#NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial

 Maafkan lama ga isi blog. Kekurangan bahan mungkin ya. Maklum lama ga traveling, kerjaan lumayan “ehem” juga, hati lagi “ehem” juga. Nonton film Indonesia masih sering sih, tapi belum nemu yang klik buat ditulis, ya mirip kaya belum klik nemu jodoh. Ehemm lagi.

Yang baru di postingan kali ini, aku mau mulai bikin #NeserKepo. Sejenis tulisan-tulisan yang ditulis dari hasil kekepoan Neser terhadap berbagai fenomena yang ada di lingkungannya. Hasil kekepoan itu nanti bisa hasil dari desk research biasa, atau mungkin survei ala-ala di media sosial. Seperti salah satu survei lewat Google Forms yang pernah aku share beberapa waktu lalu untuk dapetin #NeserGiveAway. Biar sekeren tirto.id atau beritagar atau kumparan, yang isinya beberapa riset lainnya sih. Ya setidaknya biar keahlian kepo ini berkembang, risetnya receh dan ga penting-penting banget. Kalau kata si “ehem”, beberapa negara maju malah sudah mulai bikin riset-riset yang ga penting gini. Apalah aku mah, maju aja enggak, ya gini-gini aja.

Social Media.jpg

#NeserKepo kali ini mau mengambil topik tentang media sosial. Terutama tentang fenomena penggunaan fitur Story/Live di beberapa media sosial. Kalau di fitur “Story”, biasanya kita bisa update foto/video dengan durasi kurang dari 1 menit, yang akan hilang tayang setelah 24 jam. Kalau di “Live”, kita bisa bisa update video yang langsung bisa ditonton saat itu juga sama friend/follower kita yang online dan yang pasti mau nonton kita. Mirip sama sok ala-ala acara TV yang live gitu. Jadi kita serasa punya channel/acara TV sendiri. Berapa media sosial sudah mulai memasukkan fitur-fitur ini dalam aplikasinya.

Continue reading

Advertisements

MIWF 2017, Surga untuk Pecinta Buku

 

Makassar International Writer Festival 2017 (MIWF 2017) merupakan festival literasi terbesar di Indonesia Timur. Tahun ini MIWF 2017, mengambil tema “Diversity”, tema yang pas banget sama kondisi Indonesia saat ini. MIWF 2017 ini buat aku merupakan salah satu wishlist tahun 2017, gara-gara lihat foto-foto pelaksanaan MIWF 2016 yang bertabur penulis-penulis keren.

MIWF 2017 dilaksanakan di salah satu landmark terkenal di Makassar, Benteng Fort Rotterdam. Kawasan benteng pun disulap menjadi arena yang menyenangkan dengan penuh buku dan berbagai booth-booth pendukung. MIWF sendiri terdiri dari beberapa talkshow buku, launching buku baru, sampai pembacaan puisi. Di malam hari, kawasan benteng yang biasanya terkesan horor, disulap jadi arena menampilkan berbagai performance yang berhubungan dengan buku, mulai pembacaan puisi sampai musikalisasi puisi. Detail jadwal MIWF 2017 kemarin bisa dilihat di sini, siapa tahu bisa jadi referensi buat datang di MIWF 2018 nanti.

MIWF 2017 ini dilaksanakan mulai tanggal 17-20 Mei 2017. Sebelumnya memang dilakukan berbagai pre event. Aku sendiri baru bisa datang ke Makassar di tanggal 19 Mei, maklum lah kuli korporasi cutinya terbatas. Sampe Makassar pun sudah siang, karena abis dari Rammang-rammang dulu, jadi tidak semua sesi aku ikuti.

MIWF.jpg

Continue reading

The Circle : Membayangkan Masa Depan dengan Keterbukaan di Media Sosial

Hayoo? Ini review buku atau film?

Lebih tepatnya kedua-duanya.

Berbeda dengan biasanya, baca buku dulu baru nonton filmnya, untuk kasus The Circle ini aku nonton film dulu. Karena merasa akhir ceritanya menggantung dan kurang jelas, akhirnya abis nonton di XXI Ciputra World langsung menuju ke Gramedia. Bukunya sendiri ditulis oleh Dave Eggers.

Tulisan ini nanti mungkin tidak banyak me-review buku atau filmnya dari segi cerita, tokoh ataupun yang lainnya, tapi tentang beberapa insight dari film ini. Film ini cocok banget dengan kondisi sekarang di mana orang semakin tergila-gila dengan media sosial.

Sebelum lanjut, ini official poster dan trailer-nya.

The Circle 2.jpg

Poster Film The Circle

 

Buku dan film ini menceritakan tentang Mae Holland (Emma Watson), seorang pekerja di salah satu kantor layanan publik yang diterima di The Circle, sebuah perusahaan teknologi dunia. Sama seperti tugasnya di kantor sebelumnya, di sini Mae menjadi customer service yang menangani keluhan dan pertanyaan konsumen. Karena The Circle merupakan perusahaan teknologi, tentu saja teknik dan proses melayani konsumen lebih canggih dibandingkan kantor Mae sebelumnya.

The Circle.jpg

Buku The Circle

Continue reading

Membaca Novel Sambil Menyelami Kehidupan di Pelosok Jawa Sebelum Era 90-an

 Generasi 90-an seperti aku (lebih tepatnya sih 1989 di ¾ akhir. Mepet 1990 kan? #udahiyainaja) termasuk generasi yang lahir dan tumbuh besar dalam kondisi Indonesia yang sudah cukup maju dan teknologinya sudah semakin berkembang. Apalagi buat mereka-mereka yang menghabiskan masa kecil di kota, terutama kota besar.

Dua belas tahun masa kecilku aku habiskan di sebuah desa terpencil di pojok barat daya Kabupaten Magetan, berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Listrik PLN masuk kira-kira di tahun 1995, awal aku masuk SD. Begitu juga pengaspalan jalan. Sebelum listrik PLN masuk, penerangan menggunakan beberapa bantuan diesel yang hanya menyala setelah magrib dan kembali putus setelah terang. Setelah masuk listrik PLN, beberapa orang yang punya kelebihan dalam hal materi, mulai beli televisi sendiri, mulanya hitam, baru kemudian berwarna. Karena belum banyak yang punya televisi, jadi nonton televisi pun bareng-bareng di rumah mereka yang punya televisi. Tahun 1995, ketika Ibuk hamil adek, aku ingat aku pernah terkunci di luar karena nonton televisi di rumah tetangga sebelah sampai malam.

Kalau cerita tentang kehidupan sekitar 1980-an di desaku, mungkin aku bisa simpulkan dari beberapa cerita dari Ibuk. Akhir tahun 1980-an, terutama sewaktu aku lahir, belum ada bidan desa. Jadi aku lahir dengan bantuan dukun beranak, prematur tanpa inkubator. Di awal 1980-an ketika Ibuk SMP, belum ada kendaraan umum. Kalau mau ke kota kecamatan tempat Ibuk sekolah dan kos, jalan kaki berangkat jam 3 pagi dari rumah. Zaman itu, belum banyak yang punya sepeda motor, jadi kalau ada suara sepeda motor milik Pak Lurah atau Pak Carik akan terdengar dari radius lebih dari 3 km. Apalagi ya?

Kira-kira bagaimana kehidupan di daerah lain, terutama di Jawa di kala itu ya? Aku kebetulan membaca beberapa novel yang mengambil cerita tentang kehidupan di beberapa daerah di Jawa, sebelum era milenial seperti sekarang. Buku tersebut antara lain : Ulid (Mahfud Ikhwan), Genduk (Sundari Mardjuki), Di Kaki Bukit Cibalak dan Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari).

Kolase Buku

Yuk coba kita lihat satu persatu bagaimana kehidupan di Jawa di era sebelum tahun 1990-an.

Continue reading

Kampung Buku Jogja, Pembuka Pesta Buku di Bulan Oktober

 

Bulan Oktober 2016 ini, rasanya menjadi bulan penuh pameran buku buat penggemar buku seperti aku. Serangkaian kegiatan bertema buku di bulan ini antara lain :

  1. Gramedia Sale Surabaya, di gudang Gramedia di daerah Berbek. Acara sale ini menjual buku mulai Rp 5.000. Cuci gudang ini dimulai tanggal 7 Oktober kemarin dan diakhiri ketika buku sudah selesai. Buat pecinta buku yang statusnya karyawan dengan jam kerja ketat, harus benar-benar melonggarkan waktunya di hari Sabtu karena cuci gudang ini dimulai jam 07.30 dan selesai jam 17.00. Di hari Minggu, acara in tutup. Setelah coba kepo-in instagram @gramediacucigudang, termyata sempat diberlakukan sistem antrian agar masuknya lebih tertib. Ga kebayang deh ramenya. Dan sepertinya aku tidak sempat hunting di cuci gudangnya Gramedia yang di sini, karena jadwal untuk hari Sabtu di bulan Oktober ini sudah full booked. Tapi infonya sih, di lokasi lain di Surabaya juga ada sale, seperti di Gramedia Royal dan Gramedia Manyar
  2. Kampung Buku Jogja yang kedua, yang juga dimulai tanggal 7 Oktober 2016 dan berakhir di 9 Oktober 2016. Acara ini dilaksanakan di Food Park UGM.
  3. Big Bad Wolf Surabaya, mulai tanggal 20 Oktober di JX Expo, Jl. Ahmad Yani. Event ini juga merupakan pameran buku terbesar, dan 24 jam nonstop. Alhamdulillah, dapat VIP Pass yang benefitnya bisa masuk ke BBW satu hari sebelum pameran resmi dibuka. Bismillah, sudah mengajukan cuti dan semoga bisa hunting sepuasnya. (elus ATM)
  4. Abookadabra Gramedia. Nah acara ini sepertinya merupakan kelanjutan Gramedia Cuci Gudang. Bedanya acara Abookadabra ini akan dilaksanakan di Atrium Tunjungan Plaza dan juga di Ciputra World Surabaya. Siap hunting lagi?

Pas kebetulan ada urusan ke Jogja, kebetulan pas ada Kampung Buku Jogja. Jadi sekalian lah ya, sambil menyelam bisa selfie. Sambil sekalian ada urusan pribadi, sekalian main dan refresh otak di Kampung Buku. Tapi, sebelum mulai cerita, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Mba Sasa, yang sudah menemaniku di Jogja terutama di Kampung Jogja dan bertemu orang-orang keren yang punya peran penting dalam dunia literasi di Jogja.

Tidak hanya pameran buku, Kampung Buku Jogja juga mengajak pengunjungnya untuk mengikuti diskusi dan talkshow terkait dunia buku, terutama di Jogja. Detail jadwalnya bisa dilihat di sini ya, lumayan buat referensi kalau tahun depan mau berkunjung ke sana.

_20161012_083644

Continue reading

Dahsyatnya Marketing Buku ala Ika Natassa

 

Penggemar metropop pasti deh kenal dengan Ika Natassa ini. Penulis yang punya gaya tulisan yang unik. Lebih banyak mengangkat latar kehidupan urban dan beberapa masalah yang sedang kekinian. Sepertinya kali ini saya tidak akan melakukan review terhadap buku-buku karangan Ika Natassa yang sudah banyak. Saya coba melihat bagaimana keunikan Ika Natassa ini menjual bukunya dari sisi marketing.

Bagaimana Ika Natassa membuat pembaca ataupun calon pembacanya tahu tentang karya-karyanya? Penulis buku memang biasanya tidak akan memasang iklan di media massa seperti televisi, radio maupun media cetak. Informasi tentang Ika Natassa dan karya-karyanya bisa dilihat di berbagai media komunikasi seperti :

  • Twitter : @ikanatassa (ini yang kayaknya paling sering update)
  • Instagram : @ikanatassa
  • Website : ikanatassa.com (kalau mau tahu tentang karya-karya Ika Natassa bisa stalking di website ini.
  • Facebook : Ika Natassa (nah kalau Facebook, kebetulan saya juga tidak berteman, tapi sepertinya lebih update Twitter daripada ini)
  • Official Website dan Social Media milik Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Kebetulan semua buku Ika Natassa diterbitkan oleh GPU, jadi informasi tentang buku-buku baru Ika Natassa akan dishare juga oleh GPU

Selain media komunikasi pemasaran, tentunya rekomendasi dari para pembaca loyal karya Ika Natassa menjadi sumber aware yang utama terutama bagi calon pembaca. Seperti saya misalnya, setiap membaca buku Ika Natassa terbaru, saya biasanya akan memposting di media sosial yang saya miliki. Bisa posting foto bukunya, ataupun posting beberapa bagian novel yang quotable dan baperable. Dengan itu, berarti minimal friends saya di media sosial aware terhadap karya Ika Natassa.

Ika Natassa.jpg

Ika Natassa (Sumber : http://www.ikanatassa.com)

Continue reading

Menantangnya Membaca Karya Sang Pendiri “Poedjangga Baroe”

 

Siapakah pendiri “Poedjangga Baroe” yang saya maksud di sini? Atau mungkin malah ada yang bertanya, apakah “Poedjangga Baroe” itu? “Poedjangga Baroe” adalah sebuah majalah sastra Indonesia yang mulai diterbitkan di bulan Juli 1933 dan berhenti terbit pada bulan Februari 1942. Majalah ini didirikan oleh Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Terbitnya majalah ini juga sebagai penanda lahirnya Sastra Indonesia Angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya sastrawan di masa tersebut.

Jadi, siapakah pendiri “Poedjangga Baroe” yang saya maksud? Beliau adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Mungkin ada yang ingat karya beliau apa saja?. Yang paling saya kenal adalah novel “Layar Terkembang” yang mulai diterbitkan tahun 1936. Ternyata beliau tidak hanya menulis novel tersebut, beliau sebelumnya pernah menulis novel “Dian Yang Tak Kunjung Padam” (1932) dan juga novel “Anak Perawan di Sarang Penyamun” (1940). Tidak hanya novel, beliau juga pernah menulis kumpulan sajak berjudul “Tebaran Mega” pada tahun 1935. Atas karya-karyanya tersebut dan kontribusi beliau terhadap perkembangan sastra dan bahasa di Indonesia, beliau pernah mendapatkan penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970.

DSC_0737.JPG

Dian Yang Tak Kunjung Padam

Kebetulan, kira-kira sebulan yang lalu, sewaktu hunting buku di salah satu jaringan toko buku terbesar Indonesia, saya menemukan dua buku yang sampulnya unik, jadul banget. Setelah saya dekati, ternyata kedua buku tersebut adalah buku “Dian Yang Tak Kunjung Padam” dan “Anak Perawan di Sarang Penyamun” karya STA. Saya coba mencari di sekelilingnya, apakah ada buku “Layar Terkembang” juga, tapi ternyata hanya dua buku ini tersedia. Buku ini cukup tipis, antara 110 – 150 halaman, dan dibanderol dengan harga yang cukup miring dibandingkan buku-buku yang lain, sekitar Rp 30,000. Soo, bungkus lah.

Continue reading