Matinya Kepakaran : Benarkah Karena Internet dan Media Sosial?

Perkembangan internet dan media sosial yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak memberikan efek yang signifikan terhadap berbagai informasi dan data yang kita terima. Ribuan berita hoaks tercipta dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari hoaks tentang kesehatan sampai yang paling panas hoaks tentang politik. Kita sampai kadang bingung membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak jarang broadcast di WhatsApp Group keluarga yang diawali dengan “Pesan ini dari ahli bla bla bla….”, tapi isinya kurang masuk akal menurut kita.

Banyak orang tidak percaya kepada omongan para pakar atau para ahli yang punya pendidikan dan sertifikasi sesuai dengan kapasitasnya. Sebagian orang malah percaya dengan informasi yang tersebar di grup WhatsApp atau di media sosial orang-orang terdekatnya. Yaps, word of mouth dari orang/circle terdekat memang menjadi sumber informasi yang paling berpengaruh bagi seseorang untuk percaya pada suatu hal dan mengambil keputusan. Ada apa dengan pendapat para pakar dan ahli? Kemana mereka selama ini?

Melalui bukunya yang berjudul “The Death of Expertise” (Matinya Kepakaran), Tom Nichols menjelaskan berbagai opininya tentang kepakaran dan apa yang membuat kepakaran dirasa tidak berpengaruh signifikan di masa sekarang. Buku ini memang banyak membahas peristiwa di Amerika Serikat, namun banyak hal yang sebenarnya juga terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Kepakaran yang dibahas di sini terutama dalam hubungannya dengan politik dan demokrasi di sebuah negara, terutama untuk penyusunan strategi dan kebijakan sebuah negara. Misalkan, pakar ekonomi untuk membahas utang dan pertumbuhan ekonomi negara atau pakar kesehatan untuk membahas pentingnya pembelian vaksin untuk pencegahan penyakit.

Buku “The Death of Expertise”

Apakah memang matinya kepakaran ini terjadi karena perkembangan internet yang semakin canggih? Pokoknya semua salah internet, gitu? Ternyata, dari ulasan Tom Nichols, matinya kepakaran memang salah satunya disebabkan oleh perkembangan internet. Namun, juga ada beberapa hal lain yang menjadi pemicu kenapa kepakaran bukan jadi sesuatu yang dianggap penting oleh banyak orang saat ini.

Matinya kepakaran dipengaruhi oleh 4 hal : kemudahan akses internet, perkembangan sistem pendidikan, jurnalisme gaya baru dan sistem politik di sebuah negara.

Continue reading

“Bajak Laut dan Mahapatih” : Jaka Kelana dan Cerita Cinta di Sekitarnya

Ada yang pernah baca ulasan singkat saya tentang “Bajak Laut dan Purnama Terakhir”? Nah kebetulan banget, Mas Adhitya Mulya yang menulis buku fiksi tersebut, kembali menggarap sekuel terbaru tentang Jaka Kelana, sang bajak laut kocak ini. Buku terbaru Adhitya Mulya ini berjudul “Jaka Kelana dan Mahapatih”

Baca juga : “Bajak Laut dan Purnama Terakhir”, Fiksi Gabungan Sejarah dan Komedi yang Bikin Rela Begadang

Siapa sih Adhitya Mulya? Masa pada ga kenal sih? Bapak muda satu ini sudah menghasilkan berbagi karya dalam bentuk buku maupun skenario film. Buku plus skenario yang paling terkenal adalah film Jomblo, yang juga diproduksi ulang dalam Jomblo Reboot dalam versi yang lebih kekinian. Buku dan skenario yang sempat booming dan bikin baper juga adalah Sabtu Bersama Bapak. Pasangan Ninit Yunita ini, juga menghasilkan beberapa skenario di luar buku seperti film Shy Shy Cat. Bersama Ninit Yunita dan beberapa temannya yang lain, Mas Adhit juga menyusun buku Belok Kanan Barcelona yang juga difilmkan beberapa waktu lalu. Bersyukur, saya sempat bertemu dengan pasangan favorit ini di Makassar International Writer Festival (MIWF) di Makassar, tahun 2017 lalu.

Baca juga : Film “Shy Shy Cat”, Mengingatkan pada Kontribusi terhadap Kampung Halaman

Baca juga : MIWF 2017, Surga untuk Pecinta Buku

Baca juga : Lebaran 2016 di Bioskop (Sedikit Review tentang 3 Film Indonesia yang Tayang di Lebaran 2016

Setelah berhasil membunuh naga di sebuah pulau di Nusa Tenggara dan sebelumnya sempat mengobrak-abrik istana Kerajaan Mataram (Kerajaan Mataram ya bukan Mataram, Lombok), Jaka Kelana dan awak kapal Kerapu Merah kembali jadi buronan. Di sisi lain, Jaka membutuhkan biaya untuk melamar Galuh, salah satu Arya yang tersisa. Jaka mencintai Galuh dan ingin sekali menikah dengan Galuh tapi belasan kali ditolak karena Jaka belum mapan. Jaka pun memutuskan mencari uang dengan membuka jasa ekspedisi barang antar pulau.

Bajak Laut dan Mahapatih

Jaka mendapat order mengantar seseorang beserta barangnya ke Palembang. Namun di sana, penumpangnya tersebut malah dibunuh oleh orang tak dikenal. Jaka kemudian dapat order lagi dari Zubaedah, putri dari Kerajaan Malaka dan pengawalnya suami istri pasangan yang public display affection (PDA) alias pamer kemesraan banget yang bikin Jaka Kelana dan awak kapalnya mupeng. Zubaedah meminta Jaka Kelana membantunya mengambil harta karun milik Mataram yang ada di Pulau Buton, Sulawesi.

Continue reading

The Circle : Membayangkan Masa Depan dengan Keterbukaan di Media Sosial

Hayoo? Ini review buku atau film?

Lebih tepatnya kedua-duanya.

Berbeda dengan biasanya, baca buku dulu baru nonton filmnya, untuk kasus The Circle ini aku nonton film dulu. Karena merasa akhir ceritanya menggantung dan kurang jelas, akhirnya abis nonton di XXI Ciputra World langsung menuju ke Gramedia. Bukunya sendiri ditulis oleh Dave Eggers.

Tulisan ini nanti mungkin tidak banyak me-review buku atau filmnya dari segi cerita, tokoh ataupun yang lainnya, tapi tentang beberapa insight dari film ini. Film ini cocok banget dengan kondisi sekarang di mana orang semakin tergila-gila dengan media sosial.

Sebelum lanjut, ini official poster dan trailer-nya.

The Circle 2.jpg

Poster Film The Circle

 

Buku dan film ini menceritakan tentang Mae Holland (Emma Watson), seorang pekerja di salah satu kantor layanan publik yang diterima di The Circle, sebuah perusahaan teknologi dunia. Sama seperti tugasnya di kantor sebelumnya, di sini Mae menjadi customer service yang menangani keluhan dan pertanyaan konsumen. Karena The Circle merupakan perusahaan teknologi, tentu saja teknik dan proses melayani konsumen lebih canggih dibandingkan kantor Mae sebelumnya.

The Circle.jpg

Buku The Circle

Continue reading

“Bajak Laut dan Purnama Terakhir”, Fiksi Gabungan Sejarah dan Komedi yang Bikin Rela Begadang

Buku fiksi ini ditulis oleh Adhitya Mulya, sang penulis yang juga terkenal dengan buku “Jomblo” dan “Sabtu Bersama Bapak” yang sudah berhasil difilmkan. Mas Adhit juga penulis skenario dari beberapa film, salah satunya film “Shy Shy Cat”. Ulasanku tentang “Shy Shy Cat” bisa dilihat di sini : Review Shy Shy Cat. Mas Adhit ini adalah suami dari Ninit Yunita, seorang penulis juga. Setelah follow Instagram dan Twitter mereka kurang lebih 2 tahun terakhir, fix mereka ini termasuk dalam kategori pasangan favorit. Saling mendukung karya satu sama lain. Apalagi pas Mas Adhit sempat bilang “Saya bisa gini karena kamu”. Mereka selalu menyebut perjalanan pernikahan mereka dengan “mengupas bawang”, karena terkadang bikin perih dan nangis, terkadang bikin ketawa. Kalau dibilang relationship goal gitu berlebihan ga sih, secara aku bangun relationship aja masih berantakan. Hahahaha. Kalau mau tahu tentang mereka bisa di akun Twitter dan IG : @adhityamulya dan @ninityunita. Bisa juga di blog pribadi mereka di suamigila.com dan istribawel.com.

Oh oke cukup bahas penulisnya, karena nanti bikin baper kepingin. Balik lagi ke “Bajak Laut dan Purnama Terakhir”. Kalau dilihat dari judulnya, jangan berharap buku ini akan penuh dengan petualangan ala-ala bajak laut di film-film Hollywood. Petualangan, sejarah dan komedi dicampur dengan seimbang di buku ini.

bajak-laut-dan-purnama-terakhir

Sekedar tambahan, buku ini full fiksi ya. Meskipun ada sejarah tentang awal mula kerajaan-kerajaan besar di Indonesia, dengan nama tokoh yang tidak asing juga buat kita, cerita di dalam buku ini hanya sekedar fiksi.

Continue reading

Kampung Buku Jogja, Pembuka Pesta Buku di Bulan Oktober

 

Bulan Oktober 2016 ini, rasanya menjadi bulan penuh pameran buku buat penggemar buku seperti aku. Serangkaian kegiatan bertema buku di bulan ini antara lain :

  1. Gramedia Sale Surabaya, di gudang Gramedia di daerah Berbek. Acara sale ini menjual buku mulai Rp 5.000. Cuci gudang ini dimulai tanggal 7 Oktober kemarin dan diakhiri ketika buku sudah selesai. Buat pecinta buku yang statusnya karyawan dengan jam kerja ketat, harus benar-benar melonggarkan waktunya di hari Sabtu karena cuci gudang ini dimulai jam 07.30 dan selesai jam 17.00. Di hari Minggu, acara in tutup. Setelah coba kepo-in instagram @gramediacucigudang, termyata sempat diberlakukan sistem antrian agar masuknya lebih tertib. Ga kebayang deh ramenya. Dan sepertinya aku tidak sempat hunting di cuci gudangnya Gramedia yang di sini, karena jadwal untuk hari Sabtu di bulan Oktober ini sudah full booked. Tapi infonya sih, di lokasi lain di Surabaya juga ada sale, seperti di Gramedia Royal dan Gramedia Manyar
  2. Kampung Buku Jogja yang kedua, yang juga dimulai tanggal 7 Oktober 2016 dan berakhir di 9 Oktober 2016. Acara ini dilaksanakan di Food Park UGM.
  3. Big Bad Wolf Surabaya, mulai tanggal 20 Oktober di JX Expo, Jl. Ahmad Yani. Event ini juga merupakan pameran buku terbesar, dan 24 jam nonstop. Alhamdulillah, dapat VIP Pass yang benefitnya bisa masuk ke BBW satu hari sebelum pameran resmi dibuka. Bismillah, sudah mengajukan cuti dan semoga bisa hunting sepuasnya. (elus ATM)
  4. Abookadabra Gramedia. Nah acara ini sepertinya merupakan kelanjutan Gramedia Cuci Gudang. Bedanya acara Abookadabra ini akan dilaksanakan di Atrium Tunjungan Plaza dan juga di Ciputra World Surabaya. Siap hunting lagi?

Pas kebetulan ada urusan ke Jogja, kebetulan pas ada Kampung Buku Jogja. Jadi sekalian lah ya, sambil menyelam bisa selfie. Sambil sekalian ada urusan pribadi, sekalian main dan refresh otak di Kampung Buku. Tapi, sebelum mulai cerita, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Mba Sasa, yang sudah menemaniku di Jogja terutama di Kampung Jogja dan bertemu orang-orang keren yang punya peran penting dalam dunia literasi di Jogja.

Tidak hanya pameran buku, Kampung Buku Jogja juga mengajak pengunjungnya untuk mengikuti diskusi dan talkshow terkait dunia buku, terutama di Jogja. Detail jadwalnya bisa dilihat di sini ya, lumayan buat referensi kalau tahun depan mau berkunjung ke sana.

_20161012_083644

Continue reading