Banda, Dulu Laksana Emas, Sekarang Mungkin Terlupa

Sekitar sebulan yang lalu, beberapa public figure yang aku follow di Twitter banyak yang posting poster film dengan background agak gelap, dengan tulisan “BANDA”. Banyak yang posting poster film itu dengan caption “Film ini wajib ditonton”. Penasaran donk ya.

Sekilas gambar di poster itu terlihat seperti gambar telur di film-film monster. Ada benda padat oval warna hitam, yang dikelilingi garis bilur merah di luarnya, mirip pembuluh darah. Aku sendiri sempat mengira ini film horor, apalagi ditambah ada kata “DARK” di judulnya “BANDA, The Dark Forgotten Trail”.

Banda.jpg

Tapi ternyata gambar hitam itu gambar “pala” gaes, “pala”, salah satu rempah-rempah yang dihasilkan oleh tanah Kepulauan Banda. Oh iya, bukan Banda Aceh ya. Kepulauan Banda merupakan kepulauan kecil ni terletak di kawasan Laut Banda di Maluku

Continue reading

Ziarah, Film Sederhana tentang Pencarian dan Mengikhlaskan

 

Kalau mendengar judulnya, pasti kepikirannya sama film horor ecek esek, dengan hantu yang ga keren. Tapi ternyata salah banget. Film ini juga bukan film mewah dengan berbagai aktor dan aktris terkenal. Film yang disutradarai oleh BW Purbanegara ini dibintangi oleh Mbah Ponco Sutiyem, orang biasa tanpa latar belakang akting yang berasal dari daerah Gunungkidul, Yogyakarta.

Liat dulu poster dan trailernya ya.

ZIARAH-2017-pf-1.jpg

Film ini menceritakan tentang Mbah Sri (diperankan oleh Mbah Ponco) yang mencari makam suaminya yang pamit mengikuti perang Agresi Militer Belanda II. Meskipun tinggal bersama cucu laki-lakinya, Mbah Sri nekad berangkat sendiri mencari makam suaminya tersebut. Sang cucu pun akhirnya ikut dalam pencarian, mencari Mbah Sri sekaligus mencari makam kakeknya. Dalam perjalanan mereka berdua, kematian suami Mbah Sri sebagai pejuang masih simpang siur.

Continue reading

MIWF 2017, Surga untuk Pecinta Buku

Makassar International Writer Festival 2017 (MIWF 2017) merupakan festival literasi terbesar di Indonesia Timur. Tahun ini MIWF 2017, mengambil tema “Diversity”, tema yang pas banget sama kondisi Indonesia saat ini. MIWF 2017 ini buat aku merupakan salah satu wishlist tahun 2017, gara-gara lihat foto-foto pelaksanaan MIWF 2016 yang bertabur penulis-penulis keren.

MIWF 2017 dilaksanakan di salah satu landmark terkenal di Makassar, Benteng Fort Rotterdam. Kawasan benteng pun disulap menjadi arena yang menyenangkan dengan penuh buku dan berbagai booth-booth pendukung. MIWF sendiri terdiri dari beberapa talkshow buku, launching buku baru, sampai pembacaan puisi. Di malam hari, kawasan benteng yang biasanya terkesan horor, disulap jadi arena menampilkan berbagai performance yang berhubungan dengan buku, mulai pembacaan puisi sampai musikalisasi puisi. Detail jadwal MIWF 2017 kemarin bisa dilihat di sini, siapa tahu bisa jadi referensi buat datang di MIWF 2018 nanti.

MIWF 2017 ini dilaksanakan mulai tanggal 17-20 Mei 2017. Sebelumnya memang dilakukan berbagai pre event. Aku sendiri baru bisa datang ke Makassar di tanggal 19 Mei, maklum lah kuli korporasi cutinya terbatas. Sampe Makassar pun sudah siang, karena abis dari Rammang-rammang dulu, jadi tidak semua sesi aku ikuti.

MIWF.jpg
Continue reading

2017, Welcome!

Berbeda dengan postingan Tahun Baru 2016 lalu, tulisan tentang pencapaian atau refleksi tahun 2016 ini aku tulis di hari pertama Tahun 2017. Malam tahun baru, aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk hibernasi. Not in a good mood buat nulis juga, jadinya tulisan tentang tahun 2016 ini pun baru aku tulis setelah nonton Cek Toko Sebelah sebagai film pertama yang aku tonton di 2017 dan menikmati yoghurt, pastry tuna dan segelas cappucino sebagai makanan pertama yang aku makan di 2017.

Jadi, bagaimana 2016 versi saya? Cekidot!

20161230_165951

bestnine2016 on Instagram

 

Continue reading

Menutup Petualangan 2016 di Perbukitan Ponorogo

 Kalau bicara tentang petualangan ala Neser, apalagi kalau bukan petualangan Kelas Inspirasi. Di bulan terakhir 2016 kali ini, petualangan Kelas Inspirasi terhenti di Ponorogo. Sebuah kota kecil tempatku pernah menuntut ilmu selama 6 tahun. Sebagai ungkapan terima kasih sederhana kepada kota Ponorogo, tidak ada salahnya menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Ponorogo ini.

Kelas Inspirasi Ponorogo kali ini merupakan Kelas Inspirasi yang dilaksanakan keempat kalinya di Bumi Reog ini. Kali ini Kelas Inspirasi Ponorogo 4 dilaksanakan di Kecamatan Ngebel. Yaps, sebuah kecamatan yang terkenal dengan Telaga Ngebelnya.

Di Kelas Inspirasi Ponorogo 4 ini, kebetulan dapat Zona Inspirasi di SDN Talun 2. Di mana itu? Akupun tidak tahu, karena yang aku tahu hanya lokasi Telaga Ngebel saja. Info dari fasil sekitar 12 km dari Telaga Ngebel. Wah, lumayan juga ya ternyata.

Kebetulan Hari Inspirasi dilaksanakan pas hari Sabtu, tepatnya di tanggal 17 Desember 2016. Lumayan tidak memotong jatah cuti. Tapi karena pas hari Sabtu, di Jumat sorenya aku segera meluncur dari Surabaya untuk pulang kampung dulu. Sebenarnya panitia/fasil menyediakan tempat menginap dekat sekolah. Tapi karena aku pasti baru sampai menjelang tengah malam, akhirnya aku putuskan untuk menginap di rumahku di Magetan untuk besok paginya berangkat ke Ponorogo, lebih tepatnya Ngebel.

Pukul 23.30 baru sampai rumah, beberes bentar dan 00.00 mulai tidur. Tidur baru sekitar 4 jam, berkumandanglah adzan Subuh, dan waktunya siap-siap. Pukul 04.30 mulailah tancap gas menuju Ponorogo. Lumayan dingin, tapi mengingatkan nostalgia akan perjuangan diantar pagi-pagi di hari Senin sewaktu SMP dan SMA.

Keluar dari kota Ponorogo, masuk daerah Kecamatan Jenangan mulai bisa tuh tancap gas pake kecepatan 80 km/jam. Mohon dimaklumi aku mah cemen, di Surabaya ga berani naik motor kenceng-kenceng. Lumayan kemarin bisa melampiaskan hasrat tangan untuk ngegas lebih pol. Mulai masuk kawasan Kecamatan Ngebel, jalan mulai menanjak dan ada beberapa tikungan tajam.

PLTA Ngebel mulai terlihat, sebentar lagi sampe nih. Dan ternyata benar, sampailah aku di kawasan Telaga Ngebel, yang terakhir kali kudatangi mungkin lebih dari 5 tahun lalu. Pukul 06.00 tepat, sampailah aku di depan Pesanggrahan Dewi Sri, basecamp dan penginapan untuk relawan untuk Kelas Inspirasi Ponorogo.

DSC_3039.JPG

Akhirnya ke Ngebel setelah 6 tahun lebih

Sampai situ aja? Tentu tidak. Di pesanggrahan aku bertemu dengan Feby, dokumentator asli Jember yang sedang kuliah di Malang. Kami berdua menunggu jemputan teman-teman fasil SDN Talun 2 dari basecamp SDN Talun 1 dan 2. Karena sinyal seluler di kawasan Talun cukup memprihatinkan, kami sempat mengalami miskomunikasi. Sambil menunggu jemputan kami disarankan untuk naik dulu perlahan. Eh, ternyata baru mau keluar dari kawasan telaga kami pun dijemput.

Perjalanan dari telaga menuju basecamp kami yang tidak jauh dari SDN Talun 1 mungkin menghabiskan waktu 20-30 menit. Medan menuju kesana pun cukup lumayan. Cukup menantang. , Tapi karena aku cewek, jadinya aku dibonceng saja. Sesampainya di basecamp yang merupakan rumah penduduk, kami pun sarapan sebentar dan kemudian berangkat. By the way, yang punya rumah ramah banget. J

Perjalanan dari basecamp menuju lokasi SDN Talun 2 kurang lebih 15 menit, dengan medan yang jauh lebih menantang. Karena semalam hujan, beberapa jalan tergenang air, becek dan licin. Tanjakan pun cukup lumayan, dikombinasikan dengan jalan makadam. Beberapa bagian jalan malah berada di tepi tegalan yang mirip tebing. Karena kombinasi motor dan relawan cowok sudah pas, jadilah aku naik motor sendiri. Dan, amazing banget naik motor menuju Talun 2 ini, bikin ketagihan. Apalagi didukung view pedesaan yang natural banget. Beberapa kali aku malah merasa kalau aku sedang berada di daerah antah berantah yang bukan Ponorogo.

DSC_3036.JPG

Selfie di belakang kelas

DSC_3037.JPG

Penampakan Belakang Sekolah

DSC_3035.JPG

Nyulik murid buat selfie bareng donk

Continue reading

“Menyeberang” ke Kelas Inspirasi Tegal

 

Sepertinya cerita pengalaman Kelas Inspirasi pertama di provinsi sebelah tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setelah beberapa hari sok sibuk karena pekerjaan, akhirnya baru punya kesempatan buat nulis tentang pengalaman Kelas Inspirasi pertama di Jawa Tengah.

Kali ini, Kelas Inspirasinya di sebuah kota di kawasan jalur Pantura. Sebut saja namanya “Tegal”.

“Kenapa ikut Kelas Inspirasi Tegal?”

“Soalnya tahun lalu ga jadi ikut.”

“Kenapa tahun lalu pingin ikut?”

Eh ini kalau kepanjangan jadi serasa diinterogasi deh, trus ntar takutnya curcol. Eeeakkk.

Kelas Inspirasi Tegal kali ini merupakan pelaksanaan Kelas Inspirasi Tegal yang ke-2. Kelas Inspirasi pertamaku di Jawa Tengah. Kelas Inspirasi pertamaku di Tegal. Tapi main ke Tegal-nya udah empat kali ini.

Secara administratif, daerah Tegal terbagi menjadi Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. Kebetulan pelaksanaannya sebagian besar di Kabupaten Tegal yang terkenal dengan teh poci dengan gula batu-nya.

Teh poci mas, manis gulo batu

                Mampir mriki bakule mbak ayu

                Dasar ngunjuk teh poci

                Biso kagem jampi

                Jampi wuyung sing lagi gandrung

 

Malah nyanyi. Oke balik fokus Nes.

Kali ini kebetulan ditempatkan di sebuah sekolah yang terletak di Kecamatan Kedungbanteng, lebih tepatnya di Desa Semedo. Perjalanan dari Stasiun Tegal menuju Desa Semedo ini kurang lebih bisa menghabiskan waktu 1,5 – 2 jam, dengan medan yang cukup menantang. Meskipun lebih menantang perjalanan menuju rumahku sih. #curhat

 

IMG-20161101-WA0003.jpg

Medan menuju Semedo

Continue reading

Bersama Kelas Inspirasi, Kamu Tidak Akan Merasakan Lelah

 

Semoga tidak pada bosan membaca tulisanku tentang Kelas Inspirasi. Di akhir pekan dan libur cuti kemarin, kebetulan tiga kegiatan Kelas Inspirasi mengisi jadwalku secara berurutan. Dan bertepatan pula dengan riweuhnya deadline kantor yang menggebu-gebu minta segera diselesaikan. Form sudah disubmit, pengumuman sudah dipampang, tidak elok sepertinya harus membatalkan karena alasan sibuknya pekerjaan. Dan inilah, liburanku bersama Kelas Inspirasi di 3 daerah yang berbeda.

photogrid_1477726470772

Petualangan Liburan Bersama Kelas Inspirasi

Continue reading

Pantai Tiga Warna Malang, Tambahan Warna Baru bagi Kabupaten Malang

 

Buat yang suka ngepantai cantik, tidak hanya sekedar foto-foto tapi juga menikmati suasana bawah laut, kini Malang Selatan punya pantai yang cukup lumayan untuk melepaskan hasrat nyebur dan ketemu ikan warna-warni. Sebut saja namanya Pantai Tiga Warna. Kebetulan akhir minggu lalu, aku dan teman-teman sempat short trip ke Pantai Tiga Warna. Nah ini sekilas tentang Pantai Tiga Warna.

 

Lokasi dan Medan Perjalanan

Secara geografis Pantai Tiga Warna terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (biasa disingkat Sumawe, serius baru tahu singkatan ini pas lewat sana), Kabupaten Malang. Oh iya, Kabupaten Malang ini beda sama Kota Malang ataupun Kota Batu secara administratif. Ketiga daerah ini memang berada dalam kawasan Malang Raya yang dikenal dengan nama Malang saja. Tapi ketiga daerah ini secara administratif berbeda. Kabupaten Malang sendiri merupakan kawasan paling luas di antara ketiga daerah tersebut, yang sebenarnya memberikan pilihan obyek wisata yang cukup banyak.

Oke kembali ke topik Pantai Tiga Warna. Pantai ini kurang lebih bisa ditempul antara 2-3 jam dari Malang Kota. Kalau dilihat dari Google Maps, kurang lebih berjarak 70 km dari Alun-alun Kota Malang.

Perjalanan menuju Pantai Tiga Warna cukup lumayan menantang dan mengocok perut, karena melewati daerah Malang Selatan yang cukup berbukit dan berkelak-kelok.  Kalau naik sepeda motor, pastikan dalam keadaan baik, kalau naik mobil dan suka mabuk darat, jangan lupa minum obat anti mabuk.

Kawasan ini searah dengan Pantai Sendang Biru, jadi kita akan melewati daerah Turen terlebih dahulu baru kemudian masuk ke wilayah Sumawe. Ketika sampai di pertigaan menuju Sendang Biru, kalau ke Sendang Biru lurus, nah ke Tiga Warna ini belok kanan. Di pertigaan ini juga sudah ada petunjuk yang cukup jelas. Ketika sudah sampai ke pertigaan ini kita bisa melihat perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur yang sudah cukup lebar. JLS ini memang dibangun untuk mempermudah akses wisata ke bagian selatan Jawa Timur yang ternyata punya gugusan pantai yang indah dipandang.

Kawasan Pantai Tiga Warna ini sekompleks dengan area konservasi mangrove yaitu Clungup Mangrove Conservation (CMC). Untuk bisa menuju ke pantai, kita tidak serta merta parkir kemudian langsung bisa melihat pantai. Kita harus berjalan kurang lebih 40 menit dari area parkir motor (kalau dari area parkir mobil lebih jauh). Perjalanan yang cukup membutuhkan perjuangan berat untuk orang yang tidak terbiasa jalan ataupun traveling karena melewati kawasan perkebunan dan perbukitan serta kawasan budidaya mangrove.

DSC_2566.JPG

Kawasan Mangrove

DSC_2559

Harus kuat jalan kaki

Continue reading

Pulau Kecil Penuh Inspirasi itu bernama Nusa Penida

 Petualangan berkedok Kelas Inspirasi kali ini berlabuh di Pulau Nusa Penida, sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Bali. Sekalian berencana reuni dengan teman-teman sewaktu Kelas Inspirasi Lombok, pengalaman baru “mengajar” di Pulau Dewata yang sarat budaya patut dicoba.

 

Transportasi ke dan di Nusa Penida

Untuk sampai ke Nusa Penida, kita harus menyebrang selama kurang lebih 30-60 menit tergantung jenis kapal yang kita gunakan dan di pelabuhan mana kita akan berlabuh. Kebetulan saya dan tim ditempatkan di SDN 3 Batununggul yang tidak berada jauh dari Pelabuhan Sampalan, jadi kami naik kapal bernama Mola Mola Express dan Pelabuhan Sanur (Matahari Terbit) selama kurang lebih 60 menit. Ketika kami menyebrang dari Sanur jam 14.00 WITA, ombaknya cukup lumayan. Jadi kalau sering mabuk laut, mending duduk di belakang, karena kalau di depan, goncangan arusnya cukup lumayan.

Mau berkeliling ke Nusa Penida? Sesampainya di pelabuhan kita bisa menemukan rental sepeda motor dengan tarif kurang lebih Rp 75.000 per harinya. Hampir semua sepeda motor yang disewakan merupakan sepeda motor matic dengan merek Honda Vario (bukan iklan, tapi kebetulan mbak researcher ini jeli banget matanya). Oh iya, ketika meminjam sepeda motor pastikan kondisi rem baik depan ataupun belakang dalam kondisi yang bagus. Karena beberapa lokasi wisata harus ditempuh dengan medan yang super penuh tantangan.

 

Beruntung Dapat Penginapan Murah

Sebulan menjelang Hari Inspirasi, ketika grup rombel sudah mulai terbentuk, kami sudah kepikiran tentang penginapan. Karena belum tahu lokasi detail, dalam benak kami “Ya udah lah ya, di rumah penduduk juga ga pa2”. Setelah dag dig dug karena takut ga dapat penginapan, akhirnya panitia lokal di rombel kami menginformasikan “Kak, ada penginapan Rp 175.000 per malam bisa buat dua orang, kalau 3 orang kena Rp 200.000”. Langsung diambil lah ya.

Dan, inilah penampakan penginapan kami.

DSC_2392.JPG

Hawa-hawa honeymoon ya Sist

DSC_2393.JPG

Namanya Pondok Kana, lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sampalan, strategis juga, karena tidak jauh dari pantai. Bersebelahan dengan penginapan yang bernama “Mae-Mae”. Kebetulan sebagian tim kami juga ada yang menginap di “Mae-Mae”. Pondok Kana ini hanya terdiri dari 2 kamar dengan tipe cottage gitu, di pojokan depan juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan untuk kumpul bareng. Pokoknya honeymoonable deh ya, tinggal dikirim aja fotonya kalau mau kasih kode. #eeeaaakk

Yang pasti harga yang kami dapatkan di atas sudah melalui proses nego yang dilakukan oleh tim panitia lokal KI Bali (Terima kasih banyak). Kamar mandi di dalam, yang cukup panjang, dengan shower da wastafel. Sebenarnya ada AC, tapi dengan harga yang cukup miring tersebut kami hanya diperbolehkan menggunakan kipas angin, dan remote AC-nya disembunyikan entah kemana. Tapi dengan hanya kipas angin, rasanya sudah cukup karena kalau malam udara Nusa Penida tidak terlalu panas. Oh iya, di setiap kamar juga terdapat 2 colokan, jadi lumayan ga akan rebutan sama partner/pasangan. Ada free wifi juga lho, dengan password yang bisa diminta langsung ke pemilik penginapan Pondok Kana ini.
Continue reading

Ada Apa dengan Jogja?.. Eehh.. Ada Apa dengan Cinta 2?

 

Generasi 80-an pasti kenal dengan film “Ada Apa dengan Cinta?”. Setelah perfilman Indonesia begitu lama vakum, di tahun 2002 muncullah angin segar dengan keluarnya film AADC yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Film ini bisa menarik kurang lebih 2.700.000 penonton (Sumber : www.filmindonesia.or.id). Drama ala SMA milik Rangga – Cinta benar-benar masih melekat erat di benak para penontonnya.

Tahun 2014 lalu, LINE, salah satu produk instant messaging asal Korea memanfaatkan kerinduan penonton terhadap Rangga – Cinta ini sebagai salah satu media promosi untuk salah satu fitur terbaru mereka. LINE membuat sebuah mini drama berdurasi kurang lebih 10:25 menit tentang kelanjutan cerita Rangga – Cinta setelah Rangga pindah ke New York. Nih, videonya.

 

Bikin baper banget dan membuat orang semakin penasaran tentang kelanjutan cerita Rangga – Cinta, yang masih dibuat sedikit menggantung di mini drama ini. Banyak fans Rangga – Cinta yang meminta agar dibuatkan sekuel dari AADC ini. Gayung pun bersambut, entah memang sudah direncanakan sebelumnya atau karena boomingnya mini drama, akhirnya Mira Lesmana bersama tim mengumumkan akan membuat lanjutan AADC ini.

Teaser berdurasi 30 detik pun keluar, yang tentu saja semakin membuat penasaran. Rangga masih tetap dengan puisinya yang bikin baper. Teaser banyak memperlihatkan adegan antara Rangga dan Cinta serta sedikit adegan Geng Cinta (Maura, Milly dan Karmen). Oh iya, pihak Miles juga sudah mengumumnkan secara resmi  bahwa “Alya” tidak akan ada di film ini karena Ladya Cherryl sedang menyelesaikan sekolahnya, dan tokoh Alya tidak akan digantikan oleh aktris siapapun.


Di awal Maret 2016, setelah menunggu 14 tahun lamanya, official trailer AADC 2 berdurasi 01:54 menit pun akhirnya launching.?


Continue reading