Milly & Mamet : Lebih Realistis daripada Cinta & Rangga

Setelah 2016 lalu kita dimanjakan dengan nostalgia Rangga dan Cinta di kota kenangan yang namanya Yogyakarta, akhir 2018 ini Miles Film kembali mengajak kita menikmati AADC Universe dari sisi berbeda. Iya, sesuai judul tulisan ini, film ini bercerita tentang Milly, sahabat Cinta dan Mamet, lelaki yang pernah tergila-gila naksir sama Cinta semasa SMA.

Baca juga : Ada Apa dengan Jogja?.. Eehh.. Ada Apa Dengan Cinta 2?

Di film “Ada Apa Dengan Cinta 2” yang pernah aku review di sini, diceritakan kalau Mamet dan Milly sudah menikah dan Milly pas lagi hamil. Pasti mikir ya pas nonton AADC 2 “Kok bisa Milly sama Mamet? Kan dulu Mamet sukanya sama Cinta?”. Nah di film “Milly & Mamet” ini, di awal diceritakan bagaimana pertemuan kembali Geng Cinta dengan Mamet dalam reuni satu dasawarsa alumni SMA mereka.

Tidak banyak diceritakan bagaimana perjalanan cinta Milly dan Mamet sampai menikah, karena film ini menceritakan tentang masa setelah AADC 2, yaitu setelah anak Milly dan Mamet lahir. Anak laki-laki pasangan lucu ini namanya Sakti. Tapi kalau kalian berharap ada Mas Nico alias Rangga yang kaku-kaku romantis di sini, lebih baik mulai pelan-pelan dihilangkan aja harapan itu. Ga ada Rangga dengan puisi romantisnya, karena film ini menurutku lebih realistis, terutama untuk keluarga muda milenial Indonesia.

Setelah menikah dan punya anak, Milly keluar dari pekerjaannya sebagai lending officer alias bankir yang mengurusi kredit. Milly jadi ibu rumah tangga dan mengurus si Sakti di rumah. Sedangkan Mamet menjadi kepala pabrik konveksi milik ayah Milly, pekerjaan yang sungguh berseberangan jauh dengan passion Mamet yang suka memasak, terutama masak makanan sehat. Passion Mamet terhadap makanan sehat ini mulai muncul ketika ayah Mamet menderita kolesterol tinggi, jadi Mamet mencoba memikirkan makanan yang tetap enak untuk ayahnya tapi tetap baik untuk kesehatan. Sayang, ayah Mamet diceritakan meninggal sebelum Mamet ketemu Milly.

Udah kebayang konflik yang akan muncul atau belum nih? Seperti biasa aku mencoba untuk tidak spoiler, jadi kalau mau lebih tahu cerita filmnya, nonton sendiri aja ya di bioskop. Iya sendiri juga boleh, berdua juga boleh, berbanyak juga boleh. Asal jangan kebanyakan tanya aja ya kenapa aku lebih suka dan sering nonton sendiri.

Lebih realistis dari cerita pertemuan Rangga dan Cinta, film Milly & Mamet ini mengambil tema tentang serba serbi dan konflik keluarga muda milenial Indonesia. Mamet memang tidak seromantis Rangga yang bisa nulis puisi sampai bikin perempuan klepek-klepek. Tapi Mamet berusaha menjadi suami yang membanggakan untuk Milly dan Papa yang baik untuk Sakti. Mamet mengesampingkan mimpi dan passion-nya, untuk bisa membahagiakan kedua orang yang sangat dicintainya.

Milly, seperti kebanyakan perempuan lain, mencoba membantu memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi Mamet. Naluri perempuan ya, kalau sudah cinta banget, pinginnya bantuin pasangannya dengan berbagai cara. Meskipun kadang, lelaki itu banyaknya ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi kadang apa yang dilakukan perempuan untuk membantu mereka itu salah di mata lelaki, karena melangkahi ego mereka sebagai lelaki.

Dari film Milly dan Mamet itu kita bisa sadar bahwa, pasangan dan rumah tangga itu bukan hanya butuh sekadar puisi-puisi romantis, tapi lebih butuh komunikasi, negosiasi, diskusi dan menyeimbangkan ego bersama. Bukan, bukan menghilangkan ego, tapi menyeimbangkan ego. Namanya manusia kan, ego itu pasti masih tetap ada, ga bisa dihilangkan. Jadi, hubungan itu juga tentang bagaimana menyeimbangkan ego. 🙂

Oh iya, film “Milly & Mamet” ini juga menyentil pertikaian kekinian “ibu bekerja vs ibu rumah tangga”. Okelah kita tidak perlu saling judge, mana yang lebih baik. Tapi untuk membahagiakan anak, menjadi yang terbaik buat anak, seorang ibu harus merasa bahagia terlebih dahulu. Kalau ibunya bahagia, tentu bisa mengurus anak dengan lebih menyenangkan bukan? Nah, bahagia buat setiap ibu atau setiap perempuan kan beda. Kalau Milly, karena sebelumnya terbiasa aktif mencari nasabah, ketemu orang, seharian di rumah ngurus Sakti aja buat dia stress berat. Dia butuh kegiatan lain di luar rumah agar dia lebih bahagia, tentu tanpa melupakan anaknya. Kalau kalian, para ibu dan perempuan lainnya, apa yang membuat kalian bahagia?

Milly dan Mamet mungkin bukan tipikal pasangan yang sempurna. Tapi satu kutipan yang menarik tentang pernikahan sempat diucapkan Milly. Kira-kira seperti ini :

“Aku nikah sama kamu bukan karena kamu Chef Mamet, tapi karena kamu adalah Mamet”

Catet ya Nes, menikah bukan hanya karena pekerjaan atau profesinya, tetapi karena pribadinya. 🙂

Namanya juga romantic comedy, film ini tentu ada lucu-lucunya. Meskipun stand up comedian tidak sebanyak di film-film Ernest Prakasa sebelumnya, film ini bikin roller coaster , abis sedih pingin nangis, trus dibikin ketawa. Karakter Mamet dan Milly yang lugu pun sudah menjadi cerita lucu tersendiri. Ditambah akting Isyana Sarasvati, yang sungguh tidak terduga lucunya.

Placement iklan di film ini cukup banyak. Tapi tidak terkesan terlalu dipaksakan dan bisa dibilang masih soft selling lah.

Setelah nonton ini jadi pingin ngapain? Selain pingin nikah, ehem, munculnya banyak makanan sehat yang dimasak oleh Chef Mamet jadi pingin makan makanan sehat nih. Pas banget tulisan ini ditulis pas jam makan siang, bikin laper. Udah ah mulai cek menu dan order makanan sehat lewat ojek online.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s