Sebuah Refleksi Diri tentang Kelas Inspirasi

Nama “Kelas Inspirasi” mulai dikenal setelah booming-nya Gerakan Indonesia Mengajar. Kelas Inspirasi menjadi alternatif untuk para profesional yang tidak bisa menjadi Pengajar Muda, untuk menyalurkan hasrat mengajar dan hasrat sosialnya hanya dengan mengambil cuti selama 1 hari. Kelas Inspirasi pertama dilaksanakan di tahun 2012 di Jakarta, dan sampai saat ini Kelas Inspirasi sudah menjangkau puluhan bahkan mungkin ratusan kota di penjuru negeri.

Kegiatan Kelas Inspirasi dimulai dengan pelaksanaan briefing kepada relawan pengajar dan dokumentator untuk persiapan pelaksanaan hari-H yang biasa dikenal dengan Hari Inspirasi. Setelah pelaksanaan Hari Inspirasi, biasanya kita akan melaksanakan Refleksi. Bisa dilaksanakan hari itu juga setelah selesai Hari Inspirasi, atau di hari setelahnya. Tidak jarang, acara refleksi ini hanya dihadiri oleh sebagian relawan, karena yang lainnya lanjut pulang ke  daerah masing-masing atau lanjut jalan-jalan. Jujur, saya termasuk relawan yang hanya beberapa kali ikut refleksi dari keseluruhan kegiatan Kelas Inspirasi yang saya ikuti.

Tapi, kali ini bukan refleksi itu yang saya maksud. Refleksi setelah Hari Inspirasi biasanya berisi kesan pesan tentang kegiatan di Hari Inspirasi, pengalaman mengajar bersama siswa sampai inspirasi atau motivasi yang pada akhirnya malah didapatkan oleh para relawan dari teman-teman kecil baru mereka. Saya pernah membuat dan menjalankan konsep refleksi yang sedikit berbeda dalam bentuk diskusi singkat per kelompok sewaktu menjadi panitia di Kelas Inspirasi Magetan 3, dan sebagian besar relawan berkata “Duh Mbak, berat acaranya”.

Saya selalu merasa ada yang kurang dari kegiatan refleksi tersebut. Saya merasa ada yang kurang dengan Kelas Inspirasi. Saya mencoba melakukan refleksi kepada diri saya sendiri, bukan hanya tentang Hari Inspirasi, tapi sebuah refleksi besar tentang Kelas Inspirasi sendiri.

Lomba Mengumpulkan Name Tag dan Merchandise Relawan

Kelas Inspirasi telah berhasil membuat kegiatan volunteering diminati oleh banyak anak muda di Indonesia. Setelah suksesnya pelaksanaan Kelas Inspirasi pertama di masing-masing daerah, panitia lokal di masing-masing daerah pun menyelenggarakan Kelas Inspirasi – Kelas Inspirasi selanjutnya hampir setiap tahun. Seperti contohnya, Kelas Inspirasi Jakarta, sampai saat tulisan ini ditulis sudah diselenggarakan sebanyak 7 kali. Kelas Inspirasi Yogyakarta ke-7 akan dilaksanakan di tanggal 29 Juli 2019 nanti. Sementara Kelas Inspirasi Lombok dan Kelas Inspirasi Magetan akan menyelengarakan Hari Inspirasi ke-6 di akhir bulan Juli 2019 nanti.

Jumlah dan frekuensi kegiatan Kelas Inspirasi yang semakin banyak, membuat semakin banyak relawan tergabung dalam keluarga besar Kelas Inspirasi. Bahkan tidak sedikit relawan yang sudah mengikuti Kelas Inspirasi lebih dari 10 kali. “Kelas Inspirasi itu candu”, kalimat yang banyak diucapkan relawan ketika ditanya tentang kesan pesan terhadap Kelas Inspirasi. Tidak sedikit relawan yang berlomba-lomba mengumpulkan name tag relawan Kelas Inspirasi.

Saya mencoba bertanya kepada diri saya sendiri, apakah saya mengikuti Kelas Inspirasi hanya untuk berkompetisi banyak-banyakan atau jauh-jauhan Kelas Inspirasi yang bisa saya pamerkan ke sesama teman relawan? Setelahnya, saya membuang kumpulan name tag yang saya kumpulkan “Anak-anak itu terlalu lucu untuk jadi sekadar media menambah jumlah Kelas Inspirasi yang saya ikuti dan name tag yang saya kumpulkan. Anak-anak itu layak mendapatkan yang lebih”.

Mencitrakan Diri sebagai Relawan

Setelah Hari Inspirasi dan Refleksi, kegiatan memindahkan foto dari kamera relawan dokumentator pun dilakukan. Berbagai foto pun dipajang di media sosial. Mari coba lihat foto-foto yang kita unggah di Instagram, Facebook, Twitter ataupun blog pribadi kita. Lebih banyak foto yang ada penampakan kita atau foto tentang kondisi anak-anak atau sekolah? Bagaimana caption yang kita tulis di media sosial kita? Lebih banyak menceritakan tentang kita atau tentang kondisi pendidikan di Zona Inspirasi yang jauh di bawah ekspektasi kita? Kita lebih ingin menonjolkan “aku lho relawan” atau mengajak followers kita untuk peka terhadap kondisi pendidikan yang masih kurang layak di sebagian daerah?

Saya sendiri merasa saya terlalu egois, memilih foto-foto yang menampilkan interaksi antara saya dengan siswa atapun foto saya yang instagramable dan quotable untuk saya unggah di media sosial saya. Saya lebih memilih foto yang akan mendapatkan likes, comment atau engagement yang lebih banyak dibandingkan memilih foto yang menunjukkan masalah-masalah pendidikan yang saya temui di sana. Saya pun sadar, saya mungkin lebih banyak memilih foto selfie sewaktu istirahat di Hari Inspirasi dibandingkan mengobrol santai dengan siswa ataupun guru untuk mengetahui masalah yang mereka hadapi sehari-hari baik di sekolah maupun di lingkungannya. Saya terlalu banyak pencitraan, tapi tidak sedikitpun memberikan solusi atas masalah yang mereka hadapi.

Dengan semua keegoisan saya tersebut, saya dengan pede­-nya pernah menampilkan bio “Relawan Kelas Inspirasi” di akun Instagram dan Twitter saya. Padahal saya hanya aktif di beberapa Kelas Inspirasi, tidak setiap hari mengurusi Kelas Inspirasi dan hanya mementingkan likes di media sosial, tanpa mau memikirkan lagi bagaimana keadaan siswa yang pernah saya datangi.

Pencitraanmu egois, Nes!

Menyalakan Mimpi

Di Kelas Inspirasi, saya bercerita tentang profesi kita kepada anak-anak di sekolah. Dengan memberikan cerita tentang profesi saya, saya berharap anak-anak bisa mempunyai semangat dan motivasi untuk belajar. Saya mengajak anak-anak untuk berani bermimpi dan bercita-cita.

Apa yang saya lakukan setelah memberi mereka mimpi? Saya kembali ke kesibukan saya. Saya lupa anak-anak yang saya beri harapan terhadap mimpi mungkin sedang menghadapi kesulitan dalam sekolah karena masalah keuangan, akses, kekurangan guru dan beberapa masalah pendidikan lainnya.

Saya kurang realistis, tidak memberi tahu mereka bahwa setiap orang punya privilese yang berbeda-beda. Saya kurang realistis, kondisi saya sewaktu sekolah berbeda dengan kondisi mereka. Saya kurang jujur, tidak memberi tahu mereka bahwa untuk mencapai kondisi saya sekarang, saya juga pernah berkali-kali mengalami kesulitan.

Mereka boleh bermimpi, karena mimpi-mimpi tersebut akan jadi pembangkit semangat mereka. Tapi saya lupa menyiapkan mereka bahwa tidak semua mimpi tidak mudah untuk menjadi kenyataan. Mereka boleh mempunyai harapan, tetapi saya tidak boleh memberi harapan yang terlalu mengada-ada.

What’s Next?

Di situs resmi Kelas Inspirasi dalam menu “Tentang KI”, tertulis kalimat seperti ini :

“Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum professional”

http://www.kelasinspirasi.org

Saya terlalu sibuk berlomba mengikuti Kelas Inspirasi di berbagai kota. Saya terlalu sibuk mencitrakan diri sebagai seorang relawan. Saya terlalu sibuk membanggakan diri sebagai penyala mimpi. Tapi sekali lagi saya lupa tentang apa yang sebenarnya diharapkan dari Kelas Inspirasi, keterlibatan kontribusi saya terhadap pendidikan dalam bentuk gagasan dan kegiatan yang lebih konkret.

Di Tegal, teman-teman relawan di SDN Semedo, sempat kembali berkunjung ke sekolah untuk memberikan bantuan peralatan kebersihan, hiburan berupa kuis dan lomba. Teman-teman Kelas Inspirasi Lombok sudah berusaha membantu anak-anak di pulau kecil bernama Gili Asahan untuk mendapatkan tambahan pengajar. Mereka juga sudah membantu siswa di Gili Re bisa datang ke sekolah mereka yang berada di Gili Beleq, pulau seberangnya dengan membuatkan Sampan Inspirasi.

Untuk mewujudkan gagasan dan kegiatan yang lebih konkret seperti yang sudah dilakukan teman-teman saya tersebut, saya tidak bisa sendirian. Saya butuh teman-teman sesama relawan Kelas Inspirasi yang mempunyai visi yang sama dan saling menguatkan, demi kontribusi yang lebih konkret terhadap sekolah-sekolah yang pernah didatangi.

Teman-teman relawan Kelas Inspirasi yang mungkin membaca tulisan random saya ini, jika kalian berencana mengikuti Kelas Inspirasi dalam waktu dekat ini, coba luangkan waktu sejenak untuk mengobrol sekilas dengan guru, kepala sekolah dan siswa untuk mengetahui apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka meraih mimpi dan cita-cita,

Jika teman-teman butuh bantuan, silakan kontak saya. Dengan senang hati, saya akan membantu sebisa saya. Kita bisa ngopi bareng sambil membicarakan apa yang bisa kita lakukan untuk anak-anak Indonesia yang membutuhkan bantuan.

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah Refleksi Diri tentang Kelas Inspirasi

  1. Aryo Bayu says:

    Bener sih mbak, tapi setidaknya kita sudah berkontribusi sedikit terhadap pendidikan di sekitar kita, tapi untuk kendalanya supaya kita bisa sevisi dan sefrekuensi setelah KI gak ada kegiatan selanjutnya atau BTS, karena ada keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga dari masing” relawan, nah cara bisa sevisi itu mbak yg susah ketika kita mau maju tapi tidak ada dorongan orang disekitar kita yang mau ikut membantu.

    • neserike says:

      Benar banget Yo, butuhnya orang yang sevisi dan sefrekuensi itu sih. Kalau udah sevisi dan sefrekuensi, minimal kalau ada keterbatasan waktu dan biaya bisa saling mendukung. Ga ikut datang ga papa, tapi ikut bantu mikir dan menyemangatin kadang udah cukup.
      Hari Inspirasi dan bareng-barengnya itu bisa jadi salah satu jalan untuk menggali dan mencari mana yang sekiranya satu frekuensi, buat nanti bisa balik lagi, ga harus bareng semuanya sih, hanya beberapa ga papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s