Menjadikan #ZeroWaste Bukan Hanya Sekadar Tagar Kekinian

Masalah sampah tidak hentinya diberitakan dan diceritakan. Apalagi setahun terakhir, banyak berita yang menampar tentang sampah di Indonesia. Mulai dari ditemukannya ikan paus yang mati dengan perut yang penuh plastik, sampai data tentang Indonesia sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Belakangan ini tagar #TrashChallenge pun banyak berkeliaran di media sosial, dengan gambar before – after, sebelum dan setelah sampah di sebuah area dibersihkan. Tagar ini pun cukup viral, membuat orang saling berkompetisi membagi foto dan pengalamannya membersihkan sampah yang menggunung.

Bulan lalu, saya terjebak di sebuah acara tentang sampah mikroplastik di kafe favorit saya di Surabaya. Iya, benar-benar terjebak, karena niat saya memang ngopi sambil makan siang. Sambil makan siang, saya pun menguping acara tersebut. Ada satu hal yang masih tertanam di benak saya sampai sekarang “3R dalam pengelolaan sampah : REDUCE – REUSE – RECYCLE”.

Kalau kita renungkan sejenak, ketiga aktivitas tersebut ternyata merupakan dari aktivitas yang paling ekonomis sampai aktivitas paling rumit dan membutuhkan proses atau teknologi.

  1. REDUCE, mengurangi sampah. Aktivitas ini bisa dibilang aktivitas paling ekonomis, dan juga sebenarnya aktivitas pengelolaan sampah yang paling berpengaruh signifikan terhadap pengurangan jumlah sampah di sekitar kita. Aktivitas ini juga merupakan aktivitas yang sulit diterapkan karena butuh niat untuk benar-benar tidak menggunakan/mengonsumsi barang tertentu. Konsep REUSE lebih ke menahan keinginan untuk menggunakan atau membeli sesuatu yang menimbulkan sampah lebih banyak.
  2. REUSE, menggunakan kembali barang yang sudah digunakan. Konsepnya sederhana, barang-barang yang sudah digunakan digunakan kembali. Tapi, tidak semua barang bisa digunakan kembali. Misalkan : botol minuman dari plastik, tidak semuanya bisa digunakan kembali. Sebagian konsep REUSE juga masih menimbulkan kemungkinan kita terlalu mengumpulkan banyak barang di rumah. Misal : Botol minum ini masih bisa dipakai buat tempat pensil di meja rumah. Kenyataannya botolnya masih tergeletak tidak dipakai dan nantinya balik jadi sampah.
  3. RECYCLE, mendaur ulang sampah menjadi barang lain yang bermanfaat. Aktivitas ini cukup mengurangi sampah, tapi memang membutuhkan proses yang tidak sederhana dan beberapa malah membutuhkan teknologi yang canggih

Dari ketiga aktivitas tersebut, menurut saya REDUCE merupakan aktivitas yang paling memberikan dampak untuk zero waste. Zero waste bukan hanya sekadar buang sampah pada tempatnya biar lingkungan terlihat bersih, padahal sebenarnya sampahnya masih dibawa ke tempat penampungan sampah, yang kemudian kita tidak tahu sampahnya diproses seperti apa. Apakah ada proses recycle atau malah menggunung karena penambahan volum sampah yang tidak sebanding dengan proses recycle dan luas tempat penampungan?

Zero waste adalah sebuah usaha untuk tidak menyampah, tidak menambah sampah. Logika sederhananya, jangan ikut menambah sampah kalau belum bisa benar-benar menyelesaikan proses perjalanan sampah yang amat sangat panjang, berliku dan rumit seperti hubungan kita. (Eeeehhh apasihhh ini Nes).

Continue reading
Advertisements

Negeri Dongeng itu bernama Indonesia

Tulisan ini bukan cerita panjangku tentang negeri Indonesia yang aku cintai. Cieeee. Tulisan ini tentang sebuah film berjudul “Negeri Dongeng”, sebuah film yang menggambarkan tentang negeri yang aku cintai ini. (Neser mulai mbulet dan belibet, karena kangen mungkin. Eeeeaaakkk).

Oke, kembali ke topik, “Negeri Dongeng”, sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film yang menceritakan tentang perjalanan menaklukkan 7 puncak gunung di 7 pulau di Indonesia ini diproduksi oleh Aksa 7. Angka 7 ini berarti 7 puncak, 7 pulau oleh 7 ekspeditor (termasuk dengan sinematografer/kameramennya juga). Selain ekspeditor utama, juga ada beberapa ekspeditor tamu seperti Medina Kami, Darius Sinathrya dan Nadine Chandrawinata.

poster-negeri-dongeng-1.jpg

 

Perjalanan mereka dimulai pada bulan November 2014 di Pulau Sumatra, dengan menaklukkan puncak dari Gunung Kerinci, langsung berlanjut ke puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Perjalanan berlanjut pada Januari 2015 di Gunung Rinjani, Lombok dan Gunung Bukit Raya di Kalimantan pada bulan Februari 2015. Sempat berhenti sejenak, perjalanan kembali dimulai di Mei 2015 di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan. Puncak selanjutnya adalah puncak Gunung Binaiya di Pulau Seram, Maluku. Ekspedisi ini ditutup dengan perjalanan paling berat menuju Puncak Cartenz di Papua.

Continue reading

Pantai Tiga Warna Malang, Tambahan Warna Baru bagi Kabupaten Malang

 

Buat yang suka ngepantai cantik, tidak hanya sekedar foto-foto tapi juga menikmati suasana bawah laut, kini Malang Selatan punya pantai yang cukup lumayan untuk melepaskan hasrat nyebur dan ketemu ikan warna-warni. Sebut saja namanya Pantai Tiga Warna. Kebetulan akhir minggu lalu, aku dan teman-teman sempat short trip ke Pantai Tiga Warna. Nah ini sekilas tentang Pantai Tiga Warna.

 

Lokasi dan Medan Perjalanan

Secara geografis Pantai Tiga Warna terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (biasa disingkat Sumawe, serius baru tahu singkatan ini pas lewat sana), Kabupaten Malang. Oh iya, Kabupaten Malang ini beda sama Kota Malang ataupun Kota Batu secara administratif. Ketiga daerah ini memang berada dalam kawasan Malang Raya yang dikenal dengan nama Malang saja. Tapi ketiga daerah ini secara administratif berbeda. Kabupaten Malang sendiri merupakan kawasan paling luas di antara ketiga daerah tersebut, yang sebenarnya memberikan pilihan obyek wisata yang cukup banyak.

Oke kembali ke topik Pantai Tiga Warna. Pantai ini kurang lebih bisa ditempul antara 2-3 jam dari Malang Kota. Kalau dilihat dari Google Maps, kurang lebih berjarak 70 km dari Alun-alun Kota Malang.

Perjalanan menuju Pantai Tiga Warna cukup lumayan menantang dan mengocok perut, karena melewati daerah Malang Selatan yang cukup berbukit dan berkelak-kelok.  Kalau naik sepeda motor, pastikan dalam keadaan baik, kalau naik mobil dan suka mabuk darat, jangan lupa minum obat anti mabuk.

Kawasan ini searah dengan Pantai Sendang Biru, jadi kita akan melewati daerah Turen terlebih dahulu baru kemudian masuk ke wilayah Sumawe. Ketika sampai di pertigaan menuju Sendang Biru, kalau ke Sendang Biru lurus, nah ke Tiga Warna ini belok kanan. Di pertigaan ini juga sudah ada petunjuk yang cukup jelas. Ketika sudah sampai ke pertigaan ini kita bisa melihat perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur yang sudah cukup lebar. JLS ini memang dibangun untuk mempermudah akses wisata ke bagian selatan Jawa Timur yang ternyata punya gugusan pantai yang indah dipandang.

Kawasan Pantai Tiga Warna ini sekompleks dengan area konservasi mangrove yaitu Clungup Mangrove Conservation (CMC). Untuk bisa menuju ke pantai, kita tidak serta merta parkir kemudian langsung bisa melihat pantai. Kita harus berjalan kurang lebih 40 menit dari area parkir motor (kalau dari area parkir mobil lebih jauh). Perjalanan yang cukup membutuhkan perjuangan berat untuk orang yang tidak terbiasa jalan ataupun traveling karena melewati kawasan perkebunan dan perbukitan serta kawasan budidaya mangrove.

DSC_2566.JPG

Kawasan Mangrove

DSC_2559

Harus kuat jalan kaki

Continue reading

Membangun Generasi, Demi Indonesia Bebas Sampah 2020

 

Beberapa malam lalu, salah satu anggota komunitas Kelas Inspirasi Magetan memberi pengumuman di grup Whatsapp Kelas Inspirasi Magetan

“Hari Peduli Sampah Nasional tanggal 21 Februari 2016, lakukan aksi kecil-kecilan yuk.

Pagi kumpul di Alun-alun.Bawa kresek trus ambilin sampah.

#MagetanFreeSpam”

 

Bebas-Sampah-2020.jpg

Indonesia Bebas Sampah 2020

Setelah itu berbagai ide dan masukan menarik di grup. Dan ternyata info tentang Hari Peduli Sampah Nasional tersebut didapatkannya dari email Turun Tangan. Dan setelah saya scroll e-mail, ternyata saya dapat juga. Duh malu, keliatan ya sering mengabaikan e-mail. Keliatan ya kalau bukan relawan aktif di Turun Tangan.

Continue reading