Romansa di Balik Perkembangan Kretek di Indonesia (Review Novel Gadis Kretek)

 

Meskipun ada istilah “Don’t judge a book by its cover”, tapi jujur sih tertarik dengan novel “Gadis Kretek” karena lihat sampulnya. Beberapa kali melewati rak toko buku, novel bergambarkan seorang gadis Jawa berkebaya yang sedang merokok terlihat menarik. Judulnya menarik juga sih, sebagai salah satu penerima beasiswa salah satu perusahaan rokok kretek di Indonesia, cerita tentang kretek cukup ada yang saya tahu.

Novel ini dikarang oleh Ratih Kumala, yang juga pengarang novel Tabula Rasa yang sudah pernah difilmkan. Ratih Kumala adalah istri dari Eka Kurniawan yang juga penulis, so sweet banget ya. Novel Gadis Kretek saat ini sudah diterjemahkan ke dalam dua bahasa, English dan German. Dalam edisi English, novel ini berjudul Cigarette Girl  yang diterbitkan juga oleh penerbit yang sama dengan novel Gadis Kretek, yaitu Gramedia Pustaka Utama. Versi German buku ini berjudul Das Zigarettenmadchen yang diterbitkan oleh penerbit di Jerman.

GADIS-KRETEK_29032012134046

Gadis Kretek

Awal novel ini menggambarkan tentang sakitnya seorang pemilik perusahaan kretek terbesar di Indonesia saat ini yang bernama Pak Raja (baca : Raya). Di saat mendekati ajal, bukannya menyebut nama istrinya, Pak Raja malah menyebut nama Jeng Yah. Siapakah Jeng Yah? Apa mungkin mantan pacar Pak Raja dan Pak Raja belum bisa move on?

Untuk mencari si Jeng Yah ini, akhirnya ketiga anak Pak Raja yang masing-masing punya kepribadian berbeda yaitu Tegar, Lebas dan Karim pun berangkat ke “Kota M”. Novel ini tidak hanya menceritakan perjalanan mereka menemukan Jeng Yah, tetapi juga cerita masa lalu perkembangan kretek terutama di Kota M yang berkaitan dengan Pak Raja dan Jeng Yah ini. Jadi siapakah Jeng Yah ini? Ga mau spoiler ah.Baca bukunya aja.

Novel ini mencoba menggambarkan perkembangan kretek di Indonesia yang dibungkus dalam cerita roman. Kita tidak kan mendapatkan detail cerita tentang bagaimana masyarakat Kudus akhirnya memproduksi kretek yang konon katanya juga baik untuk kesehatan. Perkembangan kretek di novel ini lebih banyak menceritakan persaingan dalam industri kretek di salah satu kota di Jawa Tengah, lebih tepatnya di Kota “M”. Kita akan banyak tahu tentang klembak menyan, kretek klobot, etiket dan berbagai istilah lain dalam dunia kretek.

Persaingan yang terjadi pada novel ini tidak hanya sekedar persaingan bisnis, tetapi persaingan ambisi dan wanita. Sesuai dengan judulnya “Gadis Kretek” pasti ada wanita yang menjadi tokoh sentral di sini. Menurut saya, tidak hanya Jeng Yah yang berperan dalam cerita novel ini. Ibu Jeng Yah yang bernama Roemaisa-lah yang menjadi tokoh sentral yang mengakibatkan persaingan antar dua pabrik rokok kretek pada saat itu.

Satu yang menarik dari novel ini, nama “Kota M”. Awalnya sih saya kira latar tempat novel ini akan banyak mengambil kota Kudus yang terkenal dengan sebutan Kota Kretek. Ternyata, “Kota M” yang menjadi latar utama dari novel ini.  Masih penasaran sih kenapa kota ini harus diberi inisial. Saya sempat kira “M” itu salah satu nama kecamatan di Kudus. Tapi dari beberapa petunjuk seperti kota di antara Yogya dan Temanggung, kemudian kota yang terkenal dengan wajiknya, sepertinya Kota M yang dimaksud dalam novel ini adalah Muntilan. Ditambah lagi, memang kakek dari Ratih Kumala ini pernah punya pabrik rokok di Muntilan.

Peta Jawa Tengah

Kota M

Kalau mau bacaan yang ringan tetapi menambah pengetahuan, buku ini layak buat dibaca lho.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s