Sejauh Apapun Kita Pergi, Masih Ada Kesempatan untuk Pulang (Review Buku “Pulang” – Tere Liye)

Siapa sih yang ga kenal sama Tere Liye. Penulis yang bernama asli Darwis ini sudah menelurkan belasan buku dengan berbagai genre. Salah satu buku terbarunya adalah buku Pulang, sebuah karya fiksi berbentuk novel. Beruntung sekali, aku bisa mengikuti bedah buku Pulang ini yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi kampus di Surabaya. Kali ini aku akan sedikit review tentang buku Pulang ini serta share beberapa insight menarik hasil dari bedah bukunya.

Review Buku Pulang

Berbeda dengan buku sebelumnya (Rindu, red) yang mengambil setting cerita di tahun 1930-an, buku Pulang ini Bang Tere mengambil setting di masa sekarang ini (sekitar tahun 2014-an). Memang ada beberapa setting yang mengambil masa 30 tahunan sebelum tahun 2014, ketika menceritakan tentang masa lalu si tokoh utama.

Buku Pulang - Tere Liye

Buku Pulang – Tere Liye

Tokoh sentral dalam buku ini, adalah  Bujang, seorang laki-laki usia dewasa sekitar 30 tahunan. Secara fisik dan materi, Bujang ini hampir sempurna. Lulusan S2 Ekonomi dari luar negeri pula. Sedikit mirip sama Christian Grey, yang ke luar negeri naik jet pribadi bukan pesawat komersil biasa.

Tidak berbeda dengan Mr. Grey yang punya masa lalu menyakitkan, Bujang ini punya masa lalu yang menyakitkan pula. Masa lalu Bujang ini diceritakan di awal cerita, di mana ketika usia 15 tahun Bujang harus terpisah dengan Bapak dan Mamaknya. Bapak Bujang terpaksa memenuhi keinginan dari Tuan-nya (di dalam buku ini disebut dengan Tauke) dulu untuk menyerahkan anaknya kepada Tauke sebagai hutang budi Bapak Bujang kepada keluarga Tauke.

Bujang lebih merasa kehilangan Mamaknya, dibandingkan Bapaknya. Hubungan Bujang memang tidak terlalu baik dengan Bapaknya. Oleh Mamaknya, satu pesan yang dititipkan ke Bujang yang nantinya tidak akan pernah dilanggar Bujang sekalipun.

“Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu…. Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram”

Setelah dewasa di bawah bimbingan Tauke, Bujang pun terlibat dalam jaringan shadow economy. Apa itu shadow economy? Bang Tere bahkan sudah membuat bab sendiri mengenai shadow economy di Bab 3.

Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu, orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy”

Di bab ini, shadow economy dibahas dengan gamblang dengan setting Bujang sedang berkompromi dengan salah satu calon presiden. Sekilas membaca buku ini, kita pasti akan berpikiran bahwa ini kondisi di Indonesia dan dunia sekarang. Tapi, Bang Tere Liye pun menegaskan bahwa buku Pulang ini adalah fiksi, yang artinya tidak nyata. Shadow economy memang ada, tetapi di Indonesia tidak sebesar yang diceritakan di buku. Negara dengan shadow economy terbesar adalah negara Ukraina dan negara pecahan Uni Sovyet yang lain. Diperkirakan di Ukraina, shadow economy ini menguasai 40% perekonomian.

Kalau ada yang berpikiran Tere Liye ini penulis roman saja, ternyata belum sepenuhnya tepat. Buku Pulang ini salah satu bukunya yang menghadirkan berbagai genre, mulai dari roman antara Bapak dan Mamak di masa lalu, genre keluarga dalam cerita keluarga Bujang, genre politik ekonomi dalam pembahasan shadow economy  dan aplikasi, genre action dalam beberapa setting pertempuran yang kalau difilmkan sepertinya akan ala-ala Hollywod, serta genre religius menjelang akhir cerita. Bang Tere menyajikan kombinasi banyak genre ini dengan apik dan membuatku tercengang, terutama dalam pembahasan shadow economy.

Seperti biasa, gaya bahasa yang digunakan oleh Tere Liye tergolong bahasa dalam tingkatan sedang untuk dipahami. Yang pastinya berbeda dengan novel metropop ataupun chicklit. Berbeda dengan “Rindu” yang banyak kutipannya aku share ketika membaca, di buku “Pulang” ini sepertinya tidak ada kutipan yang menarik untuk dishare. Mungkin karena memang bukan cerita roman yang mendayu-dayu.

Seperti judulnya, di akhir buku ini pasti menceritakan “kepulangan” dari tokoh Bujang. Bagaimana kepulangannya? Penasaran? Baca bukunya ya. Yang pasti, sejauh apapun kita pergi, pasti ada jalan untuk kembali pulang. Sekelam dan segelap apapun hidup kita, pasti akan ada kesempatan untuk berubah.

Menurutku, buku Rindu ini masuk dalam kategori WOW (dalam skala MarkPlus WOW ini masuk skala 9/10 dalam skala 1-10 dari sangat tidak menarik sampai sangat menarik)­, layak untuk dibaca. Kalau menutur Tere Liye, buku itu mempunyai 3 tingkatan (tingkat 1 : menemani dan menghibur, tingkat 2 : bermanfaat, tingkat 3 : menginspirasi), buku Pulang ini berada dalam tingkat 3, yaitu MENGINSPIRASI.

Sepertinya buku ini juga menarik untuk difilmkan, seperti beberapa buku-buku Tere Liye yang lain. Beberapa pertempuran yang berstrategi dalam buku ini menarik untuk difilmkan.

Tere Liye, Penulis yang Cenderung I (Introvert, red)

Dulu sekilas pertama kali mendengar kata Tere Liye, aku mengira dia adalah seorang wanita. Ternyata salah, Tere Liye merupakan sebuan nama pena dari Darwis. Seorang penulis asal Sumatera Selatan, lulusan Ekonomi Universitas Indonesia. Jadi jangan heran kalau beberapa bukunya juga mengambil tema tentang ekonomi. Melihat wajahnya, sekilas seperti Chinese, tetapi aku tidak bertanya sejauh itu. Sejauh ini dia adalah muslim, meskipun dalam pembawaannya cenderung santai pakai kaos dan sweater, bukan baju koko.

DSC_0393

Darwis Tere Liye, Penulis

Bang Tere merupakan penulis yang menurut saya cenderung introvert atau tertutup. Beberapa pertanyaan yang menurut dia personal tidak akan dijawabnya, meskipun menurut penanya pertanyaan itu bukan pertanyaan yang bersifat personal. Misalnya, pertanyaan tentang target buku yang dibaca dan pengalaman perjalanan yang paling berkesan.

Meskipun penulis, Bang Tere jarang menceritakan kehidupan masa kecil maupun keluarganya sekarang ke dalam sebuah buku ataupun ke dalam status di Facebooknya. Namun tidak dipungkiri, keluarga memang memberi inspirasi buatnya. Tetapi keluarga merupakan bagian terpenting dalam hidupnya, yang menurut dia biarkanlah menjadi kenangan terindahnya buat dia saja.

Semua buku yang dibuatnya adalah buku fiksi. Meskipun latar belakang atau setting yang diambilnya berasal dari peristiwa nyata. Misalkan, buku Hafalan Sholat Delisa tentang Tsunami Aceh dan Rindu tentang kapal pembawa jamaah haji Indonesia di tahun 1930-an. Satu hal menarik disampaikan oleh Bang Tere, “Novel itu fiksi, yang nyata adalah implikasi dari novel tersebut untuk bisa membuat pembacanya menjadi lebih baik”.

Bisa dapat tanda tangan di 2 buku aja udah seneng

Bisa dapat tanda tangan di 2 buku aja udah seneng

Bang Tere pun memberikan beberapa motivasi dan masukan untuk mereka-mereka yang hobi menulis. Beberapa hal yang dibutuhkan dalam menulis menurut Bang Tere antara lain :

  1. SO WHAT?. Dengan buku ini apa yang kita inginkan. Buku bukan hanya sekedar cerita saja, tetapi juga mempunyai tujuan yang jelas apa yang ingin disampaikan dari buku tersebut
  2. TENTUKAN PANGGUNGNYA. Setelah tahu tujuan apa yang ingin kita sampaikan, kemudian cari panggung/cerita apa yang ingin digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut
  3. TOKOH DAN KARAKTER. Jika kesulitan mencari tokoh utama, salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah menempatakan diri kita sendiri sebagai tokoh utama.
  4. DO RESEARCH. Yang pasti, nulis itu butuh riset. Dan itu mutlak. Tulisan seseorang yang tanpa riset tidak akan sebaik tulisan orang yeng melakukan riset, meskipun cuma sebentar.

Satu lagi, yang menarik dari Bang Tere Liye, ketika stuck dalam menulis atau kerjaan, artinya amunisimu di kepala sedang kosong. Lakukan hobimu yang lain, dan jangan lupa terus membaca untuk mengisi amunisimu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s