Beda Perempuan Lajang dan Ibu dalam Mengatur Keuangan

Setelah beberapa lama tidak ngoceh tentang duit-duitan, akhirnya punya bahan lagi nih tentang perencanaan yang menarik buat diceritakan. Di bulan April ini kebetulan saya 2 kali ikut acara yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management (PAM). Acara pertama namanya “Friday Talks” dengan topik “Perencanaan Keuangan si Lajang”, sedangkan acara kedua namanya “Savvy Investor Class” dengan topik “Perencanaan Keuangan untuk Ibu”. Kedua acara ini adalah acara bulanan yang rutin diadakan oleh Panin Asset Management. Kalau mau tahu infonya, bisa sambil follow akun Twitter-nya atau bisa pantengin WhatsApp Story saya.

Eh eh kok lajang malah ikut acara Ibu-ibu sih? Belajar tidak harus bergantung pada status pernikahan kan? Lumayan lah ikut acara untuk Ibu-ibu, bisa jadi tambahan bekal sebelum nikah. Lagipula penyelenggara acaranya membolehkan kok.

Baiklah, kita coba lanjutkan ceritanya, apa saja yang saya dapatkan dari dua acara keren tersebut.

Perempuan Lajang vs Ibu

Selain masalah status pernikahan, kepemilikan suami dan/atau anak, apasih yang membedakan antara perempuan lajang dan ibu? Tanpa ngejudge, mari kita coba pelajari perbedaan keduanya terutama dalam masalah keuangan/finansial.

Perempuan lajang yang dibahas di sini terutama adalah perempuan lajang yang bekerja. Karakteristik perempuan lajang yang bekerja adalah mereka punya penghasilan sendiri, mandiri dan sebagian besar bebas menentukan mengatur keuangan mereka.

Namun, dengan segala kebebasan yang dimilikinya, perempuan lajang berpotensi punya banyak masalah dalam pengaturan keuangannya. Kondisi masih sendiri membuat perempuan lajang banyak yang menghabiskan penghasilan dengan prinsip You Only Live Once. Mumpung diskon ah, mumpung masih single jalan-jalan ah, dsb. Beli barang baru maupun traveling itu ga salah kok, tapi tetap ada batasnya kan.

Kondisi single, tidak jarang membuat perempuan kurang punya motivasi buat menabung atau investasi. Para lajang akan lebih suja menunda-nunda kalau disuruh menabung. “Ngapain nabung sekarang? Nanti aja kalau sudah punya suami atau anak”. Dan kemudian ga nikah-nikah dan ga nabung-nabung. Dhuaaarrr.

Nah, kalau jadi ibu tentu enak donk, tinggal minta suami. Belum tentu wahai, Ferguso. Perempuan yang menjadi istri ataupun ibu, punya 3 (tiga) peran dalam keluarga. Perempuan sebagai partner, manager dan dreamer.

Sebagai partner, perempuan harus mendampingi suaminya, dalam suka dan duka, dalam sedih dan senang, dalam gelap maupun terang. Halaaahhh, Nes.

Sebagai manager, perempuan punya peran besar dalam rumah tangga. Mengatur tugas rumah tangga, mengatur menu makan, dan yang pasti juga ikut mengatur keuangan rumah tangga.

Seorang perempuan juga seorang dreamer. Sebagai manusia biasa, perempuan pasti juga punya mimpi/rencana hidup sendiri, sekecil apapun dan sesederhana apapun. Tapi kadangkali rencana-rencana mereka harus terkalahkan dengan rencana umum keluarga, baik suami ataupun anaknya.

Hidup tidak selalu sempurna, perempuan sebagai ibu tidak selalu seperti yang diceritakan di film-film, yang bahagia selamanya. Kemungkinan perempuan menjadi single parent itu lebih besar dibandingkan lelaki. Selain karena fenomenan perceraian yang semakin meningkat, berdasarkan angka harapan hidup, perempuan Indonesia hidup lebih lama dibandingkan laki-laki. Survei dari Badan Pusat Statistik menunjukkan angka harapan hidup perempuan Indonesia adalah 73 tahun, sedangkan laki-laki 69 tahun.

Wanita karir selalu lebih pintar daripada ibu rumah tangga dalam mengatur keuangan? Belum tentu. Tidak jarang wanita karir yang kebobolan mengatur keuangan pribadi/rumah tangga karena sibuknya pekerjaan.

Continue reading
Advertisements

Uangmu, Uangku, Uang Kita : Bagaimana Sebaiknya Mengatur Keuangan bersama Pasangan?  

 

Sebelum mungkin pada banyak yang nyinyir “Ah Nes, kamu nikah aja belum kok sok ngajarin” atau “Halah, masih single aja kok kebanyakan teori. Nikah sana”, aku kasih disclaimer dulu ya. Jadi tulisan ini adalah hasil review-ku dari seminar kecil dalam rangka Savvy Investor Class yang diselenggarakan oleh Panin Asset Management. Karena kebetulan aku nasabah reksadana dari Panin Asset Management, aku berkesempatan untuk ikut acara ini gratis. Setelah beberapa lama ga bisa ikut acara ini karena jadwal yan ga cocok, akhirnya seneng banget hari ini bisa update knowledge tentang perencanaan keuangan.

Bahasan kali ini kebetulan lumayan cocok sama cerita “Nyah Nyoh” ala Bu Dendy dan Pak Dendy yang sempat viral kemarin. Abaikan soal pelakor, kita coba ambil dari sisi keterbukaan finansial kepada pasangan (dalam hal ini pasangan suami istri ya). Mungkin akan banyak yang coba bilang “Kan rumah tangga ga cuma masalah uang”. Tapi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Puslitbang Kementerian Agama di tahun 2016, persoalan ekonomi menjadi salah satu dari empat alasan utama perceraian di Indonesia. Ketiga alasan lainnya adalah hubungan sudah tidak harmonis, tidak ada tanggung jawab khususnya terhadap anak dan kehadiran ketiga. Tidak tertutup kemungkinan ketiga alasan lain tersebut juga merembet dari kurangnya keterbukaan terhadap masalah keuangan.

Couple n Money.jpg

Gara-gara viralnya Bu Dendy dan Pak Dendy kemarin, beberapa akun financial planner malah bikin Insta Story khusus tentang keterbukaan finansial terhadap pasangan, antara lain di akun Instagramnya @QM_Financial dan @jouska.id. Satu kutipan yang cukup menohok dari @jouska.id di bawah ini.

“Kalian yang memulai pernikahan lho. Kalau berani naked berduaan di kamar. Kenapa ga berani naked soal finansial”

Waawww, ini menohok nih. Nah, berdasarkan hasil belajarnya di seminar Savvy Investor Class tadi, bagaimana sih mengatur keuangan bersama pasangan? Yuk sebelum bahas, mungkin kita coba cek dulu ke Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sesuai dengan UU ini, terdapat 3 jenis harta di dalam perkawinan :

  1. Harta bawaan : harta yang diperoleh oleh suami istri sebelum perkawinan, ini penguasaanya tergantung yang punya siapa. Bisa dikompromikan kan, mau dipakai buat apa yang penting tetap demi tujuan bersama.
  2. Harta perolehan : harta yang diperoleh selama perkawinan tetapi merupakan hasil hadiah atau warisan, ini penguasaannya tergantung yang dapat hadiah/warisan siapa, sekali lagi bisa dikompromikan bareng kan.
  3. Harta bersama : harta yang diperoleh selama perkawinan, nah ini yang penguasaannya bareng-bareng

Ngomongin harta bersama, berlaku juga utang bersama, yaitu utang yang diambil selama perkawinan. Karena gak jarang kan kalau yang ngutang suaminya ga bayar-bayar, istrinya yang ditagih, dan istrinya kaget karena ga pernah diomongin kalau punya hutang. Nah harta gono gini juga yang biasanya dipermasalahkan pas ada perceraian.

Yang penting di sini kan berarti terbuka, ngobrol dan kesepakatan kan. Nah biasanya ngomongin uang ini memang sensitif, meskipun dengan pasangan sendiri. Buat yang sudah nikah, udah pada ngobrol berdua ngomongin keuangan bareng atau belum? Buat yang belum nikah, udah dilamar belum? Eeeeeeaaaakkkk, malah baper. Dari hasil seminar tadi, ada beberapa tips nih buat membicarakan keuangan dengan pasangan. Buat yang sedang mempersiapkan pernikahan, disarankan sih nanti setelah resepsi aja ngobrolinnya, karena biasanya mendekati hari H pasti lagi riewuh-riewuhnya, daripada nanti malah berantem. Nah, biar suasana kondusif dan mood-nya bagus, pastikan ngobrolnya dalam keadaan perut kenyang. Kalau misalkan di rumah/di kamar kurang privasi atau malah takut jadi ga fokus karena main-main yang lain, bisalah sambil dinner. Usahakan berpenampilan menarik, jangan dasteran aja. Hahahaha.

Continue reading

Bonusannya Masih? Nyoba Sukuk Ritel Yuk!

Masuk bulan Februari, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah aku ingat-ingat ternyata biasanya bulan Februari itu adalah waktu buat mulai pemesanan sukuk ritel. Awal bulan Februari aku pun membuka browser dan mengetikkan, keyword “sukuk ritel 2018”. Belum ada berita yang meyakinkan. Di minggu kedua Februari, waktu aku ngecek tabungan di salah satu bank syariah dengan warna favoritku, aku menemukan iklan tentang pemesanan Sukuk Ritel 2018 mulai tanggal 23 Februari – 15 Maret 2018 di bank syariah tersebut. Ah info bagus nih.

Aku pun refleks ngetweet tentang iklan layanan masyarakat versi Neser ini. Ini nih tweet-nya (sekalian promosi akun Twitter yang penuh opini, kegalauan dan nyinyiran ini.)

Eh ternyata ada adik tingkat di kampus yang nanyain apa itu sukuk. Oke jadi tertarik bahas sukuk pakai bahasa sederhana deh. Ga banyak pakai istilah ekonomi yang rumit, karena hidup dan pikiranku sendiri udah rumit.

Sukuk Ritel adalah…

Logo Sukuk Negara Ritel.png

Berikut pengertian sukuk ritel yang aku ambil dari situs DBS ini

Sukuk Ritel merupakan surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset Surat Berharga Syariah Negara, yang dijual kepada individu (ritel) atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual, dengan volume minimum yang ditentukan. Banyak juga yang menyebutnya sebagai obligasi syariah.

Bingung?

Continue reading

Aku Milenial, Dan Aku Punya Tabungan

Seminggu ini kayaknya di Twitter banyak berkeliaran artikel, infografis atau hasil riset tentang kondisi keuangan generasi milenial yang mengenaskan. Mulai artikel tentang generasi milenial yang tidak punya tabungan, generasi milenial yang tidak mampu beli rumah sendiri sampai tentang masa pensiun yang suram bagi generasi milenial.

Salah satu artikel di kumparan.com yang berjudul “Hampir Setengah Milenial Tak Punya Tabungan Sama Sekali”. Rasanya duh generasi milenial kok ngenes banget ya, dianggap semiskin itu. Setelah dibaca beritanya, ternyata judul itu ditulis berdasarkan kesimpulan riset yang diadakan oleh Go Banking Rates (GBR) di Amerika Serikat. Dalam riset tersebut, GBR mendefinisikan milenial adalah mereka yang berumur 18-24 tahun. Masih umur cukup muda sebenarnya. Dari hasil riset ini 46% generasi yang didefinisikan milenial tidak mempunyai tabungan sama sekali. Persentase ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 31%. Kalau kita amati sekilas umur 18-24 tahun di Indonesia saat ini adalah mereka yang berstatus mahasiswa yang masih minta ke orang tua sampai fresh graduate yang masih menikmati euforia gaji pertama.

PhotoGrid_1518684101879.jpg

Di Indonesia sendiri, Alvara Research Center pernah menerbitkan publikasi tentang The Urban Middle Class Millenials Indonesia. Dalam publikasi ini juga dipaparkan tentang perilaku keuangan (financial behavior) dari generasi milenial Indonesia. Surveinya sendiri dilaksanakan pada bulan Oktober 2016, dengan mendefinisikan generasi milenial adalah mereka yang berusia 20-34 tahun pada saat pelaksanaan survei.

Dari hasil survei ini ternyata hampir keseluruhan generasi milenial yang disurvei punya produk keuangan berupa tabungan konvensional atau syariah. Survei ini dilakukan tanpa menanyakan nilai tabungan, tetapi kepemilikan rekening/produk keuangan saja. Produk keuangan yang terbanyak kedua dimiliki milenial adalah asuransi kesehatan. Produk keuangan yang terbanyak ketiga adalah kredit kendaraan. Produk simpanan/investasi selain tabungan, seperti deposito, reksadana maupun saham ternyata masih belum banyak digunakan oleh generasi milenial. Dengan fenomena seperti ini, yang menjadi tanda tanya besar apakah generasi milenial tahu manfaat dan perbedaan dari asuransi sebagai proteksi dan investasi. Sambil coba baca sekilas tulisanku tentang asuransi di judul ini “Mau Beli Asuransi? Tujuan Lo Apa?. Continue reading