Sebuah Refleksi Diri tentang Kelas Inspirasi

Nama “Kelas Inspirasi” mulai dikenal setelah booming-nya Gerakan Indonesia Mengajar. Kelas Inspirasi menjadi alternatif untuk para profesional yang tidak bisa menjadi Pengajar Muda, untuk menyalurkan hasrat mengajar dan hasrat sosialnya hanya dengan mengambil cuti selama 1 hari. Kelas Inspirasi pertama dilaksanakan di tahun 2012 di Jakarta, dan sampai saat ini Kelas Inspirasi sudah menjangkau puluhan bahkan mungkin ratusan kota di penjuru negeri.

Kegiatan Kelas Inspirasi dimulai dengan pelaksanaan briefing kepada relawan pengajar dan dokumentator untuk persiapan pelaksanaan hari-H yang biasa dikenal dengan Hari Inspirasi. Setelah pelaksanaan Hari Inspirasi, biasanya kita akan melaksanakan Refleksi. Bisa dilaksanakan hari itu juga setelah selesai Hari Inspirasi, atau di hari setelahnya. Tidak jarang, acara refleksi ini hanya dihadiri oleh sebagian relawan, karena yang lainnya lanjut pulang ke  daerah masing-masing atau lanjut jalan-jalan. Jujur, saya termasuk relawan yang hanya beberapa kali ikut refleksi dari keseluruhan kegiatan Kelas Inspirasi yang saya ikuti.

Tapi, kali ini bukan refleksi itu yang saya maksud. Refleksi setelah Hari Inspirasi biasanya berisi kesan pesan tentang kegiatan di Hari Inspirasi, pengalaman mengajar bersama siswa sampai inspirasi atau motivasi yang pada akhirnya malah didapatkan oleh para relawan dari teman-teman kecil baru mereka. Saya pernah membuat dan menjalankan konsep refleksi yang sedikit berbeda dalam bentuk diskusi singkat per kelompok sewaktu menjadi panitia di Kelas Inspirasi Magetan 3, dan sebagian besar relawan berkata “Duh Mbak, berat acaranya”.

Saya selalu merasa ada yang kurang dari kegiatan refleksi tersebut. Saya merasa ada yang kurang dengan Kelas Inspirasi. Saya mencoba melakukan refleksi kepada diri saya sendiri, bukan hanya tentang Hari Inspirasi, tapi sebuah refleksi besar tentang Kelas Inspirasi sendiri.

Continue reading
Advertisements

Jangan ke Lombok, Move On-nya Berat, Kamu Gak Akan Kuat

Judul tulisan ini sedikit ter-Dilan ya. Maklum, yang nulis abis nonton film Dilan, jadi masih kebawa gitu deh. Pertama kali ke Lombok, Maret 2016 pas Kelas Inspirasi Lombok 3. Perjalanan ini sempat sedikit ditulis di (Nuansa Komersil di Wisata Desa Adat Sade) dan (Terinspirasi di Balik Ramainya Gili Trawangan). Pas 2016 akhir – 2-17 awal kebetulan dapat project riset di sana, lumayan dalam 4 bulan, ke Lombok hampir tiap bulan. Lanjut lagi ke Kelas Inspirasi Lombok 4, yang sempat direncanakan menjadi Kelas Inspirasi terakhir.

Akhir 2017, ditawarin lagi mau ikut Kelas Inspirasi Lombok atau enggak. Dan, seperti di judul “Move On”-nya berat, ga akan kuat, jadilah tergoda lagi buat ikut Kelas Inspirasi Lombok 5. Seperti biasa, perjalanan di Lombok dimulai dengan penerbangan sore/mendekati last flight dan ditutup dengan penerbangan first flight. Pokoknya tidak ingin menyia-nyiakan waktu, biar efektif dan efisien di Lombok. Berangkat Kamis sore (yang jadinya delay jadi Kamis malam) dan balik Senin pagi, langsung ke kantor dan presentasi.

Jadi, ngapain aja perjalanan hampir seminggu tersebut?

Mengenal Kuliner, Budaya dan Kehidupan Masyarakat Lombok Utara

Kelas Inspirasi Lombok 5 kali ini kebetulan mengambil tema tentang Jelajah Budaya. Lokasi KIL 5 berada di Kecamatan Kayangan dan Kecamatan Bayan, daerah yang masih lekat dengan budaya yang berada di Kabupaten Lombok Utara, yang biasa dikenal dengan sebutan KLU. Kebetulan kebagian lokasi di SDN 2 Sambik Elen, yang berada di Kecamatan Bayan, yang merupakan perbatasan dengan Desa Sajang, Kec. Sembalun, Kabupaten Lombok Timur (Nah kalau ini bisa disingkat Lotim, bukan KLT).

SDN 2 Sambik Elen ini berada di Dusun Barung Birak, Desa Sambik Elen. Perjalanan dari Kota Mataram bisa lewat daerah Senggigi menyusuri pantai atau daerah Pusuk yang naik turun berliku yang berlanjut ke daerah Tanjung sampai akhirnya sampai di Sambik Elen. Sepanjang perjalanan dari Tanjung ke Sambik Elen pun akan tetap ditemani keindahan pantai. Tidak lupa kami mampir ke warung sate ikan yang berada di sekitaran pantai daerah Selengan. Sate ikan per porsi isi 10 tusuk dibandrol harga Rp 20.000. Pepes kepala ikannya pun tidak kalah juara, Rp 20.000 sudah dapat 10 bungkus.

DSC_4774

Sate ikan

Continue reading

Kelas Inspirasi Magetan, Aku Kembali

 

Setelah pelaksanaan Kelas Inspirasi Magetan #3 di tanggal 25 Januari lalu di Kecamatan Poncol (cerita lengkap di Kelas Inspirasi Magetan – SDN Poncol 5), aku sendiri sempat melanglang buana ke beberapa Kelas Inspirasi daerah lain seperti :

Kegiatan Kelas Inspirasi Magetan sempat vakum begitu lama setelah pelaksanaan Kelas Inspirasi Magetan #3. Berhubung kangen, dalam rangka memperingati Bulan Pendidikan, kami pun mengadakan kegiatan Layar Tancep Inspirasi yang berisi kegiatan nonton bareng hasil dokumentasi kegiatan Kelas Inspirasi Magetan. Layar Tancep Inspirasi ini kami selenggarakan di Teater Alun-alun Magetan pada hari Sabtu, 28 Mei 2016. (Mau tahu ceritanya baca Layar Tancep Inspirasi.)

Karena masih kangen, dalam rangka Bulan Ramadhan, Kelas Inspirasi Magetan pun mengadakan kegiatan berbagi. Kali ini mungkin bukan kegiatan berbagi inspirasi saja, tetapi juga kegiatan berbagi ke teman-teman di panti asuhan di daerah Ngariboyo Magetan. (Cerita lengkapnya diRamadhan Berbagi Kelas Inspirasi Magetan)

Kegiatan Roadshow Kelas Inspirasi Magetan (RKIM) pun juga sudah vakum begitu lama sejak selesainya rangkaian Kelas Inspirasi Magetan #3. Padahal sudah ada beberapa sekolah dasar yang masuk dalam waiting list untuk menjadi Zona Inspirasi RKIM. RKIM sendiri adalah kegiatan Kelas Inspirasi Magetan, seperti Hari Inspirasi biasanya, tapi hanya menyasar 1 SD saja dan biasanya pada hari Sabtu. RKIM ini untuk memfasilitasi keinginan banyak SD di Magetan yang tidak masuk daerah marginal tapi ingin menjadi Zona Inspirasi. Kegiatan RKIM ini biasanya juga menjadi ajang latihan bagi relawan pengajar baru dan ajang orientasi bagi fasilitator baru.

Karena kangennya sudah banget, akhirnya kami pun berencana mengadakan RKIM. Dengan persiapan yang cukup mepet, kami pun memutuskan untuk melaksanakan RKIM pada tanggal 3 September 2016, di SDN Ngariboyo 4. Persiapan mungkin hanya sekitar 2 minggu. H-2 minggu kami melakukan pembukaan pendaftaran relawan pengajar. Kenapa relawan pengajar saja? Untuk RKIM ini biasanya, kami mengambil relawan dokumentator dari kalangan panitia/fasil.

DSC_2627.JPG

SDN Ngariboyo 4

Periode pendaftaran memang cukup singkat, dan kuota relawan pengajar pun terpenuhi. Untuk RKIM SDN Ngariboyo 4 ini kami mendapatkan 6 relawan pengajar. Karena waktu yang cukup mepet, pengumuman dan briefing pun cukup berdekatan dengan hari RKIM. (Maapkeun kami ya relpeng). Relawan pengajar cukup beragam profesinya, mulai dari dosen, dokter, petugas pajak, TNI AU, penyiar radio dan ilustrator.

DSC_2672.JPG

Relawan Pengajar Bersama Dewan Guru

Continue reading

Pulau Kecil Penuh Inspirasi itu bernama Nusa Penida

 Petualangan berkedok Kelas Inspirasi kali ini berlabuh di Pulau Nusa Penida, sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Bali. Sekalian berencana reuni dengan teman-teman sewaktu Kelas Inspirasi Lombok, pengalaman baru “mengajar” di Pulau Dewata yang sarat budaya patut dicoba.

 

Transportasi ke dan di Nusa Penida

Untuk sampai ke Nusa Penida, kita harus menyebrang selama kurang lebih 30-60 menit tergantung jenis kapal yang kita gunakan dan di pelabuhan mana kita akan berlabuh. Kebetulan saya dan tim ditempatkan di SDN 3 Batununggul yang tidak berada jauh dari Pelabuhan Sampalan, jadi kami naik kapal bernama Mola Mola Express dan Pelabuhan Sanur (Matahari Terbit) selama kurang lebih 60 menit. Ketika kami menyebrang dari Sanur jam 14.00 WITA, ombaknya cukup lumayan. Jadi kalau sering mabuk laut, mending duduk di belakang, karena kalau di depan, goncangan arusnya cukup lumayan.

Mau berkeliling ke Nusa Penida? Sesampainya di pelabuhan kita bisa menemukan rental sepeda motor dengan tarif kurang lebih Rp 75.000 per harinya. Hampir semua sepeda motor yang disewakan merupakan sepeda motor matic dengan merek Honda Vario (bukan iklan, tapi kebetulan mbak researcher ini jeli banget matanya). Oh iya, ketika meminjam sepeda motor pastikan kondisi rem baik depan ataupun belakang dalam kondisi yang bagus. Karena beberapa lokasi wisata harus ditempuh dengan medan yang super penuh tantangan.

 

Beruntung Dapat Penginapan Murah

Sebulan menjelang Hari Inspirasi, ketika grup rombel sudah mulai terbentuk, kami sudah kepikiran tentang penginapan. Karena belum tahu lokasi detail, dalam benak kami “Ya udah lah ya, di rumah penduduk juga ga pa2”. Setelah dag dig dug karena takut ga dapat penginapan, akhirnya panitia lokal di rombel kami menginformasikan “Kak, ada penginapan Rp 175.000 per malam bisa buat dua orang, kalau 3 orang kena Rp 200.000”. Langsung diambil lah ya.

Dan, inilah penampakan penginapan kami.

DSC_2392.JPG

Hawa-hawa honeymoon ya Sist

DSC_2393.JPG

Namanya Pondok Kana, lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sampalan, strategis juga, karena tidak jauh dari pantai. Bersebelahan dengan penginapan yang bernama “Mae-Mae”. Kebetulan sebagian tim kami juga ada yang menginap di “Mae-Mae”. Pondok Kana ini hanya terdiri dari 2 kamar dengan tipe cottage gitu, di pojokan depan juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan untuk kumpul bareng. Pokoknya honeymoonable deh ya, tinggal dikirim aja fotonya kalau mau kasih kode. #eeeaaakk

Yang pasti harga yang kami dapatkan di atas sudah melalui proses nego yang dilakukan oleh tim panitia lokal KI Bali (Terima kasih banyak). Kamar mandi di dalam, yang cukup panjang, dengan shower da wastafel. Sebenarnya ada AC, tapi dengan harga yang cukup miring tersebut kami hanya diperbolehkan menggunakan kipas angin, dan remote AC-nya disembunyikan entah kemana. Tapi dengan hanya kipas angin, rasanya sudah cukup karena kalau malam udara Nusa Penida tidak terlalu panas. Oh iya, di setiap kamar juga terdapat 2 colokan, jadi lumayan ga akan rebutan sama partner/pasangan. Ada free wifi juga lho, dengan password yang bisa diminta langsung ke pemilik penginapan Pondok Kana ini.
Continue reading

Terinspirasi di Balik Ramainya Gili Trawangan

Awal tahun 2016, sempat menuliskan “Lombok” dan “Gili Trawangan” di wishlist traveling tahun ini. Ya masa Bapak Ibuk udah kesana, tapi anaknya belum. Ternyata, Gusti Allah memang Maha Baik, setelah “ditolak” di Kelas Inspirasi Yogyakarta, keluarlah pengumuman tentang Kelas Inspirasi Lombok Menjelajah Pulau. Setelah berhitung dengan budget dan perhitungan tetek bengek perencanaan keuangan saya, akhirnya memutuskan untuk mendaftar Kelas Inspirasi Lombok tersebut, apapun hasilnya. Kalau misalkan tidak lolos seperti di Yogyakarta, bisalah buat jalan-jalan aja.

Jauh jauh hari, saya sudah mulai hunting tiket murah, maklumlah calon Emak-emak rempong, seribu aja dipikirin. Jauh-jauh hari pula, setelah pengumuman “calon relawan” diberikan, teman-teman calon relawan pun sudah heboh buat grup Whatsapp. Pengumuman akhir pun diberikan, dan saya pun kebagian di Gili Trawangan. Satu wishlist traveling pun tercoret.

Tulisan ini bukan tentang indahnya Lombok atau Gili Trawangan, bukan juga tentang itinerary perjalanan seperti yang pernah diminta oleh salah satu follower saya di Twitter. Kalau dari sisi perjalanan, trip kali ini tidak se-well planned trip saya biasanya. Sedikit backpacker ala-ala, 2 dari 4 malam di Lombok, menginap di rumah sesama relawan, bareng temen-temen yang baru ketemu pas di Bandara Lombok. Sisanya menginap bareng Trawangan di homestay Gili Trawangan dan malam terakhir mencoba meluruskan punggung di salah satu budget hotel favorit yang berwarna ungu. Kulinernya juga ga udah dibahas ya, enak semua, pedes juga. Untunglah setelah ngetrip, timbangan masih bersahabat, cuma labil bentar geser kanan setengah strip, trus beberapa hari kemudian geser kiri lagi.

 

Mereka Bernama Tralala Troops

Rombel Gili Trawangan yang kebagian mengajar di SDN Gili Indah 2 ini hanya berkomunikasi via grup Whatsapp sebelum bertemu di briefing relawan. Meskipun belum saling bertemu, grup WA pun rame dengan diskusi tentang persiapan Hari Inspirasi, mulai dari akomodasi transportasi di Gili Trawangan, konsep closing sampai kenang-kenangan. Ketika bertemu di briefing relawan pun ternyata memang jauh lebih rame, meskipun tidak semua relawan berkesempatan hadir di waktu briefing.

Dibandingkan beberapa Kelas Inspirasi yang pernah saya ikuti sebelumnya, rombel saya di Gili Trawangan ini merupakan rombel dengan komposisi terbanyak, lebih dari 20 orang. Biasanya di kota-kota kecil yang saya ikuti sebelumnya, paling banyak hanya sekitar 15 orang. Rombel ini juga heboh banget, mungkin karena relawan yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang profesi yang berbeda-beda. Dan inilah rombel Gili Trawangan yang kami beri nama Tralala Troops. Kenapa “Tralala” bukan “Trawangan”, karena kami selalu terlihat bahagia. Eeeeeeeaaaaa

IMG-20160328-WA0027

Tralala Troops, kolase by Mas Imran

 

Mulai dari kiri atas, ke kanan kemudian mengular ya :

Continue reading

Sabtu Berkeringat di MI Zainul Ulum Gondanglegi

 

Ini sebenarnya masih tentang Kelas Inspirasi, semoga yang membaca ga bosan ya. Setelah beberapa waktu lalu tentang kegiatan sowan ke SDN Jogodalu yang pernah menjadi Zona Inspirasi di Kelas Inspirasi Gresik, kali ini saya bersama Rombel 55 Kelas Inspirasi Malang kembali ke MI Zainul Ulum Gondanglegi. Kalau kata temen-temen sih ini sejenis follow up. Apapun namanya, sebenarnya hanya kamuflase kami karena kangen sama senyum lugu siswa-siswi MI Zainul Ulum dan juga kangen jebur ke Sumbersirah (padahal saya ga nyebur sih waktu itu).

Via grup Whatsapp, kami mulai berkoordinasi, kegiatan apa yang akan kami lakukan di MI Zainul Ulum, biar ga terkesan cuma dolan aja. Beberapa kegiatan sudah kami susun. Teman-teman yang di Malang merencanakan untuk meet up sebentar, namun ternyata hanya sekedar wacana. Akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung berkumpul pada saat pemberangkatan, di hari Sabtu, 20 Februari 2016 di meeting point Alun-Alun Malang.

Mendekati hari, ternyata banyak teman-teman Rombel 55 yang berhalangan hadir. Mulai dari Arai yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Kemudian Mas Fajar yang harus menyelesaikan proyek kapalnya. Dilanjutkan Santi yang ada janji ketemu dengan klien penting. Dan Mas Aris yang harus mengantar istrinya ke Surabaya, juga Mas Yudi yang istrinya mendadak sakit. Selain itu masih ada Mba Choy dan Mba Gustin serta Wildan yang sudah menginformasikan tidak bisa datang dari awal.

Berangkat dari Alun-Alun Malang sekitar jam setengah 7, jam 7 lebih sedikit kami pun tiba di MI Zainul Ulum. Kebetulan pada hari tersebut, siswa kelas 6 beserta guru kelasnya dan kepala sekolah sedang ada acara di Batu. Pak Rustandi, salah satu guru menginformasika bahwa kepala sekolah sepenuhnya acara hari ini kepada kami. Duh ga enak sebenarnya mengganggu jadwal pelajaran. Setelah beristirahat sebentar dan menyusun detail acara, kami pun memulai kegiatan di hari Sabtu tersebut.

Kegiatan yang pertama kali kami lakukan adalah Senam Zumba yang dipandu oleh Mas Nicky. Anak-anak dikumpulkan di depan lapangan. Senam Zumba yang dipimpin Mas Nicky ini cukup membuat kami berkeringat. Tidak hanya Zumba, keringat kami pun juga menetes karena Senam Pinguin. Tapi sebelum mulai Senam Pinguin, Mas Nicky memberi sedikit intermezo dengan mengajak anak-anak untuk kuis tentang wawasan Indonesia. Sebenarnya kuis ini hanya kamuflase sih, karena sedikit ada masalah teknis pada laptop yang digunakan untuk menyetel lagu Senam Pinguin.

IMG-20160223-WA0014[1]

Senam Zumba Dipimpin Mas Nicky

IMG-20160226-WA0028[1].jpg

Senamnya Semangat Banget

Continue reading

Menembus Hutan Demi Kelas Inspirasi Lamongan

Maapkeun kalau nulis lagi tentang Kelas Inspirasi ya. Dan kali ini tentang Kelas Inspirasi di kota yang terkenal dengan soto ayam dan wingkonya, Lamongan. Karena tidak bisa ikut briefing Kelas Inspirasi Lamongan karena kebetulan bersamaan dengan briefing Kelas Inspirasi Magetan, jadinya baru bisa ketemu teman-teman relawan rombel pas Hari Inspirasi. Kebetulan nih dapat Zona Inspirasi di Kecamatan Sugio, lebih tepatnya di SDN Kalitengah 1.

Beberapa relawan fasilitator dan relawan pengajar menginap di rumah penduduk setempat (lebih tepatnya di rumah penjaga sekolah) sehari sebelum Hari Inspirasi. Relawan pengajar sisanya (termasuk saya) dan relawan fotografer/videografer berangkat di pagi Hari Inspirasi. Meskipun baru kenal, saya pun diberi tumpangan menginap di oleh salah satu relawan pengajar dan tumpangan mobil oleh relawan fotografer/videografer. Makasih banget loh ya.

Janji berangkat pukul 04.30 pagi dari Lamongan kota, karena informasinya sebenarnya jaraknya cukup dekat tapi medannya lumayan agak berat. Namun apalah daya, kamipun berangkat sekitar 05.30. Cukup deg-degan sih, kira-kira bisa nyampe di sana sebelum 06.30 ya. Perjalanan dari Lamongan ke Sugio cukup lancar, karena sang sopir pun cukup ngebut. Sampai di Waduk Gondang, kami pun bingung mau kemana. Mau kontak relawan yang sudah ada di Kalitengah, ternyata di sana lumayan susah sinyal. Kamipun mencoba menggunakan panduan GPS di smartphone.

Perjalanan dari Sugio menuju Kalitengah ditemani oleh pemandangan hutan di kanan kiri kami. Akses jalannya lebih lumayanlah kalau dibandingkan Jalan Sayutan-Parang (akuu curhat lagi loh, sapa tahu Pak Bupati baca). Tapi sejauh perjalanan di tengah hutan tidak terlihat ada lampu jalan, sepertinya jalan ini cukup horor sewaktu malam. Di tengah perjalanan, ternyata kami bertemu jalan yang cukup unik dan membuat kami tidak habis pikir. Jalan yang diplester hanya di bagian kiri kanan, yang jaraknya selebar jarak dari ban mobil kiri dan kanan, tapi tengahnya cuma diberi tanah atau kapur yang dikeraskan. Dan di beberapa lokasi bagian tengahnya benar-benar bolong tidak ada tanah atau tanah kapur. Ketinggian plester tersebut sekitar 10 cm. Bayangin aja sih, kalau mobilnya mbleset sedikit aja kan bisa masuk bagian yang bolong dan bakal sulit naiknya.

DSC_0989.JPG

Kondisi Jalan yang Bikin Sholawatan di Mobil

Continue reading