Dari Dilan, Kita Belajar dari Nostalgia Percintaan di Tahun 1990

Sudah cukup quote “Jangan rindu. Berat. Kamu tidak akan kuat” menjadi meme di berbagai media sosial. Kalian juga pasti sudah bosan dan eneg seperti bosan dengan quote “Nikahi Aku, Fahri” (Mintanya dinikahi yang lain sih. Tapi kalau ngeliat Fedi Nuril tetep meleleh. Yang dewasa kadang lebih mempesona. Kadang lho ya, ga semua). Sudah banyak juga review tentang Panglima Tempur brondong ini bertebaran, jadi aku sekedar menceritakan yang menarik dari Dilan 1990 versi Neser.

Sebelum lanjut, intip dulu official poster Dilan 1990.

dilan-1990-411x600

Official Poster Dilan 1990

 

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan yang lebih dikenal dengan Iqbal CJR, sempat diragukan banyak orang ketika pertama kali diumumkan menjadi pemeran Dilan. Namun, ternyata Iqbaal membuktikan perannya yang cukup keren sebagai cowok anak geng motor yang pintar nggombal. Sayangnya kamu masih brondong, Dik. Aku pun juga sudah kenyang bahkan mau muntah-muntah saking seringnya digombalin. Jadi Dilan, gombalanmu ga mempan buat Mbak. Mbak ga baper sama sekali, tapi ketawa ngakak hampir misuh-misuh setiap kamu gombal.

Continue reading

Gunung Blego, Keindahan di Dekat Mata yang Terlupakan

Tanpa terasa, 4 tahun terakhir ini perjalanan blakrakan-ku ternyata sudah cukup lumayan menjelajah beberapa pulau yang ada di Indonesia. Mulai karena kerjaan, ataupun niatnya memang murni jalan-jalan. Dan ternyata, aku malah belum sama sekali menginjakkan kaki di sebuah tempat yang tidak kalah indahnya di desaku. Aku kadang malah menyebutnya “gunung mburi omah” (gunung di belakang rumah), karena memang dari rumahku sudah kelihatan gunungnya.

Entah efek relativitas atau apa, aku merasa gunung itu semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin terlihat besar. Di umurku yang sudah lebih dari seperempat abad ini (sudah mulai lupa umur, mungkin lebih tepatnya ga mau ngaku umur. Hahaha), mungkin gunung itu memberi tanda padaku bahwa aku belum pernah ke sana, mengingatkanku untuk segera ke sana.

DSC_3238

Gunung Blego, diambil dari Desa Pohijo, Kec. Ponorogo

Gunung itu bernama Gunung Blego, mungkin lebih tepatnya dia adalah sebuah bukit. Ketinggian Gunung Blego ini kurang lebih hanya 996 meter, masih kurang dari 1.000 meter ternyata. Gunung ini mirip dengan Gunung Lawu dalam hal lokasi. Seperti Gunung Lawu, Gunung Blego ini terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Blego sendiri secara administratif sebagian berada di Jawa Tengah, di Desa Nguneng, Kec. Puhpelem, Kab. Wonogiri. Sedangkan sebagian di Provinsi Jawa Timur, lebih tepatnya di Desa Sombo, Kec. Poncol dan Desa Ngunut, Desa Trosono dan Desa Sayutan, Kec. Parang.

Sesuai dengan lokasinya, perjalanan menuju Gunung Blego dapat dicapai melalui kelima desa tersebut. Perjalanan pembuka tahun 2018-ku kemarin menuju Gunung Blego aku pilih dengan menikmati Gunung Blego melalui desaku sendiri, Desa Sayutan. Dari rumahku yang berada pusat Desa Sayutan (cieee pusat), perjalanan dimulai dengan kendaraan menuju Dukuh Dukuh. (iya, nama dukuhannya juga Dukuh). Dari ujung Dukuh Dukuh, perjalanan dilanjutkan tentu saja dengan berjalan kaki.

Continue reading

Toraja, Belajar tentang Keindahan, Syukur dan Kematian bersama Secangkir Kopi

Penutup rangkaian blakrakan di tahun 2017 ini jatuh kepada Toraja, sebuah daerah wisata di Sulawesi Selatan. Kenapa Toraja? Sebenarnya ada dua alasan yang agak-agak aneh sih. Yang pertama, tahun 2017 ini kan kebetulan ada kerjaan di Makassar sehingga sering ke sana. Nah, di Makassar banyak spanduk promosi tentang Toraja. Salah satunya spanduk/banner bergambar Bapak Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo  dengan caption “Jangan Mati Sebelum ke Toraja”. Dasar Neser anaknya gampang terprovokasi, jadinya kepingin kan kesana. Di kerjaan ini pula kebetulan ada tim lapangan yang turun keToraja, jadi tambah pingin kan. Yang kedua karena nonton film Filosofi Kopi 2, yang ada adegan Tara dan Jody ke Makassar terus langsung lanjut ke Toraja dan berada di sebuah bukit yang serasa di atas awan.

Eh ada lagi sih, karena konon katanya Kopi Toraja itu enak. Nih contohnya 🙂

DSC_4662.JPG

Kalau bicara tentang Toraja sendiri, sebenarnya ada dua kabupaten di Sulawesi Selatan yang pakai nama “Toraja”. Kabupaten yang pertama adalah Kabupaten Toraja Utara, dengan ibukota Rantepao. Nama “Rantepao” sendiri pertama kali aku tahu kalau itu adalah ibukota Toraja Utara karena kerjaan kantor juga. Sungguh kerjaan kantor yang amat sangat bermanfaat ya. Nah, kabupaten kedua adalah Kabupaten Tana Toraja dengan ibukota Makale. Kalau dari Makassar, rutenya adalah Tana Toraja dulu baru Toraja Utara. Dari kedua kabupaten tersebut, yang paling banyak obyek wisatanya adalah Kabupaten Toraja Utara.

Continue reading

Negeri Dongeng itu bernama Indonesia

Tulisan ini bukan cerita panjangku tentang negeri Indonesia yang aku cintai. Cieeee. Tulisan ini tentang sebuah film berjudul “Negeri Dongeng”, sebuah film yang menggambarkan tentang negeri yang aku cintai ini. (Neser mulai mbulet dan belibet, karena kangen mungkin. Eeeeaaakkk).

Oke, kembali ke topik, “Negeri Dongeng”, sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film yang menceritakan tentang perjalanan menaklukkan 7 puncak gunung di 7 pulau di Indonesia ini diproduksi oleh Aksa 7. Angka 7 ini berarti 7 puncak, 7 pulau oleh 7 ekspeditor (termasuk dengan sinematografer/kameramennya juga). Selain ekspeditor utama, juga ada beberapa ekspeditor tamu seperti Medina Kami, Darius Sinathrya dan Nadine Chandrawinata.

poster-negeri-dongeng-1.jpg

 

Perjalanan mereka dimulai pada bulan November 2014 di Pulau Sumatra, dengan menaklukkan puncak dari Gunung Kerinci, langsung berlanjut ke puncak Gunung Semeru di Jawa Timur. Perjalanan berlanjut pada Januari 2015 di Gunung Rinjani, Lombok dan Gunung Bukit Raya di Kalimantan pada bulan Februari 2015. Sempat berhenti sejenak, perjalanan kembali dimulai di Mei 2015 di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan. Puncak selanjutnya adalah puncak Gunung Binaiya di Pulau Seram, Maluku. Ekspedisi ini ditutup dengan perjalanan paling berat menuju Puncak Cartenz di Papua.

Continue reading

Menikmati Puisi “Hujan Bulan Juni” melalui Media Film

Penggemar karya sastra berupa puisi, pasti tahu dengan buku kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni”. Hujan Bulan Juni merupakan karya sang maestro puisi Indonesia, Sapardi Djoko Damono, berupa kumpulan puisi. Selain puisi dengan judul “Hujan Bulan Juni”, puisi lain yang tidak kalah tersohor adalah puisi berjudul “Aku Ingin”. Puisi fenomenal yang pas zaman alay-alay galau sering dikutip sebagian kalimatnya, yaitu “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”.

Kumpulan Puisi “Hujan Bulan Juni” pun dialihwahanakan oleh Pak Sapardi menjadi novel dalam bentuk trilogi Hujan Bulan Juni. Novel pertama berjudul “Hujan Bulan Juni”, dan novel kedua berjudul “Pingkan Melipat Jarak”. Sedangkan novel ketiga belum diterbitkan. Hujan Bulan Juni pun kemudian dialihwahanakan lagi menjadi sebuah film. Penasaran? Ini official poster dan trailer­-nya.

Poster_Hujan_Bulan_Juni

Tokoh dan alur dalam film ini didasarkan cerita pada trilogi novel Hujan Bulan Juni. Tokoh Sarwono, seorang dosen antropologi di Universitas Indonesia, diperankan oleh Adipati Dolken. Selain menjadi dosen, Sarwono juga gemar membaca puisi. Kekasih Sarwono (Hmmm… apa ya bilangnya, masih status ga jelas juga sih. Ehemm) yang bernama Pingkan diperankan oleh Velove Vexia. Pingkan adalah seorang dosen muda di Sastra Jepang yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Jepang.

Continue reading

Serial “SWITCH”, Tertukarnya Jiwa Dua Sahabat yang Berbeda Watak

Sebagai penggemar film Indonesia, sebenarnya lebih sering pakai aplikasi HOOQ dibandingkan aplikasi VIU. Image-ku tentang VIU itu drama Korea banget, padahal aku ga terlalu suka drama Korea. Gara-gara di akun salah satu penulis yang aku follow koar-koar tentang serial Indonesia yang akan segera bisa dinikmati di VIU, aku pun tertarik buat mampir liat ke VIU. Judulnya serialnya itu The Publicist, salah satu bintangnya Adipati Dolken (lagi). Eh ternyata VIU sebelumnya sudah meluncurkan serial drama Indonesia yang lain, judulnya SWITCH. Aku lihat episode pertama, menarik nih kayaknya, dan keterusan nonton sampai ke episode lanjutannya.

Episode baru serial SWITCH ini akan keluar setiap hari Kamis. Saat postingan blog ini ditulis, SWITCH udah masuk ke episode 12, dan Kamis nanti sudah masuk ke episode 13, episode terakhir. Durasi setiap episode berkisar antara 25 menit. Sebelum lanjut, lihat dulu trailernya sekilas ya.

SWITCH e-flyer.jpeg

 

Seperti di judul, SWITCH ini menceritakan tentang dua sahabat yang jiwanya tertukar. Kedua sahabat itu adalah Emma (diperankan oleh Karina Salim) dan Febby (diperankan oleh Tatyana Akman). Kedua sahabat ini bekerja di Cinespace, sebuah bioskop alternatif yang banyak menayangkan film-film Indonesia. Kalau ada banyak bioskop kaya gini di Surabaya pasti aku seneng banget nih.

Continue reading

Review Film Posesif. Haruskah Bertahan di Hubungan yang Menyakitkan?

 Setelah lama banget ga review film, akhirnya nemu juga film yang menarik buat dijadikan bahan di blog. Film produksi Palari Films ini judulnya POSESIF. Sebagai pemanasan, coba lihat dulu official poster dan trailer-nya ya.

Posesif 3.jpg

Film ini menceritakan tentang Lala, seorang siswa SMA atlet loncat indah yang berpacaran dengan Yudhis, siswa baru di sekolahnya. Tokoh Lala diperankan oleh Putri Marino, yang sekilas mirip dengan Nikita Willy, tapi dalam versi yang lebih terlihat tangguh. Yudhis sendiri diperankan oleh Adipati Dolken, yang kelihatan ganteng banget dengan potongan pendek ala anak SMA.

Continue reading

Turah, Cerita Kehidupan Penghuni Tanah Timbul

Eits, ini  bukan cerita tentang akun gosip kekinian di Instagram ya. “Turah” ini adalah judul film yang diproduksi oleh Four Colours Film, yang juga memproduksi film “Siti”. Film ini disutradarai oleh orang asli Tegal, Wicaksono Wisnu Legowo.

Poster_Turah

Tidak berbeda jauh dengan “Siti” yang mengambil topik tentang kehidupan masyarakat kelas bawah di Parangtritis, “Turah” mengambil cerita tentang kehidupan penghuni Kampung Tirang. Kampung Tirang adalah sebuah kampung yang berada di tanah timbul, di pesisir Kota Tegal, Jawa Tengah. Lahan kecil itu hanya ditinggali oleh beberapa keluarga yang hidup kekurangan. Kampung Tirang “dimiliki” oleh juragan Darso. Penduduk yang tinggal di Kampung Tirang, diberi pekerjaan yang berhubungan dengan kampung tersebut, bisa bekerja di pelelangan, tambak, mengurusi kambing atau bahkan kuli. Karena mereka tinggal di lahan milik juragan Darso, upah mereka pun sebagian dipotong untuk sewa lahan.

Turah, salah satu penghuni Kampung Tirang, dipindahtugaskan dari pelelangan menjadi penjaga kampung dan tambak di Kampung Tirang. Sehari-hari Turah berkeliling kampung dan juga menyalakan diesel untuk penerangan jika malam tiba. Jadag, teman sekampung Turah, merasa selama bekerja di juragan Darso hidupnya tidak berubah, tetap sama menjadi kuli dan miskin. Berbeda dengan Pakel yang lulusan sarjana yang langsung menjadi tangan kanan juragan Darso.

Continue reading

Banda, Dulu Laksana Emas, Sekarang Mungkin Terlupa

Sekitar sebulan yang lalu, beberapa public figure yang aku follow di Twitter banyak yang posting poster film dengan background agak gelap, dengan tulisan “BANDA”. Banyak yang posting poster film itu dengan caption “Film ini wajib ditonton”. Penasaran donk ya.

Sekilas gambar di poster itu terlihat seperti gambar telur di film-film monster. Ada benda padat oval warna hitam, yang dikelilingi garis bilur merah di luarnya, mirip pembuluh darah. Aku sendiri sempat mengira ini film horor, apalagi ditambah ada kata “DARK” di judulnya “BANDA, The Dark Forgotten Trail”.

Banda.jpg

Tapi ternyata gambar hitam itu gambar “pala” gaes, “pala”, salah satu rempah-rempah yang dihasilkan oleh tanah Kepulauan Banda. Oh iya, bukan Banda Aceh ya. Kepulauan Banda merupakan kepulauan kecil ni terletak di kawasan Laut Banda di Maluku

Continue reading