Lebaran 2016 di Bioskop (Sedikit Review tentang 3 Film Indonesia yang Tayang di Lebaran 2016)

Libur Lebaran menjadi waktu yang pas banget untuk menarik penonton film. Lihat saja contohnya di Lebaran 2015 lalu, film Surga yang Tak Dirindukan berhasil menduduki tangga tertinggi perolehan penonton pada tahun 2015 dengan jumlah penonton 1.523.617. (Sumber : www.filmindonesia.or.id)

Lebaran tahun 2016 ini tentu tidak ingin dilewatkan begitu saja oleh insan perfilman di Indonesia. Tercatat ada kurang lebih lima film Indonesia yang tayang di libur Lebaran, antara lain sbb :

  1. Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2), mulai tayang 30 Juni 2016
  2. Jilbab Traveler (Love Sparks in Korea), mulai tayang 5 Juli 2016
  3. Sabtu Bersama Bapak, mulai tayang 5 Juli 2016
  4. Koala Kumal, mulai tayang 5 Juli 2016
  5. I Love You fromm 38.000 Feet, mulai tayang 5 Juli 2016.

PhotoGrid_1468382181551.jpg

Secara perolehan penonton, pada saat postingan ini ditulis, empat dari lima film ini sudah nangkring di 10 besar film Indonesia dengan perolehan terbanyak di tahun 2016. Lebih detail urutannya sebagai berikut : (Sumber : www.filmindonesia.or.id, 17 Juli 2016)

  1. Rudy Habibie, dengan jumlah penonton 1.419.869, berada pada urutan ke-4
  2. Koala Kumal, dengan jumlah penonton 1.100.786, berada pada urutan ke-6
  3. ILY form 38.000 ft, dengan jumlah penonton 956.601, berada pada urutan ke-7
  4. Sabtu Bersama Bapak, dengan jumlah penonton 452.641, berada pada urutan ke-9
  5. Jilbab Traveler, dengan jumlah penonton 188.758

Buat bahan nulis blog ini, sebenarnya sempat bikin survei ala-ala via Twitter Poll dan Google Forms, tentang film yang paling menarik di Libur Lebaran ini. Tapi apalah daya, aku bukan seleb dengan banyak followers di media sosial, jadi hanya 4 orang yang jawab di Twitter dan hanya 6 orang yang jawab di Google Forms. Kurang valid kayaknya ya. Hahahaha.

Tapi sempat nemu salah satu akun Twitter juga buat survei tentang film Lebaran mana yang kualitasnya paling memuaskan. Nama akunnya @idfilmcritics. Survei ini hanya tentang 4 film yang mulai tayang bersamaan yaitu, ILY from 38.000 ft, Jilbab Traveler, Koala Kumal dan Sabtu Bersama Bapak. Nah hasilnya, dari 2.606 responden ternyata sebanyak 70% memilih Sabtu Bersama Bapak sebagai film Lebaran yang kualitasnya paling memuaskan.

Sekilas aku akan coba review film-film Lebaran tersebut. Tapi karena aku tidak menonton kelimanya, aku akan review tiga saja dari film-film tersebut, yaitu Rudy Habibie, Jilbab Traveler dan Sabtu Bersama Bapak.

Rudy Habibie (Habibie dan Ainun 2)

Film Rudy Habibie ini bisa dibilang prekuel dari film Habibie dan Ainun yang tayang tahun 2012 lalu dan berhasil meraih 4.529.633 penonton (sumber : www.filmindonesia.or.id). Sampai saat blog ini ditulis, sekitar 17 hari setelah pertama kali tayang, film Rudy Habibie ini sudah meraih sekitar 1.419.869 penonton. Apakah rekor film Habibie dan Ainun akan diteruskan juga oleh film Rudy Habibie ini? Kita tunggu saja.

Masih mengajak Reza Rahadian untuk berperan sebagai Rudy alias Bapak Habibie, film ini bercerita tentang kehidupan Rudy sebelum bertemu dengan Ainun. Di film Habibie dan Ainun memang sempat diceritakan sekilas tentang kehidupan Rudy ketika di Jerman. Namun, di film Rudy Habibie ini, penonton akan disuguhkan cerita tentang kehidupan Rudy mulai dari menginjakkan diri di Aachen, Jerman dan juga konflik yang dihadapinya. Mulai dari konflik dalam organisasi PPI, dalam perkuliahan dan konflik hati. #eeeeaaaa

Dari film ini juga aku baru tahu bahwa Habibie kuliah di Jerman atas biaya sendiri, bukan beasiswa. Hal ini bisa diliat dari warna paspor yang dimilikinya waktu itu. Mereka-mereka yang mendapat beasiswa dari pemerintah mempunyai paspor berwarna biru, alias paspor dinas. Sedangkan Habibie menggunakan paspor biasa yang berwarna hijau. Kepemilikan paspor yang berbeda ini membuat Habibie sempat di­-bully oleh senior-seniornya yang menggunakan paspor dinas.

Beberapa adegan di film ini juga menguras emosi, terutama ketika ada flashback tentang kehidupan Rudy di masa kecil dan perjuangan Rudy ketika menghadapi berbagai masalah di Jerman. Termasuk juga ketika konflik percintaannya dengan Ilona (Chelsea Islan), salah satu wanita keturunan Polandia, yang sebenarnya kita sendiri sudah bisa tahu ending-nya seperti apa. (Lha iya kan, Habibie kan akhirnya sama Ainun).

Tidak hanya Reza Rahadian dan Chelsea Islan, film ini juga bertabur bintang seperti Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Boris Bokir, Indah Permatasari dan Cornelio Sunny. Tidak ketinggalan, salah satu aktor Indonesia yang juga salah satu bangsawan Mangkunegaran Solo yang sudah lama tidak muncul di dunia hiburan pun ikut serta dalam film ini. Iyaaaa, Paundrakarna, pemeran Galih dalam sinetron Galih dan Ratna, yang juga cucu dari Presiden Soekarno. Setelah cuma bisa liat fotonya pas berkunjung ke Puro Mangkunegaran, akhirnya bisa lihat Mas Paundra di layar yang lebih lebar.

Ngomong-ngomong tentang Solo, di film ini juga diceritakan tentang seorang Putri Solo yang bernama Ayu (diperankan oleh Indah Permatasari) yang juga berkuliah di Jerman. Ayu ini selalu didampingi oleh abdi dalemnya yang setia, yaitu Slamet. Tidak hanya mendampingi, Slamet juga ikut kuliah di sana. Enak juga ya jadi abdi dalem, bisa ikut kuliah Ndoro-nya di luar negeri.

Film biografi seperti Rudy Habibie ini tentu saja menyelipkan pesan moral kepada penontonnya. Kalau dari aku sendiri, beberapa pesan yang bisa diambil dari film ini antara lain :

  1. Jadilah mata air, seperti pesan Papa Habibie. Jadilah mata air yang memberi manfaat untuk sekitar. Jika kamu keruh, maka sekitarmu akan ikut keruh
  2. Keikhlasan untuk merelakan kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak atau kepentingan bangsa
  3. Keteguhan Rudy pada cita-citanya untuk membangun industri pesawat. Keteguhan inilah yang membuatnya selalu berusaha untuk mewujudkan mimpinya tersebut

Soundtrack di film ini cukup easy listening juga sih. Salah duanya yang gampang diingat adalah Mencari Cinta Sejati yang dinyanyikan Cakra Khan dengan suara serak khasnya dan Mata Air yang dinyanyikan CJR. Iyaaa CJR, yang isinya ABG itu, tapi tetep easy listening kok.

Jilbab Traveler : Love Sparks in Korea

Film ini merupakan adaptasi dari buku yang berjudul sama “Jilbab Traveler : Love Sparks in Korea” karangan Asma Nadia. Layaknya film adaptasi buku, memang tidak disarankan berharap terlalu tinggi sama dengan bukunya.

Film ini bercerita tentang perjalanan Rania, seorang Jilbab Traveler yang sudah melanglang buana ke berbagai negara. Didorong oleh motivasi ayahnya yang ingin Rania menjadi petualang seperti Ibnu Batuta, Rania pun semakin bersemangat untuk menjelajah dunia. Di sisi lain, Ibu dan saudara-saudaranya menginginkan Rania untuk mulai mencari pasangan. Rania di sini diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Rania sendiri ditaksir oleh teman Kakaknya, yaitu Ilhan yang diperankan oleh Giring Nidji. Ngomong-ngomong, keluarga saudara-saudara Rania juga diperankan oleh pasangan artis di dunia nyata, yaitu Indra Bekti – Aldila Jelita dan Tasya Nur Medina – Ferry Ardiansyah.

Kayaknya Morgan laris banget kalau berperan sebagai pria China atau Korea. Setelah sebelumnya di Assalamualaikum Beijing, Morgan berperan sebagai pria Tiongkok. Di film ini, Morgan berperan sebagai pria Korea bernama Hyun Geun. Hyun Geun diceritakan sebagai seorang pria Korea yang tinggal sementara di Indonesia, ditemani oleh sahabatnya si Alvin (diperankan oleh Ringgo Agus).

Cerita di film ini nantinya akan dibumbui cinta segitiga antara Ilhan – Rania – Hyun Geun. Meskipun banyak kejadian yang berbeda dengan bukunya, ending film ini tetap sama kok. Tapi beberapa adegan rasanya kurang halus perubahan ceritanya. Cerita terkesan dimampatkan, jadi beberapa bagian detail malah ga keliatan. Ada beberapa adegan yang terkesan dipaksakan yang malah jadinya ga nyambung sama jalan cerita.

Beberapa bagian pengambilan gambar juga terkesan kurang pas. Contohnya pas adegan Alvin dan Hyun Geun ngobrol di kampus. Kalau dilihat dari dekat, Alvin yang pake kemeja denim juga pake kaos merah di dalamnya. Nah tapi kalau diambil dari kamera yang jauh, ga keliatan ada kaos warna merah.

Kalau ngomong tentang pesan moral, film Jilbab Traveler ini mengajak kita untuk tidak menyerah pada keadaan dan tetap berpegang pada mimpi. Pesan moralnya bagus, tapi film ini kurang GREGET!

 

Sabtu Bersama Bapak

Sama seperti Jilbab Traveler, film Sabtu Bersama Bapak ini juga merupakan film adaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Adhitya Mulya. By the way, dalam film SBB ini, Kang Adhit bersama istrinya yang sama-sama penulis, Ninit Yunita sempat jadi cameo dalam film ini. Lucuk sih. Kang Adhit jadi karyawannya Cakra (diperankan oleh Deva Mahendra) dan Teh Ninit sempet jadi pelanggan di cafe yang meleleh liat Satya (diperankan oleh Arifin Putra).

Film ini merupakan drama keluarga yang dibalut dengan komedi. Jadi jangan kaget kalau misalkan ada adegan yang bikin nangis bombay, tapi juga ada adegan yang bikin ngakak guling-guling. Pembukaan film ini menceritakan tentang Bapak (diperankan oleh Abimana Aryasatya) yang divonis menderita kanker. Karena merasa umurnya tidak lama lagi, Bapak pun membuat rekaman video untuk anak-anaknya (Satya dan Cakra). Rekaman video tersebut berisi tentang nasihat dan motivasi untuk kedua anaknya. Rekaman itu akan diputar oleh Mamah (Ira Wibowo) setia Sabtu untuk ditonton oleh Satya dan Cakra.

Satya yang setelah dewasa menjadi seorang engineer di perusahaan minyak dan harus tinggal di luar negeri. Kalau di buku, tinggalnya di Denmark kalau di film ini di Prancis. Rissa (diperankan oleh Acha Septriasa) yang sudah menikah dengan Satya pun ikut serta ke luar negeri dan tinggal bersama kedua anaknya (kalau di buku mereka punya 3 anak). Sebagai seorang engineer, Satya menghabiskan sebagian waktunya di rig, bukan di rumah. Mereka pun tidak bisa bertemu setiap hari. Satya tumbuh menjadi pria perfeksionis yang selalu menginginkan semuanya sesuai dengan rencana, seperti pesan Bapaknya. Keperfeksionisan Satya ini kadang membuat Rissa tertekan, meskipun sudah berusaha sebaik mungkin sebagai seorang istri.

Berbeda dengan Satya, Cakra yang bekerja sebagai seorang bankir sukses ini ternyata tidak sukses di bidang percintaan. Di usianya yang mendekati 30 tahun, Cakra masih menyandang status jomblo. Cakra pun terpesona pada karyawan baru bernama Ayu, yang sering dia lihat sepatunya di mushola.

Kejombloan Cakra ini menjadi bahan bully-an bagi karyawannya, termasuk buat Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita). Kedua orang ini berhasil membuatku tertawa ngakak ketika berhasil membully Bosnya yang jomblo.

Kalau bicara tentang pesan moral, film ini memang cocok banget buat mereka yang mau menikah dan yang sudah menikah. Bagaimana Cakra memilih Ayu dengan segala pertimbangannya, bisa menjadi panduan bagi yang mau menikah ataupun menentukan pilihan. Bagaimana Satya dan Rissa mempertahankan rumah tangganya, bisa menjadi pelajaran buat yang sudah menikah ataupun mau menikah. Ga heran ketika @newsplatter memposting ini di akun Twitternya :

The best part in this movie menurut saya adalah bagian Satya dan Rissa. Meskipun keduanya sama-sama belum menikah di dunia nyata, tapi chemistry dan konfliknya dapet banget. Dan part Satya – Rissa ini memang wajib diperhatikan buat kalian-kalian yang belum nikah, biar siap. Termasuk saya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s