Investasi di Reksadana, Siapa Takut?

Berhubung setelah tulisan kemarin cukup banyak yang tanya tentang reksadana, kali tulisannya tentang pengalaman investasi di reksadana,dari mulaiAware – Appeal – Ask – Act sampai akhirnya mulai Advocate salah satu produk investasi ini (sekalian pake ilmu 5A..hihihihi). Yang request tulisan tentang properti di usia 20an dan tulisan tentang Long Distance Marriage,maaf belum bisa akomodir ya, masih belum pengalaman J

Baiklah, dimulai step by step ya, sesuai tahap 5A.. (Yang mau tau 5A itu apa, baca buku dari MarkPlus tentang WOW Brand.. sekalian promosi). Oia, nanti 5A ini berbicara secara umum tentang produk reksadana ya,bukan tentang salah satu brand/merk/manajer investasi  reksadana. Ntar dikira promosi lagi

AWARE

Sebenarnya uda lama mendengar kata “reksadana”, zaman kuliahlah. Tapi hanya sekedar dengar tanpa tahu dengan jelas sebenarnya itu apa. Dalam bayanganku sih, reksadana itu investasi yang kaya saham itu, dan baru bisa dilakukan setelah punya uang banyak.

Baca bukunya Ligwina Hananto, mulai banyak tuh keluar kata “reksadana”dalam tulisannya. Tapi karena status saat baca buku itu masih “fresh graduate”,merasa gaji masih sedikit dan belum tahu tentang pentingnya investasi.

APPEAL

Pas kerja uda hampir 1 tahun lebih, sudah hampir ada rencana untuk menikah, jadi kepikiran buat ngatur keuangan nih. Gaji kok kayaknya ngalir gitu aja ga banyak sisanya di rekening. Mulai deh baca ulang bukunya Ligwina Hananto, buku-buku perencanaan keuangan lain dan artikel-artikel. Udah mulai bisa ngatur keuangan dan menyisihkan uang buat tabungan umum dan tabungan berjangka, tapi tetep masih belum berani investasi.

Sampai pada akhirnya, ditawarilah asuransi unitlink. Karena tertarik dengan ilustrasinya, yang banyak tuh nominalnya, daftarlah aku ke asuransi. Jujur sih saat itu, tujuan pertamaku adalah INVESTASI baru PROTEKSI. Agak salah kaprah sih sebenarnya, karena sebenarnya prinsip asuransi unitlink adalah PROTEKSI dulu baru INVESTASI.

Oke, setelah salah kaprah dengan unitlink, mulailah aku tertarik untuk mencari informasi tentang investasi yang katanya lebih menguntungkan, yaitu reksadana.

ASK Continue reading

Financial Planning Ga Cuma Buat yang Udah “Double” Kok

Berawal dari status-status di Facebook tentang kenaikan BBM,kenaikan tiket pesawat dan sebagainya,  tanganku mulai gatel buat kultwit tentang “Perencanaan Keuangan” atau nama kerennya “Financial Planning”. Pas share Twitter sama Facebook tentang “kegatelan” menulis itu, kok banyak yang respon ya. Meskipun ada yang bilang “ngatur uang ga semudah yang dibilang financial planner”¸tapi kan kalau ga mau belajar dan ga mau mencoba ya pasti ga mudah. Ada juga yang bilang “Iya kamu single, jadi kan ga merasakan ribetnya ngatur uang”. Agak menohok juga sih, status bukan ukuran apakah kita “melek finansial” atau tidak.  

Baiklah, mau coba share bagaimana aku merencanakan keuangan ya. Semoga bermanfaat

  • Bukannya perhitungan banget. Tapi, aku punya budget pengeluaran per bulan yang aku bagi dalam beberapa pos. Ada pengeluaran rutin yang tetap nilainya buat tabungan , investasi, asuransi, infaq sama bayar kosan. Ada juga pengeluaran rutin buat makan, beli pulsa, beli sabun, yang harus dikeluarkan tetapi nilainya bisa disesuaikan. Dan ada pengeluaran hiburan buat beli buku, baju, kosmetik, nonton dll yang bisa dikurangi atau sama sekali tidak dikeluarkan kalau lagi bokek

Kalau dari bukunya Ahmad Gozali yg judulnya “Habiskan Saja Gajimu”, prinsip cashflow “orang kaya” itu 2.5% Zakat, Cicilan Utang 30%, Saving 10%. Baru Shopping 57.5%. Pokoknya selesaikan kewajiban dulu lah. Idealnya sih utang atau cicilan dan sebagainya itu kurang dari 30% gaji.

  • Setiap hari, aku catet semua pengeluaran tanpa terkecuali. Hehehehe.. Kemudian setiap minggu direkap ke Excel ke dalam masing-masing pos pengeluaran. Setiap akhir bulan, direview pos mana yang berlebih. J

Aku bikin format sendiri di Excel, yg bisa otomatis rekap pengeluaran masing-masing pos. Jadi kalau tengah bulan sudah ada tanda salah satu pos, bisa mulai ngerem pengeluaran.

Pernah sih bener-bener hemat makan, cuma makan sayur asem sama tempe tiap hari gara-gara pengeluarannya mepet. Biasanya sih awal-awal gajian makan enak dulu, tapi akhir bulan makannya tahu.. :p

Kayak baju, buku, nonton dll itu kalau pas akhir bulan dan kayaknya ga penting sih ga beli. Kalaupun beli atau nonton akhirnya pun mencoba mengurangi pos makan yang lain, biasanya pos makan :p

Kalau pos tabungan, zakat, investasi sih sebisa mungkin ga dikurangi. Makan sih yang paling sering dikurangi, sekalian diet.

Continue reading