#NeserKepo : Penggunaan Fitur “Story”/”Live” di Media Sosial

 Maafkan lama ga isi blog. Kekurangan bahan mungkin ya. Maklum lama ga traveling, kerjaan lumayan “ehem” juga, hati lagi “ehem” juga. Nonton film Indonesia masih sering sih, tapi belum nemu yang klik buat ditulis, ya mirip kaya belum klik nemu jodoh. Ehemm lagi.

Yang baru di postingan kali ini, aku mau mulai bikin #NeserKepo. Sejenis tulisan-tulisan yang ditulis dari hasil kekepoan Neser terhadap berbagai fenomena yang ada di lingkungannya. Hasil kekepoan itu nanti bisa hasil dari desk research biasa, atau mungkin survei ala-ala di media sosial. Seperti salah satu survei lewat Google Forms yang pernah aku share beberapa waktu lalu untuk dapetin #NeserGiveAway. Biar sekeren tirto.id atau beritagar atau kumparan, yang isinya beberapa riset lainnya sih. Ya setidaknya biar keahlian kepo ini berkembang, risetnya receh dan ga penting-penting banget. Kalau kata si “ehem”, beberapa negara maju malah sudah mulai bikin riset-riset yang ga penting gini. Apalah aku mah, maju aja enggak, ya gini-gini aja.

Social Media.jpg

#NeserKepo kali ini mau mengambil topik tentang media sosial. Terutama tentang fenomena penggunaan fitur Story/Live di beberapa media sosial. Kalau di fitur “Story”, biasanya kita bisa update foto/video dengan durasi kurang dari 1 menit, yang akan hilang tayang setelah 24 jam. Kalau di “Live”, kita bisa bisa update video yang langsung bisa ditonton saat itu juga sama friend/follower kita yang online dan yang pasti mau nonton kita. Mirip sama sok ala-ala acara TV yang live gitu. Jadi kita serasa punya channel/acara TV sendiri. Berapa media sosial sudah mulai memasukkan fitur-fitur ini dalam aplikasinya.

Continue reading

Ziarah, Film Sederhana tentang Pencarian dan Mengikhlaskan

 

Kalau mendengar judulnya, pasti kepikirannya sama film horor ecek esek, dengan hantu yang ga keren. Tapi ternyata salah banget. Film ini juga bukan film mewah dengan berbagai aktor dan aktris terkenal. Film yang disutradarai oleh BW Purbanegara ini dibintangi oleh Mbah Ponco Sutiyem, orang biasa tanpa latar belakang akting yang berasal dari daerah Gunungkidul, Yogyakarta.

Liat dulu poster dan trailernya ya.

ZIARAH-2017-pf-1.jpg

Film ini menceritakan tentang Mbah Sri (diperankan oleh Mbah Ponco) yang mencari makam suaminya yang pamit mengikuti perang Agresi Militer Belanda II. Meskipun tinggal bersama cucu laki-lakinya, Mbah Sri nekad berangkat sendiri mencari makam suaminya tersebut. Sang cucu pun akhirnya ikut dalam pencarian, mencari Mbah Sri sekaligus mencari makam kakeknya. Dalam perjalanan mereka berdua, kematian suami Mbah Sri sebagai pejuang masih simpang siur.

Continue reading

MIWF 2017, Surga untuk Pecinta Buku

Makassar International Writer Festival 2017 (MIWF 2017) merupakan festival literasi terbesar di Indonesia Timur. Tahun ini MIWF 2017, mengambil tema “Diversity”, tema yang pas banget sama kondisi Indonesia saat ini. MIWF 2017 ini buat aku merupakan salah satu wishlist tahun 2017, gara-gara lihat foto-foto pelaksanaan MIWF 2016 yang bertabur penulis-penulis keren.

MIWF 2017 dilaksanakan di salah satu landmark terkenal di Makassar, Benteng Fort Rotterdam. Kawasan benteng pun disulap menjadi arena yang menyenangkan dengan penuh buku dan berbagai booth-booth pendukung. MIWF sendiri terdiri dari beberapa talkshow buku, launching buku baru, sampai pembacaan puisi. Di malam hari, kawasan benteng yang biasanya terkesan horor, disulap jadi arena menampilkan berbagai performance yang berhubungan dengan buku, mulai pembacaan puisi sampai musikalisasi puisi. Detail jadwal MIWF 2017 kemarin bisa dilihat di sini, siapa tahu bisa jadi referensi buat datang di MIWF 2018 nanti.

MIWF 2017 ini dilaksanakan mulai tanggal 17-20 Mei 2017. Sebelumnya memang dilakukan berbagai pre event. Aku sendiri baru bisa datang ke Makassar di tanggal 19 Mei, maklum lah kuli korporasi cutinya terbatas. Sampe Makassar pun sudah siang, karena abis dari Rammang-rammang dulu, jadi tidak semua sesi aku ikuti.

MIWF.jpg
Continue reading

Jalan-jalan ke Makassar, Mencari View Menenangkan dan Berbagai Makanan Khas

Beberapa bulan lalu pas tugas kantor ke Makassar, saking ribetnya kerjaaan, ga sempet main atau mbolang kemana-mana. Cuma sempet dikit merasakan konro bakar di Konro Karebosi. Karena ga puas ga bisa jalan-jalan, dalam hati pun memutuskan “Suatu saat aku kudu mbolang ke Makassar pokoknya”

Bertepatan dengan kegiatan Makassar International Writer Festival (MIWF) 2017, kegiatan pesta literasi yang masuk wishlist untuk didatangi tahun ini, keturutan lah keinginanku mbolang ke Makassar. Meskipun nama kegiatannya hanya ada kata “writer”, tapi kegiatan ini didatangi oleh para writer dan reader. Lebih lanjut tentang betapa kerennya acara MIWF ini, nanti ya di post berbeda. Tapi dari kesuksesanku berangkat mbolang ke Makassar, aku mulai yakin “Kalau ada niat pasti ada jalan buat kesana.

Kemudahan pertama, gara-gara Garuda Online Travel Fair dengan iming-iming diskon, aku pun tergoda beli tiket Surabaya – Makassar. Meskipun pas masuk payment baru ngeh kalo diskon berlaku untuk minimal transaksi Rp 1.000.000 atau Rp 1.500.000 (detailnya aku lupa). Tapi dengan harga tiket sekitaran Rp 623.000, untuk selevel maskapai Garuda, ya lumayan lah. Soalnya si maskapai merah lebih mahal dari itu, dengan fasilitas yang tentu saja beda. Baliknya Makassar – Surabaya dapat Sriwijaya yang harganya ga sampai Rp 600.000. Murah banget? Ya enggak juga sih, tapi lumayan lah bisa menghemat budget.

Kemudahan kedua, pas event kantor ada booth Airy Rooms yang jual voucher diskon Rp 100.000 per transaksi dengan harga Rp 10.000 aja. Beli donk, dan dipake buat booking penginapan murah di sekitaran Fort Rotterdam (lokasi MIWF). Dapat penginapan di Wisma Jampea, dengan total harga setelah diskon ga sampe Rp 250.000 untuk 2 malam kamar dengan AC. Karena ini mbolang-nya ala-ala backpacker, jangan harap penginapan yang mewah ya. Pokoknya bisa merem sama selonjorin kaki yang abis dipake jalan-jalan seharian. Oh iya, Wisma Jampea ini pernah dipake buat shooting film Trinity, The Nekad Traveler yang dibintangi sama Maudy Ayunda itu lho. Buat yang suka jalan-jalan budget terbatas, tapi bisa menginap di penginapan dengan harga yang miring, pake Airy Rooms lumayan tuh, lagi banyak diskon juga kayaknya.

Kemudahan-kemudahan yang  lain pasti banyak. Salah duanya dengan adanya Gojek dan Uber di Makassar, yang berguna banget buat aku yang jalan sendirian ini.

Oh iya, karena selain MIWF, Makassar Trip ini niatnya adalah menenangkan diri sebelum Ramadhan plus menuruti hasrat kuliner Makassar yang belum keturutan, jadi tulisan di post ini akan ngomongin tentang view dan kuliner ya. Cekidot
Wisata Rammang-Rammang, Maros

Wisata Rammang-Rammang merupakan wisata berupa pegunungan karst yang berada di daerah Kabupaten Maros. Lokasi Rammang-Rammang ini backpacker friendly banget, bisa ditempuh dengan transportasi umum. Awalnya pas pagi berangkat dari Surabaya, sempet galau, enaknya ke Rammang-Rammang ga ya, kan lumayan jauh, sendiri pula. Tapi akhirnya berangkat juga.

Begini nih rutenya :

  1. Kalau dari Makassar kita sebenarnya bisa langsung naik pete-pete (julukan untuk angkot di Makassar) arah Pangkep dari Terminal Regional Daya.
  2. Kalau dari Bandara Sultan Hasanuddin, kita bisa minta tolong ojek untuk diantar ke depan gerbang bandara yang dilalui oleh pete-pete yang menuju Pangkep. Infonya sih dulu sempat ada shuttle bus gratis yang bisa mengantar ke depan bandara. Tapi, sempat tanya ke bagian informasi di bandara, katanya fasilitas tersebut sudah tidak ada. Bisa naik Damri juga, tapi kemarin akunya ketinggalan dan tidak bisa mengejar. Kemarin ojek dari bandara ke ruas jalan Makassar-Maros tersebut, diminta Rp 30.000.
  3. Setelah naik pete-pete, minta diturunkan di pertigaan Semen Bosowa. Nanti sopirnya uda ngerti. Nah, arah ke Rammang-Rammang di kanan jalan, jadi kita kudu nyebrang Tenang ga usah takut, jalannya ga seramai poros Surabaya – Madiun dengan berbagai truk dan kendaraan lain. Oh iya, angkot ini aku bayar Rp 10.000 ga dibalikin sama sopirnya.
  4. Dari pertigaan, salah satu dermaga Rammang-Rammang mungkin hanya berjarak 1 km. Lumayan sih buat jalan, apalagi pas panas-panas gitu. Tapi ada tukang ojek kok di sana. Kalau mau diantar ke Dermaga 1 (yang paling dekat) cukup bayar Rp 5.000 saja.

Sampai di dermaga, untuk bisa melihat keindahan pegunungan  karst Rammang-Rammang kita harus naik perahu menyurusi sungai menuju sebuah Kampung yang bernama Kampung Berua. Harga sewa perahu sudah ditetapkan tanpa perlu tawar menawar. Harga sewa bergantung pada jumlah penumpangnya. Untuk 1-4 orang penumpang, dipatok harga Rp 200.000 pulang pergi, dengan start dan finish di Dermaga 1. Kita juga bisa minta berhenti di beberapa spot-spot/lokasi wisata yang berada di kawasan Rammang-Rammang tersebut.  Nilai Rp 200.000 sebenarnya cukup kerasa banget kalau ditanggung sendiri, tapi percayalah itu worth it dengan pemandangan yang didapatkan. Birunya langit sebagai background dan jajaran bukit karst yang menjulang berwarna hijau. Ditambah suasana yang sebenarnya cukup sepi, tidak terlalu ramai. Hening, tenang.

DSC_3455

Susur sungai sama penduduk setempat yang nebeng

DSC_3456

Pemandangan dari bangku depan

DSC_3509

Kampung Berua

Buat yang Muslim, jangan bingung kalau mau sholat, di kawasan Kampung Berua juga disiapkan mushola.

DSC_3517

Masjid Kampung Berua

Continue reading

Menutup Petualangan 2016 di Perbukitan Ponorogo

 Kalau bicara tentang petualangan ala Neser, apalagi kalau bukan petualangan Kelas Inspirasi. Di bulan terakhir 2016 kali ini, petualangan Kelas Inspirasi terhenti di Ponorogo. Sebuah kota kecil tempatku pernah menuntut ilmu selama 6 tahun. Sebagai ungkapan terima kasih sederhana kepada kota Ponorogo, tidak ada salahnya menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Ponorogo ini.

Kelas Inspirasi Ponorogo kali ini merupakan Kelas Inspirasi yang dilaksanakan keempat kalinya di Bumi Reog ini. Kali ini Kelas Inspirasi Ponorogo 4 dilaksanakan di Kecamatan Ngebel. Yaps, sebuah kecamatan yang terkenal dengan Telaga Ngebelnya.

Di Kelas Inspirasi Ponorogo 4 ini, kebetulan dapat Zona Inspirasi di SDN Talun 2. Di mana itu? Akupun tidak tahu, karena yang aku tahu hanya lokasi Telaga Ngebel saja. Info dari fasil sekitar 12 km dari Telaga Ngebel. Wah, lumayan juga ya ternyata.

Kebetulan Hari Inspirasi dilaksanakan pas hari Sabtu, tepatnya di tanggal 17 Desember 2016. Lumayan tidak memotong jatah cuti. Tapi karena pas hari Sabtu, di Jumat sorenya aku segera meluncur dari Surabaya untuk pulang kampung dulu. Sebenarnya panitia/fasil menyediakan tempat menginap dekat sekolah. Tapi karena aku pasti baru sampai menjelang tengah malam, akhirnya aku putuskan untuk menginap di rumahku di Magetan untuk besok paginya berangkat ke Ponorogo, lebih tepatnya Ngebel.

Pukul 23.30 baru sampai rumah, beberes bentar dan 00.00 mulai tidur. Tidur baru sekitar 4 jam, berkumandanglah adzan Subuh, dan waktunya siap-siap. Pukul 04.30 mulailah tancap gas menuju Ponorogo. Lumayan dingin, tapi mengingatkan nostalgia akan perjuangan diantar pagi-pagi di hari Senin sewaktu SMP dan SMA.

Keluar dari kota Ponorogo, masuk daerah Kecamatan Jenangan mulai bisa tuh tancap gas pake kecepatan 80 km/jam. Mohon dimaklumi aku mah cemen, di Surabaya ga berani naik motor kenceng-kenceng. Lumayan kemarin bisa melampiaskan hasrat tangan untuk ngegas lebih pol. Mulai masuk kawasan Kecamatan Ngebel, jalan mulai menanjak dan ada beberapa tikungan tajam.

PLTA Ngebel mulai terlihat, sebentar lagi sampe nih. Dan ternyata benar, sampailah aku di kawasan Telaga Ngebel, yang terakhir kali kudatangi mungkin lebih dari 5 tahun lalu. Pukul 06.00 tepat, sampailah aku di depan Pesanggrahan Dewi Sri, basecamp dan penginapan untuk relawan untuk Kelas Inspirasi Ponorogo.

DSC_3039.JPG

Akhirnya ke Ngebel setelah 6 tahun lebih

Sampai situ aja? Tentu tidak. Di pesanggrahan aku bertemu dengan Feby, dokumentator asli Jember yang sedang kuliah di Malang. Kami berdua menunggu jemputan teman-teman fasil SDN Talun 2 dari basecamp SDN Talun 1 dan 2. Karena sinyal seluler di kawasan Talun cukup memprihatinkan, kami sempat mengalami miskomunikasi. Sambil menunggu jemputan kami disarankan untuk naik dulu perlahan. Eh, ternyata baru mau keluar dari kawasan telaga kami pun dijemput.

Perjalanan dari telaga menuju basecamp kami yang tidak jauh dari SDN Talun 1 mungkin menghabiskan waktu 20-30 menit. Medan menuju kesana pun cukup lumayan. Cukup menantang. , Tapi karena aku cewek, jadinya aku dibonceng saja. Sesampainya di basecamp yang merupakan rumah penduduk, kami pun sarapan sebentar dan kemudian berangkat. By the way, yang punya rumah ramah banget. J

Perjalanan dari basecamp menuju lokasi SDN Talun 2 kurang lebih 15 menit, dengan medan yang jauh lebih menantang. Karena semalam hujan, beberapa jalan tergenang air, becek dan licin. Tanjakan pun cukup lumayan, dikombinasikan dengan jalan makadam. Beberapa bagian jalan malah berada di tepi tegalan yang mirip tebing. Karena kombinasi motor dan relawan cowok sudah pas, jadilah aku naik motor sendiri. Dan, amazing banget naik motor menuju Talun 2 ini, bikin ketagihan. Apalagi didukung view pedesaan yang natural banget. Beberapa kali aku malah merasa kalau aku sedang berada di daerah antah berantah yang bukan Ponorogo.

DSC_3036.JPG

Selfie di belakang kelas

DSC_3037.JPG

Penampakan Belakang Sekolah

DSC_3035.JPG

Nyulik murid buat selfie bareng donk

Continue reading

“Menyeberang” ke Kelas Inspirasi Tegal

 

Sepertinya cerita pengalaman Kelas Inspirasi pertama di provinsi sebelah tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setelah beberapa hari sok sibuk karena pekerjaan, akhirnya baru punya kesempatan buat nulis tentang pengalaman Kelas Inspirasi pertama di Jawa Tengah.

Kali ini, Kelas Inspirasinya di sebuah kota di kawasan jalur Pantura. Sebut saja namanya “Tegal”.

“Kenapa ikut Kelas Inspirasi Tegal?”

“Soalnya tahun lalu ga jadi ikut.”

“Kenapa tahun lalu pingin ikut?”

Eh ini kalau kepanjangan jadi serasa diinterogasi deh, trus ntar takutnya curcol. Eeeakkk.

Kelas Inspirasi Tegal kali ini merupakan pelaksanaan Kelas Inspirasi Tegal yang ke-2. Kelas Inspirasi pertamaku di Jawa Tengah. Kelas Inspirasi pertamaku di Tegal. Tapi main ke Tegal-nya udah empat kali ini.

Secara administratif, daerah Tegal terbagi menjadi Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. Kebetulan pelaksanaannya sebagian besar di Kabupaten Tegal yang terkenal dengan teh poci dengan gula batu-nya.

Teh poci mas, manis gulo batu

                Mampir mriki bakule mbak ayu

                Dasar ngunjuk teh poci

                Biso kagem jampi

                Jampi wuyung sing lagi gandrung

 

Malah nyanyi. Oke balik fokus Nes.

Kali ini kebetulan ditempatkan di sebuah sekolah yang terletak di Kecamatan Kedungbanteng, lebih tepatnya di Desa Semedo. Perjalanan dari Stasiun Tegal menuju Desa Semedo ini kurang lebih bisa menghabiskan waktu 1,5 – 2 jam, dengan medan yang cukup menantang. Meskipun lebih menantang perjalanan menuju rumahku sih. #curhat

 

IMG-20161101-WA0003.jpg

Medan menuju Semedo

Continue reading

Bersama Kelas Inspirasi, Kamu Tidak Akan Merasakan Lelah

 

Semoga tidak pada bosan membaca tulisanku tentang Kelas Inspirasi. Di akhir pekan dan libur cuti kemarin, kebetulan tiga kegiatan Kelas Inspirasi mengisi jadwalku secara berurutan. Dan bertepatan pula dengan riweuhnya deadline kantor yang menggebu-gebu minta segera diselesaikan. Form sudah disubmit, pengumuman sudah dipampang, tidak elok sepertinya harus membatalkan karena alasan sibuknya pekerjaan. Dan inilah, liburanku bersama Kelas Inspirasi di 3 daerah yang berbeda.

photogrid_1477726470772

Petualangan Liburan Bersama Kelas Inspirasi

Continue reading

Kampung Buku Jogja, Pembuka Pesta Buku di Bulan Oktober

 

Bulan Oktober 2016 ini, rasanya menjadi bulan penuh pameran buku buat penggemar buku seperti aku. Serangkaian kegiatan bertema buku di bulan ini antara lain :

  1. Gramedia Sale Surabaya, di gudang Gramedia di daerah Berbek. Acara sale ini menjual buku mulai Rp 5.000. Cuci gudang ini dimulai tanggal 7 Oktober kemarin dan diakhiri ketika buku sudah selesai. Buat pecinta buku yang statusnya karyawan dengan jam kerja ketat, harus benar-benar melonggarkan waktunya di hari Sabtu karena cuci gudang ini dimulai jam 07.30 dan selesai jam 17.00. Di hari Minggu, acara in tutup. Setelah coba kepo-in instagram @gramediacucigudang, termyata sempat diberlakukan sistem antrian agar masuknya lebih tertib. Ga kebayang deh ramenya. Dan sepertinya aku tidak sempat hunting di cuci gudangnya Gramedia yang di sini, karena jadwal untuk hari Sabtu di bulan Oktober ini sudah full booked. Tapi infonya sih, di lokasi lain di Surabaya juga ada sale, seperti di Gramedia Royal dan Gramedia Manyar
  2. Kampung Buku Jogja yang kedua, yang juga dimulai tanggal 7 Oktober 2016 dan berakhir di 9 Oktober 2016. Acara ini dilaksanakan di Food Park UGM.
  3. Big Bad Wolf Surabaya, mulai tanggal 20 Oktober di JX Expo, Jl. Ahmad Yani. Event ini juga merupakan pameran buku terbesar, dan 24 jam nonstop. Alhamdulillah, dapat VIP Pass yang benefitnya bisa masuk ke BBW satu hari sebelum pameran resmi dibuka. Bismillah, sudah mengajukan cuti dan semoga bisa hunting sepuasnya. (elus ATM)
  4. Abookadabra Gramedia. Nah acara ini sepertinya merupakan kelanjutan Gramedia Cuci Gudang. Bedanya acara Abookadabra ini akan dilaksanakan di Atrium Tunjungan Plaza dan juga di Ciputra World Surabaya. Siap hunting lagi?

Pas kebetulan ada urusan ke Jogja, kebetulan pas ada Kampung Buku Jogja. Jadi sekalian lah ya, sambil menyelam bisa selfie. Sambil sekalian ada urusan pribadi, sekalian main dan refresh otak di Kampung Buku. Tapi, sebelum mulai cerita, terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Mba Sasa, yang sudah menemaniku di Jogja terutama di Kampung Jogja dan bertemu orang-orang keren yang punya peran penting dalam dunia literasi di Jogja.

Tidak hanya pameran buku, Kampung Buku Jogja juga mengajak pengunjungnya untuk mengikuti diskusi dan talkshow terkait dunia buku, terutama di Jogja. Detail jadwalnya bisa dilihat di sini ya, lumayan buat referensi kalau tahun depan mau berkunjung ke sana.

_20161012_083644

Continue reading

Pantai Tiga Warna Malang, Tambahan Warna Baru bagi Kabupaten Malang

 

Buat yang suka ngepantai cantik, tidak hanya sekedar foto-foto tapi juga menikmati suasana bawah laut, kini Malang Selatan punya pantai yang cukup lumayan untuk melepaskan hasrat nyebur dan ketemu ikan warna-warni. Sebut saja namanya Pantai Tiga Warna. Kebetulan akhir minggu lalu, aku dan teman-teman sempat short trip ke Pantai Tiga Warna. Nah ini sekilas tentang Pantai Tiga Warna.

 

Lokasi dan Medan Perjalanan

Secara geografis Pantai Tiga Warna terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (biasa disingkat Sumawe, serius baru tahu singkatan ini pas lewat sana), Kabupaten Malang. Oh iya, Kabupaten Malang ini beda sama Kota Malang ataupun Kota Batu secara administratif. Ketiga daerah ini memang berada dalam kawasan Malang Raya yang dikenal dengan nama Malang saja. Tapi ketiga daerah ini secara administratif berbeda. Kabupaten Malang sendiri merupakan kawasan paling luas di antara ketiga daerah tersebut, yang sebenarnya memberikan pilihan obyek wisata yang cukup banyak.

Oke kembali ke topik Pantai Tiga Warna. Pantai ini kurang lebih bisa ditempul antara 2-3 jam dari Malang Kota. Kalau dilihat dari Google Maps, kurang lebih berjarak 70 km dari Alun-alun Kota Malang.

Perjalanan menuju Pantai Tiga Warna cukup lumayan menantang dan mengocok perut, karena melewati daerah Malang Selatan yang cukup berbukit dan berkelak-kelok.  Kalau naik sepeda motor, pastikan dalam keadaan baik, kalau naik mobil dan suka mabuk darat, jangan lupa minum obat anti mabuk.

Kawasan ini searah dengan Pantai Sendang Biru, jadi kita akan melewati daerah Turen terlebih dahulu baru kemudian masuk ke wilayah Sumawe. Ketika sampai di pertigaan menuju Sendang Biru, kalau ke Sendang Biru lurus, nah ke Tiga Warna ini belok kanan. Di pertigaan ini juga sudah ada petunjuk yang cukup jelas. Ketika sudah sampai ke pertigaan ini kita bisa melihat perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur yang sudah cukup lebar. JLS ini memang dibangun untuk mempermudah akses wisata ke bagian selatan Jawa Timur yang ternyata punya gugusan pantai yang indah dipandang.

Kawasan Pantai Tiga Warna ini sekompleks dengan area konservasi mangrove yaitu Clungup Mangrove Conservation (CMC). Untuk bisa menuju ke pantai, kita tidak serta merta parkir kemudian langsung bisa melihat pantai. Kita harus berjalan kurang lebih 40 menit dari area parkir motor (kalau dari area parkir mobil lebih jauh). Perjalanan yang cukup membutuhkan perjuangan berat untuk orang yang tidak terbiasa jalan ataupun traveling karena melewati kawasan perkebunan dan perbukitan serta kawasan budidaya mangrove.

DSC_2566.JPG

Kawasan Mangrove

DSC_2559

Harus kuat jalan kaki

Continue reading

Pulau Kecil Penuh Inspirasi itu bernama Nusa Penida

 Petualangan berkedok Kelas Inspirasi kali ini berlabuh di Pulau Nusa Penida, sebuah pulau kecil di bagian selatan Pulau Bali. Sekalian berencana reuni dengan teman-teman sewaktu Kelas Inspirasi Lombok, pengalaman baru “mengajar” di Pulau Dewata yang sarat budaya patut dicoba.

 

Transportasi ke dan di Nusa Penida

Untuk sampai ke Nusa Penida, kita harus menyebrang selama kurang lebih 30-60 menit tergantung jenis kapal yang kita gunakan dan di pelabuhan mana kita akan berlabuh. Kebetulan saya dan tim ditempatkan di SDN 3 Batununggul yang tidak berada jauh dari Pelabuhan Sampalan, jadi kami naik kapal bernama Mola Mola Express dan Pelabuhan Sanur (Matahari Terbit) selama kurang lebih 60 menit. Ketika kami menyebrang dari Sanur jam 14.00 WITA, ombaknya cukup lumayan. Jadi kalau sering mabuk laut, mending duduk di belakang, karena kalau di depan, goncangan arusnya cukup lumayan.

Mau berkeliling ke Nusa Penida? Sesampainya di pelabuhan kita bisa menemukan rental sepeda motor dengan tarif kurang lebih Rp 75.000 per harinya. Hampir semua sepeda motor yang disewakan merupakan sepeda motor matic dengan merek Honda Vario (bukan iklan, tapi kebetulan mbak researcher ini jeli banget matanya). Oh iya, ketika meminjam sepeda motor pastikan kondisi rem baik depan ataupun belakang dalam kondisi yang bagus. Karena beberapa lokasi wisata harus ditempuh dengan medan yang super penuh tantangan.

 

Beruntung Dapat Penginapan Murah

Sebulan menjelang Hari Inspirasi, ketika grup rombel sudah mulai terbentuk, kami sudah kepikiran tentang penginapan. Karena belum tahu lokasi detail, dalam benak kami “Ya udah lah ya, di rumah penduduk juga ga pa2”. Setelah dag dig dug karena takut ga dapat penginapan, akhirnya panitia lokal di rombel kami menginformasikan “Kak, ada penginapan Rp 175.000 per malam bisa buat dua orang, kalau 3 orang kena Rp 200.000”. Langsung diambil lah ya.

Dan, inilah penampakan penginapan kami.

DSC_2392.JPG

Hawa-hawa honeymoon ya Sist

DSC_2393.JPG

Namanya Pondok Kana, lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Sampalan, strategis juga, karena tidak jauh dari pantai. Bersebelahan dengan penginapan yang bernama “Mae-Mae”. Kebetulan sebagian tim kami juga ada yang menginap di “Mae-Mae”. Pondok Kana ini hanya terdiri dari 2 kamar dengan tipe cottage gitu, di pojokan depan juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan untuk kumpul bareng. Pokoknya honeymoonable deh ya, tinggal dikirim aja fotonya kalau mau kasih kode. #eeeaaakk

Yang pasti harga yang kami dapatkan di atas sudah melalui proses nego yang dilakukan oleh tim panitia lokal KI Bali (Terima kasih banyak). Kamar mandi di dalam, yang cukup panjang, dengan shower da wastafel. Sebenarnya ada AC, tapi dengan harga yang cukup miring tersebut kami hanya diperbolehkan menggunakan kipas angin, dan remote AC-nya disembunyikan entah kemana. Tapi dengan hanya kipas angin, rasanya sudah cukup karena kalau malam udara Nusa Penida tidak terlalu panas. Oh iya, di setiap kamar juga terdapat 2 colokan, jadi lumayan ga akan rebutan sama partner/pasangan. Ada free wifi juga lho, dengan password yang bisa diminta langsung ke pemilik penginapan Pondok Kana ini.
Continue reading