Ngadirejo, Desa Wisata Baru dengan Keramahan Alam dan Penduduk

Kabupaten Malang, yang mulai mem-branding-kan diri dengan HEART OF EAST JAVA, punya berbagai jenis wisata alam. Dengan kondisi alam yang mendukung, Kabupaten Malang bisa mempunyai puluhan pantai, puluhan air terjun (yang lebih dikenal dengan “coban”) dan juga berbagai pemandangan alam yang menarik lainnya. Banyaknya wisata alam, terutama di pedesaan ini mendorong Pemerintah Kabupaten Malang untuk mengembangkan konsep desa wisata. Sampai saat ini, desa wisata di Kabupaten Malang sudah berjumlah 15. Banyak banget ya? Kali ini aku akan coba bahas salah satu desa wisata di Kabupaten Malang yang masih cukup baru, yang baru diresmikan sekitar bulan Agustus 2017 lalu. Desa wisata ini adalah Desa Wisata Ngadirejo. Yuk mbolang lagi! Ini nih sekilas pemandangan aduhai di desa yang berada di kawasan lereng Gunung Bromo ini.

IMG_20171128_120721_871.jpg

Perkampungan di Desa Ngadirejo

Bagaimana Menuju Desa Wisata Ngadirejo?

Desa Wisata Ngadirejo berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Perjalanan dari Kota Malang menuju Desa Ngadirejo ini bisa sejalur dengan rute menuju Bandara Abdurrahman Saleh atau Tumpang. Nah, setelah gapura masuk Kota Tumpang di sebelah kiri ada ojek-ojek yang namanya pertigaan Kenongo, belok kiri terus. Sampai ada pertigaan dengan penunjuk arah nama Coban Jodo (yah udah spoiler dulu deh) nanti belok kanan lurus naik sampai masuk ke Desa Ngadirejo. Perjalanan dari Kota Malang menuju Desa Ngadirejo ini kurang lebih bisa ditempuh dalam 45 menit.

Jalan menuju kesana sudah bagus, dan bisa dilewati sepeda motor dan mobil. Kalau untuk bus sepertinya masih kurang lebar. Dari desa menuju lokasi wisata alamnya, masih memerlukan perjalanan lagi, yang bisa ditempuh dengan sepeda motor atau jalan kaki (kalau kuat dan waktunya selo banget). Mobil sebenarnya bisa juga ke sana, tapi riskan banget karena jalannya sempit, kalau hujan licin dan sebelahnya tebing. Begitu juga kalau naik sepeda motor juga harus hati-hati.

Penasaran kan bagaimana wisata yang ada di Desa Ngadirejo ini? Kok sampai segitunya jalannya?

Berpetualang Demi “Jodoh” di Coban Jodo 

Kalau udah ngomongin “jodoh” jangan pada baper ya. Hehehehe.

Sama seperti usaha mencari jodoh, berkunjung ke Coban Jodo bukan sesuatu yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Dari perkampungan Desa Ngadirejo, pengunjung harus melakukan perjalanan kembali ke tempat parkir Coban Jodo yang kurang lebih bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Jalur yang digunakan bukan jalur aspal, melainkan jalur dari semen dilanjutkan dengan jalur makadam yang aduhai bikin bergoyang. Sepanjang perjalanan dari perkampungan, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan hijaunya perkebunan milik penduduk dan hutan milik Perhutani. Dari kawasan hutan Perhutani, pengunjung harus berbelok kanan menuju jalan lokasi parkir yang diapit pohon-pohon kopi.

Sesampainya di lokasi parkir yang menjadi titik awal petualangan menuju Coban Jodo, pengunjung dikenai biaya retribusi. Yang ini aku lupa berapa, sekitaran Rp 10.000 kayaknya. Di lokasi parkir ini disediakan beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum berpetualangan menuju Coban Jodo. Kalau hari Sabtu dan Minggu ada beberapa warung kecil yang buka, dan menjual beberapa makanan ringan seperti mie instan dan gorengan serta minuman seperti kopi dan teh. Saran banget nih, sebelum mulai petualangan ke Coban Jodo siapkan bekal makanan ringan dan minuman seperti air mineral, karena sepanjang perjalanan dari lokasi parkir ke Coban Jodo tidak ada warung lagi.

DSC_4248.JPG

Gazebo untuk istirahat

 

DSC_4247

Lokasi parkir, hanya untuk sepeda motor

Dari lokasi parkir, pengunjung akan diajak menyusuri kawasan hutan yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini. Selama beberapa ratus meter dari lokasi parkiran pengunjung akan melanjutkan menikmati hijaunya kebun kopi di pinggir jalan. Jalur trekking sudah cukup bagus meskipun di beberapa titik masih licin setelah turun hujan. Oh iya, info dari pengelola kalau musim hujan dan kondisi cuaca kurang mendukung disarankan untuk tidak ke Coban Jodo. Dari pihak pengelola sendiri menyediakan guide yang bisa membantu dan mengantarkan pengunjung berpetualang menuju Coban Jodo. Untuk tarif guide tidak dipatok, tapi dari bagaimana rute dan menantangnya petualangan ke Coban Jodo, temen-temen bisa memperkirakan deh berapa enaknya.

Beberapa ratus meter dari tempat parkir ada mushola sederhana yang bisa digunakan untuk sholat. Untuk wudlunya bisa langsung dari pancuran yang murni dari salah satu sumber di kawasan hutan ini. Seger banget airnya. Pemandangan hijaunya kawasan pegunungan juga bisa jadi penghilang stress.

DSC_4255

Hijau kaya gini ga akan ditemui di kota

Selesai mushola, perjalanan turun semakin terjal. Tapi pihak pengelola Desa Wisata Ngadirejo sudah menyiapkan pagar bambu di pinggir jalan untuk dijadikan pegangan dan memudahkan perjalanan. Di sepanjang perjalanan turun, juga disediakan beberapa gubug kecil untuk sekedar beristirahat.

DSC_4259

Jalur menuju Coban Jodo, ini level paling mudah

Dalam perjalanan,  sudah terdengar suara ricik air sungai. Wah, aku pikir udah deket nih air terjunnya. Semakin semangat donk jalannya. Sesampainya di sungai yang dingin, seger dan jernih, aku pun bertanya kepada guide “Masih jauh ga Mas?”. Guide hanya bilang “Di depan itu Mba”. Kemudian berjalanlah aku dan rombongan menyusuri sungai yang dinginnya lumayan. Setelah menyusuri beberapa jembatan kecil dari bambu dan kayu. Sampailah kami ke air terjun yang kecil. Dan itu belum sampai ke Coban Jodonya teman-teman. Tenang, jodoh masih jauh. Setelah total melakukan perjalanan dari lokasi parkir selama kurang lebih 45 menit, barulah kita bisa sampai ke Coban Jodo, yang terdiri dari dua air terjun. Air terjun aja ada pasangannya, manusia juga udah disiapin pasangannya kok sama Gusti Allah. Eeeeaaaakkk.

Dua air terjun di Coban Jodo ini, yang satu tinggi. Ngomong-ngomong, fotonya ga banyak ya, karena kebetulan kemarin ke sana pas hujan. Tapi perkiraan perjalanan 45 menit tadi adalah perkiraan berdasarkan perjalanan temanku yang datang ke sana dalam kondisi tidak hujan.

DSC_4287

Coban Jodo yang versi perempuan. Agak pendek, debit air lebih besar

DSC_4260

Ini yang versi laki-laki, lebih tinggi, langsing

Perjalanan selesai? Belum donk, kan harus balik ke lokasi parkir dengan medan naik. Semangat!

Coban Jidor, Alternatif untuk Perjalanan yang Lebih Singkat 

Kalau kurang suka petualangan yang terlalu panjang, Coban Jidor bisa jadi satu alternatif tambahan ketika berkunjung ke Desa Wisata Ngadirejo. Sama dengan Coban Jidor, untuk menuju lokasi parkir Coban Jodo,  pengunjung masih harus melakukan perjalanan, bisa dengan jalan kaki (kalau kuat dan tidak terburu-buru) atau dengan sepeda motor. Jalur menuju parkiran pun sama menantangnya dengan jalur menuju parkiran Coban Jodo.

Sesampainya di parkiran, pengunjung akan dikenai retribusi. Berbeda dengan Coban Jodo yang ada guide, untuk menuju Coban Jidor pengunjung diperkenankan jalan sendiri. Jaraknya pun tidak sejauh Coban Jodo, karena setelah sampai di sungai, air terjun Coban Jidor langsung keliatan, tanpa perlu menyusuri sungai.

Tapi, jangan dikira jalur menuju kawasan Coban Jidor biasa-biasa saja. Dalam perjalanan, pengunjung akan melewati kawasan di bawah tebing, tidak terlalu curam tapi harus berhati-hati. Dari kawasan ini, sungai sudah kelihatan.

DSC_4394.JPG

Jalur Menuju Coban Jidor

Sekali lagi, perjuangan melewati jalur yang menegangkan, pasti akan menemukan hasil yang seimbang. Karena Coban Jidor tidak kalah bagusnya dengan Coban Jodo. Coban Jidor memang tidak terlalu tinggi, tetapi debit airnya lebih besar.

DSC_4417

Coban Jidor

Berbeda dengan Coban Jodi, di pinggir sungai di kawasan Coban Jidor terdapat warung kecil yang menjual makanan dan mie instan.

Menikmati Keramahan Warga dan Kuliner Pedesaan

Kebetulan kali ini aku ikut ke dalam paket perjalanan yang disusun oleh Pokdarwis Ngadirejo, dengan paket sehari semalam menginap dan makan untuk 3 kali. Untuk detail harga sekitar 200-250 per orang. Untuk reservasi bisa ke pengelola langsung, nanti kontaknya bisa tanya japri ke aku atau email aku di neserike@gmail.com.

Dengan menikmati paket tersebut, aku bisa menikmati interaksi dengan penduduk Desa Ngadirejo yang ramah. Ketika jalan-jalan pagi, penduduk pun menyapa dengan penuh kehangatan layaknya sinar mentari. Sewaktu sempat ikut sholat maghrib di mushola pun, penduduk dengan riang bertanya kepada kami tentang asal dan keperluan kami ke Ngadirejo, dengan ramah dan tanpa unsur kepo.

Berbicara tentang kuliner, meskipun masih belum banyak warung yang berjualan, pengunjung yang mengikuti paket yang disediakan bisa menikmati kuliner khas pedesaan yang enak gila. Mulai dari sego empog, yaitu nasi jagung, beserta ubo rampenya yaitu urap, bothok bahkan ikan asin juga. Salah satu yang khas di sini adalah sambel bakar. Sambel dari bawang merah, bawang putih, cabe rawit merah dan hijau yang diuleg kemudian dibakar pakai lempernya itu. Itu endesss.

DSC_0023_1

Sego empog dan printilannya yang aduhai

DSC_0022_1.JPG

Sambel bakarrr

Pokoknya kulinernya juara. Kalau ke sini kudu coba sambel bakarnya.

Advertisements

2 thoughts on “Ngadirejo, Desa Wisata Baru dengan Keramahan Alam dan Penduduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s