Kelas Inspirasi Menyapa dari Ujung Magetan yang “Terisolasi”

Move on itu emang susah banget, apalagi kalo disuruh move on dari Kelas Inspirasi. Kelas Inspirasi Magetan #1 yang digelar 29 September tahun lalu masih saja membuatku ter-KI. “Pokoknya kalau ada lagi mau ikut lagi” ujarku dalam hati.

Sampai suatu hari, salah satu tetua KI Magetan mengirimkan sebuah pesan singkat via Whatsapp, kurang lebih begini isinya “Mbak Nes, ayo ikut bantu panitia KI Magetan lagi, nanti aku invite ke grup WA”. Tanpa pikir panjang, ajakan itu aku iyakan, mengingat selain ga bisa move on-nya dari Kelas Inspirasi, aku juga kangen sama riweuhnya menjadi panitia kegiatan.

Karena posisiku yang sehari-hari di Surabaya, koordinasi dan kontribusi yang bisa aku berikan pun hanya dari jarak jauh. Hanya sekedar bantu-bantu nge­-tweet dan bantu memberi saran usulan di grup. Maaf ya kalo aku agak bawel dan detail. Maklum bawaan lahir..

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, 30 Maret 2015. Serangkaian acara untuk menyambut Hari Inspirasi ini pun sudah dilaksanakan, mulai briefing panitia sampai briefing semua relawan yang dilakukan 2 hari sebelumnya. Lelah memang, merangkap menjadi panitia sekaligus relawan pelajar. Beberapa hari terakhir, pikiran pun terbelah dengan deadline pekerjaan, materi briefing sampai lesson plan. Tapi, aku yakin ada senyum dan tawa polos para siswa yang akan membantuku menghapus lelahku.

Di Hari Inspirasi mendapat tugas di rombel 12. Entah ini kebetulan atau mungkin disengaja, aku mendapatkan tugas di almamaterku sendiri, SDN Sayutan 1. Sekolah ini terletak di Desa Sayutan, Kecamatan Parang. Sebuah desa kecil nan “terisolasi” di bagian ujung barat daya Magetan. Desa ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Ponorogo di bagian selatan, dan wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
“Terisolasi?” Mungkin itu pertanyaan yang muncul di benak kalian. Iya, kalau dihitung berdasarkan jarak, desa ini hanya berjarak 6 km dari kota kecematan.Tapi kalau dilihat medannya, WOWWWWW. Bisa dibilang 90% akses jalan menuju desa ini sudah rusak. Kerusakan ini disebabkan setiap hari jalan akses ini dilewati oleh truk pengangkut pasir yang ditambang di desa ini. Mungkin sudah begitu banyak protes yang diajukan, tetapi apa daya, tetap kalah dengan yang lebih berkuasa. Mungkin bagiku yang sudah terbiasa melewati jalan seperti ini melewatinya bukan hal yang sulit, tapi untuk mereka yang belum pernah, potensi kecelakaan yang terjadi bisa lebih besar. Itu sebabnya, aku memilih menjemput teman relawan di rombel 12 yang, terutama yang perempuan di kota kecamatan, daripada membiarkan mereka melewati jalan menuju desa ini sendiri.

Rombel 12 ini terdiri dari 3 relawan pengajar yaitu aku, Mba Siska (perawat dari Madiun) dan Pak Hendrad (KPUD Magetan). Kami dibantu oleh fasilitator yaitu Mas Anton, Riska Ayu, Sihtiar dan Puspa. Kegiatan kami selama Hari Inspirasi didokumentasikan oleh Mas Masruchin dibantu dokumentator dadakan yaitu Mas Agung dan staff KPU (Maaf Pak, aku lupa kenalan).

Hari Inspirasi kami mulai dengan upacara bendera. Bapak Kepala Sekolah sedang mengurusi try out  untuk kelas 6 yang dilaksanakan di SD tetangga. Jadi otomatis di Hari Inspirasi kami hanya mengajar kelas 1-5 saja. Rombel 12 ini terdiri dari 3 relawan pengajar yaitu aku, Mba Siska (perawat dari Madiun) dan Pak Hendrad (KPUD Magetan). Kami dibantu oleh fasilitator yaitu Mas Anton, Riska Ayu, Sihtiar dan Puspa. Kegiatan kami selama Hari Inspirasi didokumentasikan oleh Mas Masruchin dibantu dokumentator dadakan yaitu Mas Agung dan staff KPU (Maaf Pak, aku lupa kenalan).

Hari Inspirasi kami mulai dengan upacara bendera. Bapak Kepala Sekolah sedang mengurusi try out yang diselenggarakan di SD lain, sehingga pembina upacara diwakilkan kepada salah satu guru di sana. Yang menjadi peserta tidak hanya siswa SDN Sayutan 1, tetapi juga siswa-siswi TK yang letaknya berdekatan. Aaaakkk, wajah mereka begitu polos dan lucu. Bahkan kadang mereka saling menggoda satu sama lain.

1

Upacara Bendera SDN Sayutan 1 (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Kenapa foto ini yang kupasang? Itu  lho, wajah polos siswa TK-nya nggemesin abis. 🙂

Selesai upacara, siswa SD maupun TK kami minta untuk tetap berkumpul di lapangan untuk ice breaking sebentar. Semua atribut upacara dicopot dan semua perlengkapan upacara diletakkan terlebih dahulu. Tim relawan Kelas Inspirasi pun mulai memperkenalkan diri satu per satu. Kami membuatkan yel-yel singkat khusus untuk mereka.

Sayutan 1… JOSS!!!

Sayutan 1…JUARA!!!

Sayutan 1…JOSS JOSS JUARA!!!

Mereka begitu bersemangat dengan yel-yel tersebut. Untuk menambah semangat mereka, kami minta mereka untuk membentuk lingkaran besar. Seperti biasa, membuat lingkaran besar buat mereka juga berarti bergandengan tangan. Tak terkecuali untuk siswa TK, mereka juga ikut membuat lingkaran. Awalnya siswa TK ini bingung ketika membuat lingkaran bersama siswa SD, akhirnya aku minta mereka membuat lingkaran kecil sekelilingku dibantu oleh tim fasil. Lucu sekali mereka….

Ice Breaking bersama siswa SD dan TK (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Ice Breaking bersama siswa SD dan TK
(Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Selesai ice breaking, melihat beberapa siswa TK yang sepertinya sudah lelah, aku minta mereka kembali ke gurunya. Siswa SD kemudian kami bagi menjadi tiga kelompok kelas, yaitu kelompok kelas 1-2, kelompok kelas 3-4 dan kelompok kelas 5. Mereka kemudian dengan semangat masuk ke kelompok kelas masing-masing

Jam pertama, kelas 1-2 dulu yang harus aku taklukkan. Menghadapi siswa kelas 1-2 ini memang sedikit butuh perhatian ekstra. Apalagi untuk menjelaskan profesiku yang abstrak ini. Aku mengajak mereka menjadi peneliti cilik, dengan meneliti lingkungan sekitarnya. Aku membagi mereka menjadi 3 kelompok kecil dan memberi mereka tugas yang berbeda-beda. Untuk lebih menghayati tugas mereka, masing-masing kelompok aku beri clipboard dan kertas untuk menulis hasil penelitian mereka. Masing-masing kelompok aku minta menghitung jumlah meja, jumlah kursi dan jumlah tas yang ada di ruangan tersebut. Dengan sigap masing-masing kelompok mulai menghitung sesuai dengan tugas masing-masing. Selesai bertugas, aku minta salah satu perwakilan kelompok untuk membacakan hasilnya, layaknya peneliti mempresentasikan hasil penelitiannya. Dan ternyata mereka berani-berani lho, tidak ada satupun kelompok yang tidak maju. Yang belum maju ke depan, aku minta untuk maju satu-satu dan menyebutkan cita-citanya. Ada yang jadi polisi, tentara, guru, penyanyi dan bahkan tukang sound system.

Berfoto bersama siswa setelah menyebutkan cita-cita (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Berfoto bersama siswa setelah menyebutkan cita-cita
(Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Kelompok selanjutnya, kelas 3-4. Beda kelompok kelas beda juga metode yang diberikan. Untuk kelas 3-4 ini, aku ajak mereka belajar di luar kelas. Kalau kelas 1-2 tadi meneliti ruang kelas, kelas 3-4 ini meneliti lingkungan sekolah mereka. Tugas untuk mereka antara lain menghitung jumlah tanaman, jumlah tempat sampah sampai jumlah tiang. Begitu semangatnya mereka, sampai-sampai ketika aku menuliskan tugas mereka di clipboard, mereka selalu mencoba untuk mengintipnya.

Memberikan tugas penelitian kepada siswa kelas 3-4 (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Memberikan tugas penelitian kepada siswa kelas 3-4
(Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Selain penelitian di luar kelas, aku juga meminta mereka untuk meneliti tentang cita-cita, makanan favorit, minuman favorit dan acara televisi favorit mereka. WOW, hasilnya sungguh menggelikan dan agak miris juga sih. Acara yang menjadi favorit di kelas 3-4 antara lain Ganteng-ganteng Serigala, 7 Manusia Harimau, Preman Pensiun, Penyihir Cantik, Tukang Bubur Naik Haji, Samson dan Dahlia dan Entong Santri Cilik. Beberapa dari acara tersebut adalah acara yang kurang cocok ditonton oleh anak seumuran mereka.

5

Cita-cita dan acara televisi favorit siswa kelas 3-4 (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Di kelas 5, mereka juga membuat kelompok dan tugasnya adalah meneliti masing-masing anggota kelompok. Setiap kelompok harus mendapatkan informasi tentang alamat, cita-cita, makanan, minuman serta acara televisi favorit dari masing-masing anggotanya. Agar mereka bisa bekerja sama dengan leluasa, mereka dibebaskan mengerjakan di dalam maupun di luar kelas. Tentu saja, mereka lebih suka mengerjakan tugas tersebut di luar kelas. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya, tentu saja mereka harus membacakan tugas tersebut di depan kelas.

Presentasi biodata kelas 5 (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Presentasi biodata kelas 5
(Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Acara puncak di Hari Inspirasi pun tiba, peralatan pun sudah disiapkan, mulai dari kain putih sampai cat warna-warni. Yaps, kita semua akan membuat stempel tangan cita-cita di atas kertas putih. Siswa-siswa dibariskan rapi terlebih dahulu di depan kain, biar tidak saling berebut. Satu per satu siswa dari kelas 1-2 mulai menuliskan cita-cita mereka dan melumuri tangan mereka dengan cat dan menempelkannya di kain putih. Mereka begitu antusias melihat tangan mereka yang ikut warna-warni. Melihat kelas 1-2 yang bingung dengan tangan mereka yang masih belepotan cat, aku pun membantu mereka membersihkan sisa-sisa cat yang masih menempel di tangan mereka dengan sabun.

Menulis cita-cita dan stempel tangan (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Menulis cita-cita dan stempel tangan
(Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Bermacam-macam cita-cita mereka, meskipun mereka berasal dari desa kecil nan “terisolasi”. Ada yang ingin jadi pilot, pembalap, guru, polisi, dokter bahkan pramugari. Tidak hanya para siswa, para relawan pun ikut bergantian menulis cita-citanya. Bahkan salah satu pengawas dari UPTD Pendidikan Kec. Parang yang kebetulan sedang berkunjung ke SDN Sayutan 1 pun ikut menulis cita-cita dan membubuhkan stempel tangan warna-warni di kain putih tersebut.

8

Foto bersama siswa, guru dan relawan Kelas Inspirasi (Dokumentasi : Masruchin – Fotografer Rombel 12)

Hari ini pun akhirnya selesai, seperti biasa acara ditutup dengan foto bersama penuh ceria. Dari ujung salah satu Magetan kami menyapa. Para calon-calon pemuda hebat dari negeri ini menuliskan cita-citanya di kain putih sebagai saksi. Suatu saat nanti mereka akan berkontribusi dan menginspirasi di negeri ini. Lelah pun sudah terbayar lunas melihat semangat mereka.

Salam Inspirasi,

Neser Ike Cahyaningrum

Relawan Kelas Inspirasi Magetan #1 dan #2

Advertisements

3 thoughts on “Kelas Inspirasi Menyapa dari Ujung Magetan yang “Terisolasi”

  1. peranaktif says:

    Pada foto ketiga :
    Anak yang berseragam merah putih lengkap dengan topinya, terlihat sangat ekspresif.
    Teringat dulu sewaktu kecil, foto foto masa kecil selalu datar datar saja sewaktu foto. Anak sekarang memang lebih respons sekali dengan yang namanya kamera.

    http://peranaktif.com/ | Online Information Sharing

  2. peranaktif says:

    Pada foto ketiga :
    Anak yang berseragam merah putih lengkap dengan topinya, terlihat sangat ekspresif.
    Teringat dulu sewaktu kecil, foto foto masa kecil selalu datar datar saja sewaktu foto. Anak sekarang memang lebih respons sekali dengan yang namanya kamera.

    http://peranaktif.com/ | Online Information Sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s