Dari Dilan, Kita Belajar dari Nostalgia Percintaan di Tahun 1990

Sudah cukup quote “Jangan rindu. Berat. Kamu tidak akan kuat” menjadi meme di berbagai media sosial. Kalian juga pasti sudah bosan dan eneg seperti bosan dengan quote “Nikahi Aku, Fahri” (Mintanya dinikahi yang lain sih. Tapi kalau ngeliat Fedi Nuril tetep meleleh. Yang dewasa kadang lebih mempesona. Kadang lho ya, ga semua). Sudah banyak juga review tentang Panglima Tempur brondong ini bertebaran, jadi aku sekedar menceritakan yang menarik dari Dilan 1990 versi Neser.

Sebelum lanjut, intip dulu official poster Dilan 1990.

dilan-1990-411x600

Official Poster Dilan 1990

 

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan yang lebih dikenal dengan Iqbal CJR, sempat diragukan banyak orang ketika pertama kali diumumkan menjadi pemeran Dilan. Namun, ternyata Iqbaal membuktikan perannya yang cukup keren sebagai cowok anak geng motor yang pintar nggombal. Sayangnya kamu masih brondong, Dik. Aku pun juga sudah kenyang bahkan mau muntah-muntah saking seringnya digombalin. Jadi Dilan, gombalanmu ga mempan buat Mbak. Mbak ga baper sama sekali, tapi ketawa ngakak hampir misuh-misuh setiap kamu gombal.

Continue reading

2017, Terima Kasih Roller Coasternya!

Ga kerasa banget, uda akhir tahun lagi. Sebenarnya, sempat kepikiran buat ga nulis tentang akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018. Tapi dipikir-pikir kok uda parah banget ya kemalesan nulisnya di tahun ini. Jadi, baiklah meskipun sedikit, mari kita lihat apa yang terjadi di 2018 ini secara singkat.

Best Nine 2017

2017, roller coaster? Tidak dalam semua hal sih sebenarnya.

Continue reading

Review Film Posesif. Haruskah Bertahan di Hubungan yang Menyakitkan?

 Setelah lama banget ga review film, akhirnya nemu juga film yang menarik buat dijadikan bahan di blog. Film produksi Palari Films ini judulnya POSESIF. Sebagai pemanasan, coba lihat dulu official poster dan trailer-nya ya.

Posesif 3.jpg

Film ini menceritakan tentang Lala, seorang siswa SMA atlet loncat indah yang berpacaran dengan Yudhis, siswa baru di sekolahnya. Tokoh Lala diperankan oleh Putri Marino, yang sekilas mirip dengan Nikita Willy, tapi dalam versi yang lebih terlihat tangguh. Yudhis sendiri diperankan oleh Adipati Dolken, yang kelihatan ganteng banget dengan potongan pendek ala anak SMA.

Continue reading

#NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial

 Maafkan lama ga isi blog. Kekurangan bahan mungkin ya. Maklum lama ga traveling, kerjaan lumayan “ehem” juga, hati lagi “ehem” juga. Nonton film Indonesia masih sering sih, tapi belum nemu yang klik buat ditulis, ya mirip kaya belum klik nemu jodoh. Ehemm lagi.

Yang baru di postingan kali ini, aku mau mulai bikin #NeserKepo. Sejenis tulisan-tulisan yang ditulis dari hasil kekepoan Neser terhadap berbagai fenomena yang ada di lingkungannya. Hasil kekepoan itu nanti bisa hasil dari desk research biasa, atau mungkin survei ala-ala di media sosial. Seperti salah satu survei lewat Google Forms yang pernah aku share beberapa waktu lalu untuk dapetin #NeserGiveAway. Biar sekeren tirto.id atau beritagar atau kumparan, yang isinya beberapa riset lainnya sih. Ya setidaknya biar keahlian kepo ini berkembang, risetnya receh dan ga penting-penting banget. Kalau kata si “ehem”, beberapa negara maju malah sudah mulai bikin riset-riset yang ga penting gini. Apalah aku mah, maju aja enggak, ya gini-gini aja.

Social Media.jpg

#NeserKepo kali ini mau mengambil topik tentang media sosial. Terutama tentang fenomena penggunaan fitur Story/Live di beberapa media sosial. Kalau di fitur “Story”, biasanya kita bisa update foto/video dengan durasi kurang dari 1 menit, yang akan hilang tayang setelah 24 jam. Kalau di “Live”, kita bisa bisa update video yang langsung bisa ditonton saat itu juga sama friend/follower kita yang online dan yang pasti mau nonton kita. Mirip sama sok ala-ala acara TV yang live gitu. Jadi kita serasa punya channel/acara TV sendiri. Berapa media sosial sudah mulai memasukkan fitur-fitur ini dalam aplikasinya.

Continue reading

The Circle : Membayangkan Masa Depan dengan Keterbukaan di Media Sosial

Hayoo? Ini review buku atau film?

Lebih tepatnya kedua-duanya.

Berbeda dengan biasanya, baca buku dulu baru nonton filmnya, untuk kasus The Circle ini aku nonton film dulu. Karena merasa akhir ceritanya menggantung dan kurang jelas, akhirnya abis nonton di XXI Ciputra World langsung menuju ke Gramedia. Bukunya sendiri ditulis oleh Dave Eggers.

Tulisan ini nanti mungkin tidak banyak me-review buku atau filmnya dari segi cerita, tokoh ataupun yang lainnya, tapi tentang beberapa insight dari film ini. Film ini cocok banget dengan kondisi sekarang di mana orang semakin tergila-gila dengan media sosial.

Sebelum lanjut, ini official poster dan trailer-nya.

The Circle 2.jpg

Poster Film The Circle

 

Buku dan film ini menceritakan tentang Mae Holland (Emma Watson), seorang pekerja di salah satu kantor layanan publik yang diterima di The Circle, sebuah perusahaan teknologi dunia. Sama seperti tugasnya di kantor sebelumnya, di sini Mae menjadi customer service yang menangani keluhan dan pertanyaan konsumen. Karena The Circle merupakan perusahaan teknologi, tentu saja teknik dan proses melayani konsumen lebih canggih dibandingkan kantor Mae sebelumnya.

The Circle.jpg

Buku The Circle

Continue reading

Ekstrakurikuler di Setiap Fase Hidup

 Baiklah, coba di sini kita definisikan  ekstrakurikuler ini sebagai kegiatan sambilan atau kegiatan di luar aktivitas utama kita sebagai pelajar, mahasiswa atau pekerja.

Kegiatan ekstra ini belum banyak aku ikuti sewaktu SD. Maklumlah ya, SD di desa. Kegiatan selain sekolah hanya ngaji dan main. Ketambahan les waktu kelas 6. Eh sempet les Bahasa Inggris juga sih tapi lupa kelas berapa. Tapi bisa dibilang, kegiatan selain sekolah yang paling banyak adalah main. Mainnya sih sekitar rumah aja, tapi sudah terjadwal setiap hari. Pulang sekolah jam 12, makan siang trus tidur siang bentar jam 14.00 udah main. Kebanyakan temennya cowok sih. Main siang selesai sekitar jam 16.00 atau 16.30, Ibuk udah ngomel-ngomel kalau belum pulang. Jam 17.00 atau abis mandi dan sholat Ashar ntar main lagi bentar, sampai maghrib.

Masuk SMP, masuk ke lingkungan yang benar-benar baru, jauh dari orang tua membuatku cupu. Hahahahaha. Sebenarnya kan diwajibkan tuh ikut ekstrakurikuler (ekskul), milih satu dari tiga, Pramuka, PMR dan PKS. Karena weekend lebih milih digunakan untuk pulang ke rumah, akhirnya males ikut ekskul. Bener deh, Neser SMP itu Neser yang masih cupu, yang taunya belajar aja. Etapi pas SMP ini sempet jadi bendahara kalau ga sekretarisnya Rohis. Mungkin karena dulu pas zaman SMP, belum banyak yang pake jilbab ya. Inipun kayaknya kurang berkesan banget ya, soalnya ga terlalu banyak inget. Paling ingetnya cuma pas jadi panitia Pondok Romadhon aja.

Mulai masuk SMA, pas kelas 1 punya tuh geng cewek yang ga suka sama kegiatan dan organisasi yang sok populer, termasuk OSIS. Kita pun sukanya bukan nongkrong di tempat kece, tapi lebih suka makan mie ayam deket sekolah. Masalah kegiatan ekskul pun kita cuma ikut KIR dan YESC (Youth English Study Club), ya cuma sekedar jadi panitia aja. Eh sama di ROHIS juga sih, sama cuma panitia aja, paling di Pondok Romadhon. Neser pas SMA kayaknya masih keliatan alim.

Masuk kuliah, awal-awal masih banyak yang beranggapan cupu. Masih belum banyak ngomongnya, keliatan cenderung pendiam. Maklumlah dulu juga takut sama senior-senior, salah ngomong dikit senior tuh bisa memutarbalikkan omongan. Daripada salah mending diem. Hahahaha.

Continue reading

2017, Welcome!

Berbeda dengan postingan Tahun Baru 2016 lalu, tulisan tentang pencapaian atau refleksi tahun 2016 ini aku tulis di hari pertama Tahun 2017. Malam tahun baru, aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk hibernasi. Not in a good mood buat nulis juga, jadinya tulisan tentang tahun 2016 ini pun baru aku tulis setelah nonton Cek Toko Sebelah sebagai film pertama yang aku tonton di 2017 dan menikmati yoghurt, pastry tuna dan segelas cappucino sebagai makanan pertama yang aku makan di 2017.

Jadi, bagaimana 2016 versi saya? Cekidot!

20161230_165951

bestnine2016 on Instagram

 

Continue reading

Harus Ya Jaga Berat Badan?

 

Kalau ada pertanyaan “Harus ya jaga berat badan?”, aku akan jawab “HARUS!”.

Mungkin beberapa dari kita masih ingat dengan komentar Iko Uwais ketika ada orang yang komentar tentang badan Audy yang lebih berisi setelah melahirkan. Atau pernah aku melihat status teman di media sosial yang merayu pasangannya “Aku ga suka kamu terlalu kurus dan mikir diet. Aku suka kamu apa adanya, gendut biarin, yang penting sehat”. Preketek.

6-penyebab-kenapa-berat-badan-menurun-secara-drastis.jpg

Gendut = Sehat?

Apakah gendut itu selalu berarti sehat? Belum tentu juga sih ya. Dalam ilmu kesehatan, ada salah satu indeks yang biasa digunakan untuk mengukur idealnya berat badan kita. Indeks ini dikenal dengan nama Indeks Massa Tubuh (IMT) atau bahasa internasionalnya Body Mass Index (BMI). BMI ini dihitung dengan menggunakan tinggi dan berat badan seseorang. BMI dihitung dengan membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m2­). Oh iya, BMI ini kurang relevan kalau digunakan untuk ibu hamil ataupun menyusui.

Nah, dari BMI ini kita bisa tahu apakah kita masuk dalam kategori normal, overweight atau obesitas. Sesuai dengan kategori dari WHO :

BMI ≥ 25 dikatakan overweight

 BMI ≥ 30 sudah masuk kategori obesitas.

Nah, kalian masuk mana? Silakan dihitung sendiri. Di era serba aplikasi kaya gini, di PlayStore ataupun App Store tinggal ketik “BMI” aja udah muncul bejibun aplikasi BMT. Tinggal pilih mana yang kira-kira sesuai storage yang tersedia smartphone, yang bintang dan review-nya paling bagus atau yang kira-kira paling mudah digunakan. Biasanya tinggal masukin berat badan, tinggi badan, usia dan jenis kelamin. Keluar deh berapa BMI kita.

Continue reading

The Power Of “Sawang Sinawang”

 N : Kayaknya enak ya kerjaan mereka. Bisa sering liburan ke luar negeri, makannya di tempat mahal terus

M : Ah, tapi memang kerjaan mereka susah, sering lembur. Wajar sih kalau mereka dapatnya lebih. Memang kamu, kerjanya santai kaya gitu.

N : Eh iya sih ya, sawang sinawang sih ya. Semua ada kurang lebihnya sih.

Tidak jarang ketika ngobrol dengan teman atau orang terdekat, terlontar kata “sawang sinawang”. Apa sih sebenarnya “sawang sinawang” itu?.

Secara bahasa, “sawang sinawang” berasar dari kata dasar “sawang”. Dalam bahasa Jawa, kata “sawang” berarti melihat. Sama seperti kata “tolong menolong” yang artinya saling menolong. Kata “sawang sinawang” artinya saling melihat. Kalau dari konteks pembicaraan di atas, “sawang sinawang” ini bisa diartikan “Kita sering melihat orang lain dengan kelebihan mereka yang tidak bisa kita miliki. Orang lain pun melihat kita lebih dari mereka, dari hal yang tidak bisa mereka miliki atau lakukan”. Hal ini juga berlaku ketika dalam hal saling melihat kejelekan/kekurangan satu sama lain.

13257172_1600627336864667_1092064843_n.jpg

Continue reading

Jangan Minder Meski Berbeda dengan yang Lainnya

 

Jangan langsung komentar atau menghujat ya Kakak-Kakak, sebelum baca ini secara detail. Tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan peristiwa 4 Nopember 2016 ataupun dengan prahara Pilkada Jakarta. Sedikit informasi di awal, maksud kata “beda” di sini tidak berkaitan dengan perbedaan agama ya. Kalau mau tahu lebih jelasnya “beda” apa yang aku maksud, yuk cuss baca sampai selesai.

Sejak kecil, di bangku sekolah dasar (SD) di mata pelajaran PPKn kita sering dijelaskan tentang manusia sebagai makhluk sosial, yang senantiasa hidup berdampingan dengan manusia yang lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia cenderung mengelompok (atau bahasa kerennya sekarang : berkomunitas) dengan mereka yang mempunyai beberapa kesamaan dengan mereka. Contoh sederhana saja, kelompok RT yang berarti kumpulan orang-orang yang tinggal dalam satu lingkungan RT yang sama. Lebih jauh lagi, kelompok atau komunitas orang-orang dengan hobi atau minat yang sama, seperti komunitas fotografi dan komunitas relawan. Kesamaan almamater pun membawa kita pada komunitas atau kelompok alumni. Di era teknologi ini, komunikasi komunitas ini lebih dimudahkan dengan adanya media social messaging yang bermacam-macam dengan keunggulan fitur masing-masing. Mulai dari WhatsApp, LINE, Telegram dan lain-lain.

40257-everyone-is-different-quotes

Tidak jarang, dalam kehidupan sosial kita dengan kelompok atau komunitas kita, kita menjadi seseorang yang berbeda sendiri dibandingkan yang lainnya. Sekali lagi perbedaan ini tidak berkaitan dengan perbedaan dalam hal SARA ya.

Continue reading