Tembok Tinggi yang Dibangun Arini Runtuh karena Optimisme Jiwa Muda Nick (Review Film “ARINI”)

 Bagi beberapa perempuan, luka yang pernah mereka alami di masa lalu akan mendorong mereka untuk membangun tembok yang tinggi dan keras  di hati mereka agar tidak gampang ditembus. Kok saya tahu? Pengalaman woi. Begitu juga dengan Arini (Aura Kasih), janda berusia 38 tahun yang sedang menempuh pendidikan S2-nya di Jerman. Terkesan angkuh, kukuh, namun di dalamnya rapuh. Oke sebelum lanjut, bagaimana penampakan awal kerasnya Arini, kita lihat official trailer dan official poster-nya dulu.

Arini.jpg

Dalam sebuah perjalanan di dalam kereta, Arini bertemu dengan Nick, seorang mahasiswa yang mengaku berasal dari Filipina, melanjutkan studi di London saat ini sedang liburan keliling Eropa dan kehabisan yang. Dengan gaya slengekan ala anak muda 23 tahun, Nick pun mengajak Arini berkenalan. Masih dengan temboknya yang kukuh, Arini memperkenalkan diri sebagai Ibu Utomo. Dengan optimis juga, Nick terus mengejar Arini sampai ke apartemennya. Pada akhirnya Nick pun mengakui bahwa dia juga berasal dari Indonesia.

Film ini dibuat dengan alur maju mundur. Menceritakan kehidupan Arini sekarang, dan kemudian loncat ke masa lalunya yang membuatnya sekukuh saat ini. Arini dikenalkan dengan Helmy, mantan suaminya oleh Ira sahabatnya sendiri. Kedua orang ini pula yang membuat Arini memendam luka amat dalam di hatinya. Helmy di sini diperankan oleh Haydar Salis (Bapak Polisi di film Siti) dan Ira diperankan oleh Olga Lidya.

Setting film ini mengambil latar di Jerman dan Yogyakarta. Yogyakarta di masa lalu Arini 13 tahun lalu dan Yogyakarta di masa sekarang. Tapi suasana Yogyakarta di kedua waktu itu terkesan sama. Yang membuat terasa seperti Yogyakarta 13 tahun lalu cuma pas Helmy (yang di film ini ga ada senyum-senyumnya sama sekali) membonceng Arini naik sepeda motor Honda Win 100 warna biru.

Bicara tentang karakter ataupun penokohan, memang Aura Kasih masih kurang greget sebagai wanita 38 tahun. Masih terkesan kinyis-kinyis. Kalau menurutku, kukuh dan angkuhnya masih dapat lah. Sedangkan Nick sendiri, pendekatannya ke Arini masih terkesan pedekate ala anak umur 20-an, padahal kan Arini sudah hampir kepala 4. Sejenis ngejar yang kurang serius, main nyosor aja. Pas sempat ditolak Arini malah ngomel-ngomel dan ngomong kasar. Tapi Nick selalu bersemangat dan optimis. Yang lama-kelamaan merubuhkan tembok di hati Arini.

Durasi yang cukup seingkat sekitar 75 menitan, membuat beberapa detail plot dan karakter kurang matang. Jadi konfliknya terasa kurang greget. Kok bisa gini? Kok bisa gitu? Lah kok? Beberapa pertanyaan ini muncul di dalam benak saya ketika menonton film ini.

Yang paling kurang asyik dilihat di film ini adalah wig yang dipakai Arini dan Ira muda yang terlihat amat sangat kurang natural. Beberapa outfit Arini cukup eye catching, apalagi sewaktu di Jerman. Beberapa outfit pas di Yogyakarta, sebagai CEO sebuah perusahaan ada yang kurang enak dipandang, agak kedodoran. Tapi secara umum, pemilihan kostum untuk Arini juga keren.

Satu kutipan yang menohok untuk wanita kekinian yang sok angkuh, kukuh dan rapuh dikeluarkan oleh Nick, kutipan ini juga ada di trailer-nya sih :

“Kamu sadar nggak sih, kamu itu kekinian banget. Tahu nggak? Ya tipikal cewek-cewek sekarang, cewek-cewek yang kesepian tapi nggak mau ngaku”

Apa pelajaran yang bisa didapatkan dalam film ini?

  • Tembok yang tinggi pun bisa runtuh kok, asalkan diruntuhkan dengan metode yang tepat. 🙂
  • Belajar semangat dan optimis seperti Nick, semua masalah pasti ada solusinya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s