Sedikit Cerita tentang Gempa Lombok

Minggu pagi, 29 Juli 2018, saya sedang berada di depan ruang ICU menunggu Bapak yang semalam masuk ruang perawatan khusus tersebut. Pagi-pagi beberapa grup dalam aplikasi WhatsApp saya sudah ramai dengan notifikasi. Semuanya mengabarkan satu berita “Lombok Gempa 6.4 SR”. Saya bergegas mengecek kondisi teman-teman yang di sana. Alhamdulillah aman. Tapi di beberapa daerah yang pernah saya datangi seperti Sembalun dan Bayan, dikabarkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Hari itu saya hampir terus menerus mengecek kondisi di sana melalui berbagai media.

Teman-teman saya di Kelas Inspirasi Lombok mulai gerak cepat menyusuri lokasi terdampak gempa, mencatat kebutuhan korban, menggalang dana dan menyalurkan bantuan. Salah satu teman saya di Bali mengajak saya “Ke Lombok yuk Nes, bantu trauma healing di sana”. Di dalam hati rasanya sungguh ingin ke sana, tapi dengan kondisi Bapak yang masih dalam perawatan, rasanya saya belum bisa ke sana dalam 1-2 minggu ke depan.

Sembalun, salah satu daerah terdampak gempa Lombok

Hari Minggu, 5 Agustus 2018, saya sedang berada di kereta kembali ke Surabaya ketika mendapatkan berita gempa besar kembali terjadi di sana. Kekuatannya 7.0 SR, lebih besar dibandingkan gempa seminggu sebelumnya. Padahal teman-teman di sana baru selesai melaksanakan trauma healing di salah satu lokasi terdampak gempa. BMKG melalui berita resminya mengabarkan gempa kali ini berpotensi tsunami. Teman saya mengabarkan kondisi di Mataram yang dilanda kepanikan, banyak warga yang mencari tempat perlindungan. Dada saya mulai merasa sesak, mulai gelisah di kereta. Satu jam kemudian, BMKG mencabut peringatan dini tsunami tersebut. Sedikit bernafas lega. Tetapi daerah yang terdampak gempa mulai bertambah, hampir seluruh Kabupaten Lombok Utara luluh lantak.

Saya kira dengan adanya dua gempa besar tersebut, gempa besar tidak akan terjadi lagi. Siang itu Kamis, 8 Agustus 2018, saya sedang ngobrol dengan teman-teman kantor pada jam istirahat ketika notifikasi BMKG muncul di saya. Saya yang awalnya duduk di kursi, mulai lemas dan terduduk di lantai. “Ya Allah, kapan ini berhenti”. Saya pun memberanikan diri minta izin kepada Ibuk lewat WhatsApp, dan jawabannya “Silahkan”. Ibuk ini memang paling paham kalau anaknya tidak bisa dilarang.

Continue reading

Advertisements

Jangan ke Lombok, Move On-nya Berat, Kamu Gak Akan Kuat

Judul tulisan ini sedikit ter-Dilan ya. Maklum, yang nulis abis nonton film Dilan, jadi masih kebawa gitu deh. Pertama kali ke Lombok, Maret 2016 pas Kelas Inspirasi Lombok 3. Perjalanan ini sempat sedikit ditulis di (Nuansa Komersil di Wisata Desa Adat Sade) dan (Terinspirasi di Balik Ramainya Gili Trawangan). Pas 2016 akhir – 2-17 awal kebetulan dapat project riset di sana, lumayan dalam 4 bulan, ke Lombok hampir tiap bulan. Lanjut lagi ke Kelas Inspirasi Lombok 4, yang sempat direncanakan menjadi Kelas Inspirasi terakhir.

Akhir 2017, ditawarin lagi mau ikut Kelas Inspirasi Lombok atau enggak. Dan, seperti di judul “Move On”-nya berat, ga akan kuat, jadilah tergoda lagi buat ikut Kelas Inspirasi Lombok 5. Seperti biasa, perjalanan di Lombok dimulai dengan penerbangan sore/mendekati last flight dan ditutup dengan penerbangan first flight. Pokoknya tidak ingin menyia-nyiakan waktu, biar efektif dan efisien di Lombok. Berangkat Kamis sore (yang jadinya delay jadi Kamis malam) dan balik Senin pagi, langsung ke kantor dan presentasi.

Jadi, ngapain aja perjalanan hampir seminggu tersebut?

Mengenal Kuliner, Budaya dan Kehidupan Masyarakat Lombok Utara

Kelas Inspirasi Lombok 5 kali ini kebetulan mengambil tema tentang Jelajah Budaya. Lokasi KIL 5 berada di Kecamatan Kayangan dan Kecamatan Bayan, daerah yang masih lekat dengan budaya yang berada di Kabupaten Lombok Utara, yang biasa dikenal dengan sebutan KLU. Kebetulan kebagian lokasi di SDN 2 Sambik Elen, yang berada di Kecamatan Bayan, yang merupakan perbatasan dengan Desa Sajang, Kec. Sembalun, Kabupaten Lombok Timur (Nah kalau ini bisa disingkat Lotim, bukan KLT).

SDN 2 Sambik Elen ini berada di Dusun Barung Birak, Desa Sambik Elen. Perjalanan dari Kota Mataram bisa lewat daerah Senggigi menyusuri pantai atau daerah Pusuk yang naik turun berliku yang berlanjut ke daerah Tanjung sampai akhirnya sampai di Sambik Elen. Sepanjang perjalanan dari Tanjung ke Sambik Elen pun akan tetap ditemani keindahan pantai. Tidak lupa kami mampir ke warung sate ikan yang berada di sekitaran pantai daerah Selengan. Sate ikan per porsi isi 10 tusuk dibandrol harga Rp 20.000. Pepes kepala ikannya pun tidak kalah juara, Rp 20.000 sudah dapat 10 bungkus.

DSC_4774

Sate ikan

Continue reading