Bagaimana Kita Bisa “Merusak Bumi dari Meja Makan?”

“Loh emang ada hubungannya meja makan sama bumi? Maksudnya kalau kita pakai kayu hasil penebangan liar gitu buat bikin meja makan?”

Buku karangan M. Faizi ini membuka pikiran kita tentang betapa jahatnya kita kepada Ibu Bumi dengan perilaku kita di meja makan. Perilaku kita yang seringkali gelap mata dengan makanan yang turut serta berkontribusi dalam menambah jumlah sampah makanan. Tidak hanya sekadar menguraikan masalah sampah dari aspek ekologi dan lingkungan, dengan latar belakang penulis yang merupakan lulusan pesantren, kita juga diajak merenungkan sampah makanan dari aspek agama, terutama agama Islam.

Buku “Merusak Bumi dari Meja Makan”

Sisa Makanan

The Economist Intelligence Unit telah mengeluarkan infografis tentang food waste di dunia. Hasilnya, Indonesia berada di peringkat ke-2 negara dengan sampah makanan per orang terbesar di dunia, setelah Saudi Arabia. Dalam setahun, satu orang di Indonesia bisa membuang sampah makanan sebanyak 300 kg. Kebayang kan 300 kg seberapa banyaknya. Sebuah hal yang menarik buat diselidiki lebih lanjut, 3 dari 4 negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim. Padahal di dalam Islam, kita juga diajarkan untuk tidak mubadzir. Sebagai orang Islam, sepertinya saya perlu introspeksi diri nih, bagian mana dari kehidupan saya yang tidak sesuai dengan ajaran tersebut

Infografis Food Loss and Waste

Kenapa sampah makanan sepenting itu sih? Di sisi lain banyak orang yang istilahnya nyampah, menghamburkan sampah makanan, di sisi lainnya masih banyak penduduk dunia yang kelaparan. Mungkin bahkan orang itu ada di sekitar kita.

Continue reading

Film “Semesta”, Bersama-sama Merawat Bumi Indonesia

Aura Nicholas Saputra menjadi daya tarik awal yang membuat saya menonton trailer film yang diproduksinya dengan Mandy Marahimin ini. Topik yang diangkat tentang perubahan iklim di Indonesia membuat saya merasa harus menonton film yang tayang terbatas ini. Setelah menunggu 2 minggu setelah tayang pertama pada tanggal 30 Januari 2020, akhirnya film “Semesta” ini sampai juga di Surabaya pada tanggal 13 Februari 2020.

Film yang disutradarai oleh Chairun Nisa ini menceritakan tentang 7 orang di 7 daerah yang berjuang merawat lingkungannya masing-masing. Ketujuh orang ini beragam dalam hal lokasi, suku maupun agama dan kepercayaan yang mereka miliki. Tapi, mereka semua punya satu tujuan yang sama, menjaga bumi Indonesia menghadapi perubahan iklim yang semakin menggila.

Official Trailer Film Semesta

Perubahan iklim di dunia, termasuk di Indonesia, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat urban dengan suhu yang makin panas. Penduduk yang di pedalaman yang kita anggap dekat dengan alam, juga merasakan akibat dari perubahan iklim. Mulai dari bencana alam sampai berkurangnya bahan pangan yang biasanya mudah diambil dari alam. Perubahan iklim menjadi tanggung jawab kita semua, entah kita tinggal di kota ataupun tinggal di dalam hutan.

Ketujuh sosok inspiratif ini dengan sederhana menggunakan kemampuan dan pengaruhnya memberi manfaat untuk lingkungan sekitar. Tidak harus menjadi orang besar untuk membuat perubahan.

Dua dari tujuh tokoh di dalam film ini adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan besar dalam merawat lingkungan dan saling memberdayakan sesama perempuan. Apalagi secara naluriah, perempuan lah yang paling dekat dengan alam dan paling peka jika terjadi perubahan terhadap lingkungan.

Continue reading