Kampung Buku Jogja, Pembuka Pesta Buku di Bulan Oktober

 

Bulan Oktober 2016 ini, rasanya menjadi bulan penuh pameran buku buat penggemar buku seperti aku. Serangkaian kegiatan bertema buku di bulan ini antara lain :

  1. Gramedia Sale Surabaya, di gudang Gramedia di daerah Berbek. Acara sale ini menjual buku mulai Rp 5.000. Cuci gudang ini dimulai tanggal 7 Oktober kemarin dan diakhiri ketika buku sudah selesai. Buat pecinta buku yang statusnya karyawan dengan jam kerja ketat, harus benar-benar melonggarkan waktunya di hari Sabtu karena cuci gudang ini dimulai jam 07.30 dan selesai jam 17.00. Di hari Minggu, acara in tutup. Setelah coba kepo-in instagram @gramediacucigudang, termyata sempat diberlakukan sistem antrian agar masuknya lebih tertib. Ga kebayang deh ramenya. Dan sepertinya aku tidak sempat hunting di cuci gudangnya Gramedia yang di sini, karena jadwal untuk hari Sabtu di bulan Oktober ini sudah full booked. Tapi infonya sih, di lokasi lain di Surabaya juga ada sale, seperti di Gramedia Royal dan Gramedia Manyar
  2. Kampung Buku Jogja yang kedua, yang juga dimulai tanggal 7 Oktober 2016 dan berakhir di 9 Oktober 2016. Acara ini dilaksanakan di Food Park UGM.
  3. Big Bad Wolf Surabaya, mulai tanggal 20 Oktober di JX Expo, Jl. Ahmad Yani. Event ini juga merupakan pameran buku terbesar, dan 24 jam nonstop. Alhamdulillah, dapat VIP Pass yang benefitnya bisa masuk ke BBW satu hari sebelum pameran resmi dibuka. Bismillah, sudah mengajukan cuti dan semoga bisa hunting sepuasnya. (elus ATM)
  4. Abookadabra Gramedia. Nah acara ini sepertinya merupakan kelanjutan Gramedia Cuci Gudang. Bedanya acara Abookadabra ini akan dilaksanakan di Atrium Tunjungan Plaza dan juga di Ciputra World Surabaya. Siap hunting lagi?

Pas kebetulan ada urusan ke Jogja, kebetulan pas ada Kampung Buku Jogja. Jadi sekalian lah ya, sambil menyelam bisa selfie. Sambil sekalian ada urusan pribadi, sekalian main dan refresh otak di Kampung Buku. Tapi, sebelum mulai cerita, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Mba Sasa, yang sudah menemaniku di Jogja terutama di Kampung Jogja dan bertemu orang-orang keren yang punya peran penting dalam dunia literasi di Jogja.

Tidak hanya pameran buku, Kampung Buku Jogja juga mengajak pengunjungnya untuk mengikuti diskusi dan talkshow terkait dunia buku, terutama di Jogja. Detail jadwalnya bisa dilihat di sini ya, lumayan buat referensi kalau tahun depan mau berkunjung ke sana.

_20161012_083644

Di Balik Literasi Jogja

Sabtu siang, Jogja diguyur hujan dengan derasnya, tidak terkecuali di Food Park UGM yang menjadi lokasi pelaksanaan Kampung Buku. Untuk melindungi buku dari salah satu musuhnya, yaitu air, stan pameran buku pun dilindungi dengan berbagai plastik. Acara talkshow yang seharusnya berada di dalam area Kampung Buku pun harus dipindah ke bagian depan Food Park UGM agar terlindung dari hujan.

Ketika sampai di Food Park, sedang berlangsung sebuah talkshow yang tentang buku Declare dan perkembangan dunia penerbit di Jogja dari waktu ke waktu. Buku Declare yang dikarang oleh Adhe Maruf ini menceritakan tentang perkembangan buku dan penerbit di Jogja dan juga segala boroknya.

DSC_2771.JPG

TalkShow

Aku sendiri belum sempat baca bukunya, tapi dari talkshow ini aku pun baru tahu kalau ternyata di Jogja itu banyak sekali penerbit, mulai dari penerbit yang mayor maupun penerbit indie. Perkembangan literasi di Jogja yang berbeda banget jika dibandingkan dengan Surabaya, kadang membuatku ingin melipir ke kota ini. #eeeaaakkk (brb update CV, review Linkedin, JobStreet, JobsDb)

Salah satu pembicara dalam talkshow ini, Muhidin M. Dahlan yang juga mendapatkan penghargaan sebagai Pangalembana Kampung Buku Jogja 2016, sempat berorasi di akhir talkshow. Di awal orasinya terdengar berita tentang acara Gramedia Cuci Gudang di Surabaya yang cukup rusuh. Buku-buku hanya dihargai Rp 5,000. Toko buku dan penerbit mainstream mengobral besar-besaran buku yang kurang laku di pasaran.

Di sisi lain, banyak penulis baru yang punya banyak potensi tetapi belum bisa menerbitkan bukunya melalui penerbit besar. Penulis baru pun akhirnya menerbitkan bukunya melalui penerbit indie, sebagai salah satu alternatif. Saat ini menerbitkan buku tidak hanya melalui penerbit besar yang pasti prosesnya lebih panjang. Contohnya sekarang ada nulisbuku.com yang membimbing penulis baru mulai dari proses penulisan, layouting  sampai pembuatan cover dan juga penjualan buku secara online.

Beberapa penulis juga menjual bukunya dengan sistem Pre Order, dengan kuota minimal atau maksimal tertentu. Dengan sistem ini, penulis tidak perlu mencetak beribu eksemplar seperti di penerbit besar dengan sistem royalti. Penulis tinggal mengumumkan PO dan tata caranya melalui media sosial. Cara ini dilakukan juga salah satunya oleh Kurniawan Gunadi lewat kurniawangunadi.com. Setelah kuota terpenuhi, penulis mencetak kepada penerbit dan kemudian dikirim. Konon katanya dengan sistem ini, penulis bisa lebih mudah menghitung keuntungan berdasarkan sistem BEP, jika dibandingkan dengan royalti melalui penerbit besar yang berkisar antara 10-14% dari harga buku per eksemplar terjual.

Selain masalah penerbit, satu lagi ilmu yang aku dapatkan di talkshow ini. Menulis itu bukan hanya sekedar menyampaikan tulisan atau cerita, tetapi juga menyampaikan ide/gagasan untuk bisa menjadi bahan diskusi yang bermanfaat dan menginspirasi pembacanya.

Jadi, apakah tulisanmu sudah bermanfaat dan menginspirasi, Nes? *nyengir kuda

 

Pameran Buku yang Tidak Biasa

Kampung Buku Jogja ini tentu saja ada pameran bukunya. Bedanya dengan pameran buku yang lain, pameran buku di Kampung Buku Jogja ini tidak banyak menjual buku yang mainstream atau populer. Area pameran dibagi dalam beberapa area sesuai dengan kategori dan jenis bukunya. Di dekat gerbang masuk, terdapat area untuk buku-buku terbitan penerbit di Jogja seperi mojok.co, LKIS, Ifada dan lain-lain. Ada juga lapak dari toko buku diskon, Togamas (yang diskonnya sama seperti di Togamas biasanya). Masuk ke bagian tengah kampung, berjejer pelapak buku-buku lapasan dan juga kawasan untuk buku-buku indie. Pokoknya surga deh di sini. Kalau ga menahan diri, mungin tabungan jebol.

IMG_20161008_165132.jpg

Suasana pameran Kampung Buku Jogja dari atas

Dan, dari hasil hunting di Kampung Buku Jogja ini, aku pun mengisi ranselku dengan 7 buah buku. Dua buku pemberian Mba Sasa, dan 5 buku lainnya merupakan hasil hunting. Setelah diamati, ternyata sebagian besar buku yang aku beli membicarakan tentang wanita.

DSC_2774.JPG

Hasil Hunting Oktober – Part 1

Kampung Buku Jogja ini baru pembukaan pesta buku di bulan Oktober ini. Tujuh buah buku ini hanya permulaan. Mari kita lihat nanti ketika BBW dan Abookadabra, bagaimana kalapnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s