Milly & Mamet : Lebih Realistis daripada Cinta & Rangga

Setelah 2016 lalu kita dimanjakan dengan nostalgia Rangga dan Cinta di kota kenangan yang namanya Yogyakarta, akhir 2018 ini Miles Film kembali mengajak kita menikmati AADC Universe dari sisi berbeda. Iya, sesuai judul tulisan ini, film ini bercerita tentang Milly, sahabat Cinta dan Mamet, lelaki yang pernah tergila-gila naksir sama Cinta semasa SMA.

Baca juga : Ada Apa dengan Jogja?.. Eehh.. Ada Apa Dengan Cinta 2?

Di film “Ada Apa Dengan Cinta 2” yang pernah aku review di sini, diceritakan kalau Mamet dan Milly sudah menikah dan Milly pas lagi hamil. Pasti mikir ya pas nonton AADC 2 “Kok bisa Milly sama Mamet? Kan dulu Mamet sukanya sama Cinta?”. Nah di film “Milly & Mamet” ini, di awal diceritakan bagaimana pertemuan kembali Geng Cinta dengan Mamet dalam reuni satu dasawarsa alumni SMA mereka.

Tidak banyak diceritakan bagaimana perjalanan cinta Milly dan Mamet sampai menikah, karena film ini menceritakan tentang masa setelah AADC 2, yaitu setelah anak Milly dan Mamet lahir. Anak laki-laki pasangan lucu ini namanya Sakti. Tapi kalau kalian berharap ada Mas Nico alias Rangga yang kaku-kaku romantis di sini, lebih baik mulai pelan-pelan dihilangkan aja harapan itu. Ga ada Rangga dengan puisi romantisnya, karena film ini menurutku lebih realistis, terutama untuk keluarga muda milenial Indonesia.

Continue reading
Advertisements

Pemimpin Magetan Zaman Now

Satu tahun sebelum ajang pesta demokrasi nasional yaitu Pilpres 2019, rakyat Indonesia diajak pemanasan terlebih dahulu dengan diadakannya Pilkada Serentak 2018. Tidak main-main, Pilkada Serentak 2018 diikuti oleh 171 daerah. Ke-117 daerah tersebut adalah 17 provinsi, 115 kabupaten dan 39 kota. detailnya bisa dilihat di sini. Jika dibandingkan dengan total provinsi di Indonesia, provinsi yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 memang hanya separuh. Tapi, jika dilihat berdasarkan proporsi jumlah penduduk, penduduk di ke-17 provinsi tersebut menyumbang sekitar 77.4% penduduk Indonesia. Termasuk di dalamnya 3 provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sudah kebayang ramenya?

Pemimpin Magetan Zaman Now.jpg

Dari 115 kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018 ini, salah satunya adalah Kabupaten Magetan. Jangan salah sebut dan salah kira ya, sekali lagi “Magetan” bukan “Magelang”. Kabupaten Magetan sendiri terletak di bagian paling barat Jawa Timur, berbatasan dengan Jawa Tengah. Sekali lagi, Kabupaten Magetan bukan terletak di Provinsi Jawa Tengah. Di sebelah barat dan selatan, Magetan memang berbatasan dengan Jawa Tengah, lebih tepatnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

Luas Kabupaten Magetan sendiri hanya sekitar 688,85 km2, kabupaten dengan luas terkecil kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Sidoarjo. Dengan luas tersebut, Magetan terbagi menjadi 18 kecamatan. Sewaktu tahun 1995, Magetan masih terbagi menjadi 13 kecamatan dan kemudian dilakukan pemekaran, dengan pemekaran terakhir di tahun 2007 yaitu pembentukan Kecamatan Sidorejo. Pada tahun 2016, jumlah penduduk Magetan tercatat sekitar 627.984 jiwa.

Screenshot 2018-05-09 14.34.27.png

Dari total penduduk tersebut, sekitar 27% merupakan penduduk berusia 15-34 tahun. Kelompok penduduk usia muda yang di masa sekarang dikenal dengan generasi milenial. Dibandingkan penduduk usia pemilih (penduduk usia 15 tahun di tahun 2016, diasumsikan akan berusia 17 tahun di 2018 dan memenuhi kriteria usia pemilih dalam Pilkada), 33,45% atau sepertiga penduduk usia pemilih di Magetan adalah generasi milenial. Potensi pemilih yang cukup besar yang untuk digaet para calon bupati dan wakil bupati Magetan.

Screenshot 2018-05-11 12.00.34

Continue reading

Aku Milenial, Dan Aku Punya Tabungan

Seminggu ini kayaknya di Twitter banyak berkeliaran artikel, infografis atau hasil riset tentang kondisi keuangan generasi milenial yang mengenaskan. Mulai artikel tentang generasi milenial yang tidak punya tabungan, generasi milenial yang tidak mampu beli rumah sendiri sampai tentang masa pensiun yang suram bagi generasi milenial.

Salah satu artikel di kumparan.com yang berjudul “Hampir Setengah Milenial Tak Punya Tabungan Sama Sekali”. Rasanya duh generasi milenial kok ngenes banget ya, dianggap semiskin itu. Setelah dibaca beritanya, ternyata judul itu ditulis berdasarkan kesimpulan riset yang diadakan oleh Go Banking Rates (GBR) di Amerika Serikat. Dalam riset tersebut, GBR mendefinisikan milenial adalah mereka yang berumur 18-24 tahun. Masih umur cukup muda sebenarnya. Dari hasil riset ini 46% generasi yang didefinisikan milenial tidak mempunyai tabungan sama sekali. Persentase ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 31%. Kalau kita amati sekilas umur 18-24 tahun di Indonesia saat ini adalah mereka yang berstatus mahasiswa yang masih minta ke orang tua sampai fresh graduate yang masih menikmati euforia gaji pertama.

PhotoGrid_1518684101879.jpg

Di Indonesia sendiri, Alvara Research Center pernah menerbitkan publikasi tentang The Urban Middle Class Millenials Indonesia. Dalam publikasi ini juga dipaparkan tentang perilaku keuangan (financial behavior) dari generasi milenial Indonesia. Surveinya sendiri dilaksanakan pada bulan Oktober 2016, dengan mendefinisikan generasi milenial adalah mereka yang berusia 20-34 tahun pada saat pelaksanaan survei.

Dari hasil survei ini ternyata hampir keseluruhan generasi milenial yang disurvei punya produk keuangan berupa tabungan konvensional atau syariah. Survei ini dilakukan tanpa menanyakan nilai tabungan, tetapi kepemilikan rekening/produk keuangan saja. Produk keuangan yang terbanyak kedua dimiliki milenial adalah asuransi kesehatan. Produk keuangan yang terbanyak ketiga adalah kredit kendaraan. Produk simpanan/investasi selain tabungan, seperti deposito, reksadana maupun saham ternyata masih belum banyak digunakan oleh generasi milenial. Dengan fenomena seperti ini, yang menjadi tanda tanya besar apakah generasi milenial tahu manfaat dan perbedaan dari asuransi sebagai proteksi dan investasi. Sambil coba baca sekilas tulisanku tentang asuransi di judul ini “Mau Beli Asuransi? Tujuan Lo Apa?. Continue reading