Yang Berbeda di Karimun Jawa

Siapa yang tidak kenal dengan Karimun Jawa, sebuah kepulauan di utara Jepara yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Kalau menceritakan tentang itinerary perjalanan kesana dan keindahan alam di sana kayaknya udah terlalu mainstream ya. Pengunjung Karimun Jawa sudah cukup banyak, terbukti dari penuhnya KM Siginjai yang digunakan untuk penyeberangan Jepara – Karimun Jawa. Jadi, saya coba untuk bercerita tentang beberapa insight selama berwisata ke Karimun Jawa sewaktu liburan Natal kemarin

Karimun Jawa itu Ga Ndeso

“Karimun Jawa? Nyebrang 5 jam? Tidur di rumah penduduk? Cuma ada lampu pas malem? Ndeso banget donk”. Jujur, beberapa pertanyaan itu sering bermunculan di kepala saya sebelum akhirnya menjejakkan kaki di pulau ini. Bayangan saya awalnya tidur di rumah penduduk di pulau terpencil itu rumah penduduknya masih berlantaikan tanah, paling bagus semen lah, rumahnya dari kayu atau bambu. Pas googling pun, karena fokusnya ke obyek wisata, ga sempat kepoin informasi tentang penginapan secara detail.

Dan ternyata, semua di luar dugaan. Karimun Jawa sama seperti Jawa pada umumnya. Perkembangan pariwisata di Karimun Jawa ikut membangkitkan perekonomian di kecamatan yang berbentuk kepulauan tersebut. Rumah penduduk sebagian besar sudah berlantai keramik, minimal tegel lah. Sudah bertembok semen, dan tidak jarang pula yang rumah yang berlantai dua.

DSC_0651

Karimun Jawa di Pagi Hari

Karimun Jawa itu tidak sendeso yang kukira. Memang sih belum ada minimarket waralaba yang biasanya jadi parameter ndeso-nya suatu tempat, tapi Karimun Jawa itu sudah rame. Di pagi hari biasanya mobil travel sudah lalu lalang menjemput wisatawan di masing-masing penginapan. Penduduk setempat pun sudah memulai aktivitasnya dengan kendaraan masing-masing. Di malam hari, biasanya wisatawan akan keluar dari penginapan dan jalan-jalan mencari makan atau oleh-oleh. Kalau dibandingkan dengan rumah saya di Magetan, kayaknya lebih rame di Karimun Jawa deh. Rumah saya lebih ndeso.

Continue reading

Advertisements

Singgah Sebentar Stalking Semarang

Sebenernya tujuan utama perjalanan kali ini bukanlah kota Semarang, tapi Dieng. Tapi setidaknya transit sebentar ke kota ini juga tidak rugi. Sebenarnya ke kota ini sudah berkali-kali, berkeliling juga pernah, tapi rasanya masih excited kalau mau ke kota lumpia ini.

Namanya juga stalking,  isinya bukan cerita traveling mainstream.

  1. Kereta Delay

Perjalanan kali ini, dengan tema backpacker ala-ala dengan adik kesayangan. Teman traveling yang pokoknya mau aja ikut jalan jalan, asalkan dibayarin. Jumat pagi yang kebetulan libur, kami sudah siap jam 5.30 pagi di Stasiun Pasar Turi menunggu kereta ekonomi Maharani yang akan membawa kami menuju Stasiun Poncol. Jadwal seharusnya kereta ini berangkat pukul 6 tepat, dan akan tiba di Semarang Poncol pukuk 10.45. Jam 6 kurang, petugas stasiun pun sudah memberikan pengumuman bagi penumpang kereta Maharani untuk bersiap-siap. Lokomotif sudah mulai masuk ke dalam peron. Tetapi, berapa saat kemudian lokomotif terhenti di tengah-tengah. Beberapa saat kemudian petugas stasiun mengumumkan bahwa ada kerusakan pada kereta penggerak dan harus diperbaiki. Baiklah, keretanya delay. Mencoba untuk tidak mengeluh, akhirnya aku dan adikku pun menuju ruang tunggu eksekutif yang disediakan stasiun sebagai kompensasi bagi penumpang kereta Maharani untuk keterlambatan ini. Kebetulan juga sih, pas jam itu tidak ada jadwal keberangkatan untuk kereta Eksekutif.

  1. Sambutan Sampah Menuju Stasiun Tawang

Mulai masuk ke daerah rawa-rawa, “Ini sepertinya sudah mau masuk Stasiun Tawang” pikirku. Dan benar kereta pun mulai melambat, dan mulai disuguhi pemandangan yang memprihatinkan. Gunungan sampah di pinggir rel, seperti menjadi sambutan Selamat Datang di Stasiun Tawang. Pantas aja sih, kalau misalkan daerah Stasiun Tawang ini sering banjir, selain daerahnya yang rawa-rawa mulai masuk pesisir, sampahnya aja menggunung kaya gini.

Tumpukan Sampah di Dekat Rel Menuju Stasiun Tawang

Tumpukan Sampah di Dekat Rel Menuju Stasiun Tawang

Continue reading