Nuansa Komersil di Wisata Desa Adat Sade

Selain Gili Trawangan, bisamengunjungi Desa Adat Sade juga menjadi salah satu wishlist traveling saya tahun ini. Desa wisata atau desa adat memang biasanya akan memberikan sebuah pengalaman tersendiri ketika dikunjungi, misalkan saja kawasan desa wisata di Dieng. Dengan berkunjung ke sebuah desa wisata ataupun desa adat, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang kehidupan sosial sebuah masyarakat, komunitas ataupun suku.

Desa Adat Sade, sebuah desa adat yang ditinggali oleh Suku Sasak. Sebenarnya Sade ini bukan nama desa, tetapi sebuah dusun, tingkatan wilayah di bawah desa. Dusun Sade ini terletak di Desa Rembitan, Kec. Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan desa adat ini, bisa ditempuh melalui perjalanan kurang lebih 30 menit dari Bandara Lombok (LOP) menuju kawasan wisata Pantai Kuta, Lombok. Kalau sudah menemenukan kawasan yang di pinggir jalan sudah banyak bis pariwisata ataupun kendaraan pribadi parkir, berarti sudah masuk ke kawasan Desa Adat Sade.

DSC_1531.JPG

Desa Wisata Sade Tampak Depan

Untuk masuk desa wisata ini kita biasanya akan dipandu oleh guide penduduk lokal. Tidak ada tiket masuk yang dibebankan, tetapi memang di pintu masuk kita akan disuguhi buku tamu lengkap dengan kotak amal di sebelahnya, intinya seikhlasnya. Jangan lupa juga untuk sekedar memberi tips secukupnya kepada guide yang sudah menemani berkeliling.

Di Sade, kita akan melihat kehidupan asli Suku Sasak. Di kawasan ini kita akan melihat rumah adat asli dari Suku Sasak. Rumah penduduk Suku Sasak beralaskan tanah, dan dilapisi dengan kotoran sapi/kerbau. Setiap 1-2 minggu sekali, lantai ini akan dipel dengan menggunakan kotoran sapi/kerbau tersebut. Ketika guide memberikan informasi demikian, saya refleks mendekati lantai dan mencium baunya. Dan ternyata sama sekali tidak ada bau menyengat. Ihh keren. Atap yang digunakan dalam rumah Suku Sasak ini berasal dari rumbia, dan dinding berupa bambu.

DSC_1524.JPG

Dilapisi oleh kotoran kerbau/sapi

Rumah adat Sasak ini terdiri dari dua lantai, dengan ketinggian daun pintu yang cukup rendah. Daun pintu yang rendah ini mengandung filosofi agar tamu merunduk sebelum masuk rumah, sebagai tanda penghormatan kepada tuan rumah. Bagian depan atau lantai pertama rumah Sasak ini multifungsi, bisa digunakan sebagai ruang tamu, bisa juga digunakan untuk tempat tidur bagi para lelaki ketika malam. Di bagian belakang atau lantai 2, digunakan sebagai dapur dan di bagian pojok akan ada ruangan kecil sebagai tempat tidur bagi anak gadis. Layaknya desa seperti biasa, selama berkunjung penduduk masih melakukan kegiatan seperti biasanya. Ada yang sedang menyiapkan pesta pernikahan, ada yang sedang memasak bahkan anak-anak pun sedang bermain bersama, tanpa gadget.

DSC_1516.JPG

Bagian depan rumah Sasak

DSC_1623.JPG

Dapur Suku Sasak

DSC_1626.JPG

Bahagia bermain bersama, tanpa gadget

Penduduk Sade masih memegang teguh adat Suku Sasak, termasuk dalam hal pernikahan. Penduduk Sade hanya diperkenankan menikah dengan sesama suku. Jika melanggar akan ada sejenis denda atau mahar tertentu yang dibebankan. Agak lucu juga, bukan lamaran yang digunakan oleh seorang pemuda ketika meminta seorang gadis kepada orang tuanya. Pemuda malah harus menculik seorang gadis dari rumah orang tuanya sebagai tanda meminta gadis tersebut ke orang tuanya. Tidak asal culik sih, karena sebelumnya memang sudah ada pendekatan dari si pemuda ke gadis idamannya. Bahkan katanya, kalau apel ke rumah gadis, pemuda yang bertamu tidak diperbolehkan berganti posisi duduk sampai pulang.

Pernikahan di Sade hanya boleh dilakukan setelah panen padi, sedangkan panen padi di Sade hanya berlangsung setahun sekali, karena kondisi sawah yang masih berupa tadah hujan. Jadi, pesta pernikahan di Sade hanya ada dalam bulan-bulan tertentu setelah panen padi berlangsung. Ada syarat juga untuk gadis Sade yang akan menikah. Gadis Sade diperbolehkan menikah jika sudah bisa menenun. Setelah menikah, pasangan pengantin akan ditempatkan dulu beberapa hari di Rumah Kodong, untuk menjalani malam pertama dan malam-malam sesudahnya. Eeeeeaaa. Tapi tenang ga harus gantian kok, di Sade terdapat beberapa rumah kodong yang bisa digunakan.

Ekspektasi saya sebelum datang ke Sade, saya akan mendapatkan sebuah desa yang ramai tetapi masih kental dengan suasanan adat dan kehidupan masyarakatnya. Ekspektasi ini juga didukung dengan beberapa gambar yang saya lihat sewaktu research di internet. Tapi memang, kadang harapan tidak selalui sesuai dengan kenyataan. Desa Sade memang ramai pengunjung, tetapi juga ramai dengan pedagang kain tenun ataupun kerajinan khas Sasak lainnya. Pedagang ini berjualan di dalam Desa Sade, bukan di kawasan di luar desa atau misalkan di sekitar parkir. Pedagang yang terlalu banyak ini malah terkesan mengurangi kesakralan dan keistimewaan dari Desa Sade. Sepanjang perjalanan kita akan mendengarkan pedagang mencoba menawarkan dagangannya.

DSC_1609.JPG

Bagian depan Sade seperti pasar

DSC_1514

Kanan kiri jualan

DSC_1526.JPG

Proses Memintal Benang

DSC_1522.JPG

Proses Menenun

Beberapa pedagang memang juga memperlihatkan cara menenun bahkan memintal benang, yang menurut saya menarik untuk dilihat, dipelajari, dicoba dan juga difoto. Tetapi lebih banyak lagi pedagang yang hanya menampilkan barang dagangannya. Setelah mencoba mencari informasi, ternyata pedagang tersebut tidak semuanya menjual dagangan dari hasil tenunan ataupun kerajinan yang dibuatnya sendiri. Sebagian pedagang mendapatkan barang dari sejenis agen/pengepul yang kemudian dijualnya kepada pengunjung.

Sebagai desa yang sebagian besar wanitanya bisa menenun, memang penting untuk bisa memperkenalkan bahkan menjual hasil tenunnya. Tetapi dengan memperbolehkan terlalu banyak pedagang berada di dalam desa wisata, saya rasa akan mengurangi value yang ditawarkan oleh desa wisata tersebut. Pariwisata memang juga bertujuan untuk membantu kehidupan ekonomi masyarakat sekitar, tetapi kepuasan wisatawan juga menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan, agar sebuah tempat wisata menjadi lebih banyak dikunjungi. Penempatan pedagang bisa dilakukan di area parkir, ataupun sebuah kawasan khusus terdekat dengan desa wisata. Seperti halnya pedagang di kawasan Candi Prambanan atau Candi Borobudur, yang berada di area khusus tanpa mengganggu wisatawan menikmati keindahan Candi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s