#NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial

 Maafkan lama ga isi blog. Kekurangan bahan mungkin ya. Maklum lama ga traveling, kerjaan lumayan “ehem” juga, hati lagi “ehem” juga. Nonton film Indonesia masih sering sih, tapi belum nemu yang klik buat ditulis, ya mirip kaya belum klik nemu jodoh. Ehemm lagi.

Yang baru di postingan kali ini, aku mau mulai bikin #NeserKepo. Sejenis tulisan-tulisan yang ditulis dari hasil kekepoan Neser terhadap berbagai fenomena yang ada di lingkungannya. Hasil kekepoan itu nanti bisa hasil dari desk research biasa, atau mungkin survei ala-ala di media sosial. Seperti salah satu survei lewat Google Forms yang pernah aku share beberapa waktu lalu untuk dapetin #NeserGiveAway. Biar sekeren tirto.id atau beritagar atau kumparan, yang isinya beberapa riset lainnya sih. Ya setidaknya biar keahlian kepo ini berkembang, risetnya receh dan ga penting-penting banget. Kalau kata si “ehem”, beberapa negara maju malah sudah mulai bikin riset-riset yang ga penting gini. Apalah aku mah, maju aja enggak, ya gini-gini aja.

Social Media.jpg

#NeserKepo kali ini mau mengambil topik tentang media sosial. Terutama tentang fenomena penggunaan fitur Story/Live di beberapa media sosial. Kalau di fitur “Story”, biasanya kita bisa update foto/video dengan durasi kurang dari 1 menit, yang akan hilang tayang setelah 24 jam. Kalau di “Live”, kita bisa bisa update video yang langsung bisa ditonton saat itu juga sama friend/follower kita yang online dan yang pasti mau nonton kita. Mirip sama sok ala-ala acara TV yang live gitu. Jadi kita serasa punya channel/acara TV sendiri. Berapa media sosial sudah mulai memasukkan fitur-fitur ini dalam aplikasinya.

Dari survei ala-ala yang hanya diisi oleh 39 orang responden (Makanya ga bikin grafiknya, dikit sih. Hahahaha), kalau diurutkan 3 besar media sosial yang aktif digunakan, ternyata urutannya adalah WhatsApp, Instagram dan Facebook. Aplikasi Path yang booming sekitar 3-4 tahun lalu ternyata penggunanya kayaknya sudah mulai berkurang. Dari 39 responden yang jawab, hanya 10 orang yang aktif ngePath. Aku sendiri juga sudah tidak seantusias dulu pas awal-awal ada Path yang dikit-dikit update, lagi makan di mana gitu, update, ke luar kota update, galau dengerin lagu, update. Path yang dulu terasa private, karena dibatasi 150 orang pertemanan saja, kemudian naik jadi 500, kemudian nambah lagi sekarang ada fitur Following kaya media sosial yang lain. Penggunaan Path kalah dibandingkan LINE, yang kalau di survei ini ada di urutan nomor 4. Mungkin salah satunya karena LINE setiap hari akan kasih berita terbaru lewat LINE TODAY, yang kadang captionnya agak ga penting dan ga nyambung.

Apa kabar Twitter? Media sosial ini uda banyak yang ninggalin juga kayaknya, mungkin karena banyak buzzer dan twitwar. Tapi, aku sekarang malah lebih aktif di sana juga. Cek @neserike deh kalau ga percaya. Kalau media sosial yang bisa update location, posting foto ataupun bisa bikin caption panjang, mulai jadi tempat pamer segala macam rupa duniawi, aku lebih memilih Twitter untuk mengungkapkan ide, opini dan juga kegalauan akan si “ehem”. Pakai Twitter juga asik, bisa update berita ataupun artikel terkini dari Hipwee, Mojok dll tanpa perlu buka situsnya dulu. Beberapa public figure favorit juga masih update di Twitter, kaya Teh Wina, pasangan Mas Adhit Teh Ninit bahkan Gus Mus yang selalu update #TweetJumat-nya. Lebih bermanfaat dibandingkan liat Lambe Turah kan yes.

Balik lagi ke masalah fitur “Story”, kalau tidak salah media sosial yang duluan pake fitur ini adalah Snapchat, yang bener-bener memfokuskan aplikasinya pada update di media sosial yang hanya bisa dilihat pada durasi tertentu, tidak akan tersimpan selamanya. Namun lama kelamaan, banyak banget media sosial yang bikin fitur ini. Di antaranya adalah media sosial punyanya grup Facebook, yaitu Facebook, Instagram dan WhatsApp. Ada juga si Path yang bikin coverstory juga, tapi kayaknya kurang banyak yang pake. Lama-lama media sosial kok sama aja. Hahahaha.

Kalau fitur “Live” alias siaran langsung, awalnya ada Periscope, yang masuk keluarga Twitter. Tapi kayaknya pas keluar di 2015, aplikasi Twitter lagi sepi, jadi Periscope sepi juga. Saat ini Periscope terintegrasi langsung sama Twitter, tapi sih juga sepi juga. Dua media sosial keluarga Facebook, yaitu Facebook dan Instagram, juga ga mau kalah dengan menggunakan fitur “Live” ini. Dan, kedua media sosial ini yang fitur “Live”-nya banyak digunakan.

Kalau berbicara tentang penggunaan kedua fitur ini, kemunculan “Story” dan “Live” memicu perubahan perilaku pengguna media sosial dalam posting di media sosial. Dari 39 responden yang mengisi, hanya sekitar 5% yang mengaku tidak suka posting baik di “Story”/”Live” dan Timeline-nya. Namun ternyata, hampir separuh yang mengaku suka posting di media sosial baik di “Story”/”Live” dan Timeline-nya. Sisanya ada yang masih tetep suka posting di Timeline saja ataupun lebih suka di “Story”/”Live” saja.

Apa sih yang buat pengguna media sosial suka posting di “Story”/”Live”? Ternyata yang pasti adalah “pingin update”. Selain “pingin update” saja, ternyata alasan lain  adalah “pingin update tapi ga mau postingnya ngerusak timeline sendiri”. Ini kayaknya sih yang jawab yang suka pakai “Story” di Instagram. Selain tidak mau merusak Timeline dengan posting galau, receh atau nyampah, yang pasti juga biar postingan­-nya ga keliatan di Timeline dan ga keliatan kalau pas di-stalking.

Fitur “Story” terutama di Instagram, punya banyak stiker, emoticon dan berbagai jenis content lain. Tapi ternyata yang paling banyak di-posting adalah video, foto dan tag lokasi. Sejenis mulai menggantikan Path ya kayaknya. Selain itu, beberapa content yang di-posting antara lain gambar hitam dengan lagu atau quote (ini aku kalau nyampah banget sih), hashtag (ini penting buat yang jualan atau buzzer juga), serta waktu dan suhu udara terupdate.

Nah sebenarnya dari “Story” yang pernah kalian posting, viewers kalian itu ngapain aja sih. Bisa dibilang, ngeliatin “Story” itu ngabisin kuota banget. Aku pernah cek di Soniyemku sendiri, jumlah kuota data per bulan itu sebagian besar abis buat Instagram. Kayaknya sih salah satunya buat ngecekin “Story”. Nah kalau dari 39 responden yang isi surveiku. Ternyata lebih dari separuh responden (51.3% tepatnya) hanya melihat “Story” itu sekilas saja, tidak sampai selesai. Wahahaha, duh ternyata banyaknya views tidak berarti kalau “Story” yang kita update bener-bener dilihat ya. Yang mau melihat sampai selesai, hanya sekitar 35.9% dari 39 orang.

Lucu-lucu sih sebenarnya ngeliat media sosial sekarang. Tanpa kita sadari kadang kita serasa pamer. Tapi si “ehem” bilang “riya atau enggak tergantung niatnya”. Dengan niat mengurangi pameran dan kegalauan aku, aku agak sedikit mengurangi posting di media sosial ya. Hehehehe.

Trus ini grafiknya mana? Wait, resolusi buat pinter design infografis masih hanya sekedar resolusi, sama seperti resolusi dapetin jodoh. Ehem lagi.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s