Ekstrakurikuler di Setiap Fase Hidup

 Baiklah, coba di sini kita definisikan  ekstrakurikuler ini sebagai kegiatan sambilan atau kegiatan di luar aktivitas utama kita sebagai pelajar, mahasiswa atau pekerja.

Kegiatan ekstra ini belum banyak aku ikuti sewaktu SD. Maklumlah ya, SD di desa. Kegiatan selain sekolah hanya ngaji dan main. Ketambahan les waktu kelas 6. Eh sempet les Bahasa Inggris juga sih tapi lupa kelas berapa. Tapi bisa dibilang, kegiatan selain sekolah yang paling banyak adalah main. Mainnya sih sekitar rumah aja, tapi sudah terjadwal setiap hari. Pulang sekolah jam 12, makan siang trus tidur siang bentar jam 14.00 udah main. Kebanyakan temennya cowok sih. Main siang selesai sekitar jam 16.00 atau 16.30, Ibuk udah ngomel-ngomel kalau belum pulang. Jam 17.00 atau abis mandi dan sholat Ashar ntar main lagi bentar, sampai maghrib.

Masuk SMP, masuk ke lingkungan yang benar-benar baru, jauh dari orang tua membuatku cupu. Hahahahaha. Sebenarnya kan diwajibkan tuh ikut ekstrakurikuler (ekskul), milih satu dari tiga, Pramuka, PMR dan PKS. Karena weekend lebih milih digunakan untuk pulang ke rumah, akhirnya males ikut ekskul. Bener deh, Neser SMP itu Neser yang masih cupu, yang taunya belajar aja. Etapi pas SMP ini sempet jadi bendahara kalau ga sekretarisnya Rohis. Mungkin karena dulu pas zaman SMP, belum banyak yang pake jilbab ya. Inipun kayaknya kurang berkesan banget ya, soalnya ga terlalu banyak inget. Paling ingetnya cuma pas jadi panitia Pondok Romadhon aja.

Mulai masuk SMA, pas kelas 1 punya tuh geng cewek yang ga suka sama kegiatan dan organisasi yang sok populer, termasuk OSIS. Kita pun sukanya bukan nongkrong di tempat kece, tapi lebih suka makan mie ayam deket sekolah. Masalah kegiatan ekskul pun kita cuma ikut KIR dan YESC (Youth English Study Club), ya cuma sekedar jadi panitia aja. Eh sama di ROHIS juga sih, sama cuma panitia aja, paling di Pondok Romadhon. Neser pas SMA kayaknya masih keliatan alim.

Masuk kuliah, awal-awal masih banyak yang beranggapan cupu. Masih belum banyak ngomongnya, keliatan cenderung pendiam. Maklumlah dulu juga takut sama senior-senior, salah ngomong dikit senior tuh bisa memutarbalikkan omongan. Daripada salah mending diem. Hahahaha.

Zaman 2007, di ITS masih ada istilah warga dan non warga bagi mahasiswa. Warga adalah mahasiswa baru yang dianggap telah lulus dalam proses pengkaderan (serangkaian panjang OSPEK ala ITS). Angkatan 2007 dulu prosesnya kurang lebih sekitar 4-5 bulan. Kebayang kan rasanya selama itu merasa risih di kampus sendiri. Risih dengan tatapan mata senior.  Makan pun lebih sering di kantin pusat, istirahat pun lebih memilih di Masjid Manarul Ilmi yang jauh lebih adem. Setelah jadi warga, baru boleh tuh mahasiswa yang tidak baru lagi ikut-ikut kegiatan di kampus.

Lebih tepatnya sudah masuk semester 2. Kegiatan pertama yang aku ikuti adalah Panitia Pemilihan Umum (PPU) PEMIRA ITS. Itu tuh kegiatan memilih Presiden BEM ITS beserta Legislatif Mahasiswa ITS. Kalau tidak salah itu setiap jurusan mengirim satu perwakilan. Entah kenapa waktu itu aku yang disuruh ikut. Kalau aku sendiri tuh niat awalnya biar bisa move on, trus biar tidak hanya dikenal di belakang bayang-bayang mantan yang kebetulan dulu ketua angkatan. Eeeaaaakkkk.

Karena kegiatannya sudah skala ITS, dan kebetulan jadi bendahara, kegiatan pertama itu sudah bikin ribet banget. Mulai rapat sampai malem, trus ngurusin SPJ bolak-balik ke BAAK. Tapi itu seru, kenal banyak teman baru di luar jurusan Statistika. Ya dulu sambil mikir, sapa tau kecantol anak Teknik. Lha kok badala, abis gitu mbulet ae di Statistika sampe lulus. Kegiatan pertama ini kayaknya terus bikin nagih deh buat ikut kegiatan lainnya selama kuliah.

Empat tahun kuliah, meskipun mbuletnya di Statistika, tapi banyak kegiatan yang diikuti. Panitia itulah, panitia ini lah. Pulang malem lah, tugas belum ngerjain lah. Tapi seneng. Meskipun kadang capek sendiri. Maklum lah, dominasi cewek di Statistika itu kadang bikin cowok jadi ga dianggep ada. Jadi ga jarang cewek angkat-angkat beberapa kardus air mineral sendiri.

Semakin lama, semakin keliatan kalau Neser itu tipenya adalah eksekutor, bukan konseptor. Ga seneng kebanyakan konsep, tapi yang penting jalan. Dan kayaknya itu kebawa sampai sekarang setelah kerja. Di kerja, selain pekerjaan, kebetulan di kantor ada event tahunan cabang yang melibatkan semua karyawan. Dan selalu lah kebagian eksekusi. Kalau yang lain ga seneng riewuh, aku malah seneng riewuh, seneng capek.

Begitu pula akhir-akhir ini, sering ikut kegiatan relawan. Serius, di sela penatnya kerjaan, kadang butuh juga kegiatan lain yang juga memberi manfaat kepada orang lain. Kalau udah setim bareng dengan orang-orang yang sudah punya kesibukan masing-masing (alias kerjaan masing-masing) memang perlu kesabaran khusus untuk menyelesaikan tanggung jawab bersama.

Kegiatan relawan/kegiatan ekstra non kerjaan lainnya memang hanya sebuah kegiatan yang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan kita, yang membuat kita terkadang menganggapnya sebagai sesuatu yang kurang penting. Tapi menurut aku, kegiatan itu seperti kegiatan recharge, kegiatan menambah pengalaman dan teman serta kegiatan yang membuat kita semakin bisa memaknai kehidupan. Meskipun kadang kegiatan itu juga seperti kegiatan yang kita gunakan untuk sekedar lari dari pekerjaan ataupun masalah pribadi.

Ketika memutuskan untuk ikut turun tangan dalam sebuah kegiatan, berarti sebisa mungkin harus all out donk ya. Meskipun tidak menghasilkan uang, malah menghabiskan uang, tapi kalau kegiatan berjalan dengan lancar, pasti akan menyenangkan. Tidak jarang, kita akan monolog atau ngomong panjang lebar, tapi tidak ada yang menanggapi di grup. Tidak jarang chat kita hanya akan dibaca tanpa dibales seperti koran. Tidak jarang kita akan merasa seperti “Kok aku yang berjuang sendiri ya”, “Kok cuma aku yang semangat ya”, “Apa cuma aku yang merasa ini penting”, “Apa aku yang paling nganggur sendiri”

Ya begitulah kegiatan ekstra ketika kita sudah bekerja. Kita harus bisa sebaik mungkin mengatur semangat kita sendiri dan menimbulkan semangat kepada tim yang lainnya. Salah satunya juga mengatur waktu yang tepat untuk berdiskusi. Kadang kita punya ide pas pada sibuk semua, tapi pas pada longgar semua obrolannya random. Memang yang paling pas sih janjian pada bisa ngobrolin ini jam berapa. Kalau janjian aja ga bisa, ya udah.

Tapi satu hal yang aku ingat “Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Setiap lelah, setiap tetes peluh akan membawa berkah jika kita melakukan kegiatan yang bermanfaat”

🙂

 

 

Catatan :

Ditulis random karena akhir ini sering merasa berjuang sendirian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s