Ada Apa dengan Jogja?.. Eehh.. Ada Apa dengan Cinta 2?

 

Generasi 80-an pasti kenal dengan film “Ada Apa dengan Cinta?”. Setelah perfilman Indonesia begitu lama vakum, di tahun 2002 muncullah angin segar dengan keluarnya film AADC yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Film ini bisa menarik kurang lebih 2.700.000 penonton (Sumber : www.filmindonesia.or.id). Drama ala SMA milik Rangga – Cinta benar-benar masih melekat erat di benak para penontonnya.

Tahun 2014 lalu, LINE, salah satu produk instant messaging asal Korea memanfaatkan kerinduan penonton terhadap Rangga – Cinta ini sebagai salah satu media promosi untuk salah satu fitur terbaru mereka. LINE membuat sebuah mini drama berdurasi kurang lebih 10:25 menit tentang kelanjutan cerita Rangga – Cinta setelah Rangga pindah ke New York. Nih, videonya.

 

Bikin baper banget dan membuat orang semakin penasaran tentang kelanjutan cerita Rangga – Cinta, yang masih dibuat sedikit menggantung di mini drama ini. Banyak fans Rangga – Cinta yang meminta agar dibuatkan sekuel dari AADC ini. Gayung pun bersambut, entah memang sudah direncanakan sebelumnya atau karena boomingnya mini drama, akhirnya Mira Lesmana bersama tim mengumumkan akan membuat lanjutan AADC ini.

Teaser berdurasi 30 detik pun keluar, yang tentu saja semakin membuat penasaran. Rangga masih tetap dengan puisinya yang bikin baper. Teaser banyak memperlihatkan adegan antara Rangga dan Cinta serta sedikit adegan Geng Cinta (Maura, Milly dan Karmen). Oh iya, pihak Miles juga sudah mengumumnkan secara resmi  bahwa “Alya” tidak akan ada di film ini karena Ladya Cherryl sedang menyelesaikan sekolahnya, dan tokoh Alya tidak akan digantikan oleh aktris siapapun.


Di awal Maret 2016, setelah menunggu 14 tahun lamanya, official trailer AADC 2 berdurasi 01:54 menit pun akhirnya launching.?


Continue reading

Nuansa Komersil di Wisata Desa Adat Sade

Selain Gili Trawangan, bisamengunjungi Desa Adat Sade juga menjadi salah satu wishlist traveling saya tahun ini. Desa wisata atau desa adat memang biasanya akan memberikan sebuah pengalaman tersendiri ketika dikunjungi, misalkan saja kawasan desa wisata di Dieng. Dengan berkunjung ke sebuah desa wisata ataupun desa adat, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang kehidupan sosial sebuah masyarakat, komunitas ataupun suku.

Desa Adat Sade, sebuah desa adat yang ditinggali oleh Suku Sasak. Sebenarnya Sade ini bukan nama desa, tetapi sebuah dusun, tingkatan wilayah di bawah desa. Dusun Sade ini terletak di Desa Rembitan, Kec. Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan desa adat ini, bisa ditempuh melalui perjalanan kurang lebih 30 menit dari Bandara Lombok (LOP) menuju kawasan wisata Pantai Kuta, Lombok. Kalau sudah menemenukan kawasan yang di pinggir jalan sudah banyak bis pariwisata ataupun kendaraan pribadi parkir, berarti sudah masuk ke kawasan Desa Adat Sade.

DSC_1531.JPG

Desa Wisata Sade Tampak Depan

Untuk masuk desa wisata ini kita biasanya akan dipandu oleh guide penduduk lokal. Tidak ada tiket masuk yang dibebankan, tetapi memang di pintu masuk kita akan disuguhi buku tamu lengkap dengan kotak amal di sebelahnya, intinya seikhlasnya. Jangan lupa juga untuk sekedar memberi tips secukupnya kepada guide yang sudah menemani berkeliling.

Continue reading

Terinspirasi di Balik Ramainya Gili Trawangan

Awal tahun 2016, sempat menuliskan “Lombok” dan “Gili Trawangan” di wishlist traveling tahun ini. Ya masa Bapak Ibuk udah kesana, tapi anaknya belum. Ternyata, Gusti Allah memang Maha Baik, setelah “ditolak” di Kelas Inspirasi Yogyakarta, keluarlah pengumuman tentang Kelas Inspirasi Lombok Menjelajah Pulau. Setelah berhitung dengan budget dan perhitungan tetek bengek perencanaan keuangan saya, akhirnya memutuskan untuk mendaftar Kelas Inspirasi Lombok tersebut, apapun hasilnya. Kalau misalkan tidak lolos seperti di Yogyakarta, bisalah buat jalan-jalan aja.

Jauh jauh hari, saya sudah mulai hunting tiket murah, maklumlah calon Emak-emak rempong, seribu aja dipikirin. Jauh-jauh hari pula, setelah pengumuman “calon relawan” diberikan, teman-teman calon relawan pun sudah heboh buat grup Whatsapp. Pengumuman akhir pun diberikan, dan saya pun kebagian di Gili Trawangan. Satu wishlist traveling pun tercoret.

Tulisan ini bukan tentang indahnya Lombok atau Gili Trawangan, bukan juga tentang itinerary perjalanan seperti yang pernah diminta oleh salah satu follower saya di Twitter. Kalau dari sisi perjalanan, trip kali ini tidak se-well planned trip saya biasanya. Sedikit backpacker ala-ala, 2 dari 4 malam di Lombok, menginap di rumah sesama relawan, bareng temen-temen yang baru ketemu pas di Bandara Lombok. Sisanya menginap bareng Trawangan di homestay Gili Trawangan dan malam terakhir mencoba meluruskan punggung di salah satu budget hotel favorit yang berwarna ungu. Kulinernya juga ga udah dibahas ya, enak semua, pedes juga. Untunglah setelah ngetrip, timbangan masih bersahabat, cuma labil bentar geser kanan setengah strip, trus beberapa hari kemudian geser kiri lagi.

 

Mereka Bernama Tralala Troops

Rombel Gili Trawangan yang kebagian mengajar di SDN Gili Indah 2 ini hanya berkomunikasi via grup Whatsapp sebelum bertemu di briefing relawan. Meskipun belum saling bertemu, grup WA pun rame dengan diskusi tentang persiapan Hari Inspirasi, mulai dari akomodasi transportasi di Gili Trawangan, konsep closing sampai kenang-kenangan. Ketika bertemu di briefing relawan pun ternyata memang jauh lebih rame, meskipun tidak semua relawan berkesempatan hadir di waktu briefing.

Dibandingkan beberapa Kelas Inspirasi yang pernah saya ikuti sebelumnya, rombel saya di Gili Trawangan ini merupakan rombel dengan komposisi terbanyak, lebih dari 20 orang. Biasanya di kota-kota kecil yang saya ikuti sebelumnya, paling banyak hanya sekitar 15 orang. Rombel ini juga heboh banget, mungkin karena relawan yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang profesi yang berbeda-beda. Dan inilah rombel Gili Trawangan yang kami beri nama Tralala Troops. Kenapa “Tralala” bukan “Trawangan”, karena kami selalu terlihat bahagia. Eeeeeeeaaaaa

IMG-20160328-WA0027

Tralala Troops, kolase by Mas Imran

 

Mulai dari kiri atas, ke kanan kemudian mengular ya :

Continue reading

Wisata Tipis Pinggir Surabaya : Mangrove, Kebun Bambu dan Taman Bunga

 

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia mulai bekembang menjadi kota metropolitan. Puluhan pusat perbelanjaan dibangun, pertukaran uang berjalan lancar, bisnis berkembang, banyak  hotel baru didirikan. Surabaya pun menjadi semakin penuh dengan gedung tinggi. Pilihan refreshing pun kebanyakan belanja di mall, kuliner atau nongkrong di cafe yang pasti merogoh kocek yang cukup lumayan. Tapi, ternyata Surabaya masih menyimpan wisata dengan harga terjangkau dan cukup merefresh pikiran.

 

Ekowisata Mangrove Wonorejo

Kawasan wisata mangrove ini berada di pesisir timur Surabaya, lebih tepatnya di kawasan Wonorejo yang masuk wilayah Kecamatan Rungkut. Dari perempatan MERR (Middle East Ring Road) – STIKOM, sudah terdapat petunjuk arah menuju Wonorejo. Tapi jangan kecewa, dalam perjalanan menuju lokasi mangrove, kita akan bertemu dengan jalan yang berlubang-lubang. Bahkan sampai menjadi genangan kolam kecil ketika musim hujan. Mendekati kawasan, jalannya belum diaspal, masih bebatuan yang membuat seluruh badan bergetar apalagi kalau dilewati menggunakan sepeda motor.

Dari tempat parkir, kita akan disambut oleh pendopo yang cukup besar. Dari pendopo ke lokasi loket jogging track, kita akan menemukan beberapa gazebo yang terkunci, salah satunya ada gazebo Rumah Buku yang sepertinya merupakan program binaan Bank Indonesia. Tapi sayangnya, Rumah Buku ini tertutup rapat dan setelah saya intip kondisi dalamnya masih berupa buku-buku di dalam kardus yang belum ditata ke rak buku.

DSC_1415[1].JPG

Rumah Buku di Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo

Oh iya, ekowisata mangrove ini sering jadi tempat untuk pemotretan pre wedding, jadi jangan heran ketika di tengah perjalanan kita akan melihat pasangan dengan dandanan agak heboh dengan rombongan fotografernya.

Continue reading

Family Trip, Wisata Tipis Kulon Omah ke Karanganyar

 

Kenapa sekarang suka traveling? Kayaknya salah satunya dulu sewaktu kecil keluarga sering ngajak jalan-jalan juga, meskipun ya ga jauh-jauh amat sampai keliling Indonesia. Kalau dulu mungkin lebih dikenal dengan kata “rekreasi”. Sewaktu saya masih SD, sering banget ikut rekreasi sekolahnya Bapak, sekolahnya Pak Puh ataupun rekreasi yang diselenggarakan oleh Kantor Desa (kebetulan Mbah Kung dulu adalah Pak Carik). Paling masih sekitaran Yogyakarta aja sih, Borobudur dan Parangtritis.

Kalau pas lagi ada tambahan rezeki, kadang memang sekeluarga jalan-jalan ke tempat wisata yang dekat rumah. Misal Sarangan, Tawangmangu, Waduk Gajah Mungkur, Pacitan dan beberapa wisata lain. Waktu SD, mungkin anggota keluarga besar kami (yang dari Ibuk) masih sekitar 10an orang, biasanya naik mobil yang isinya agak overload. Yang dewasa dapat tempat duduk, yang kecil-kecil dipangku. Nanti kalau nemu lokasi yang agak lapang, trus bekalnya dari rumah di makan bareng deh sambil gelar tikar. The Real Picnic.

Setelah merantau mulai SMP, udah agak jarang sih sebenarnya  rekreasi bareng-bareng sekeluarga besar. Apalagi akhir-akhir ini karena masing-masing putrinya Mbah Kung sudah bertambah anggota keluarganya, biasanya rekreasinya sendiri-sendiri.

Karena pingin nyenengin Mbah Kung dan Mbok Dok, kami cucu-cucunya berniat mengajak keluarga besar untuk Family Trip. Karena kondisi Mbah Kung dan Mbok Dok yang sudah berumur, wisatanya pun ga jauh-jauh amat, ke daerah kulon omah yaitu Karanganyar, Jawa Tengah. Yaps, karena kebetulan rumah saya memang di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Seminggu sebelum family trip, grup Whatsapp keluarga udah rame aja menyusun acara. Bahkan sampai H-1 masih rame.

Dan akhirnya hari itu tiba, lebih tepatnya tanggal 28 Februari lalu. Cucu-cucu Dayat’s Family (Mbah Kung namanya Dayat) yang jumlahnya 9 orang ternyata tidak semuanya bisa ikut, karena salah satunya yaitu Dek Alfan kuliah di Jombang dan ga bisa pulang. Orangtuanya Alfan, pun ga bisa ikut. Ada tambahan juga dibanding trip beberapa tahun sebelumnya, ada cucu menantu dan buyut dari cucu pertama Mbah Kung. (Tinggal nunggu cucu menantu dari cucu kedua nih, eeeaaa, jreng). Tambahan lagi ada sepupuku dari Bapak yang kebetulan juga diajak oleh Ibuk.

3 rombongan mobil pun berangkat menuju Karanganyar. Meeting point kami yang pertama di rumah Buk Indah di daerah Genilangit, Poncol (btw, semua saudara Ibuk kami panggil Buk, bukan Bulik, Bu Dhe, Tante apalagi Aunty). Dari Poncol kamipun berangkat ke Karanganyar melewati Sarangan dan jalan tembus Sarangan – Tawangmangu. Medan jalan tembus ini cukup landai dibandingkan dengan jalan Sarangan – Tawangmangu beberapa tahun sebelumnya yang masih cukup menanjak.

Sampai di Cemoro Kandang, kamipun berhenti sejenak karena rombongan Buk Dati (Kakaknya Ibuk) ketinggalan di belakang. Oh iya kalau yang belum tau, Cemoro Kandang ini merupakan salah satu gerbang masuk pendakian Gunung Lawu, selain Cemoro Sewu. Di sekitar Cemoro Kandang ini juga banyak warung makanan.

DSC_1229.JPG

Wefie di Cemoro Kandang

Setelah rombongan Buk Dati sampai, kamipun meluncur ke Candi Cetho, tujuan pertama kami. Candi Cetho ini terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Untuk menuju Candi Centho kami melewati Perkebunan Teh Kemuning. Medannya pun lumayan naik, apalagi setelah perkebunan teh. Mobil yang digunakan rombongan Buk Dati pun sempat tidak kuat naik. Tapi, pemandangannya amazing, rasanya seperti di atas awan.

Continue reading

Sabtu Berkeringat di MI Zainul Ulum Gondanglegi

 

Ini sebenarnya masih tentang Kelas Inspirasi, semoga yang membaca ga bosan ya. Setelah beberapa waktu lalu tentang kegiatan sowan ke SDN Jogodalu yang pernah menjadi Zona Inspirasi di Kelas Inspirasi Gresik, kali ini saya bersama Rombel 55 Kelas Inspirasi Malang kembali ke MI Zainul Ulum Gondanglegi. Kalau kata temen-temen sih ini sejenis follow up. Apapun namanya, sebenarnya hanya kamuflase kami karena kangen sama senyum lugu siswa-siswi MI Zainul Ulum dan juga kangen jebur ke Sumbersirah (padahal saya ga nyebur sih waktu itu).

Via grup Whatsapp, kami mulai berkoordinasi, kegiatan apa yang akan kami lakukan di MI Zainul Ulum, biar ga terkesan cuma dolan aja. Beberapa kegiatan sudah kami susun. Teman-teman yang di Malang merencanakan untuk meet up sebentar, namun ternyata hanya sekedar wacana. Akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung berkumpul pada saat pemberangkatan, di hari Sabtu, 20 Februari 2016 di meeting point Alun-Alun Malang.

Mendekati hari, ternyata banyak teman-teman Rombel 55 yang berhalangan hadir. Mulai dari Arai yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Kemudian Mas Fajar yang harus menyelesaikan proyek kapalnya. Dilanjutkan Santi yang ada janji ketemu dengan klien penting. Dan Mas Aris yang harus mengantar istrinya ke Surabaya, juga Mas Yudi yang istrinya mendadak sakit. Selain itu masih ada Mba Choy dan Mba Gustin serta Wildan yang sudah menginformasikan tidak bisa datang dari awal.

Berangkat dari Alun-Alun Malang sekitar jam setengah 7, jam 7 lebih sedikit kami pun tiba di MI Zainul Ulum. Kebetulan pada hari tersebut, siswa kelas 6 beserta guru kelasnya dan kepala sekolah sedang ada acara di Batu. Pak Rustandi, salah satu guru menginformasika bahwa kepala sekolah sepenuhnya acara hari ini kepada kami. Duh ga enak sebenarnya mengganggu jadwal pelajaran. Setelah beristirahat sebentar dan menyusun detail acara, kami pun memulai kegiatan di hari Sabtu tersebut.

Kegiatan yang pertama kali kami lakukan adalah Senam Zumba yang dipandu oleh Mas Nicky. Anak-anak dikumpulkan di depan lapangan. Senam Zumba yang dipimpin Mas Nicky ini cukup membuat kami berkeringat. Tidak hanya Zumba, keringat kami pun juga menetes karena Senam Pinguin. Tapi sebelum mulai Senam Pinguin, Mas Nicky memberi sedikit intermezo dengan mengajak anak-anak untuk kuis tentang wawasan Indonesia. Sebenarnya kuis ini hanya kamuflase sih, karena sedikit ada masalah teknis pada laptop yang digunakan untuk menyetel lagu Senam Pinguin.

IMG-20160223-WA0014[1]

Senam Zumba Dipimpin Mas Nicky

IMG-20160226-WA0028[1].jpg

Senamnya Semangat Banget

Continue reading

Solo Trip, Menikmati Budaya dan Kuliner Sambil Reuni Tipis

 

Solo sebenarnya bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari rumah saya di Magetan. Bisa lewat Sarangan tembus Tawangmangu, atau juga bisa lewat daerah Wonogiri, Jawa Tengah. Memang kebetulan rumah saya berada dekat dengan perbatasan, dan Solo sebenarnya lebih dekat dibandingkan dengan Surabaya. Sampai lulus kuliah, seingat saya terakhir kali saya ke Solo sewaktu SD ikut Ibuk beli baju dan peralatan rias pengantin di Pasar Klewer. Waktu itu pagi-pagi kami diantar Bapak ke Purwantoro, Wonogiri untuk naik bis menuju Solo. Sorenya kami pun kembali dijemput di Purwantoro oleh Bapak.

Sejak lulus SD sampai akhirnya bekerja di Surabaya, saya memang sudah tidak pernah ke Solo lagi. Faktor anak kosan sejak SMP kayaknya bikin jarang jalan-jalan. Sampai akhirnya setelah bekerja, beberapa kali bisa mampir sebentar di Solo. Kalau dihitung sebelum trip saya ke Solo tanggal 5-8 Februari 2016 kemarin, kurang lebih 3 kali saya berkunjung singkat ke Solo. Pertama, sewaktu tugas kantor dari Salatiga, saya memutuskan kembali ke rumah dengan naik kereta ke Solo. Karena sekedar transit, saya hanya sempat mampir ke toko oleh-oleh di Jalan Kalilarangan. Kedua, sewaktu Pak Puh saya kebetulan habis operasi di salah satu RS di Solo, saya dan adek sempat menjenguk dan mencoba beberapa kuliner seperti Selat Solo Viens dan Serabi Notosuman. Lagi-lagi ini trip singkat, karena kami sampai di Solo Sabtu siang dan kembali ke Surabaya Minggu pagi. Ketiga, karena tuntutan pekerjaan juga saya sempat ada tugas interview ke Solo, lagi-lagi trip singkat, karena berbarengan dengan jadwal menjemput adek saya yang selesai liburan dari Pekanbaru dan pesawatnya turun Solo. Setidaknya di trip ketiga ini saya bisa menikmati Selat Solo Mbak Lies, jalan menuju keraton dan Bis Solo Trans.

Trip terakhir saya ke Solo awal Februari lalu sebenarnya bisa dibilang dadakan. Awalnya saya berencana mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi Yogyakarta pada tanggal 6 Februari 2016, tapi ternyata saya tidak lolos. Hiks, sedih sih sebenarnya. Akhirnya bersama sahabat-sahabat kampus yang masuk dalam golongan Geng Tanpa Wacana merencanaka Trip ke Solo-Jogja, sekalian mencari teman kampus kami yang sudah lost contact sejak pindah ikut suaminya ke Solo. Karena beberapa pertimbangan, kami pun akhirnya mengubah trip ini menjadi Trip Solo saja.

Menjelang berangkat ke Solo, saya sempat mengalami drama karena hujan dan macetnya Surabaya di Jumat malam itu. Jumat sore saya pulang sekitar pukul 17.15 dari kantor dalam kondisi hujan deras. Karena tas ransel dan peralatan lainnya masih di kos, jadi mau tak mau saya harus kembali ke kos dulu. Pukul 17.30 saya sampai di kos, berganti baju dan menunggu magrib. Melihat hujan yang masih turun, saya pun memutuskan untuk  naik taksi. Saya coba Uber, tapi hasilnya nihil. Saya coba kontak taksi langganan kantor, dan tidak ada hasil. Untunglah di depan kos ada taksi si biru yang barusan menurunkan penumpang. Pukul 18.00 saya pun berangkat ke Stasiun Gubeng, dengan asumsi masih  banyak waktu untuk bisa naik kereta Mutiara Selatan pukul 19.00 yang sudah saya pesan. Tapi, ternyata pukul 18.25 saya masih stuck di perempatan Diponegoro menuju Jalan Kartini, tidak ada yang mau mengalah. Saya pun meminta sopir taksi menurunkan saya di Alfamart Diponegoro dan memesan Gojek. Pukul 18.30, Abang Gojek sudah mengontak saya dan memastikan lokasi penjemputan. Sekitar 18.35 Abang Gojek belum datang, saya sudah galau, pasrah dan hampir nangis. Bahkan saya sudah sempat kirim pesan ke teman saya yang kebetulan ke Yogya dan satu kereta dengan saya untuk meninggalkan saya, karena masih macet. Syukurlah, setelah itu Abang Gojek datang. Ditemani gerimis, Abang Gojek pun mengantar saya menembus kemacetan. Dan tepat 18.50 saya sampai di depan Stasiun Gubeng, memberi ongkos ke Abang Gojek dan lari menuju kereta. Alhamdulillah, akhirnya jadi berangkat ke Solo juga.

Sampai di Solo, saya menginap di Hotel Amarelo di Jalan Gatot Subroto, seberang Matahari Singosaren. Sudah booking beberapa hari sebelumnya, dan dapat harga yang cukup murah pula untuk skala hotel bintang tiga (versi Traveloka masuk bintang tiga sih). Untuk 3 malam menginap, saya dapat harga sekitar Rp 750,000 (sudah termasuk diskon 10% dan tidak termasuk breakfast). Dengan lokasi yang cukup dekat dengan lokasi kuliner dan beberapa pusat perbelanjaan, saya rasa harga tersebut sudah worth it lah.

DSC_1118

Menjelang Senja dari Lantai 4 Hotel Amarelo

Continue reading

Sowan Sekolah Kelas Inspirasi Gresik : Ternyata Kami Masih Lekat di Ingatan Siswa SDN Jogodalu

Setelah pelaksanaan Hari Inspirasi tanggal 12 Oktober 2015 lalu, Kelas Inspirasi Gresik melaksanakan kegiatan lanjutan bertajuk “Sowan Sekolah”. Sesuai dengan nama kegiatannya, relawan Kelas Inspirasi kembali berkunjung ke sekolah yang menjadi Zona Inspirasi. Sebenarnya acaranya hanya sekedar menyerahkan foto bersama sewaktu Hari Inspirasi sambil kembali bersilaturahmi.

SDN Jogodalu, yang menjadi Zona Inspirasi untuk saya, kebetulan mendapat jadwal Sowan Sekolah tanggal 23 Januari 2016 kemarin. Mumpung lagi longgar Sabtu itu, saya memutuskan untuk ikut. Dari total 10 relawan yang tahun lalu ditempatkan di SDN Jogodalu, 6 relawan yang bisa ikut dalam kegiatan Sowan Sekolah tersebut. Jumlah tersebut cukup banyak jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang lain. Relawan SDN Jogodalu yang ikut serta antara lain saya, Mas Adit (relawan pengajar), Mas VJ dan Mba Ovi (pasangan suami istri relawan FG da fasilitator), Mitha (fasilitator) dan Bagus (fasilitator). Bagus ini sebelumnya sempat galau mau ikut atau tidak karena kebetulan bertabrakan dengan jadwal piket masuk kerja. Tapi, pagi sebelum berangkat akhirnya Bagus memutuskan untuk ikut sowan ke SDN Jogodalu.

Kami berkumpul di GKB sekitar pukul 7 pagi, kecuali Bagus yang menunggu di daerah Cerme. Dalam kondisi cuaca yang agak mendung, kami pun berangkat menuju Benjeng. Perjalanan Gresik – Benjeng melewati jalan raya yang pada pagi itu cukup banyak dilewati oleh kendaraan besar berupa truk. Saya yang membonceng Mitha pun sedikit ketinggalan di belakang dibandingkan Mas Adit dan Mas VJ yang lebih berani bermain manuver dengan truk-truk tersebut. Sesampainya di Cerme kami disambut dengan hujan gerimis dalam kondisi cuaca yang panas. Dalam perjalanan Cerme – Benjeng pun kami disuguhi pemandangan pelangi yang indah. Subhanallah. Sayangnya lagi nyetir jadi ga sempet foto. Tapi serius, indah banget.

Mas Adit dan Mas VJ tentu saja sampai di SDN Jogodalu lebih dahulu. Sesampainya di parkiran sekolah, di balik jendela dan pintu kelas, terlihat para siswa yang mengintip kami. Mungkin sambil berbisik-bisik “Mba Mas itu datang lagi”. Sambil menunggu Bagus yang katanya masih “otw” kami pun masuk terlebih dahulu ke ruang guru. Ternyata pada hari tersebut, Ibu Kepala Sekolah berhalangan hadir karena ada acara. Setelah Bagus datang, kami pun menyerahkan foto kegiatan Hari Inspirasi kepada pihak sekolah. Dan tentu saja dilanjutkan dengan foto bersama dan juga foto selfie.

DSC_0889.JPG

Foto Wefie dengan Guru SDN Jogodalu

Continue reading

Traveling ke Belanda bersama AAGABAN

Awal tahun baru lalu, saya sempat posting tulisan tentang penjajahan Belanda di Indonesia. Kali ini saya coba menulis ulasan singkat tentang salah satu film Indonesia yang mengambil latar tempat di Negeri Tulip Tersebut. Film ini berjudul “Negeri Van Oranje”, diadaptasi dari novelnya yang berjudul sama yang ditulis oleh empat orang lulusan Belanda, yaitu Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi dan Rizky Pandu Permana.

Kenapa tertarik nonton film ini? Awalnya saya melihat akun Instagram @gepamungkas dan @tatjanasaphira tentang syuting film di Belanda yang juga ada Abimana, Arifin  dan Chicco. Karena suka sama Ge dengan stand up comedy­-nya, suka Tatjana gara-gara jadi Dara di Stereo dan suka  Abimana kan dari dasarnya uda suka banget, akhirnya beli novelnya deh, sebelum nonton filmnya.

Film NVO ini menceritakan tentang persahabatan 5 orang mahasiswa Indonesia yang S2 di Belanda. Kelima mahasiswa tersebut adalah Lintang (Tatjana Saphira), Wicak (Abimana Aryasatya), Geri (Chicco Jericho), Daus (Ge Pamungkas) dan Banjar (Arifin Putra). Kelima sahabat ini kuliah di kampus yang berbeda di kota berbeda dan mempunyai sifat yang berbeda-beda pula. Mereka menamakan geng mereka dengan nama AAGABAN (Aliansi Amersfoort GAra-gara BAdai di Netherland).

Oke, sekali lagi mencoba untuk tidak spoiler. Sebelum lanjut lihat trailernya dulu di bawah ya


Continue reading

Yang Berbeda di Karimun Jawa

Siapa yang tidak kenal dengan Karimun Jawa, sebuah kepulauan di utara Jepara yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya. Kalau menceritakan tentang itinerary perjalanan kesana dan keindahan alam di sana kayaknya udah terlalu mainstream ya. Pengunjung Karimun Jawa sudah cukup banyak, terbukti dari penuhnya KM Siginjai yang digunakan untuk penyeberangan Jepara – Karimun Jawa. Jadi, saya coba untuk bercerita tentang beberapa insight selama berwisata ke Karimun Jawa sewaktu liburan Natal kemarin

Karimun Jawa itu Ga Ndeso

“Karimun Jawa? Nyebrang 5 jam? Tidur di rumah penduduk? Cuma ada lampu pas malem? Ndeso banget donk”. Jujur, beberapa pertanyaan itu sering bermunculan di kepala saya sebelum akhirnya menjejakkan kaki di pulau ini. Bayangan saya awalnya tidur di rumah penduduk di pulau terpencil itu rumah penduduknya masih berlantaikan tanah, paling bagus semen lah, rumahnya dari kayu atau bambu. Pas googling pun, karena fokusnya ke obyek wisata, ga sempat kepoin informasi tentang penginapan secara detail.

Dan ternyata, semua di luar dugaan. Karimun Jawa sama seperti Jawa pada umumnya. Perkembangan pariwisata di Karimun Jawa ikut membangkitkan perekonomian di kecamatan yang berbentuk kepulauan tersebut. Rumah penduduk sebagian besar sudah berlantai keramik, minimal tegel lah. Sudah bertembok semen, dan tidak jarang pula yang rumah yang berlantai dua.

DSC_0651

Karimun Jawa di Pagi Hari

Karimun Jawa itu tidak sendeso yang kukira. Memang sih belum ada minimarket waralaba yang biasanya jadi parameter ndeso-nya suatu tempat, tapi Karimun Jawa itu sudah rame. Di pagi hari biasanya mobil travel sudah lalu lalang menjemput wisatawan di masing-masing penginapan. Penduduk setempat pun sudah memulai aktivitasnya dengan kendaraan masing-masing. Di malam hari, biasanya wisatawan akan keluar dari penginapan dan jalan-jalan mencari makan atau oleh-oleh. Kalau dibandingkan dengan rumah saya di Magetan, kayaknya lebih rame di Karimun Jawa deh. Rumah saya lebih ndeso.

Continue reading