Film “Semesta”, Bersama-sama Merawat Bumi Indonesia

Aura Nicholas Saputra menjadi daya tarik awal yang membuat saya menonton trailer film yang diproduksinya dengan Mandy Marahimin ini. Topik yang diangkat tentang perubahan iklim di Indonesia membuat saya merasa harus menonton film yang tayang terbatas ini. Setelah menunggu 2 minggu setelah tayang pertama pada tanggal 30 Januari 2020, akhirnya film “Semesta” ini sampai juga di Surabaya pada tanggal 13 Februari 2020.

Film yang disutradarai oleh Chairun Nisa ini menceritakan tentang 7 orang di 7 daerah yang berjuang merawat lingkungannya masing-masing. Ketujuh orang ini beragam dalam hal lokasi, suku maupun agama dan kepercayaan yang mereka miliki. Tapi, mereka semua punya satu tujuan yang sama, menjaga bumi Indonesia menghadapi perubahan iklim yang semakin menggila.

Official Trailer Film Semesta

Perubahan iklim di dunia, termasuk di Indonesia, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat urban dengan suhu yang makin panas. Penduduk yang di pedalaman yang kita anggap dekat dengan alam, juga merasakan akibat dari perubahan iklim. Mulai dari bencana alam sampai berkurangnya bahan pangan yang biasanya mudah diambil dari alam. Perubahan iklim menjadi tanggung jawab kita semua, entah kita tinggal di kota ataupun tinggal di dalam hutan.

Ketujuh sosok inspiratif ini dengan sederhana menggunakan kemampuan dan pengaruhnya memberi manfaat untuk lingkungan sekitar. Tidak harus menjadi orang besar untuk membuat perubahan.

Dua dari tujuh tokoh di dalam film ini adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam merawat lingkungan dan saling memberdayakan sesama perempuan. Apalagi secara naluriah, perempuan lah yang paling dekat dengan alam dan paling peka jika terjadi perubahan terhadap lingkungan.

Meskipun di beberapa titik pengambilan gambar terutama dari gambar dari atas masih terkesan goyang, tapi secara visual film ini memanjakan mata kita dengan hijaunya hutan dan kebun serta birunya laut dan langit Indonesia. Warna-warna yang mungkin saja dalam beberapa puluh tahun ke depan belum tentu bisa kita nikmati jika perubahan iklim besar-besaran terjadi.

Teman dekat saya pernah mengunggah fotonya yang berlatar belakang bukit yang digunduli dengan caption “Bagaimana agama memandang kerusakan lingkungan?”. Film ini membantu menjawabnya dengan menampilkan 5 orang yang taat dengan agamanya masing-masing dan menerapkan ilmu agamanya yang dimilikinya untuk menyelamatkan lingkungan sekitar. Meskipun belum merepresentasikan semua agama yang diakui di Indonesia, setidaknya kita bisa tahu bahwa sebenarnya agama mengajarkan kita semua untuk bersikap baik kepada alam, dan alam akan berlaku sebaliknya.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

QS Ar Rum ayat 41

Sesaat sebelum keluar bioskop, kita akan berpikir “Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu merawat bumi kita yang sudah mulai sakit ini?”. Saya pribadi, semakin memantapkan niat untuk berkebun sendiri jika sudah menetap dan punya tempat tinggal sendiri nanti. Berkebun akan membuat saya mengurangi makanan olahan, lebih banyak mengonsumsi bahan pangan dari alam dan tentu saja membantu merawat bumi.

Film keren ini sayangnya hanya tayang terbatas di bioskop dan sepertinya tidak bebas tayang di Youtube seperti beberapa film dokumenter lainnya. Di Surabaya saja hanya 1 bioskop yang menayangkan. Di kota-kota kecil bahkan tidak tayang dan harus mengumpulkan massa untuk bisa nonton bareng. Jadi, mumpung yang di kota besar seperti di Surabaya, ayolah tonton, daripada ketinggalan.

Menjadikan #ZeroWaste Bukan Hanya Sekadar Tagar Kekinian

Masalah sampah tidak hentinya diberitakan dan diceritakan. Apalagi setahun terakhir, banyak berita yang menampar tentang sampah di Indonesia. Mulai dari ditemukannya ikan paus yang mati dengan perut yang penuh plastik, sampai data tentang Indonesia sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Belakangan ini tagar #TrashChallenge pun banyak berkeliaran di media sosial, dengan gambar before – after, sebelum dan setelah sampah di sebuah area dibersihkan. Tagar ini pun cukup viral, membuat orang saling berkompetisi membagi foto dan pengalamannya membersihkan sampah yang menggunung.

Bulan lalu, saya terjebak di sebuah acara tentang sampah mikroplastik di kafe favorit saya di Surabaya. Iya, benar-benar terjebak, karena niat saya memang ngopi sambil makan siang. Sambil makan siang, saya pun menguping acara tersebut. Ada satu hal yang masih tertanam di benak saya sampai sekarang “3R dalam pengelolaan sampah : REDUCE – REUSE – RECYCLE”.

Kalau kita renungkan sejenak, ketiga aktivitas tersebut ternyata merupakan dari aktivitas yang paling ekonomis sampai aktivitas paling rumit dan membutuhkan proses atau teknologi.

  1. REDUCE, mengurangi sampah. Aktivitas ini bisa dibilang aktivitas paling ekonomis, dan juga sebenarnya aktivitas pengelolaan sampah yang paling berpengaruh signifikan terhadap pengurangan jumlah sampah di sekitar kita. Aktivitas ini juga merupakan aktivitas yang sulit diterapkan karena butuh niat untuk benar-benar tidak menggunakan/mengonsumsi barang tertentu. Konsep REUSE lebih ke menahan keinginan untuk menggunakan atau membeli sesuatu yang menimbulkan sampah lebih banyak.
  2. REUSE, menggunakan kembali barang yang sudah digunakan. Konsepnya sederhana, barang-barang yang sudah digunakan digunakan kembali. Tapi, tidak semua barang bisa digunakan kembali. Misalkan : botol minuman dari plastik, tidak semuanya bisa digunakan kembali. Sebagian konsep REUSE juga masih menimbulkan kemungkinan kita terlalu mengumpulkan banyak barang di rumah. Misal : Botol minum ini masih bisa dipakai buat tempat pensil di meja rumah. Kenyataannya botolnya masih tergeletak tidak dipakai dan nantinya balik jadi sampah.
  3. RECYCLE, mendaur ulang sampah menjadi barang lain yang bermanfaat. Aktivitas ini cukup mengurangi sampah, tapi memang membutuhkan proses yang tidak sederhana dan beberapa malah membutuhkan teknologi yang canggih

Dari ketiga aktivitas tersebut, menurut saya REDUCE merupakan aktivitas yang paling memberikan dampak untuk zero waste. Zero waste bukan hanya sekadar buang sampah pada tempatnya biar lingkungan terlihat bersih, padahal sebenarnya sampahnya masih dibawa ke tempat penampungan sampah, yang kemudian kita tidak tahu sampahnya diproses seperti apa. Apakah ada proses recycle atau malah menggunung karena penambahan volum sampah yang tidak sebanding dengan proses recycle dan luas tempat penampungan?

Zero waste adalah sebuah usaha untuk tidak menyampah, tidak menambah sampah. Logika sederhananya, jangan ikut menambah sampah kalau belum bisa benar-benar menyelesaikan proses perjalanan sampah yang amat sangat panjang, berliku dan rumit seperti hubungan kita. (Eeeehhh apasihhh ini Nes).

Continue reading