“Rumah Merah Putih”, Cerita Nasionalisme Anak Perbatasan

Kapan terakhir kali kalian menonton film non bucin (budak cinta) sampai mengeluarkan air mata? Saya baru mengalaminya minggu lalu, sewaktu menonton film berjudul “Rumah Merah Putih” ini. Film ini merupakan produksi dari Alenia Pictures, yang digawangi oleh spesialis film dari Indonesia Timur, pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen.

Film ini menceritakan tentang kehidupan dua sahabat kecil, Farel dan Oscar yang tinggal di daerah Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, berbatasan langsung dengan Timor Leste. Selain mereka berdua, ada David, Anton, Fransisca dan satu lagi saya lupa namanya. Peran Farel dan Oscar di sini diperankan oleh dua bocah lelaki asli NTT, yaitu Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao.

Farel Amaral tinggal dengan adiknya, dan kedua orang tuanya (diperankan oleh Yama Carlos dan Shafira Umm). Sedangkan Oscar tinggal bersama Tante Maria yang bekerja sebagai pedagang, diperankan oleh Pevita Pearce.

Sebelum lanjut, kita lihat dulu trailer-nya yang bikin merinding.

Merinding

Film ini dimulai dengan ramainya pembagian cat merah putih untuk digunakan menjelang Agustusan. Keempat bocah lelaki itu saling bercanda setelah mendapatkan 2 kaleng cat. Farel tanpa sengaja meninggalkan kantong plastik berisi cat di bawah pohon. Keempat bocah cilik ini kemudian ke lapangan mengikuti lomba panjat pinang meskipun akhirnya kalah.

Karena takut dimarahi ayahnya, Farel pun berusaha mencari cat baru dibantu oleh Oscar. Mulai dari mengumpulkan uang sampai berpetualang berdua ke Atambua, kota terdekat. Kedekatan sahabat-sahabat kecil ini yang membuat saya terharu sampai menangis. Mau ikutan nangis? Tonton sendiri aja ya.

Film ini mengajak kita merasakan kondisi di daerah perbatasan. Mulai dari akses yang lebih mudah ke negara tetangga (Timur Leste) sampai penggunaan mata uang asing. Meskipun demikian, di film ini digambarkan nasionalisme para penduduk di tapas batas yang tinggi, dilihat dari banyaknya kutipan adegan dengan kalimat “Merah Putih tak akan terganti”

Alam NTT yang cenderung kering, digambarkan dengan indah di sini. Termasuk bagaimana susahnya mendapatkan air bersih.

Sebagai film yang mengangkat tema di suatu daerah tertentu, penempatan beberapa produk khas daerah pun tidak bisa dihindari. Sebagai salah satu sponsor utama, Bank NTT mendapatkan banyak porsi dalam film ini. Terutama edukasi layanan mobil keliling dan produk Simpanan Pelajar (Simpel). Kondisi di perbatasan membuat penduduk mendapatkan uang dengan kondisi yang tidak layak, namun tidak perlu khawatir karena uang tidak layak ini bisa ditukar lewat mobil keliling Bank NTT.

Secara tidak langsung, film ini juga menunjukkan beberapa hasil pembangunan infrastruktur Jokowi di NTT. Salah satunya adalah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain yang menjadi gerbang masuk ke Timor Leste. PLBN yang diresmikan 2016 lalu ini tergolong cukup megah dan terkesan modern. Lewat PLBN ini penduduk Indonesia yang mau berkunjung ke Timor Leste diperiksa dokumen-dokumennya, termasuk paspor dan dokumen yang berhubungan dengan bea cukai. Lumayan untuk menjadi edukasi buat masyarakat.

Bagian yang membuat benar-benar merinding, yang juga ada di trailer adalah bagian di mana keenam anak-anak NTT tersebut mengucapkan namanya, asal kedua orang tuanya dan ditutup dengan kebanggannya menjadi anak Indonesia.

Saya Farel Amaral, Papa Maliana, Mama Balibo

Saya Indonesia!

(Note : Maliana dan Balibo adalah nama daerah yang sekarang berada di wilayah Timor Leste)

Penampilan Pevita Pearce sebagai tante Maria di sini ternyata kalah menarik dibandingkan cerita persahabatan Farel dan Oscar yang mengharukan. Oh iya, bagian akhir film ini juga terinspirasi dari Joni, anak NTT yang melakukan aksi heroik naik tiang bendera untuk memperbaiki tali bendera yang putus sewaktu upacara 17 Agustus.

Yuk ajak anak-anak, saudara, teman ataupun keluarga nonton film ini. Setidaknya bisa mengenal budaya, kondisi maupun kehidupan di daerah perbatasan. Kalau misalkan sudah turun di bioskop pun, bisa lah ditunggu hadirnya di aplikasi streaming film.

Saya Neser, Bapak Magetan, Ibu Magetan. Saya Indonesia! (Kalau mau terkesan beragam, cari orang seberang, Nes! Halah)

Advertisements

One thought on ““Rumah Merah Putih”, Cerita Nasionalisme Anak Perbatasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s