Uangmu, Uangku, Uang Kita : Bagaimana Sebaiknya Mengatur Keuangan bersama Pasangan?  

 

Sebelum mungkin pada banyak yang nyinyir “Ah Nes, kamu nikah aja belum kok sok ngajarin” atau “Halah, masih single aja kok kebanyakan teori. Nikah sana”, aku kasih disclaimer dulu ya. Jadi tulisan ini adalah hasil review-ku dari seminar kecil dalam rangka Savvy Investor Class yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management. Karena kebetulan aku nasabah reksadana dari Panin Asset Management, aku berkesempatan untuk ikut acara ini gratis. Setelah beberapa lama ga bisa ikut acara ini karena jadwal yan ga cocok, akhirnya seneng banget hari ini bisa update knowledge tentang perencanaan keuangan.

Bahasan kali ini kebetulan lumayan cocok sama cerita “Nyah Nyoh” ala Bu Dendy dan Pak Dendy yang sempat viral kemarin. Abaikan soal pelakor, kita coba ambil dari sisi keterbukaan finansial kepada pasangan (dalam hal ini pasangan suami istri ya). Mungkin akan banyak yang coba bilang “Kan rumah tangga ga cuma masalah uang”. Tapi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Puslitbang Kementerian Agama di tahun 2016, persoalan ekonomi menjadi salah satu dari empat alasan utama perceraian di Indonesia. Ketiga alasan lainnya adalah hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab khususnya terhadap anak dan kehadiran ketiga. Tidak tertutup kemungkinan ketiga alasan lain tersebut juga merembet dari kurangnya keterbukaan terhadap masalah keuangan.

Couple n Money.jpg

Gara-gara viralnya Bu Dendy dan Pak Dendy kemarin, beberapa akun financial planner malah bikin Insta Story khusus tentang keterbukaan finansial terhadap pasangan, antara lain di akun Instagramnya @QM_Financial dan @jouska.id. Satu kutipan yang cukup menohok dari @jouska.id di bawah ini.

“Kalian yang memulai pernikahan lho. Kalau berani naked berduaan di kamar. Kenapa ga berani naked soal finansial”

Waawww, ini menohok nih. Nah, berdasarkan hasil belajarnya di seminar Savvy Investor Class tadi, bagaimana sih mengatur keuangan bersama pasangan? Yuk sebelum bahas, mungkin kita coba cek dulu ke Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sesuai dengan UU ini, terdapat 3 jenis harta di dalam perkawinan :

  1. Harta bawaan : harta yang diperoleh oleh suami istri sebelum perkawinan, ini penguasaanya tergantung yang punya siapa. Bisa dikompromikan kan, mau dipakai buat apa yang penting tetap demi tujuan bersama.
  2. Harta perolehan : harta yang diperoleh selama perkawinan tetapi merupakan hasil hadiah atau warisan, ini penguasaannya tergantung yang dapat hadiah/warisan siapa, sekali lagi bisa dikompromikan bareng kan.
  3. Harta bersama : harta yang diperoleh selama perkawinan, nah ini yang penguasaannya bareng-bareng

Ngomongin harta bersama, berlaku juga utang bersama, yaitu utang yang diambil selama perkawinan. Karena gak jarang kan kalau yang ngutang suaminya ga bayar-bayar, istrinya yang ditagih, dan istrinya kaget karena ga pernah diomongin kalau punya hutang. Nah harta gono gini juga yang biasanya dipermasalahkan pas ada perceraian.

Yang penting di sini kan berarti terbuka, ngobrol dan kesepakatan kan. Nah biasanya ngomongin uang ini memang sensitif, meskipun dengan pasangan sendiri. Buat yang sudah nikah, udah pada ngobrol berdua ngomongin keuangan bareng atau belum? Buat yang belum nikah, udah dilamar belum? Eeeeeeaaaakkkk, malah baper. Dari hasil seminar tadi, ada beberapa tips nih buat membicarakan keuangan dengan pasangan. Buat yang sedang mempersiapkan pernikahan, disarankan sih nanti setelah resepsi aja ngobrolinnya, karena biasanya mendekati hari H pasti lagi riewuh-riewuhnya, daripada nanti malah berantem. Nah, biar suasana kondusif dan mood-nya bagus, pastikan ngobrolnya dalam keadaan perut kenyang. Kalau misalkan di rumah/di kamar kurang privasi atau malah takut jadi ga fokus karena main-main yang lain, bisalah sambil dinner. Usahakan berpenampilan menarik, jangan dasteran aja. Hahahaha.

Continue reading

Advertisements

Bonusannya Masih? Nyoba Sukuk Ritel Yuk!

Masuk bulan Februari, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah aku ingat-ingat ternyata biasanya bulan Februari itu adalah waktu buat mulai pemesanan sukuk ritel. Awal bulan Februari aku pun membuka browser dan mengetikkan, keyword “sukuk ritel 2018”. Belum ada berita yang meyakinkan. Di minggu kedua Februari, waktu aku ngecek tabungan di salah satu bank syariah dengan warna favoritku, aku menemukan iklan tentang pemesanan Sukuk Ritel 2018 mulai tanggal 23 Februari – 15 Maret 2018 di bank syariah tersebut. Ah info bagus nih.

Aku pun refleks ngetweet tentang iklan layanan masyarakat versi Neser ini. Ini nih tweet-nya (sekalian promosi akun Twitter yang penuh opini, kegalauan dan nyinyiran ini.)

Eh ternyata ada adik tingkat di kampus yang nanyain apa itu sukuk. Oke jadi tertarik bahas sukuk pakai bahasa sederhana deh. Ga banyak pakai istilah ekonomi yang rumit, karena hidup dan pikiranku sendiri udah rumit.

Sukuk Ritel adalah…

Logo Sukuk Negara Ritel.png

Berikut pengertian sukuk ritel yang aku ambil dari situs DBS ini

Sukuk Ritel merupakan surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset Surat Berharga Syariah Negara, yang dijual kepada individu (ritel) atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual, dengan volume minimum yang ditentukan. Banyak juga yang menyebutnya sebagai obligasi syariah.

Bingung?

Continue reading

Aku Milenial, Dan Aku Punya Tabungan

Seminggu ini kayaknya di Twitter banyak berkeliaran artikel, infografis atau hasil riset tentang kondisi keuangan generasi milenial yang mengenaskan. Mulai artikel tentang generasi milenial yang tidak punya tabungan, generasi milenial yang tidak mampu beli rumah sendiri sampai tentang masa pensiun yang suram bagi generasi milenial.

Salah satu artikel di kumparan.com yang berjudul “Hampir Setengah Milenial Tak Punya Tabungan Sama Sekali”. Rasanya duh generasi milenial kok ngenes banget ya, dianggap semiskin itu. Setelah dibaca beritanya, ternyata judul itu ditulis berdasarkan kesimpulan riset yang diadakan oleh Go Banking Rates (GBR) di Amerika Serikat. Dalam riset tersebut, GBR mendefinisikan milenial adalah mereka yang berumur 18-24 tahun. Masih umur cukup muda sebenarnya. Dari hasil riset ini 46% generasi yang didefinisikan milenial tidak mempunyai tabungan sama sekali. Persentase ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 31%. Kalau kita amati sekilas umur 18-24 tahun di Indonesia saat ini adalah mereka yang berstatus mahasiswa yang masih minta ke orang tua sampai fresh graduate yang masih menikmati euforia gaji pertama.

PhotoGrid_1518684101879.jpg

Di Indonesia sendiri, Alvara Research Center pernah menerbitkan publikasi tentang The Urban Middle Class Millenials Indonesia. Dalam publikasi ini juga dipaparkan tentang perilaku keuangan (financial behavior) dari generasi milenial Indonesia. Surveinya sendiri dilaksanakan pada bulan Oktober 2016, dengan mendefinisikan generasi milenial adalah mereka yang berusia 20-34 tahun pada saat pelaksanaan survei.

Dari hasil survei ini ternyata hampir keseluruhan generasi milenial yang disurvei punya produk keuangan berupa tabungan konvensional atau syariah. Survei ini dilakukan tanpa menanyakan nilai tabungan, tetapi kepemilikan rekening/produk keuangan saja. Produk keuangan yang terbanyak kedua dimiliki milenial adalah asuransi kesehatan. Produk keuangan yang terbanyak ketiga adalah kredit kendaraan. Produk simpanan/investasi selain tabungan, seperti deposito, reksadana maupun saham ternyata masih belum banyak digunakan oleh generasi milenial. Dengan fenomena seperti ini, yang menjadi tanda tanya besar apakah generasi milenial tahu manfaat dan perbedaan dari asuransi sebagai proteksi dan investasi. Sambil coba baca sekilas tulisanku tentang asuransi di judul ini “Mau Beli Asuransi? Tujuan Lo Apa?. Continue reading

Jalan-jalan ke Makassar, Mencari View Menenangkan dan Berbagai Makanan Khas

Beberapa bulan lalu pas tugas kantor ke Makassar, saking ribetnya kerjaaan, ga sempet main atau mbolang kemana-mana. Cuma sempet dikit merasakan konro bakar di Konro Karebosi. Karena ga puas ga bisa jalan-jalan, dalam hati pun memutuskan “Suatu saat aku kudu mbolang ke Makassar pokoknya”

Bertepatan dengan kegiatan Makassar International Writer Festival (MIWF) 2017, kegiatan pesta literasi yang masuk wishlist untuk didatangi tahun ini, keturutan lah keinginanku mbolang ke Makassar. Meskipun nama kegiatannya hanya ada kata “writer”, tapi kegiatan ini didatangi oleh para writer dan reader. Lebih lanjut tentang betapa kerennya acara MIWF ini, nanti ya di post berbeda. Tapi dari kesuksesanku berangkat mbolang ke Makassar, aku mulai yakin “Kalau ada niat pasti ada jalan buat kesana.

Kemudahan pertama, gara-gara Garuda Online Travel Fair dengan iming-iming diskon, aku pun tergoda beli tiket Surabaya – Makassar. Meskipun pas masuk payment baru ngeh kalo diskon berlaku untuk minimal transaksi Rp 1.000.000 atau Rp 1.500.000 (detailnya aku lupa). Tapi dengan harga tiket sekitaran Rp 623.000, untuk selevel maskapai Garuda, ya lumayan lah. Soalnya si maskapai merah lebih mahal dari itu, dengan fasilitas yang tentu saja beda. Baliknya Makassar – Surabaya dapat Sriwijaya yang harganya ga sampai Rp 600.000. Murah banget? Ya enggak juga sih, tapi lumayan lah bisa menghemat budget.

Kemudahan kedua, pas event kantor ada booth Airy Rooms yang jual voucher diskon Rp 100.000 per transaksi dengan harga Rp 10.000 aja. Beli donk, dan dipake buat booking penginapan murah di sekitaran Fort Rotterdam (lokasi MIWF). Dapat penginapan di Wisma Jampea, dengan total harga setelah diskon ga sampe Rp 250.000 untuk 2 malam kamar dengan AC. Karena ini mbolang-nya ala-ala backpacker, jangan harap penginapan yang mewah ya. Pokoknya bisa merem sama selonjorin kaki yang abis dipake jalan-jalan seharian. Oh iya, Wisma Jampea ini pernah dipake buat shooting film Trinity, The Nekad Traveler yang dibintangi sama Maudy Ayunda itu lho. Buat yang suka jalan-jalan budget terbatas, tapi bisa menginap di penginapan dengan harga yang miring, pake Airy Rooms lumayan tuh, lagi banyak diskon juga kayaknya.

Kemudahan-kemudahan yang  lain pasti banyak. Salah duanya dengan adanya Gojek dan Uber di Makassar, yang berguna banget buat aku yang jalan sendirian ini.

Oh iya, karena selain MIWF, Makassar Trip ini niatnya adalah menenangkan diri sebelum Ramadhan plus menuruti hasrat kuliner Makassar yang belum keturutan, jadi tulisan di post ini akan ngomongin tentang view dan kuliner ya. Cekidot
Wisata Rammang-Rammang, Maros

Wisata Rammang-Rammang merupakan wisata berupa pegunungan karst yang berada di daerah Kabupaten Maros. Lokasi Rammang-Rammang ini backpacker friendly banget, bisa ditempuh dengan transportasi umum. Awalnya pas pagi berangkat dari Surabaya, sempet galau, enaknya ke Rammang-Rammang ga ya, kan lumayan jauh, sendiri pula. Tapi akhirnya berangkat juga.

Begini nih rutenya :

  1. Kalau dari Makassar kita sebenarnya bisa langsung naik pete-pete (julukan untuk angkot di Makassar) arah Pangkep dari Terminal Regional Daya.
  2. Kalau dari Bandara Sultan Hasanuddin, kita bisa minta tolong ojek untuk diantar ke depan gerbang bandara yang dilalui oleh pete-pete yang menuju Pangkep. Infonya sih dulu sempat ada shuttle bus gratis yang bisa mengantar ke depan bandara. Tapi, sempat tanya ke bagian informasi di bandara, katanya fasilitas tersebut sudah tidak ada. Bisa naik Damri juga, tapi kemarin akunya ketinggalan dan tidak bisa mengejar. Kemarin ojek dari bandara ke ruas jalan Makassar-Maros tersebut, diminta Rp 30.000.
  3. Setelah naik pete-pete, minta diturunkan di pertigaan Semen Bosowa. Nanti sopirnya uda ngerti. Nah, arah ke Rammang-Rammang di kanan jalan, jadi kita kudu nyebrang Tenang ga usah takut, jalannya ga seramai poros Surabaya – Madiun dengan berbagai truk dan kendaraan lain. Oh iya, angkot ini aku bayar Rp 10.000 ga dibalikin sama sopirnya.
  4. Dari pertigaan, salah satu dermaga Rammang-Rammang mungkin hanya berjarak 1 km. Lumayan sih buat jalan, apalagi pas panas-panas gitu. Tapi ada tukang ojek kok di sana. Kalau mau diantar ke Dermaga 1 (yang paling dekat) cukup bayar Rp 5.000 saja.

Sampai di dermaga, untuk bisa melihat keindahan pegunungan  karst Rammang-Rammang kita harus naik perahu menyurusi sungai menuju sebuah Kampung yang bernama Kampung Berua. Harga sewa perahu sudah ditetapkan tanpa perlu tawar menawar. Harga sewa bergantung pada jumlah penumpangnya. Untuk 1-4 orang penumpang, dipatok harga Rp 200.000 pulang pergi, dengan start dan finish di Dermaga 1. Kita juga bisa minta berhenti di beberapa spot-spot/lokasi wisata yang berada di kawasan Rammang-Rammang tersebut.  Nilai Rp 200.000 sebenarnya cukup kerasa banget kalau ditanggung sendiri, tapi percayalah itu worth it dengan pemandangan yang didapatkan. Birunya langit sebagai background dan jajaran bukit karst yang menjulang berwarna hijau. Ditambah suasana yang sebenarnya cukup sepi, tidak terlalu ramai. Hening, tenang.

DSC_3455

Susur sungai sama penduduk setempat yang nebeng

DSC_3456

Pemandangan dari bangku depan

DSC_3509

Kampung Berua

Buat yang Muslim, jangan bingung kalau mau sholat, di kawasan Kampung Berua juga disiapkan mushola.

DSC_3517

Masjid Kampung Berua

Continue reading

Review Bukaan 8, Lumayan Lah Buat Bekal

Sebelum lanjut, nih official trailer dan posternya.

bukaan-8

Dari trailer dan poster udah keliatan kan siapa pemainnya. Yaps, film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho dan Lala Karmela. Di proses penggarapan film ini, Chicco juga jadi produsernya loh.

Di sini, Chicco berperan menjadi Alam, seorang netizen aktif dengan ribuah followers. Saking aktifnya, pas nyetir pun Alam masih sempet twitwar sama politisi. Alam di sini memang kritis dan idealis. Alam punya istri yang bernama Mia (diperankan oleh Lala Karmela). Diceritakan di sini Mia sedang menjelang proses persalinan, sesuai kan dengan judulnya “Bukaan 8”.

Continue reading

Belajar Jadi Wanita Kuat dari Film Athirah

Siapakah Athirah?

Mungkin beliau tidak seterkenal Kartini ataupun pahlawan wanita Indonesia yang lain. Athirah juga tidak sefenomenal Awkarin ataupun Anya Geraldine yang vlognya ditonton jutaan orang. Film “Athirah” ini, yang saat ini masih bertahan di bioskop 5 kota (Jakarta, Tangerang, Makassar, Palu dan Gorontalo) baru bisa meraih 64.984 penonton (Sumber : filmindonesia.or.id)

Jadi, siapakah Athirah itu? Biografi tentang Athirah, pernah ditulis oleh Alberthiene Endah, penulis yang juga menulis buku biografi tentang Merry Riana yang juga difilmkan akhir tahun 2014 lalu. Athirah yang dipanggil “Emmak” oleh anak-anaknya ini adalah Ibunda dari salah satu wakil presiden kita, Jusuf Kalla (JK).

Film “Athirah” yang dibintangi oleh Cut Mini dan Christoffer Nelwan ini menceritakan tentang perjalanan hidup dari ibu dari Jusuf Kalla Ini. Mulai dari bagaimana perjuangan Emmak dan Puang Aji (Hadji Kalla) pindah dari Bone ke Makassar untuk mengadu nasib sampai menjadi saudagar dengan berbagai bisnis.athirah-poster

Tidak banyak yang tahu kalau kehidupan Ucu (nama kecil Jusuf Kalla) ini ternyata dekat dengan poligami. Meskipun tahu dipoligami, Emmak tidak meminta talak kepada Puang Aji. Emmak memang meminta Puang Aji untuk keluar dari rumah dan ikut istri keduanya, namun tetap shalat berjamaah dengan anak-anak dan makan siang di rumah Emmak. Meskipun sakit, tapi Emmak tetap berusaha untuk kuat. Terasa berbeda dengan fenomena poligami sekarang. Sekarang, kalau tidak terima dipoligami, curhat di media sosial, infotainment sambil saling membuka aib.

Continue reading

Kami Pun Mulai Butuh yang Lebih Cepat dan Lebih Pasti

 

Eitssss, jangan baper, ini bukan masalah perasaan, pasangan dan lain sebagainya. Neser aja yang pingin bikin judul nyeleneh. Mungkin agak berat dikit ya bahasannya, tentang pergeseran kebutuhan konsumen di Indonesia, terutama generasi millenial.

Salah satu hasil riset Youth, Women dan Netizen yang diselenggarakan oleh MarkPlus Insight di tahun 2014 menyebutkan bahwa ketiga segmen tersebut mempunyai anxieties & desires “To Be Faster, Better and Easier”. Bener ga sih ini? Oke, aku akan coba menceritakan beberapa pengalamanku dalam pemilihan produk ataupun layanan yang mempertimbangkan kecepatan, kualitas lebih baik dan kemudahan.

Continue reading