Ramadhan dan Lebaran 2020 : Krisis vs Tradisi

Saya gemas membaca berita tentang berjubelnya pembeli di pusat perbelanjaan di beberapa daerah di masa pandemi Covid-19 ini. Banyak orang memenuhi toko pakaian, untuk membeli baju lebaran. Keramaian ini dikhawatirkan menimbulkan gelombang kedua penyebaran virus Corona di Indonesia. Gelombang satu aja belum kelar woiiii.

Di awal Ramadhan, saya menduga Ramadhan tahun ini akan jauh berbeda. Memang di awal, pusat perbelanjaan banyak yang tutup baik karena PSBB maupun kebijakan masing-masing daerah. Tapi ternyata, menjelang lebaran, beberapa pusat perbelanjaan di beberapa daerah dibuka dan dijubeli oleh pengunjung. Physical distancing apaan. Virus Corona mungkin sedang tersenyum pongah sambil merencanakan strategi untuk pesta karena menemukan banyak inang di kerumunan tersebut. Mulai dari Ramayana di Gresik sampai toko pakaian di Mataram dam Lombok Timur. Belum lagi daerah-daerah lainnya.

Seberapa penting sih sebenarnya baju lebaran dibandingkan keselamatan diri dan keluarga serta keselamatan kondisi keuangan semasa pandemi ini? Banyak yang mengeluh penghasilan berkurang, tapi pengeluaran gaya hidup seperti baju lebaran tetap aja diturutin. Bukankah sebaiknya uang yang ada disiapkan untuk kebutuhan primer di masa pandemi yang masih belum tahu kapan akan berakhir ini?

Continue reading

“Mantan Manten”, tentang Sebenar-benarnya Ikhlas yang Terbalut dalam Budaya Jawa

Pernah ditinggal mantan nikah? Sama sih. Hahahahaha. Okay jangan dilanjut bahas mantan. Bukan baper sih, tapi sudah biarkan mereka sudah bahagia dengan pilihannya, dan kita bahagia dengan pilihan kita sendiri. Lanjut aja bahas film yang bikin ambyar ini.

Trailer memang salah satu faktor yang bisa membuat orang tertarik untuk melihat sebuah film baru. Trailer “Mantan Manten” mengambil sebagian adegan sewaktu prosesi panggih dengan penjelasan filosofi prosesi tersebut. Trailer ini membuat saya tertarik untuk nonton film ini bukan karena kata “mantan” ataupun kata “manten”, tetapi karena sepertinya film ini juga akan menceritakan beberapa prosesi yang dilakukan dalam pernikahan adat Jawa.

Meskipun demikian, menurut saya posternya kurang greget dan membingungkan. Warna pink menunjukkan cinta yang bahagia, tapi ceritanya bukan tentang sepasang kekasih berbunga-bunga. Cerita tentang tradisi Jawa yang menurut saya jadi salah satu kelebihan film ini malah tidak ada di poster. Teman saya yang ikut nonton film ini jadi bingung, ini filmnya tentang apa kok beda sama posternya. Hehehe.

Yasnina Putri (Atiqah Hasiholan) adalah seorang alpha female yang menjadi CEO di sebuah perusahaan manajemen investasi. Selain menjadi CEO, Nina juga aktif mengisi acara tentang investasi di beberapa televisi. Hidup Nina semakin sempurna karena dilamar oleh kekasihnya, Surya (Arifin Putra). Surya ternyata juga anak dari Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo), pemilik perusahaan tempat Nina. Untuk membantu pekerjaannya, Nina dibantu oleh asistenya, Ardy (Marthino Lio).

Namanya hidup, yang sempurna pun pasti ada celanya. Kalau orang bilang “Hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah”. Begitu juga dengan hidup Nina, di puncak kesempurnaan hidupnya, tiba-tiba dia dikhianati oleh atasan dan calon mertuanya sendiri sampai bangkrut dan tidak punya apa-apa. Ardy pun mengingatkan Nina bahwa dia masih memiliki sebuah rumah di kawasan Tawangmangu yang belum dibalik nama, yang bisa dijual dan uangnya digunakan untuk mengurusi masalahnya secara hukum dengan Arifin.

Continue reading