Menikmati Sisa Perjalanan Gerilya Sang Jenderal di Perbukitan Pacitan

Siapa yang ga familiar dengan Jenderal Soedirman? Pahlawan nasional Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin perang gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nama beliau pun diabadikan di kota-kota besar di Indonesia sebagai nama jalan, nama beliau juga menjadi nama salah satu universitas negeri di Purwokerto, Banyumas. Di berbagai daerah, patung beliau pun berdiri megah, salah satunya di Pacitan, Jawa Timur.

Kok Pacitan? Apa hubungannya Pacitan dengan Jenderal Soedirman?

Perjalanan gerilya Jenderal Soedirman dari Yogyakarta ke Jawa Timur dan kembali ke Yogyakarta selama kurang lebih 7 bulan dari  Desember 1949 sampai Juli 1949 juga melewati Kabupaten Pacitan. Bahkan di Pacitan ini, Jenderal Soedirman sempat tinggal selama 3 bulan, karena kondisi yang kurang aman untuk terus melanjutkan perjalanan kembali ke Yogyakarta.

DSC_4872.JPG

Rute Gerilya Jenderal Soedirman

Sebagai tanda untuk memperingati peristiwa tersebut, dibangunlah komplek wisata Monumen Jenderal Soedirman di Pacitan, lebih tepatnya di Desa Pakisbaru, Kec. Nawangan. Di sekitar tahun 2009 atau 2010 lalu, aku sempat ke sini dan menuliskannya di blog Beswan Djarum. Setelah mencoba mengingat alamatnya, jreng jreng ketemu juga di sini dan di sini juga.

Lebih dari 7 tahun, tidak banyak yang berubah dari kompleks wisata ini, bahkan cenderung kurang terawat. Sempat terdengar ada isu tentang konflik perebutan tanah antara pemilik tanah/yayasan dengan dinas setempat. Tapi yang pasti, obyek wisata Kompleks Monumen Jenderal Soedirman masih tetap ada meskipun memang masih tetap seadanya.

Mulai masuk kawasan wisata kita akan disuguhi dengan beberapa pintu gerbang yang bertuliskan berbagai kalimat kutipan perjuangan. Dari kejauhan sudah terlihat patung sang Jenderal yang berdiri tegak berlatar birunya langit Pacitan. Sampai di kawasan, suasanan tidak begitu ramai. Pengunjung hanya ditarik retribusi seikhlasnya, tanpa ada karcis, tanpa ada guide atau pemandu

DSC_4830.JPG

Kawasan Monumen Jenderal Soedirman

Masuk ke area monumen, kita akan disambut dengan gapura yang mirip dengan pedang pora yang dikelilingi oleh beberapa relief diorama yang menggambarkan sejarah kehidupan Jenderal Soedirman.

DSC_0015.JPG

Gerbang Pedang Pora Berisi Relief Perjalanan Hidup Sang Jendral (abaikan si kembar nampang ya)

Selesai gerbang pedang pora, kita akan masuk ke lapangan besar dengan bendera di tengahnya, yang sejajar lurus dengan patung Jenderal Soedirman. Tanpa petunjuk arah yang jelas, kita sebagai pengunjung akan lebih memilih lurus untuk langsung menuju ke lokasi patung. Padahal sebenarnya di sebelahnya kiri dan kanan lapangan terdapat lanjutan relief cerita kehidupan sang Jenderal Besar. Jika dibuatkan rute agar relief tersebut bercerita adalah : gerbang pedang pora – belok kanan ke relief yang berada di sisi kanan lapangan – naik ke kawasan patung – turun ke pinggir lapangan –  belok kanan ke relief yang berada di sisi kiri lapangan. Dengan mengambil rute itu, kita bisa mengetahui sejarah kehidupan Jenderal Soedirman mulai dari lahir hingga akhirnya meninggal karena sakit paru-paru yang dideritanya, pada umur yang kurang dari 40 tahun. Sayang, aku sendiri sadar tentang rute itu pas sudah mau keluar kawasan, padahal pada kunjungan 2009 atau 2010 lalu aku sempat menuliskan rutenya. Sudah mulai pikun kau, Nes.

DSC_4839

Patung Sang Jenderal dari Tengah Lapangan

Berada di kawasan Kecamatan Nawangan yang berbukit, membuat patung Jenderal Soedirman mempunyai latar belakang pemandangan yang aduhai. Untuk sampai ke patung, dari lapangan kita harus menaiki 45 + 8 + 17 anak tangga. Iya benar, anak tangga tersebut menunjukkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Selesai belajar sejarah lewat relief, kita bisa mengajak anak-anak buat belajar matematika menghitung anak tangga sambil naik. Belajar di luar ruangan sekali-kali juga perlu untuk anak-anak.

Sampai di 45 tangga yang pertama, pemandangan yang terlihat sudah cukup ehem banget. Sebelum naik ke tangga kedua yang berisi 8 tangga saja, kita bisa duduk-duduk sebentar sambil ngopi karena di sana ada ibu-ibu yang lesehan dan berpayung menjajakan minuman hangat, cemilan bahkan pop mie. Meskipun kalau difoto dari bawah merusak pemandangan hasil foto, tapi pas di atas rasanya asik juga duduk lesehan sambil ngopi dan ngemil kedelai goreng dan melihat pemandangan perbukitan Pacitan. Kalau ngomong harga? Serius, dengan 10ribu saja sudah kenyang ngemilnya.

DSC_4858.JPG

Lumayan asik buat nongkrong santai

DSC_4865.JPG

Mbah Dirman, purun kopi susu?

Kalau mau lanjut jalan ke bawah patung, ya tinggal naik 8 + 17 anak tangga saja. Ga jauh, dan ga capek juga. Capekan menunggu tanpa kepastian dan kejelasan. Eeeeeaaaakkk.

Sayangnya beberapa pengunjung kurang bisa menjaga perilaku mereka, dengan naik ke patung dan duduk-duduk di sana. Ketika si kembar mengajak ikut naik, aku pun berusaha menjelaskan bahwa naik ke sana tersebut dilarang dan berbahaya, sambil agak keras ngomongnya biar kesindir.

DSC_4857

Yang duduk di atas itu ngeselin sih

Oh iya, kalau turun dari lokasi monumen yang hati-hati ya, terutama di bagian anak tangga yang 45 buah. Cukup curam dan bikin takut, dan licin kalau selesai hujan. Kalau turun, demi keselamatan berpeganglah pada pegangan tangga yang ada di kiri dan kanan, jangan berpegangan kepada omongan mantan yang tidak bisa dipegang. (Nes, cukup).

Kompleks wisata hanya patung itu saja? Tentu tidak. Kurang lebih 1 kilometer dari patung, kita bisa menjumpai sebuah rumah yang menjadi markas pasukan Jenderal Soedirman selama bersembunyi di Pacitan ini. Markas yang berupa rumah berbentuk joglo ini, dahulu merupakan milik Karsosoemito yang kemudian dibeli oleh Roto Suwarno, anak buah sang Jenderal untuk dijadikan peninggalan sejarah. Roto Suwarno pula yang menginisiasi pembangunan patung Jenderal Soedirman dengan dana pribadinya, sebelum akhirnya dilanjutkan oleh pemerintahan SBY di tahun 2009.

Markas ini tetap berdiri teguh dan utuh, meskipun di beberapa bagian sudah ada atap yang bocor. Untuk masuk dan menikmati sejarah di markas ini, sama sekali tidak dipungut biaya. Pengelola dan pemandu pun tidak meletakkan sejenis kotak amal, jadi kan bingung ya. Info terakhir, pengelolaan markas Jenderal Soedirman ini dibantu oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur yang berpusat di Trowulan.

DSC_4887.JPG

Markas Pasukan Jenderal Soedirman

Memasuki rumah tersebut, di bagian depan kita akan bertemu dengan ruang tamu dengan khas kursi zaman dahulu, dan dipan kayu di sampingnya. Lantainya masih berupa tanah, sama sekali tidak dirubah dari kondisi awalnya. Di ruangan depan ini terdapat 4 kamar yang digunakan oleh Jenderal Soedirman dan anak buahnya untuk beristirahat. Kamar nomor 1 yang berada di bagian kiri, merupakan kamar paling besar dan merupakan tempat istirahat sang Jenderal. Kamar ini tidak bisa dimasuki sembarangan, untuk bisa masuk ke sini harus minta izin dan kunci kepada pemandu. Di dalam kamar ini juga terdapat lukisan wajah Jenderal Soedirman. Kamar nomor 2 merupakan kamar Soepardjo Rustam, kamar nomor 3 tempat Tjokropranolo dan kamar nomor 4 ditempati oleh Utoyo Kolopaking. Ketiga kamar ini ukurannya lebih kecil dibandingkan kamar Jenderal Soedirman.

DSC_4882.JPG

Ruang tamu, anggap saja lagi rapat

DSC_4874.JPG

Kamar Tidur Sang Jenderal

Di rumah bagian belakang, terdapat meja kursi untuk makan dan dapur. Sebenarnya terdapat ruangan kecil yang juga berfungsi di untuk lumbung padi. Di dapur terdapat pawon dan replika beberapa peralatan masak tradisional. Sayangnya, di bagian dapur inilah terdapat kondisi yang paling parah di rumah itu, yaitu atap yang bocor. Kebocoran atap ini sudah cukup parah karena bambu-bambu yang menjadi rangka atap rumah sudah mendekati hancur lebur. Kerusakan ini sudah diinformasikan kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya, tapi masih menunggu perbaikan.

DSC_4876.JPG

Ini lokasi dapur yang atapnya sudah rusak dan bocor

Yang pasti, kalau berkunjung ke sini diharapkan tetap menjaga kesopanan sikap dan omongan. Silakan tanya ke pemandu untuk hal-hal yang kurang jelas. Pemandunya ga galak kok, kalau kata Ibuk mirip Ibas Yudhoyono, kalau kataku mirip Emil Dardak versi kurus. Hahahaha.

Pacitan tidak hanya punya pantai dan gua, Pacitan juga punya kekayaan sejarah perjuangan bangsa.

Oh iya, selain ke Pacitan, ternyata aku pernah ke lokasi lain yang menjadi peninggalan Jenderal Soedirman, yaitu Monumen Jenderal Soedirman yang ada di kawasan Pantai Parangtritis. Ini fotonya pas backpacker-an ala-ala ke Parangtritis 2015 lalu. Pas itu zaman belum sering-seringnya ke Yogyakarta.

DSC_0230.jpg

Kalau ini yang di Kawasan Parangtritis

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s