Ini Kisah Tiga Dara

Dari judulnya pun sudah tersurat jelas kalau film ini menceritakan tentang kehidupan tiga orang gadis. Film karya Nia Dinata ini, merupakan remake dari film Tiga Dara yang pernah tenar di tahun 1957 lalu.

Tiga dara tersebut bersaudara, yang terdiri dari :

  1. Gendis, si sulung yang berusia 32 tahun. Diperankan oleh Shanty Paredes. Sebagai anak tertua, Gendis ini cenderung keras dan pekerja keras. Di usianya yang sudah cukup matang, Gendis belum juga menikah.
  2. Ella, anak kedua yang eksotis, diperankan oleh Tara Basro. Anak kedua ini cenderung kompetitif dalam masalah lelaki, tapi di sisi lain dia merasa harus selalu mengalah kepada Kakaknya
  3. Bebe, anak ketiga yang masih berusia 19 tahun, diperankan oleh Tatyana Akman. Di balik kenakalannya berpacaran dengan pria bule, Bebe ini ternyata rajin berkegiatan sosial, salah satunya dengan mengajar.

Ini poster dan trailernya ya, sebelum lanjut.

Poster-film-Ini-Kisah-Tiga-Dara-1.jpg

Official Poster “Ini Kisah Tiga Dara”

 


Ketiga dara ini tinggal bersama ayahnya (Ray Sahetapy) di Maumere, Flores. Keluarga ini mengelola sebuah hotel keluarga di Maumere. Akhirnya mereka berempat ini pun mengajak Oma (Titiek Puspa) yang sebelumnya tinggal di Jakarta, untuk ikut tinggal di Maumere.

Film ini merupakan film musikal sama seperti film Tiga Dara, di beberapa bagian ada lagu-lagunya sesuai dengan adegan yang sedang terjadi. Lagu-lagunya cukup simpel tapi ngena. Albumnya juga sudah ada di Spotify juga.

Hampir sama dengan film AADC 2 yang mencoba mengangkat keindahan lain Yogyakarta, film Ini Kisah Tiga Dara mengangkat keindahan Maumere. Mulai dari wisata alam, budaya sampai kuliner. Keindahan tenun Maumere ditampilkan di sini. Kehidupan masyarakat Maumere diperlihatkan di adegan di Pasar Geliting yang juga menampilkan komoditas Maumere termasuk komoditas ikan segar warna-warni. Pantai indah berpasir putih yang bikin ingin nyebur. Area mangrove yang dilengkapi dengan menara pandang, yang asik banget buat liat view sekitar dari atas menara. Buat yang suka wisata religi, ada Gereja Portugis yang konok katanya arsiteknya sama dengan arsitek Gereja Katedral, Jakarta. Buat pecinta kuliner, makanan khas Maumere juga muncul di sini yang disajikan dengan menggunakan peralatan yang tradisional yang bikin menarik.

Promosi wisata Maumere secara tidak langsung melalui film ini, cukup membuat mupeng pingin ke Maumere nih. Tapi ada yang agak aneh sih, sewaktu adegan di pelabuhan, kok tulisan di kapal ferry-nya “Let’s Go Derawan”, bukan “Let’s Go Maumere”. Mungkin sekalian promosi Derawan kali ya.

Beberapa adegan dan quote di film ini lumayan sarat nasihat tentang perkawinan (#eeeaaakkk). Contohnya tentang tradisi pernikahan di sebagian besar daerah di Indonesia yang menghabiskan banyak uang. Seorang ibu pedagang di Pasar Geliting curhat tentang besarnya biaya yang harus dia keluarkan untuk melamarkan anak ujangnya. Untuk mahar anaknya, dia harus menjual tanah dan hewan ternaknya.

Hal ini tidak hanya terjadi di Maumere tapi juga di seluruh dunia. Misalnya saja di Padang, untuk bisa menikah, seorang gadis harus membeli seorang bujang lelaki dengan harga yang cukup lumayan. Beda lagi dengan Bugis, seorang lelaki harus membeli perempuan idamannya dengan harga bertingkat sesuai tingkat pendidikan perempuan tersebut. Aku sempat ngobrol dengan teman di Makassar, harganya cukup lumayan, bisa mencapai ratusan juta untuk perempuan lulusan S2. Tradisi Bugis ini disebut dengan uang panai. Kebetulan cerita tentang uang panai ini juga sedang difilmkan di bioskop. Seperti yang dinyanyikan di lagu Pasar Geliting di film ini, mahalnya biaya pernikahan ini belum tentu bisa menjamin harmonisnya sebuah hubungan pernikahan.

Cerita tentang Gendis, yang masih belum menikah di usia 32 tahun ini cukup menarik. Gendis seperti sedang membangun benteng yang kokoh dari lelaki. Seperti ada bagian dari masa lalu yang membuatnya harus berlindung. Meskipun akhirnya Gendis mendapatkan lelaki yang bisa meluluhkannya, tapi kenapa Gendis menjadi keras ini tidak diceritakan secara jelas.

Sampai tulisan ini ditulis, jumlah penonton film Ini Kisah Tiga Dara ini baru 32.159. Film ini memang bisa ditebak akhirnya, meskipun di sisi lain keindahan Maumere menjadi daya tarik wisata ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s