3 Srikandi, Kisah Medali Pertama Indonesia dalam Sejarah Olimpiade

 

Kalau ditanya tentang medali pertama yang diraih Indonesia pada Olimpiade, mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab tentang pasangan atlet bulutangkis (Alan Budikusuma dan Susi Susanti) yang berhasil mendapatkan medali emas pada cabang bulutangkis di Olimpiade Barcelona, 1992.  Ternyata, 4 tahun sebelum medali emas pertama tersebut, kontingen Indonesia pernah mendapatkan medali perak dari cabang olahraga panahan. Medali perak pada Olimpiade Seoul 1988 ini merupakan medali pertama dalam sejarah Indonesia berpartisipasi dalam Olimpiade sejak tahun 1956.

Siapakah peraih medali pertama Indonesia tersebut? Ternyata, medali perak tersebut diraih oleh “3 Srikandi” atlet panahan untuk kategori beregu. Ketiga atlet tersebut adalah Nurfitriyana Saiman (Jakarta), Lilies Handayani (Jawa Timur) dan Kusuma Wardani (Sulawesi Selatan). Ada yang tahu?

Nah, biar pada tahu siapa mereka, Multivision Plus pun membuat sebuah film tentang perjuangan mereka dan orang yang berperan penting dalam pencapaian Indonesia dalam Olimpiade Seoul 1988 tersebut. Film ini berjudul “3 Srikandi”. Di bawah ini official poster dan trailer-nya

Poster-film-3-Srikandi-1.jpg

 

Seperti yang terlihat di official poster dan trailer-nya, film ini dibintangi oleh aktor dan aktris ternama kebanggaan Indonesia. Reza Rahadian, sang aktor serba bisa, didapuk sebagai Donald Pandiangan, pelatih tim putri panahan Indonesia pada masa tersebut. Sebagai 3 Srikandi, dipilihlah Bunga Citra Lestari sebagai Yana, Chelsea Islan sebagai Lilies dan Tara Basro sebagai Kusuma. Awalnya, Dian Sastro sempat terlibat dalam persiapan film ini sebagai Yana. Namun, karena jadwalnya bentrok dengan syuting AADC 2, peran Dian Sastro digantikan oleh Bunga Citra Lestari.

Continue reading

2015, Bye!

 

Di malam tahun baru ini, saya tertidur sepulang kantor, bangun-bangun sudah hampir jam 10, kemudian cuci baju lanjut setrika sambil nonton film “3” yang diputar di Net TV. Dengan sisa tenaga setelah, rasanya belum lengkap kalau belum menulis tentang pencapaian selama tahun 2015. Setiap orang pasti punya sudut pandang berbeda tentang pencapaian, termasuk juga saya. Jadi, apa pencapaian saya versi saya di tahun 2015 ini. Cekidot!

Blakrakan alias Traveling

Beberapa teman uda banyak komentar tentang betapa blakrakan saya sekarang ini. Ada yang bilang “bokong ga bisa diem tenang sebentar aja”, ada juga yang bilang “tiap minggu check in Path kalau ga di terminal ya stasiun”. Saya mungkin memang buka traveler sejati, mendaki gunung saja mungkin ga kuat. Tapi, ternyata naluri blakrakan saya sejak kecil memang tidak bisa dibohongi.

Dibandingkan tahun 2014, ada peningkatan signifikan dalam progress traveling saya. Mungkin didukung dengan kondisi finansial yang cukup baik. Alhamdulillah. Tercatat ada 7 trip pribadi yang terencana dengan baik dan berjalan tanpa hanya sekedar wacana

  1. Awal tahun 2015 dibuka dengan trip kecil ke Batu dan Malang bersama rombongan teman kantor. Agrowisata petik buah, Alun-alun Batu dan Bakso Bakar Pahlawan TRIP menjadi tujuan kami saat itu.
  2. Mei 2015 dibuka dengan trip yang setahun sebelumnya hanya wacana, Dieng. Bersama dengan adek kesayangan, akhirnya bisa menikmati Telaga Warna dan Puncak Sikunir.
  3. Ketagihan dengan trip bareng yang pertama, bersama tim kantor kali ini main ke Lamongan, dengan wisata Maharani Zoo dan Goa. Tidak lupa makan seafood di Paciran dan kuliner nasi boran pinggir jalan.
  4. Wacana yang keturutan lagi adalah menikmati Waisak di Borobudur. Dengan backpacker ala-ala bersama sahabat, akhirnya bisa main ke Borobudur lagi dan menikmati indahnya lampion di Puncak Perayaan Waisak.
  5. Setelah vakum cukup lama dari blakrakan terencana karena load kerjaan, bulan Oktober bisa main ke Goa Pindul. Lagi-lagi backpacker sama teman, naik angkutan umum, tetapi well done dan amat berkesan
  6. Masih berkutat dengan air dan basah-basahan, awal Desember saya ikut trip ke Gili Labak, sebuah pulau di selatan Madura. Dan di sana saya merasakan snorkeling saya yang pertama.
  7. Penutup tahun 2015, Karimun Jawa. Puas dengan snorkeling dan menikmati senjanya.

Jalan-jalan tidak terencana? Beberapa kali pekerjaan kantor membuat saya harus menikmati luar kota. Pernah menginap di Tuban dan Ngawi selama seminggu, jalan ke Solo sekalian pulang kampung, dan yang terakhir dan paling jauh, Jayapura.

2016? Belum ada traveling wishlist yang benar-benar wishlist. Let it flow aja jalan-jalannya.

Continue reading