Film Galih dan Ratna : Belajar Filosofi Hidup dari Kaset

 Nama “Galih” dan “Ratna” di telinga orang Indonesia mungkin mirip dengan “Romeo” dan “Juliet”. Secara umum, cerita kedua pasangan ini tidak berbeda, ditentang karena perbedaan tertentu. Pasangan “Galih” dan “Ratna” ini mulai terkenal di akhir dekade 1970-an, lebih tepatnya di tahun 1979, sepuluh tahun sebelum aku lahir. Nama pasangan ini mulai dikenal karena film “Gita Cinta dari SMA”, yang dibintangi Rano Karno (Galih) dan Yessy Gusman (Ratna). Film ini sempat dibuat sekuelnya dengan judul “Puspa Indah di Taman Hati”.

Tahun 2003, dibuah sinetron berjudul sama yang dibintangi oleh Paundrakarna sebagai Galih dan Ratna Galih sebagai Ratna. Iya, Paundra ini adalah cucu Bung Karno dan juga anak dari salah satu raja di Keraton Mangkunegaran, Solo. Sedangkan Ratna Galih di sini berbeda dengan Ratna Galih yang mantan pacarnya Raffi Ahmad. Eh kok aku malah jadi ala lambe turah gini. Wahahaha. Sinetron ini sempat tayang sekitar 13 episode. Sinetreon ini mengambil latar tempat di Yogyakarta. Iya iya, Jogja.

Tahun 2017 ini, film ini kembali di remake dengan judul “Galih dan Ratna”. Sama dengan kedua film sebelumnya, film ini juga mengambil cerita kehidupan Galih dan Ratna sewaktu SMA, dengan mengambil tempat di Kota Hujan, Bogor. Tokoh “Galih” diperankan oleh Refal Hady dan “Ratna” oleh Sheryl Sheinafia. Refal sepertinya pendatang baru di perfilman Indonesia. Kalau Sheryl sendiri pernah main bareng Raditya Dika di film Marmut Merah Jambu dan Koala Kumal. Meskipun pendatang baru, sebenarnya Refal lah salah satu yang membuatku nonton film ini. Karena Refal sendiri juga menjadi pemeran Harris di film Critical Eleven yang akan tayang di Mei nanti.

Galih Ratna.jpg

Galih di sini diceritakan sebagai anak SMA yang cupu, kutu buku yang punya toko kaset peninggalan Bapaknya. Bapaknya juga yang membuat Galih menyukai musik dan kaset. Kecupuan Galih ini agak ga cocok sih sebenarnya dengan wajah Refal. Apalagi image Refal sebagai Harris yang iseng dan tengil udah nempel banget. Bewokannya Refal kok rasanya kurang cocok jadi anak SMA.

Sedangkan Ratna di sini adalah anak pindahan dari Jakarta, karena ditinggal oleh ayahnya kerja di Australia. Ibunya ke mana? Nonton makanya. Hehehehe.

Film ini sekilas mirip La La Land. Ketemu, saling jatuh cinta tanpa drama dan berjuang mencapai mimpi bersama. Galih dengan mimpinya kembali membesarkan toko kaset Bapaknya, di tengah gempuran dunia digital dengan berbagai pilihan aplikasi pemutar musik. Ratna dengan keinginan untuk sekolah musik seperti saran Galih melihat kemampuan Ratna dalam menciptakan lirik lagu dan bermain alat musik.  Apakah akhirnya mirip La La Land? Beda kok. Hahahaha.

Karena film remake, film ini mengambil latar waktu di era sekarang, era milenial. Film ini seolah juga mencerminkan kehidupan anak SMA zaman sekarang. Ada Erlin, teman Ratna yang menggunakan wig warna warni seperti Harajuku dan setiap saat main snapchat. Ada Anto, teman Galih yang berbisnis pomade di sekolah. Itu dua dari beberapa hal yang tidak kita temui di Galih dan Ratna sebelumnya.

Beberapa filosofi kehidupan yang menarik ditampilkan di sini, dengan kaset sebagai analoginya. Misalnya, di masa sekarang dengan dunia digital, kita bisa sesuka hati skip lagu yang tidak kita suka atau langsung memilih lagu yang kita inginkan. Berbeda dengan mendengarkan musik melalui kaset, kita harus menunggu dulu sambil mendengarkan lagu lain untuk bisa mendapatkan lagu yang kita inginkan. Ya kecuali mau sejenis muter kaset dulu pakai bolpoin sebelum dipake biar pas lagunya. (Cuma anak 90an yang tahu hubungan kaset dengan bolpoin ini. Hahaha)

Kaset Bolpoin.jpg

Kepuasan mendapatkan lagu yang kita suka, setelah kita menunggu dengan mendengarkan lagu yang lainnya itu pasti beda. Sama seperti dalam hidup, kesenangan mendapatkan sesuatu yang kita tunggu-tunggu pasti rasanya berbeda dengan kesenangan mendapatkan sesuatu itu secara langsung/instan. Untuk bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, kita memang harus menikmati yang tidak menyenangkan dulu kan. Tapi, filosofi ini tidak sesuai dengan pernyataan Ayah Ratna tentang hidup. Menurut Ayah Ratna “Kalau sesuatu yang tidak enak itu bisa di­­-skip, kenapa enggak di-skip aja”.

Ayah Ratna memang tidak suka dengan Galih, karena kondisi ekonomi Galih yang berbeda dengan Ratna. Di film ini kita masih bisa melihat bahwa meskipun di era milenial, masih banyak orang tua yang mengedepankan materi dalam memandang masa depan anaknya. Begitu juga Ibu Galih, yang berjuang agar Galih mendapatkan beasiswa kuliah sesuai keinginan Ibunya, padahal dalam hati Galih ingin berjuang untuk membesarkan kembali toko kaset milik Bapaknya. Kadang kita punya mimpi yang sesuai dengan passion kita, tapi apa daya orang tua berkehendak lain.

By the way, di ada beberapa cameo unik di film ini. Seperti Rano Karno dan Yessy Gusman yang keluar di awal cerita. Dan juga Kang Bima Arya yang sempat keluar beberapa detik. Jadi siapa dia? Tonton aja ya. Ini trailer-nya. Soundtrack yang digunakan tetap soundtrack Galih dan Ratna yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh GAC. Yang pasti, GAC tidak mengecewakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s