Vaksinasi Kanker Serviks, Pengalaman Pertama Bertemu Dokter Kandungan

Apa yang pertama kali terlintas di benak kalian jika melihat perempuan lajang umur 25 tahun datang sendiri ke dokter kandungan? Kalau perempuan itu seorang figur publik, tentu sudah masuk akun Instagram gosip kekinian dengan caption cekrak-cekrek-nya.

Untung saja perempuan itu datang ke dokter kandungan tahun 2015, tahun di mana akun Instagram belum terlalu seheboh sekarang. Perempuan itu juga bukan artis atau selebgram dengan pengikut ratusan ribu. Perempuan itu adalah saya sendiri.

Apa yang saya lakukan di dalam ruangan dokter kandungan? Ya ketemu dokternya lah pastinya. Hehehehe. Lebih tepatnya saya melakukan vaksinasi kanker serviks.

Ilustrasi Vaksinasi

Beberapa waktu terakhir, saya sering membaca artikel atau buku tentang perempuan, baik itu tentang kesetaraan gender, feminisme bahkan sampai kekerasan seksual dalam rumah tangga. Sebagai perempuan, saya jadi ingin sedikit saja berbagi pengalaman saya dalam vaksinasi kanker serviks. Saya bukan dokter, perawat ataupun lulusan ilmu kesehatan lainnya, jadi saya tidak akan membahas detail tentang penyakit kanker serviks. Saya akan berbagi pengalaman, tentang proses dan tahapan dalam vaksinasi kanker serviks. Tapi sebelumnya, yuk kenalan dengan kanker serviks secara sekilas dari beberapa hasil penelitian yang sudah ada.

Kanker Serviks di Indonesia

Kanker serviks di merupakan penyakit kanker paling banyak kedua diderita dan mematikan bagi perempuan di Indonesia setelah kanker payudara. Data WHO tahun 2014 menunjukkan kanker serviks diderita oleh 20.928 perempuan. Pada tahun 2018, HPV Information Centre menunjukkan bahwa dalam setiap tahun, rata-rata terdapat hampir 32.500 kejadian kanker serviks baru. Setiap tahunnya, kanker serviks merenggut nyawa 18.000 perempuan Indonesia.

Kanker Serviks di Indonesia

Sedih banget sih lihat datanya. Kalau dihitung rasio penderita kanker serviks dibandingkan jumlah perempuan di Indonesia sih keliatannya kecil, hanya nol koma sekian. Tapi, kematian 18000an perempuan per tahun itu tetap rasanya terlalu besar ya.

Penyebab Kanker Serviks

Wait, tapi udah pada tahu kanker serviks atau belum sih? Udah tahu apa itu serviks?

Serviks, atau nama lainnya leher rahim, adalah bagian dalam organ reproduksi perempuan, sebagai pintu menuju rahim. Serviks beda sama vagina ya gaes. Tahu kan? Tahu juga kan kalau lubang vagina beda sama lubang uretra untuk saluran kencing? Eh udah udah, nanti lanjut jadi pelajaran Biologi.

Nah kanker serviks ini, salah satu penyebab utamanya adalah sebuah virus bernama Human Papiloma Virus (HPV). Selain itu ada penyebab lain juga terkait gaya hidup yang tidak sehat. Virus HPV ini terutama ditularkan melalui hubungan seksual. Memang, infeksi HPV sampai akhirnya menjadi kanker serviks membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa sampai 20 tahun. Tetapi, tetap perlu dicegah kan.

Pencegahan Kanker Serviks : Hidup Sehat, Deteksi Dini dan Vaksinasi

Sederhana, kalau mau sehat ya gaya hidupnya sehat lah. Untuk hidup sehat ini saya juga masih belajar. Terutama belajar olahraga teratur. Hehehe. Yang pasti hidup sehat memang salah satu ikhtiar kita untuk mencegah semua penyakit, termasuk kanker serviks.

Pada dasarnya kanker serviks bisa diobati jika sudah terdeteksi sejak awal. Deteksi dini kanker serviks umumnya bisa dilakukan dengan dua tes berikut, yaitu Pap Smear dan Tes IVA. Kedua tes ini sama-sama dilakukan dengan memasukkan alat ke dalam liang vagina. Tes ini memang sebaiknya dilakukan oleh perempuan yang sudah aktif secara seksual. Buat yang belum aktif secara seksual, bayanginnya saja udah kerasa ngilu kan.

Bedanya, kalau IVA (singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dilakukan dengan mengoleskan asam asetat ke serviks, sedangkan Pap Smear dilakukan dengan mengambil sel yang ada di serviks menggunakan sikat halus. Sekali lagi, kedua tes ini adalah deteksi dini yhaaa gaes. Jika hasil dari tes ini ada sesuatu yang abnormal pada serviks, perlu dilakukan serangkaian tes yang lain.

Tahu banget Mba? Udah pernah tes ya? | Belum lah Ferguso. Ini karena banyak-banyak baca aja. Makanya baca, jangan kepo dan nyinyir terus.

Nah kalau yang satu ini saya sudah pernah, yaitu vaksinasi HPV. Yaps, salah satu pencegahan penyakit yang disebabkan oleh virus dilakukan dengan vaksinasi. Lanjut bawah deh vaksinasi untuk HPV sebagai pencegahan kanker serviks itu seperti apa.

Pengalaman Vaksinasi Gardasil, Sebuah Usaha Pencegahan HPV

Pada tahun 2012, saya mendengar bahwa kanker serviks dapat dicegah dengan vaksinasi. Saya mulai tertarik tetapi tidak banyak informasi lain yang saya dapatkan. Hingga pada akhir tahun 2014 saya mendapat brosur dari sebuah rumah sakit di Surabaya, Rumah Sakit Bedah Surabaya (sekarang berubah nama jadi Rumah Manyar Medical Center Surabaya), tentang vaksinasi kanker serviks, menggunakan vaksin gardasil.

Di dalam brosur dijelaskan tentang harga paket vaksinasi kanker serviks. Iya bentuknya paket, karena vaksinasi tidak dilakukan hanya sekali suntikan, tapi 3 kali suntik. Harga yang ditawarkan dalam brosur itu adalah Rp 2.500.000 per paket. Lumayan lah ya, untuk karyawan semacam saya waktu itu.

Setelah menguras uang bonus tahunan, saya pun dengan mantap melangkah datang sendirian ke RS Bedah Surabaya. Setelah saya sempat telepon ke RS Bedah Surabaya dan saya diarahkan untuk datang ke dokter kandungan. Iya, saya masih single tapi sudah pernah ke dokter kandungan.

Sampai di ruangan dokter, saya bertemu dengan dokter kandungan laki-laki. Sebenarnya saya deg-degan, takut dan malu kalau ada sejenis pemeriksaan pada organ kewanitaan saya. Dokter pun menjelaskan secara singkat tentang vaksin Gardasil ini. Vaksin ini lebih efektif jika disuntikkan kepada perempuan yang belum pernah berhubungan seksual. Bukan berarti vaksin ini tidak boleh diberikan kepada perempuan yang sudah pernah berhubungan seksual. Tetapi efek vaksin pada perempuan yang sudah berhubungan seksual akan kurang karena bisa saja kemungkinan virus tersebut sudah masuk ke serviks si perempuan karena hubungan seksual yang dilakukannya.

Setelah menjelaskan sekilas, dokter kandungan pun bertanya “Sudah pernah melakukan hubungan seksual?” Yang ini harus dijawab jujur ya gaes. Karena jika sudah melakukan hubungan seksual, harus dilakukan Pap Smear dulu. Jika belum melakukan hubungan seksual, vaksinasi bisa dilakukan tanpa Pap Smear terlebih dahulu.

Pertanyaan selanjutnya yang boleh dijawab asal. Hehehe. “Rencana mau nikah kapan Mba?” . Kenapa pertanyaannya seperti itu? Karena suntikan pertama vaksin ini lebih efektif jika dilakukan minimal 6 bulan sebelum melakukan hubungan seksual (atau menikah).

Kok suntikan pertama 6 bulan sebelum menikah? Iya karena secara keseluruhan vaksin Gardasil ini diberikan dalam jangka waktu 6 bulan. Vaksin pertama di bulan ke 0, vaksin kedua di bulan ke 1, dan vaksin ketiga di bulan ke 6. Sekadar ilustrasi, saya vaksin pertama di 31 Januari 2015, vaksin kedua tanggal 7 Maret 2015 dan vaksin ketiga 4 Agustus 2015.

Setelah menjelaskan dan saya mantap untuk disuntik. Dokter pun mengambil vaksin Gardasil yang sudah disiapkan sebelumnya dan menunjukkan kepada saya bahwa vaksinnya masih tersegel. Satu ampul vaksin itu pun masuk ke tubuh saya lewat suntikan di lengan atas. Untung rasanya cuma seperti digigit semut sehingga saya tidak perlu menggigit dokternya saking sakitnya (Soalnya ke dokternya sendirian ga ada yang nemenin).

Selesai disuntik, dokter pun mengatur jadwal pertemuan selanjutnya sampai pertemuan ketiga. Dokter pun mengingatkan untuk kontak terlebih dahulu ke pihak rumah sakit, agar vaksin Gardasilnya disiapkan dulu, karena vaksin ini masih terbatas. Diingatkan juga bahwa vaksin ini efektif selama 10 tahun. Jadi kalau sudah 10 tahun diharapkan vaksinasi lagi.

Tertarik sama vaksin Gardasil ini? Saya coba kasih tips ya

Tips Biar Bisa Vaksinasi Gardasil

Salah satu yang memberatkan untuk vaksinasi Gardasil ini adalah biayanya. Beberapa tahun lalu, Pemerintah DKI pernah mengadakan program vaksinasi HPV gratis untuk anak SD. Program ini sempat menjadi kontroversi karena beredarnya isu bahwa vaksin HPV ini menyebabkan kemandulan dan menopause dini. Padahal secara penelitian, isu ini tidak terbukti benar. Pemkot Surabaya juga pernah melakukan program serupa. Salah satu PMA asal Korea Selatan yang punya pabrik di Jombang juga mempunyai program vaksinasi HPV gratis untuk semua karyawan perempuannya. Di beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru, Srilanka, dan Malaysia, vaksinasi HPV gratis sudah menjadi program nasional.

Karena di Indonesia masih belum benar-benar gratis, berarti harus banget kita berusaha agar bisa beli vaksin sendiri. Dengan harga yang lumayan, lebih dari Rp700.000 per vaksin (dikali 3 jadi Rp2.100.000), vaksin Gardasil ini seakan tidak terjangkau buat kita para milenial sobat miskin. Tapi sebenarnya coba aja beberapa tips di bawah ini :

  • Menabung donk. Udah tahu kan perkiraan harganya berapa. Daripada dipakai buat ngopi cantik terus, buat belanja kosmetik, skin care atau baju, mending ditabung buat beli vaksin
  • Cari promo rumah sakit tertentu. Beberapa rumah sakit menyediakan paket tertentu untuk vaksin Gardasil. Paket ini biasanya akan ada diskon/promo pada masa-masa tertentu misal Hari Kartini, Ulang Tahun RS dll. Jadi sering-sering cari promo aja dengan kontak ke RS tertentu. Informasi di situs RS cenderung masih jarang. Tapi brosur biasanya bisa dengan mudah didapatkan di rumah sakit. Sekadar informasi, untuk paket serupa di RS Bedah Surabaya, yang tahun 2015 lalu sekitar Rp2.500.000 sudah jadi Rp 2.995.000 (Sumber : Situs Resmi RS Manyar Medical Center Surabaya). Kalau data di https://www.alodokter.com/cari-rumah-sakit/ginekologi/vaksin-hpv/surabaya, biaya vaksinasi Gardasil di Surabaya berkisar antara Rp2.700.000 – 2.900.000
  • Beli vaksin sendiri. Ini bisa dijadikan salah satu opsi bisa lebih murah. Beberapa teman saya yang bekerja di kesehatan sempat menawari saya dengan harga lumayan lebih murah. Tapi memang salah satu ketakutan saya, apakah vaksinnya asli? Beli sendiri ini juga bisa jadi opsi, karena kalau paket di rumah sakit biasanya sudah termasuk harga kunjungan ke dokter kandungan, yang berkisar Rp100.000an.
  • Potong anggaran untuk pre-wed, katering atau souvenir. Ini penting juga nih. Daripada uangnya banyak digunakan untuk keperluan nikah yang sebenarnya sifatnya sekunder atau tersier seperti pre-wedatau souvenir, mending dialihkan atau dikurangi sedikit lah buat beli vaksin Gardasil. Lebih bermanfaat buat jangka panjang. Lha kalau kamu gimana Mba? | Kalau saya kan sudah tuh vaksinasi Gardasilnya, jadi terserah donk mau pre-wed atau enggak. Wkwkwkwkwkwkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s