Ucapkan Selamat Tinggal pada Facebook : Neser Ike Cahyaningrum dan Instagram @neserike

Sore itu tidak biasanya kata-kata ketus dan menyakitkan diketik oleh jari saya dan terkirim ke nomor WhatsAppnya. Berawal dari kejengkelannya karena saya terlalu kepo berlebihan, membuatnya menulis kejengkelannya tersebut di WhatsApp Story. Saya marah “Kalau ada masalah sama aku, jangan nyindir bikin status di media sosial, sini diomongin baikbaik“. Saya semakin mengungkit banyak hal yang terjadi di antara kami, saking jengkelnya dengan ketidakdewasaannya pada saat itu, sampai saya bilang “Maaf kamu egois“.

Besok paginya, saya memutuskan deactivated akun Facebook dan Instagram dan uninstall keduanya aplikasi tersebut dari smartphone saya. Setelah dibilang kepo, saya awalnya marah, tetapi saya sadar saya memang terlalu berlebihan.

Itu sekilas drama yang bisa menjawab latar belakang awal dari pertanyaan teman-teman “Instagrammu udah gak aktif, Nes?” .

Continue reading

Media Sosial dan Stereotip yang Menempel pada Penggunanya

Mau nulis tentang media sosial dari  beberapa tahun lalu belum keturutan. Sempat sih kapan hari nulis tentang penggunaan story di sini #NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial. Kali ini menjelang Ajang Pungut Suara (pinjam istilah yang ada di buku Ular Tangga karangan Anindits S.Thayf) media sosial akan jauh lebih riuh dari biasanya, sepertinya menarik juga kalau dibahas nih tentang beberapa stereotip yang menempel pada pengguna masing-masing media sosial. Masih sekadar stereotip ya bukan hasil penelitian kuantitatif dengan sampel tertentu. Beberapa adalah hasil pengamatan dari saya sendiri sebagai pengguna media sosial.

social-media.jpg

Facebook dan Home yang Isinya Hampir Penuh dengan Reshare

Facebook mulai ramai digunakan oleh generasi saya di sekitar tahun 2009an. Dengan fitur yang masih tidak banyak, Facebook menjadi media curhat dan alay paling banyak digunakan di masa itu. Tidak jarang kita menemukan nama alay (termasuk saya juga sih, pernah pakai nama “Nduk Nez”). Kalau kita sering buka “Kenangan” yang disediakan Facebook, pasti kita bisa menemukan beberapa status alay di tahun-tahun itu.

Tiga tahun terakhir, Facebook mulai ramai dengan generasi Y yang usianya sudah masuk kepala 4 tapi baru kenal media sosial ini. Mirip dengan kita generasi milenial sewaktu media sosial ini ngehits, mereka yang lebih dewasa dari kita pun ikutan alay. Tidak jarang kita melihat status yang galau, curhat ataupun nyindir pasangan sendiri.

Continue reading

#NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial

 Maafkan lama ga isi blog. Kekurangan bahan mungkin ya. Maklum lama ga traveling, kerjaan lumayan “ehem” juga, hati lagi “ehem” juga. Nonton film Indonesia masih sering sih, tapi belum nemu yang klik buat ditulis, ya mirip kaya belum klik nemu jodoh. Ehemm lagi.

Yang baru di postingan kali ini, aku mau mulai bikin #NeserKepo. Sejenis tulisan-tulisan yang ditulis dari hasil kekepoan Neser terhadap berbagai fenomena yang ada di lingkungannya. Hasil kekepoan itu nanti bisa hasil dari desk research biasa, atau mungkin survei ala-ala di media sosial. Seperti salah satu survei lewat Google Forms yang pernah aku share beberapa waktu lalu untuk dapetin #NeserGiveAway. Biar sekeren tirto.id atau beritagar atau kumparan, yang isinya beberapa riset lainnya sih. Ya setidaknya biar keahlian kepo ini berkembang, risetnya receh dan ga penting-penting banget. Kalau kata si “ehem”, beberapa negara maju malah sudah mulai bikin riset-riset yang ga penting gini. Apalah aku mah, maju aja enggak, ya gini-gini aja.

Social Media.jpg

#NeserKepo kali ini mau mengambil topik tentang media sosial. Terutama tentang fenomena penggunaan fitur Story/Live di beberapa media sosial. Kalau di fitur “Story”, biasanya kita bisa update foto/video dengan durasi kurang dari 1 menit, yang akan hilang tayang setelah 24 jam. Kalau di “Live”, kita bisa bisa update video yang langsung bisa ditonton saat itu juga sama friend/follower kita yang online dan yang pasti mau nonton kita. Mirip sama sok ala-ala acara TV yang live gitu. Jadi kita serasa punya channel/acara TV sendiri. Berapa media sosial sudah mulai memasukkan fitur-fitur ini dalam aplikasinya.

Continue reading