“A Copy of My Mind”, Hmmmmmm

 

Kenapa judulnya pake “hhhmmmmmm”, karena sebenarnya bingung mau mikir judulnya apa dan bingung juga mau pasang official poster yang kaya gimana biar yang baca atau yang lihat ga merasa aku terlalu vulgar. Hehehehe.

tumblr_nidn2aHDsM1r4thpko1_1280.jpg

Milih ini aja deh yang dipasang :p

“A Copy of My Mind”, sebuah film besutan salah satu sutradara unik Indonesia, Joko Anwar. Film ini juga menyabet sejumlah piala di Festival Film Indonesia 2015, antara lain Sutradara Terbaik, Pemeran Wanita Utama Terbaik dan Penata Suara Terbaik. Film ini juga sudah melanglang buana di berbagai festival film internasional seperti Busan Film Festival 2015, Festival Film Venice 2015 dan Toronto International Film Festival 2015.

Film ini dibintangi oleh Tara Basro yang berperan sebagai Sari dan Chicco Jerikho yang berperan sebagai Alek (bukan Alex). Kayaknya tahun 20165-2016 ini tahunnya Chicco ya. Sari adalah pegawai salon kecil di daerah Jakarta dan Alek adalah pembuat subtitle DVD film bajakan. Tinggal di kosan yang penuh di Jakarta, Sari pun mengisi waktu luangnya dengan menonton film bajakan di kamar kosanya yang sempit. Ketika complain tentang subtitle DVD yang dibelinya di daerah Glodok, Sari pun bertemu dengan Alek. Sesederhana itu, mereka kemudian dekat dan jatuh cinta. Eeeeeaaaaa..

Sesederhana hubungan Sari dan Alek, film ini juga sederhana. Sederhana menggambarkan kota Jakarta yang carut marut dan sumpek. Sesederhana cita-cita Sari yang hanya sekedar pingin beli home theater. Konon awalnya film ini memang direncanakan untuk diikutkan di Busan Film Festival. Dibuat dengan budget kurang lebih Rp 150,000,000 dan mendapatkan hadiah sebesar 10,000 US Dollar dari CJ Entertainment di Festival Film Busan tersebut.

Film yang sederhana, tetapi jika dinikmati ada beberapa pesan berat di film ini. Abaikan percintaan Tara dan Alek ya. Hahahaha.

Yang pertama, film ini mengungkapkan fenomena DVD bajakan di Indonesia. Mau dilarang seperti apapun, masih banyak toko bahkan ada pasar sendiri yang menjual film bajakan ini. Menurut informasi, syuting film ini juga dilakukan di lapak DVD bajakan yang sebenarnya juga diambil dengan cara diam-diam.

Meskipun tidak dipungkiri saya juga masih menjadi bagian dari penikmat DVD bajakan tersebut. Yang menyentil di film ini, ada pernyataan Alek “Kalau mau bagus, jangan beli bajakan”. Fenomenan DVD bajakan ini membuat saya ingat tentang penjual buku di kawasan Jalan Semarang, termasuk di Kampung Ilmu. Secara tidak langsung, kawasan itu melegalisasi buku bajakan. Di sana kita bisa mendapatkan buku baru dengan harga yang hampir separuh dari buku asli dengan kualitas kertas yang di bawah buku asli.

Munculnya DVD bajakan ini secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap perkembangan toko CD/DVD asli dan juga rental DVD. Saya masih ingat dulu ketika masih SD, masih banyak rental CD/DVD yang menyewakan CD/DVD original. Saya pun menjadi pelanggan tetap di salah satu rental CD/DVD, dan secara berkala meminjam koleksi di rental tersebut. Sekarang? Harga sewa CD/DVD di rental mungkin hampir sama dengan CD/DVD bajakan. Mau tidak mau mungkin sekarang beberapa rental sudah gulung tikar akibat membanjirnya CD/DVD bajakan.

Tidak hanya masalah pembajakan, film ini secara tidak langsung menyentil penegakan hukum di Indonesia. Ketika mencoba magang di salah satu salon yang lebih mewah, Sari diminta untuk melayani pelanggan salon yang ada di penjara. Penjara pun digambarkan biasa di luar, namun mewah di dalam. Sel penjara yang seperti kamar kos, lengkap dengan kulkas, rak buku, televisi dan kamar mandi dalam. Plus fasilitas bisa minta izin buat facial di dalam penjara. Ternyata tahanannya adalah ibu makelar proyek-proyek besar.

Kondis tersebut secara tidak langsung menyindir kondisi politik di Indonesia. Orang biasanya yang awalnya masa bodoh dengan kondisi politik pun akhirnya harus berurusan dengan hitamnya dunia politik ketika menemukan kebenaran yang tidak sengaja terungkap.

Dan, Joko Anwar pun membuat ending film ini terkesan menggantung, membuat penonton menerka sendiri kelanjutannya. Apapun lah, yang penting bukan hati yang digantungin. #eeeaaa

Eniwei, film ini banyak adegan dewasanya, jadi yang ga suka yang vulgar-vulgar dan remaja di bawah 17 tahun, plis jangan nonton film ini ya. Dan, Mbak Mutia alias Tara Basro keren abis.

 

Advertisements

4 thoughts on ““A Copy of My Mind”, Hmmmmmm

  1. yusrizal says:

    Yap, film ini sangat manis…. dan satir!
    Btw, film ini klo ga salah bagian pertama dari trilogi “A Copy…”nya Joko Anwar,
    Mungkin ending yang “gantung” seperti itu jadi salah satu petunjuk, Haha

  2. neserike says:

    Mirip Supernova-nya Dee yang multiplot dan berbenang merah.
    Tapi sayang ya model film kaya gini kurang “menjual” di Indonesia. Kalah sama film-film roman picisan yg saat ini uda 1 juta penonton…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s