun mulai berburu es kopi susu di Surabaya.

Dari beberapa es kopi susu yang saya coba, setidaknya ada 4 merek es kopi susu yang recommended. Kalau rasa sebenarnya relatif ya. Selain rasa, keempat merek kopi susu tersebut juga gampang banget kalau mau diorder via delivery. Cocok banget buat membangkitkan mood yang berantakan pas Surabaya lagi panas-panasnya, kerjaan lagi banyak-banyaknya dan dia lagi nyebelin-nyebelin-nya.

Es Kopi Susu

Yuk cuss, kita seruput es kopi susunya

Continue reading

Ngadirejo, Desa Wisata Baru dengan Keramahan Alam dan Penduduk

Kabupaten Malang, yang mulai mem-branding-kan diri dengan HEART OF EAST JAVA, punya berbagai jenis wisata alam. Dengan kondisi alam yang mendukung, Kabupaten Malang bisa mempunyai puluhan pantai, puluhan air terjun (yang lebih dikenal dengan “coban”) dan juga berbagai pemandangan alam yang menarik lainnya. Banyaknya wisata alam, terutama di pedesaan ini mendorong Pemerintah Kabupaten Malang untuk mengembangkan konsep desa wisata. Sampai saat ini, desa wisata di Kabupaten Malang sudah berjumlah 15. Banyak banget ya? Kali ini aku akan coba bahas salah satu desa wisata di Kabupaten Malang yang masih cukup baru, yang baru diresmikan sekitar bulan Agustus 2017 lalu. Desa wisata ini adalah Desa Wisata Ngadirejo. Yuk mbolang lagi! Ini nih sekilas pemandangan aduhai di desa yang berada di kawasan lereng Gunung Bromo ini.

IMG_20171128_120721_871.jpg

Perkampungan di Desa Ngadirejo

Continue reading

Toraja, Belajar tentang Keindahan, Syukur dan Kematian bersama Secangkir Kopi

Penutup rangkaian blakrakan di tahun 2017 ini jatuh kepada Toraja, sebuah daerah wisata di Sulawesi Selatan. Kenapa Toraja? Sebenarnya ada dua alasan yang agak-agak aneh sih. Yang pertama, tahun 2017 ini kan kebetulan ada kerjaan di Makassar sehingga sering ke sana. Nah, di Makassar banyak spanduk promosi tentang Toraja. Salah satunya spanduk/banner bergambar Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo  dengan caption “Jangan Mati Sebelum ke Toraja”. Dasar Neser anaknya gampang terprovokasi, jadinya kepingin kan kesana. Di kerjaan ini pula kebetulan ada tim lapangan yang turun keToraja, jadi tambah pingin kan. Yang kedua karena nonton film Filosofi Kopi 2, yang ada adegan Tara dan Jody ke Makassar terus langsung lanjut ke Toraja dan berada di sebuah bukit yang serasa di atas awan.

Eh ada lagi sih, karena konon katanya Kopi Toraja itu enak. Nih contohnya 🙂

DSC_4662.JPG

Kalau bicara tentang Toraja sendiri, sebenarnya ada dua kabupaten di Sulawesi Selatan yang pakai nama “Toraja”. Kabupaten yang pertama adalah Kabupaten Toraja Utara, dengan ibukota Rantepao. Nama “Rantepao” sendiri pertama kali aku tahu kalau itu adalah ibukota Toraja Utara karena kerjaan kantor juga. Sungguh kerjaan kantor yang amat sangat bermanfaat ya. Nah, kabupaten kedua adalah Kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale. Kalau dari Makassar, rutenya adalah Tana Toraja dulu baru Toraja Utara. Dari kedua kabupaten tersebut, yang paling banyak obyek wisatanya adalah Kabupaten Toraja Utara.

Continue reading

Jalan-jalan ke Makassar, Mencari View Menenangkan dan Berbagai Makanan Khas

Beberapa bulan lalu pas tugas kantor ke Makassar, saking ribetnya kerjaaan, ga sempet main atau mbolang kemana-mana. Cuma sempet dikit merasakan konro bakar di Konro Karebosi. Karena ga puas ga bisa jalan-jalan, dalam hati pun memutuskan “Suatu saat aku kudu mbolang ke Makassar pokoknya”

Bertepatan dengan kegiatan Makassar International Writer Festival (MIWF) 2017, kegiatan pesta literasi yang masuk wishlist untuk didatangi tahun ini, keturutan lah keinginanku mbolang ke Makassar. Meskipun nama kegiatannya hanya ada kata “writer”, tapi kegiatan ini didatangi oleh para writer dan reader. Lebih lanjut tentang betapa kerennya acara MIWF ini, nanti ya di post berbeda. Tapi dari kesuksesanku berangkat mbolang ke Makassar, aku mulai yakin “Kalau ada niat pasti ada jalan buat kesana.

Kemudahan pertama, gara-gara Garuda Online Travel Fair dengan iming-iming diskon, aku pun tergoda beli tiket Surabaya – Makassar. Meskipun pas masuk payment baru ngeh kalo diskon berlaku untuk minimal transaksi Rp 1.000.000 atau Rp 1.500.000 (detailnya aku lupa). Tapi dengan harga tiket sekitaran Rp 623.000, untuk selevel maskapai Garuda, ya lumayan lah. Soalnya si maskapai merah lebih mahal dari itu, dengan fasilitas yang tentu saja beda. Baliknya Makassar – Surabaya dapat Sriwijaya yang harganya ga sampai Rp 600.000. Murah banget? Ya enggak juga sih, tapi lumayan lah bisa menghemat budget.

Kemudahan kedua, pas event kantor ada booth Airy Rooms yang jual voucher diskon Rp 100.000 per transaksi dengan harga Rp 10.000 aja. Beli donk, dan dipake buat booking penginapan murah di sekitaran Fort Rotterdam (lokasi MIWF). Dapat penginapan di Wisma Jampea, dengan total harga setelah diskon ga sampe Rp 250.000 untuk 2 malam kamar dengan AC. Karena ini mbolang-nya ala-ala backpacker, jangan harap penginapan yang mewah ya. Pokoknya bisa merem sama selonjorin kaki yang abis dipake jalan-jalan seharian. Oh iya, Wisma Jampea ini pernah dipake buat shooting film Trinity, The Nekad Traveler yang dibintangi sama Maudy Ayunda itu lho. Buat yang suka jalan-jalan budget terbatas, tapi bisa menginap di penginapan dengan harga yang miring, pake Airy Rooms lumayan tuh, lagi banyak diskon juga kayaknya.

Kemudahan-kemudahan yang  lain pasti banyak. Salah duanya dengan adanya Gojek dan Uber di Makassar, yang berguna banget buat aku yang jalan sendirian ini.

Oh iya, karena selain MIWF, Makassar Trip ini niatnya adalah menenangkan diri sebelum Ramadhan plus menuruti hasrat kuliner Makassar yang belum keturutan, jadi tulisan di post ini akan ngomongin tentang view dan kuliner ya. Cekidot
Wisata Rammang-Rammang, Maros

Wisata Rammang-Rammang merupakan wisata berupa pegunungan karst yang berada di daerah Kabupaten Maros. Lokasi Rammang-Rammang ini backpacker friendly banget, bisa ditempuh dengan transportasi umum. Awalnya pas pagi berangkat dari Surabaya, sempet galau, enaknya ke Rammang-Rammang ga ya, kan lumayan jauh, sendiri pula. Tapi akhirnya berangkat juga.

Begini nih rutenya :

  1. Kalau dari Makassar kita sebenarnya bisa langsung naik pete-pete (julukan untuk angkot di Makassar) arah Pangkep dari Terminal Regional Daya.
  2. Kalau dari Bandara Sultan Hasanuddin, kita bisa minta tolong ojek untuk diantar ke depan gerbang bandara yang dilalui oleh pete-pete yang menuju Pangkep. Infonya sih dulu sempat ada shuttle bus gratis yang bisa mengantar ke depan bandara. Tapi, sempat tanya ke bagian informasi di bandara, katanya fasilitas tersebut sudah tidak ada. Bisa naik Damri juga, tapi kemarin akunya ketinggalan dan tidak bisa mengejar. Kemarin ojek dari bandara ke ruas jalan Makassar-Maros tersebut, diminta Rp 30.000.
  3. Setelah naik pete-pete, minta diturunkan di pertigaan Semen Bosowa. Nanti sopirnya uda ngerti. Nah, arah ke Rammang-Rammang di kanan jalan, jadi kita kudu nyebrang Tenang ga usah takut, jalannya ga seramai poros Surabaya – Madiun dengan berbagai truk dan kendaraan lain. Oh iya, angkot ini aku bayar Rp 10.000 ga dibalikin sama sopirnya.
  4. Dari pertigaan, salah satu dermaga Rammang-Rammang mungkin hanya berjarak 1 km. Lumayan sih buat jalan, apalagi pas panas-panas gitu. Tapi ada tukang ojek kok di sana. Kalau mau diantar ke Dermaga 1 (yang paling dekat) cukup bayar Rp 5.000 saja.

Sampai di dermaga, untuk bisa melihat keindahan pegunungan  karst Rammang-Rammang kita harus naik perahu menyurusi sungai menuju sebuah Kampung yang bernama Kampung Berua. Harga sewa perahu sudah ditetapkan tanpa perlu tawar menawar. Harga sewa bergantung pada jumlah penumpangnya. Untuk 1-4 orang penumpang, dipatok harga Rp 200.000 pulang pergi, dengan start dan finish di Dermaga 1. Kita juga bisa minta berhenti di beberapa spot-spot/lokasi wisata yang berada di kawasan Rammang-Rammang tersebut.  Nilai Rp 200.000 sebenarnya cukup kerasa banget kalau ditanggung sendiri, tapi percayalah itu worth it dengan pemandangan yang didapatkan. Birunya langit sebagai background dan jajaran bukit karst yang menjulang berwarna hijau. Ditambah suasana yang sebenarnya cukup sepi, tidak terlalu ramai. Hening, tenang.

DSC_3455

Susur sungai sama penduduk setempat yang nebeng

DSC_3456

Pemandangan dari bangku depan

DSC_3509

Kampung Berua

Buat yang Muslim, jangan bingung kalau mau sholat, di kawasan Kampung Berua juga disiapkan mushola.

DSC_3517

Masjid Kampung Berua

Continue reading

Solo Trip, Menikmati Budaya dan Kuliner Sambil Reuni Tipis

 

Solo sebenarnya bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari rumah saya di Magetan. Bisa lewat Sarangan tembus Tawangmangu, atau juga bisa lewat daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Memang kebetulan rumah saya berada dekat dengan perbatasan, dan Solo sebenarnya lebih dekat dibandingkan dengan Surabaya. Sampai lulus kuliah, seingat saya terakhir kali saya ke Solo sewaktu SD ikut Ibuk beli baju dan peralatan rias pengantin di Pasar Klewer. Waktu itu pagi-pagi kami diantar Bapak ke Purwantoro, Wonogiri untuk naik bis menuju Solo. Sorenya kami pun kembali dijemput di Purwantoro oleh Bapak.

Sejak lulus SD sampai akhirnya bekerja di Surabaya, saya memang sudah tidak pernah ke Solo lagi. Faktor anak kosan sejak SMP kayaknya bikin jarang jalan-jalan. Sampai akhirnya setelah bekerja, beberapa kali bisa mampir sebentar di Solo. Kalau dihitung sebelum trip saya ke Solo tanggal 5-8 Februari 2016 kemarin, kurang lebih 3 kali saya berkunjung singkat ke Solo. Pertama, sewaktu tugas kantor dari Salatiga, saya memutuskan kembali ke rumah dengan naik kereta ke Solo. Karena sekedar transit, saya hanya sempat mampir ke toko oleh-oleh di Jalan Kalilarangan. Kedua, sewaktu Pak Puh saya kebetulan habis operasi di salah satu RS di Solo, saya dan adek sempat menjenguk dan mencoba beberapa kuliner seperti Selat Solo Viens dan Serabi Notosuman. Lagi-lagi ini trip singkat, karena kami sampai di Solo Sabtu siang dan kembali ke Surabaya Minggu pagi. Ketiga, karena tuntutan pekerjaan juga saya sempat ada tugas interview ke Solo, lagi-lagi trip singkat, karena berbarengan dengan jadwal menjemput adek saya yang selesai liburan dari Pekanbaru dan pesawatnya turun Solo. Setidaknya di trip ketiga ini saya bisa menikmati Selat Solo Mbak Lies, jalan menuju keraton dan Bis Solo Trans.

Trip terakhir saya ke Solo awal Februari lalu sebenarnya bisa dibilang dadakan. Awalnya saya berencana mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Yogyakarta pada tanggal 6 Februari 2016, tapi ternyata saya tidak lolos. Hiks, sedih sih sebenarnya. Akhirnya bersama sahabat-sahabat kampus yang masuk dalam golongan Geng Tanpa Wacana merencanaka Trip ke Solo-Jogja, sekalian mencari teman kampus kami yang sudah lost contact sejak pindah ikut suaminya ke Solo. Karena beberapa pertimbangan, kami pun akhirnya mengubah trip ini menjadi Trip Solo saja.

Menjelang berangkat ke Solo, saya sempat mengalami drama karena hujan dan macetnya Surabaya di Jumat malam itu. Jumat sore saya pulang sekitar pukul 17.15 dari kantor dalam kondisi hujan deras. Karena tas ransel dan peralatan lainnya masih di kos, jadi mau tak mau saya harus kembali ke kos dulu. Pukul 17.30 saya sampai di kos, berganti baju dan menunggu magrib. Melihat hujan yang masih turun, saya pun memutuskan untuk  naik taksi. Saya coba Uber, tapi hasilnya nihil. Saya coba kontak taksi langganan kantor, dan tidak ada hasil. Untunglah di depan kos ada taksi si biru yang barusan menurunkan penumpang. Pukul 18.00 saya pun berangkat ke Stasiun Gubeng, dengan asumsi masih  banyak waktu untuk bisa naik kereta Mutiara Selatan pukul 19.00 yang sudah saya pesan. Tapi, ternyata pukul 18.25 saya masih stuck di perempatan Diponegoro menuju Jalan Kartini, tidak ada yang mau mengalah. Saya pun meminta sopir taksi menurunkan saya di Alfamart Diponegoro dan memesan Gojek. Pukul 18.30, Abang Gojek sudah mengontak saya dan memastikan lokasi penjemputan. Sekitar 18.35 Abang Gojek belum datang, saya sudah galau, pasrah dan hampir nangis. Bahkan saya sudah sempat kirim pesan ke teman saya yang kebetulan ke Yogya dan satu kereta dengan saya untuk meninggalkan saya, karena masih macet. Syukurlah, setelah itu Abang Gojek datang. Ditemani gerimis, Abang Gojek pun mengantar saya menembus kemacetan. Dan tepat 18.50 saya sampai di depan Stasiun Gubeng, memberi ongkos ke Abang Gojek dan lari menuju kereta. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat ke Solo juga.

Sampai di Solo, saya menginap di Hotel Amarelo di Jalan Gatot Subroto, seberang Matahari Singosaren. Sudah booking beberapa hari sebelumnya, dan dapat harga yang cukup murah pula untuk skala hotel bintang tiga (versi Traveloka masuk bintang tiga sih). Untuk 3 malam menginap, saya dapat harga sekitar Rp 750,000 (sudah termasuk diskon 10% dan tidak termasuk breakfast). Dengan lokasi yang cukup dekat dengan lokasi kuliner dan beberapa pusat perbelanjaan, saya rasa harga tersebut sudah worth it lah.

DSC_1118

Menjelang Senja dari Lantai 4 Hotel Amarelo

Continue reading